Sang Penyelamat

Sang Penyelamat

Manipulasi

Setahun yang lalu

Di sebuah ruang operasi, nampak lima orang tenaga medis akan memulai proses operasi seorang pasien yang mengalami masalah dengan parunya. Seorang dokter bedah umum senior memimpin jalannya operasi. Dokter bernama Handaru itu sudah lama berprofesi sebagai dokter spesialis bedah digestif atau saluran cerna. Dia mengabdi mulai dari usia 27 tahun sampai sekarang usianya sudah mencapai 48 tahun.

Selain bedah digestif, pria itu juga memiliki keahlian bedah toraks. Selama berkarir di Rumah Sakit Ibnu Sina, entah sudah berapa banyak pasien yang sudah dioperasinya. Karenanya pria itu menjadi sangat terkenal di rumah sakit swasta tersebut. Banyak pasien yang merujuknya sebagai dokter bedah mereka. Operasi yang dia lakukan kali ini, entah sudah yang ke berapa kali.

Selain dirinya, ada pula dokter residen tahun ketiga, dokter anestesi dan dua orang perawat. Dokter anestesi mulai memberikan obat bius pada sang pasien. Setelah pasien kehilangan kesadarannya, mereka pun bersiap melakukan operasi.

“Pasien bernama Agus Hambali, usia 39 tahun. Dia terkena efimisma yang cukup parah. Kita akan mengangkat bagian paru-paru yang rusak, mengembalikan kesempatan hidup pria ini. Kalian siap?”

Semua menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Handaru. Sang perawat pun mulai memberikan pisau bedah pada dokter spesialis bedah tersebut. Dengan hati-hati Handaru menyayat bagian dada, kemudian memperlebar sayatan dengan menggunakan rektraktor.

“Saline.”

Perawat segera memasukkan cairan saline ke bagian yang terkena bedah untuk membersihkan luka. Cairan saline bercampur dengan darah langsung terlihat di dalam tubuh pasien yang terbuka.

“Suction.”

Kini perawat memasukkan alat untuk menyedot cairan yang bercampur dengan darah. Dengan hati-hati Handaru mengeluarkan bagian paru-paru yang rusak. Bagian yang rusak akan dibuang, baru kemudian masukkan kembali ke tempatnya. Saat tengah membuang bagian paru-paru yang rusak, terdengar suara dari monitor pemantau organ vital pasien.

“Saturasi oksigen pasien menurun, dokter!”

“Segara stabilkan, aku akan berusaha menyelesaikan ini dengan cepat.”

Dokter anestesi berusaha sekuat tenaga menjaga mengembalikan saturasi oksigen pasien. Perawat meremat kantong darah untuk memompa darah masuk ke dalam tubuh pasien. Dalam waktu cepat, Handaru sudah berhasil membuang bagian paru-paru yang rusak.

“Dokter, sepertinya ada sedikit masalah di lambungnya,” ujar dokter residen.

“Kita akan sekalian menyelesaikannya di sini.”

“Tapi mungkin pasien tidak akan bertahan. Kita harus menghentikan operasi dan melanjutkannya nanti,” dokter anestesi memberikan sarannya.

“Kita harus menyelesaikannya sekarang!”

Karena Handaru bersikeras, akhirnya semua menuruti apa yang dikatakan dokter bedah tersebut. Handaru mencari bagian yang bermasalah dan hendak membuangnya. Namun tanpa sengaja, pisau di tangannya mengenai pembuluh darah. Dengan cepat darah memancar dan terus keluar dari pembuluh darah yang tersayat.

“Suction!”

Bergantian perawat menyedot darah dan mengeringkan dengan kasa, namun darah tidak berhenti mengalir. Dokter anestesi terus berusaha mempertahankan stabilitas pasien, namun tekanan darah dan saturasi oksigennya terus menurun.

Dengan cepat Handaru mencari pembuluh darah yang terkena sayatan kemudian menjahitnya. Baru saja dia selesai menutup robekan di pembuluh darah, pasien mengalami henti jantung. Dokter residen segera memberikan kompresi.

Perawat memasangkan dua bantalan ke tubuh pasien, dokter residen menghentikan kompresi dan kejutan pun diberikan. Detak jantung pasien belum kembali, sang dokter residen kembali melakukan kompresi.

“Epi! Naikkan 200 joule!” teriak Handaru.

Salah satu perawat segera menyuntikkan epinephrine, dan satunya lagi mengisi daya defibrilator. Setelah daya terisi, pasien kembali dikejutkan, namun detak jantung pasien masih belum kembali.

“Naikkan 300 joule!”

Kembali mereka melakukan hal sama, melakukan kompresi, menyuntikkan epinephrine dan memberikan kejutan. Tapi tanda di monitor masih menunjukkan garis lurus.

“350 joule!”

Semua petugas medis di ruang operasi berusaha sekuat tenaga mengembalikan detak jantung pasien. Kejutan dengan volume 350 joule diberikan, namun sia-sia. Detak jantung tidak juga kembali. dokter residen kembali memberikan kompresi. Keringat sudah bercucuran dari kening dokter pria itu. Bergantian dengan dokter anestesi, mereka terus melakukan kompresi. Setelah melakukannya selama dua puluh menit, akhirnya mereka berhenti.

“Waktu kematian pukul 14.10.”

Semua langsung terdiam. Operasi yang awalnya dianggap tidak terlalu rumit, justru membuahkan petaka. Handaru mengambil tablet yang berisi rekam medis pasien.

“Apa yang harus kita katakan pada wali pasien?” terdengar suara dokter anestesi.

“Pasien mengalami pendarahan ketika kita berusaha menyelamatkan lambungnya,” jawab sang dokter residen.

“Dan kamu yang memegang pisaunya,” Handaru melihat pada dokter bimbingannya.

Dokter residen bernama Galih itu tentu saja terkejut. Hanya tinggal sebentar lagi dia akan menyelesaikan program residensinya, jika ini masuk ke dalam catatan buruknya, tentunya berdampak negatif pada residensinya.

“Kenapa aku?”

“Kalau aku yang melakukannya, apa ada yang percaya?”

Dokter Handaru malah balik bertanya. Kedua perawat yang ada di dalam ruangan hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dokter anestesi bernama Tomi menarik Handaru sedikit menjauh.

“Kamu tidak bisa mengorbankan karirnya begitu saja,” ujar Tomi dengan suara pelan.

“Bagaimana kalau kamu yang bertanggung jawab? Aku pernah menyelamatkan karir mu ketika kamu melakukan kesalahan di ruang operasi.”

“Aku sudah membayarnya. Aku menyelamatkan mu tiga kali, sementara aku hanya satu kali melakukan kesalahan. Jangan mencoba menyudutkan ku,” kesal Tomi.

“Kalau begitu kita bisa katakan pasien meninggal karena gagal jantung. Dari hasil pemeriksaan kesehatannya, terlihat jantungnya memang bermasalah.”

“Itu ide bagus.”

Keduanya segera kembali ke dekat meja operasi. Semua yang ada di sana menunggu dengan cemas apa yang akan dikatakan Handaru, terutama Galih.

“Pasien meninggal karena mengalami kegagalan jantung. Jantungnya tidak kuat menerima anestesi yang diberikan dan lama jalannya operasi. Kita sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengembalikan detak jantungnya, tapi tidak berhasil. Itu yang akan kita katakan pada keluarga pasien. Mengerti?”

Semua menganggukkan kepala tanda mengerti. Tidak ada yang berani mengatakan kebenaran di luar ruang operasi. Jika ini sampai bocor, bukan hanya karir dokter Handaru yang akan tamat, tapi juga semua kru medis yang berada di ruang operasi.

***

Begitu Handaru keluar dari ruang operasi, pria itu langsung dihampiri oleh keluarga pasien. Operasi yang berjalan selama hampir dua jam lebih serasa setahun lamanya bagi mereka.

“Dokter, bagaimana operasinya?”

“Saya minta maaf. Pasien memiliki masalah jantung. Jantung pasien tidak kuat menjalani lamanya jalannya operasi dan dosis obat bius selama menjalani operasi. Kami sudah berusaha mengembalikan detak jantungnya. Tapi semuanya sia-sia, maafkan saya.”

Tangis istri pasien langsung pecah. Tubuhnya hampir saja terjatuh kalau sang adik tidak menahannya. Sekali lagi Handaru mengucapkan bela sungkawa, kemudian beranjak dari sana. Tidak lama kemudian jenazah pasien dibawa keluar oleh perawat.

Istri sang pasien langsung menangis sambil memeluk tubuh suaminya yang sudah terbujur kaku. Kain hijau yang menutupi tubuh sang suami dibuka olehnya. Wajah pucat suaminya langsung terpampang di depan matanya. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya. Bayangan menjalani hari-hari tanpa kehadiran orang yang dicintainya langsung terbayang di pelupuk matanya.

Setelah meninggalkan ruangan operasi, Handaru kembali ke ruangannya. Pria itu berdiri di depan meja kerjanya seraya menaruh kedua tangannya di sisi meja. Pria itu mengesah panjang. Kematian pria tadi semakin menambah daftar pasien yang mati di tangannya di meja operasi. Beberapa diakui sebagai kesalahannya karena tingkat operasi yang sulit. Namun sisanya dilimpahkan pada dokter anestesi atau dokter residen, bahkan mencari alasan lain atas penyebab kematian seperti hari ini.

Lamunan Handaru buyar ketika mendengar suara getaran ponselnya. Tangannya segera merogoh saku celananya. Di layar ponsel tertera nama Iskak Nasir, pria yang terus mendekatinya akhir-akhir ini. Iskak adalah dewan komisaris Rumah Sakit Bandung Medical Center. Pria itu tengah membujuk Handaru agar mau pindah ke rumah sakitnya.

“Halo.”

“Apa kamu sudah memikirkan tawaran ku?” tanya pria bernama Iskak tanpa basa-basi.

“Aku tidak hanya mau menjadi dokter kepala bedah di sana.”

“Tentu saja. Kamu akan menjadi direktur di sana. Ini penawaran terakhir. Apa kamu mau mengambilnya.”

“Baiklah.”

Usai melakukan pembicaraan melalui telepon, Handaru segera keluar dari ruangannya. Pria itu akan segera mengajukan pengunduran dirinya. Dia harus secepatnya keluar dari rumah sakit yang sudah membesarkan namanya sebelum kecurangan yang dilakukannya terbongkar. Bukannya dia tidak tahu kalau Irsyad tengah gencar mencari kesalahannya. Dokter bedah trauma itu sudah menjadi musuh terbesarnya sejak lama.

TOK’

TOK

TOK

“Masuk!”

Terdengar suara dari dalam ruangan. Handaru segera masuk ke dalam ruangan. Matanya langsung tertuju pada Aqeel yang ada di belakang meja kerjanya. Pria itu sekarang menjabat sebagai direktur rumah sakit Ibnu Sina. Handaru menarik kursi di depan pria itu.

“Bagaimana operasinya?”

“Pasien tidak bisa ku selamatkan.”

Wajah Handaru menunjukkan kesedihan ketika menceritakan apa yang terjadi di ruang operasi, tentu saja menurut versi yang dibuatnya sendiri. Terdengar hembusan nafas panjang Aqeel.

“Apa kamu sudah memberi tahu keluarganya?”

“Ya. Aku minta maaf.”

“Kita adalah dokter, bukan Tuhan. Kita hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan pasien. Tapi hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah.”

“Ya kamu benar. Sebenarnya tujuan ku datang ke sini untuk mengajukan pengunduran diri.”

“Pengunduran diri? Kamu benar-benar serius soal itu?”

“Aku sudah memberitahu mu sebelumnya.”

“Soal tawaran Bandung Medical Center?”

“Ya, aku sudah menerimanya. Aku perlu lompatan besar dalam karir ku. Aku sudah menjadi dokter bedah ternama selama bertahun-tahun. Sekarang aku mau mencoba hal baru.”

“Kamu yakin?”

“Ya.”

“Aku hanya bisa mendoakan kesuksesan mu. Semoga kamu berhasil di tempat baru mu.”

Aqeel bangun dari duduknya kemudian menyalami Handaru. Sebelumnya Handaru sudah memberikan surat pengunduran dirinya pada Aqeel. Namun Aqeel masih menahannya dan memberi Handaru waktu untuk memikirkan kembali keputusannya.

“Good luck,” ujar Aqeel seraya menyalami Handaru.

***

Hai² aku datang dengan cerita baru. Sekarang aku mencoba mengangkat cerita medis secara lengkap berikut kehidupan di rumah sakit. Jangan khawatir, ada kisah romance mereka juga kok. Semoga kalian bisa menikmati karya baru ku. Jangan lupa tinggalkan jejak seperti like, komen, rate bintang 5 dan masukkan ke dalam favorit kalian supaya bisa tetap dapat notifikasi setiap up date. Terima kasih🙏🏻

Terpopuler

Comments

Sulis

Sulis

didunia nyata pun ada,didepan mataku malah,,udh masuk gawat darurat eeh blum diapa2 in,yg perawat satu Bing kok blum dipakein oksigen kata yg satu blum selesai seleksi umum atau BPJS eeh tau2 udh ninggal baru dipasangin,,sempat kaget rank tu aku ngintip dari tirai karna ge ngawani anku diruang an itu juga,,dari situ jujur aku kecewa yg namanya dokter atau perawat GK semua gtu tpi kecewa aja

2026-02-28

1

🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰dee

🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰dee

ohh berarti Handaruu banyak melakukan keaalahan dong nih tp opini diluar dia sebagai dokter yg paling hebat

2026-07-27

2

ian machmud

ian machmud

akun ijin mampir kak, sekian lama, aku tertarik pada cerita anak bibie dan arsy 🥰

2026-06-07

1

lihat semua
Episodes
1 Manipulasi
2 Internal Bleeding
3 Talita
4 Kenangan Menyakitkan
5 Code Blue
6 Hari yang Sibuk
7 Tak Kenal, Maka Tak Sayang
8 Balada Intern & Koas
9 About Reynand
10 Pasien Darurat
11 Magnet
12 Pesona Maira
13 Brain Death
14 Calon Investor
15 Biarkan Aku Mati!
16 Perpisahan
17 Tuduhan Pelecehan
18 DNR
19 Selamat Jalan, Dokter
20 Dokter Kepala IGD
21 CMO dan CEO
22 Korban Kecelakaan
23 Gerd
24 HODAD
25 Indung Telur
26 Mala Praktek
27 Berlapang Dada
28 Panggilan Spesial
29 Mas Irsyad
30 Obat Baru
31 Hasil Autopsi
32 Skorsing
33 Tidak Sepadan
34 Putus
35 Sesah Hilapna
36 Misteri Aruna
37 Tuntutan
38 Misteri Terpecahkan
39 Peringatan Dadvar
40 Splenektomi
41 Pasien Istimewa
42 Demam Scarlet
43 Moya-Moya
44 Perdebatan Manis
45 Romantisme di Pagi Hari
46 Godaan Para Abang
47 Skizofrenia
48 Suami Setia
49 Pasien Viral
50 Penjenguk Istimewa
51 Tawaran Kesepakatan
52 Perawat Spesial
53 Transplantasi Ginjal
54 Pendonor Organ
55 Todongan Bacamer
56 Menanti Sebuah Jawaban
57 Ayo Kita Menikah
58 Salah Paham
59 Pertemuan Calon Besan
60 Terserah
61 SAH!
62 Ego yang Tinggi
63 Maira Bukan Milea
64 Mulai Posesif
65 Terkejut
66 Ganjalan Masa Lalu
67 Torakotomi Resusitasi
68 Komisi Etik dan Medis
69 Sanksi Berat
70 Home Visit
71 Miss You
72 Maafkan Kami
73 Percintaan yang Tertunda
74 Malam Pertama
75 Please Stay, Mai
76 Curhat Bikin Baper
77 Pembersih Kotoran
78 Cemburu Tapi Gengsi
79 Kamu Layak
80 Pencemaran Nama Baik
81 Tersudut
82 Fitnah
83 Kebenaran
84 Perubahan Seketika
85 Calon Suami
86 Dukungan Seorang Ayah
87 Peringatan
88 Rumor
89 Teguran Komisi Etis
90 Publikasi Terbatas
91 Hukuman yang Pas
92 Korban Laka Lantas
93 Lamaran
94 Amnesia Retrograde
95 Tujuh Tahun yang Hilang
96 Pengakuan
97 Anak yang Terlupakan
98 Leukemia
99 Sakit Tak Berdarah
100 Pertengkaran
101 Rekonsiliasi
102 Keluarga Somplak
103 Godaan Kenan
104 Tes HLA Typing
105 Dukungan Istri
106 Jomblo Abadi
107 Naz
108 Pengusaha Dimsum
109 Kejujuran
110 Semakin Memburuk
111 Terbukanya Identitas
112 Godaan Para Ipar
113 Jebol Gawang
114 Prahara
115 Nikah Dadakan Lagi
116 Ketika Menantu Menyapa
117 Keputusan
118 Wajah Asli
119 Serangan Dua Arah
120 Transplantasi
121 Penyesalan
122 Kehilangan
123 Resepsi #1
124 Resepsi #2
125 Celaka Membawa Berkah
126 Situasi Chaos
127 Kabar Duka
128 Lolos Dari Maut
129 Badai Sudah Berlalu
130 Happy For Everyone
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Manipulasi
2
Internal Bleeding
3
Talita
4
Kenangan Menyakitkan
5
Code Blue
6
Hari yang Sibuk
7
Tak Kenal, Maka Tak Sayang
8
Balada Intern & Koas
9
About Reynand
10
Pasien Darurat
11
Magnet
12
Pesona Maira
13
Brain Death
14
Calon Investor
15
Biarkan Aku Mati!
16
Perpisahan
17
Tuduhan Pelecehan
18
DNR
19
Selamat Jalan, Dokter
20
Dokter Kepala IGD
21
CMO dan CEO
22
Korban Kecelakaan
23
Gerd
24
HODAD
25
Indung Telur
26
Mala Praktek
27
Berlapang Dada
28
Panggilan Spesial
29
Mas Irsyad
30
Obat Baru
31
Hasil Autopsi
32
Skorsing
33
Tidak Sepadan
34
Putus
35
Sesah Hilapna
36
Misteri Aruna
37
Tuntutan
38
Misteri Terpecahkan
39
Peringatan Dadvar
40
Splenektomi
41
Pasien Istimewa
42
Demam Scarlet
43
Moya-Moya
44
Perdebatan Manis
45
Romantisme di Pagi Hari
46
Godaan Para Abang
47
Skizofrenia
48
Suami Setia
49
Pasien Viral
50
Penjenguk Istimewa
51
Tawaran Kesepakatan
52
Perawat Spesial
53
Transplantasi Ginjal
54
Pendonor Organ
55
Todongan Bacamer
56
Menanti Sebuah Jawaban
57
Ayo Kita Menikah
58
Salah Paham
59
Pertemuan Calon Besan
60
Terserah
61
SAH!
62
Ego yang Tinggi
63
Maira Bukan Milea
64
Mulai Posesif
65
Terkejut
66
Ganjalan Masa Lalu
67
Torakotomi Resusitasi
68
Komisi Etik dan Medis
69
Sanksi Berat
70
Home Visit
71
Miss You
72
Maafkan Kami
73
Percintaan yang Tertunda
74
Malam Pertama
75
Please Stay, Mai
76
Curhat Bikin Baper
77
Pembersih Kotoran
78
Cemburu Tapi Gengsi
79
Kamu Layak
80
Pencemaran Nama Baik
81
Tersudut
82
Fitnah
83
Kebenaran
84
Perubahan Seketika
85
Calon Suami
86
Dukungan Seorang Ayah
87
Peringatan
88
Rumor
89
Teguran Komisi Etis
90
Publikasi Terbatas
91
Hukuman yang Pas
92
Korban Laka Lantas
93
Lamaran
94
Amnesia Retrograde
95
Tujuh Tahun yang Hilang
96
Pengakuan
97
Anak yang Terlupakan
98
Leukemia
99
Sakit Tak Berdarah
100
Pertengkaran
101
Rekonsiliasi
102
Keluarga Somplak
103
Godaan Kenan
104
Tes HLA Typing
105
Dukungan Istri
106
Jomblo Abadi
107
Naz
108
Pengusaha Dimsum
109
Kejujuran
110
Semakin Memburuk
111
Terbukanya Identitas
112
Godaan Para Ipar
113
Jebol Gawang
114
Prahara
115
Nikah Dadakan Lagi
116
Ketika Menantu Menyapa
117
Keputusan
118
Wajah Asli
119
Serangan Dua Arah
120
Transplantasi
121
Penyesalan
122
Kehilangan
123
Resepsi #1
124
Resepsi #2
125
Celaka Membawa Berkah
126
Situasi Chaos
127
Kabar Duka
128
Lolos Dari Maut
129
Badai Sudah Berlalu
130
Happy For Everyone

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!