"Aduh kenapa sih selalu ada disitu." gumam Dita melihat sosok pocong bermata merah yang berdiri di balik pohon pisang di halaman area kontrakannya.
"Kenapa Ta?" tanya Anita penasaran.
"Enggak... itu loh kucing itu kok ada disitu terus bukannya turun." Dita menunjuk genteng di seberang sana.
"Mana kucingnya?" tanya Anita celingak-celinguk mencari sosok kucing.
"Eh emang udah gak ada ya, tadi ada sih, udah yuk masuk."
Dita membuka pintu rumahnya dan terkejut sudah melihat Anan terbaring di kasurnya.
Anita mencari mangkuk untuk menyantap bakso yang dibungkus nya tadi.
"Ini satu bungkus lagi buat siapa Ta?" tanya Anita.
"Lah kan tadi aku bilang gak usah, mau bikin Indomie aja." sahut Dita.
"Sayang sayang lah ini udah dibeli."
"Kasih kucing aja." sahut Dita yang sedang memasak mie rebus dua bungkus sengaja ia masak dua bungkus agar Anan bisa mencicipinya.
"Pake telor gak?" tanya Dita ke Anan.
"Lah ini bakso urat Ta bukan telor." jawab Anita yang mengira Dita berbicara padanya.
"Hmmmm ..." Dita masih melanjutkan mengaduk mie nya.
"Dita kok gak enak ya baksonya beda sama tadi makan disana." ucap Anita memandang semangkok bakso dihadapannya.
"Makanya aku gak mau." sahut Dita.
"Jangan-jangan ni bakso pake penglaris lagi enaknya makan disana doang yak, kalo dibawa pulang rasanya beda, ih pesugihan jangan-jangan yak?" Anita sibuk memotong baksonya mengaduk aduknya dan kembali mencicipi lagi.
"Iya Ta beda rasanya." ucap Anita.
Dita bergidik jijik membayangkan makhluk-makhluk di restoran bakso tadi.
"Yang sebungkus ini kasih tetangga elo ya?" tanya Anita.
"Eh jangan! udah buang aja udah tau gak enak mau di kasih ke orang lain, buang aja sana!"
Dita menyeruput kuah mienya yang masih panas.
Melihat Anita membuang bungkusan bakso tadi ke luar Anan menghampiri mangkuk mie rebus Dita dan langsung di lahapnya.
"Astagfirullah kan panas Nan, gila nih cowok."
"Bibir aku mah kebal Ta, thanks ya mie nya enak." sahut Anan masih memakan mie di mangkuk Dita.
Tiba-tiba Anita sudah masuk dan berada di hadapan Dita.
"Hah gila si Dita kecil-kecil cepet banget makan mienya baru aku mau minta ckckkckc." Anita terkejut melihat mangkuk Dita sudah tersisa sedikit mie disana.
"Kan aku laper." Dita mencoba berbohong padahal tiga per empat dari dua bungkus mie tadi dihabiskan si Anan yang sekarang sedang tersenyum puas.
"Aku tidur duluan ya Ta."
"Kamu gak bersihin muka dulu?" tanya Dita.
"Besok aja ah ngantuk nih."
Anita merebahkan dirinya ke kasur yang hampir saja menindih Anan yang terbaring disana karena kekenyangan menyantap mie.
Dita tertawa kecil melihat Anan yang hampir tertindih.
Dita menuju arah kamar mandi dengan di ikuti Anan yang melompat.
"Sumpah aku risih banget denger cring cring kamu lompat itu, mana kayaknya capek banget, emangnya gak kangen kamu sama ber.. ja.. lan?" tanya Dita.
"Ehmmm gimana ya udah takdir sih." Sahut Anan.
"Eh tapi bisa kok aku pake baju layaknya manusia kalo kamu yang beliin bajunya buat aku."
Dita berpikir sejenak lalu diingatnya karena besok ia hendak menemani Anita berbelanja tak ada salahnya membeli baju untuk Anan.
"Oke besok ikut aku ya ke mall beli baju." ajak Dita.
"Oke ." sahut Anan.
"Tapi inget jangan mahal-mahal."
Dita memeriksa kembali pintu rumahnya sudah terkunci atau belum lalu saat ia mencoba menutup tirai jendela tiba-tiba sosok pocong berwajah merah dan bermata merah tadi sudah ada di balik jendelanya.
"Astagfirullahaladzim... jangan liat jangan liat."
Dita terkejut menutup matanya mencoba untuk mengintip sedikit dan sosok itu masih disana menatap Dita.
"Disitu aja ya om, jangan masuk jangan masuk, gak boleh masuk."
"DOR...!!" Suara Anan terdengar mengagetkan di telinga Dita membuat Dita menarik tirainya sampai copot.
Sosok pocong itu makin terlihat jelas di depan mata Dita.
"Aduh gimana ini, copot, kamu sih rese Nan, ini gimana aku gak bisa masangnya nih."
"Ya buka lah matanya, mana bisa kepasang kalo kamu tutup mata." goda Anan.
"Gak mau itu dia kenapa sih makin deket kesini ngeliatin aku." Dita masih berusaha memasang tirainya dengan mata tertutup sesekali mengintip posisi tirai tanpa mau menatap pocong itu.
"Mungkin ada yang mau dia sampein ke kamu." ucap Anan.
"Aduh gak usah deh suruh kirim WA aja apa tulis surat gitu gak usah ngomong langsung, berat aku gak kuat." sahut Dita.
"Kan tangan dia di iket mana bisa tulis surat mana hape gak punya mana bisa WA hehehehe maunya ngomong langsung sama kamu tuh."
"Lewat kamu aja sih wakilin aku." Dita akhirnya bisa memasang tirainya yang tadi copot dengan mata tertutup dengan susah payah.
"Aaaahhhh akhirnya bisa juga, masih diluar gak dia?" tanya Dita pada Anan.
"Intip aja sana!" Anan menggoda Dita lagi.
"Gak mau!!! udah ah aku mau tidur." sahut Dita kesal.
"Yudah aku pergi ya." ucap Anan.
"Jangan dong... Anan ganteng Anan cakep Anan baik Anan pinter uh tayang tayang... jangan pergi yak, seperti biasa jagain aku sampai pagi."
"Emang aku satpam rumah kamu apa?"
"Bukan lah, kan kamu satpam nya aku cuma buat jagain aku."
Hati Anan meleleh mendengar ucapan Dita barusan yang kini si empunya suara sudah menyusul Anita meringkuk di kasurnya.
"Iya aku bakal jagain kamu terus..." ucap Anan memandangi wajah Dita yang sudah tertidur pulas.
***
To be continued
Happy Reading...
Please vote dong pencet jempolnya buat like... makasih ya😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 489 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
msh misteri
2024-01-03
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
Ya ampun sweet banget kalian ya.. 🤭🤣🤗 walau merinding disko.
2023-09-23
0
Taenk Arifin
pocong idaman 😁😁
2023-08-04
0