"Kita makan disini ya ini bakso nya enak banget antriannya itu loh banyak banget."
Ucap Pak Herdi membawa Dita dan Anita di warung bakso terlaris di daerah itu.
"Kamu gak ikut?" bisik Dita pada Anan.
"Aku di sini aja, baksonya gak enak tau." ucap Anan.
"Masa sih, rame banget loh."
"Dita hayo turun!" Anita mengagetkan Dita dari percakapan bisik - bisiknya bersama Anan.
Dita pun segera turun menyusul Anita.
***
"Pesen aja mau bakso apa mau berapa mangkok saya yang traktir." Ucap Pak Herdi memilih menu.
"Wuih dibungkus juga boleh pak?" tanya Anita semangat.
"Boleh..." Pak Herdi mengangguk tersenyum.
"Cakeeeppp." sahut Anita.
Tak lama 3 mangkuk bakso dan 3 es jeruk disajikan di meja mereka.
"Aku cuci tangan dulu ya pak." ucap Dita.
Betapa terkejutnya ia saat berada di wastafel ia melihat penampakan seperti nenek tua tanpa berpakaian dengan tubuh mengkerut, lidah yang panjang sedang menjilati mangkuk bakso.
Lalu penampakan nenek satu lagi berbadan kerdil dengan badan mengkerut pula duduk di atas kuah bakso di panci besar itu dengan air liur menetes kedalam kuah apalagi tubuhnya penuh lendir seperti nanah jatuh menetes ke kuah bakso yang di aduk-aduk oleh pemiliknya.
"Wleeekkk... jijik banget liatnya duh gimana ini."
"Kenapa mba?" tanya salah satu karyawan di situ pada Dita.
"Enggak mas cuma pusing aja abis perjalanan jauh." jawab Dita.
"Pas tuh mba makan bakso yang panas yang pedes nanti pusingnya ilang." ucapnya seraya pergi kembali melayani tamu.
"Ndasmu...!" gumam Dita pelan.
Pantes aja Anan gak mau ikut, bener aja dia bilang gak enak.
batin Dita.
"Dimakan Ta, enak banget loh ini saya jadi mau nambah." ucap pak Herdi mempersilahkan Dita duduk.
Dita hanya mengaduk mangkok baksonya sesekali terpaksa mencoba rasa kuah yang rasanya hambar asam ditambah dilihatnya penampakan tadi membuatnya terasa menjijikan.
"Ih si Dita di aduk aduk doang, sini bakso gedenya buat aku ya." pinta Anita.
"Nih ambil."
Dita memperhatikan sekitar dengan seksama, banyak banget pelanggan nya trus lahap-lahap banget makannya.
Seorang anak kecil menangis menarik - narik baju mamanya.
"Mah ayo pulang, ayo pulang." ucap anak itu.
"Ini anak tumben banget sih ngantuk apa ya jeng." ibu itu berucap pada teman semejanya.
Padahal Dita yakin betul anak itu sedang ketakutan sama seperti dia sekarang melihat para penampakan yang menjijikan itu.
"Pak Dita mau ijin ke mobil boleh enggak, Dita pusing banget mau muntah." ucap Dita.
"Kamu mabok perjalanan kali yak, nih kuncinya tiduran aja dulu, di kotak laci mobil ada minyak angin kamu olesin yak?"
Dita mengangguk.
"Nanti aku bungkusin aja ya Ta." ucap Anita.
"Ga usah." Dita menggeleng seraya buru-buru pergi dari situ.
"Hahahaha kena juga kan kamu." ucap Anan melihat Dita masuk ke mobil menahan mualnya dengan menutup mulut.
"Jijik banget Nan, ih gak nyangka."
"Itu namanya penglaris kalo orang yang bisa liat apa dibacain doa makan terus ayat kursi pasti rasanya beda malah mual kalau abis makannya." Anan mencoba menjelaskan sembari memijit tengkuk Dita yang mual.
"Udah ah gak enak di liat orang." sahut Dita.
"Diliat orang?"
"Oiya kamu gak keliatan hehehe." jawab Dita.
"Loh ini kok mirip perempuan yang di kolam ya Nan?"
Dita mendapati foto seorang perempuan dari laci mobil pak Herdi.
Foto perempuan itu sedang merangkul pak Herdi menempelkan wajah mereka dan tersenyum. Dibalik foto itu tertulis My Love Tania.
"Hah berarti Pak Herdi kenal sama perempuan di kolam itu Nan." ucap Dita terkejut heran dengan foto itu.
"Taruh lagi fotonya orang nya dateng tuh."
Anan melihat pak Herdi dan Anita berjalan ke arah mobil nya.
Dita langsung menaruh kembali foto tersebut dan bergegas merebahkan tubuhnya di bangku belakang pura-pura tidur.
"Ta nih di bungkusin Pak Herdi, aku juga minta bungkus satu lagi, makasih ya pak." ucap Anita tersenyum pada Pak Herdi.
"Ih kan aku bilang gak usah abis gak enak baksonya."
"Ah masa... enak kok baksonya aku aja nambah nih." ucap Anita.
"Mungkin jadi gak enak karena udah gak panas kalo dibawa ke rumah kaldunya pada gumpel ya Ta ?"
Pak Herdi menoleh ke arah Dita.
"Iya pak mungkin gitu." jawab Dita mencari alasan yang aman dengan perkataannya.
***
Sesampainya di depan gerbang rumah kontrakan Dita lalu pak Herdi turun dari mobilnya.
"Oh ini rumah kamu?" tanya pak Herdi.
"Iya pak, maaf ya pak jelek gak layak buat Nerima tamu kaya bapak." ucap Dita.
"Kecil sih tapi nyaman kelihatannya. Ya udah saya sampai sini saja ya mengantar kalian."
"Makasih ya pak." jawab Anita dan Dita.
Pak Herdi mengulurkan tangan kanannya dan disambut dengan jabatan hangat oleh Anita lalu mengulurkan juga pada Dita entah kenapa dengan spontan Dita mencium punggung tangan pak Herdi, meski agak terkejut namun pak Herdi memberi belaian halus pada kepala Dita.
"Saya pamit ya, perlu saya cium kening kamu gak Ta?" goda pak Herdi.
"Eh Astagfirullah maaf pak, maaf saya kelepasan." Dita menahan malu nya sementara Anita sudah cekikikan melihat kelakuan Dita barusan.
Pak Herdi hanya tersenyum lalu masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
"Kamu kenapa Ta, suka ya sama pak bos?"
"Eng enggak aku juga gak tau kaya gitu mungkin inget bapak ku."
jawab Dita mencoba mengelak.
Anita masih tertawa melihat wajah Dita yang makin memerah.
***
To be continue...
Happy reading...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 489 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
berarti benar donk hantu itu istrinya pak Hendi 😏😏
2024-01-03
0
Berdo'a saja
jadi hantu itu istri herdi jangan jangan Devi yang bunuh
2023-01-13
0
Darsih suranto
cewek yg di kolam renang istrinya pak Herdi y Thor?
2022-10-14
1