Dita memutar tubuhnya kini menghadap Anan yang sedang mengunyah permen karet dan membuat balon ke arah Dita.
"Baru tau gue pocong makan permen karet ada minimarket gitu di alam kubur yak?" ejek Dita.
Anan melompat ke arah tong sampah membuang permen karetnya di sana.
"Aku cuma bisa makan sesuatu yang manusia kasih." ucapnya kembali melompat ke arah Dita.
"Emang ada manusia yang mau kasih kamu permen?"
"Adalah anak kecil kan bisa lihat aku."
"Kenapa kamu kesini?" Tanya Dita heran sambil menggoyangkan gelang ditangannya kembali.
"Karena itu." jawab Anan menunjuk gelang di tangan Dita.
"Ini??" Dita makin mengamati gelang dengan seksama.
"Iya karena kamu panggil aku dan ingat aku jadi aku langsung menuju kemanapun kamu berada, hebat kan?" Anan tersenyum sambil bertolak pinggang.
"Ohh... apa aku mikirin kamu? idih..." elak Dita.
"Jujur aja, lagipula aku kan bisa baca isi hati mu." Anan mencoba duduk di tepi meja namun kainnya tersangkut sulit untuk duduk normal seperti manusia.
"Hahhaha.. ribet banget sih dasar pocong!"
"Kamu juga bakal ngalamin kaya aku."
"Enggak dong aku bakal tenang di sana, kalau aku gentayangan aku pilih pake baju daster kaya Tante Key, adem semriwing..." ejek Dita.
Tok Tok Tok
"Anan... Anan..."
"Ko ada yang panggil gue?" tanya Anan heran.
"Ih pede... itu manggil gue tau." Dita mengintip dari kaca jendela dilihatnya sosok perempuan yang sudah ia kenal lalu ia membuka pintu rumahnya ternyata Tante Fani tetangga sebelah yang datang.
"Anan maaf ya Tante baru pulang kerja, jadi baru tau dari si Mar kalo kamu udah pulang."
"Iya Tante gak papa, malem banget Tante pulangnya jam setengah 11?" tanya Dita
"Iya tadi lembur soalnya, oiya ini ayam bakar tadi Tante beli lebihan buat kamu sama nasinya nih, enggak diet kan?"
"Ah Tante makasih banyak yak lagian badan aku kurus gini diet hehhehehe." Dita menerima bungkusan steroform berisi nasi dan ayam bakar itu.
"Oke kalo gitu Tante pulang dulu ya, kalo ada apa-apa kamu bisa kerumah Tante." Tante Fani memeluk Dita lalu pamit.
"Makasih Tante, Dah...." Dita menutup pintu namu sebelum dia menutupnya dilihatnya sepasang mata merah menyala sedang menatapnya.
"Astagfirullahaladzim..."
BRAK...!!! Dita menutup pintu dengan keras karena takut.
"Kamu kenapa?" tanya Anan.
"Kamu gak bawa sodara apa temen kan?" Dita balik bertanya.
Anan melompat menuju jendela dan dilihatnya sosok yang menyerupai dirinya hanya saja masih terbungkus kain lusuh dengan rapat lengkap dengan tali-tali yang mengikat dan wajah yang menyeramkan.
"Tapi gantengan aku kan sama dia?" Anan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
"Tau ah aku takut tau." Dita memeluk bantal di kasurnya.
"Dia gak kesini kan?" Tanya Dita.
"Gak bakalan lah, kan kamu gak undang dia masuk." Ucap Anan membuat Dita sedikit lebih lega dan meredam takutnya.
Anan memperhatikan bungkusan di atas meja dari Tante Fani tadi.
"Wangi banget kayaknya enak." Anan menyeka air liurnya yang menetes.
"Kamu mau?" tanya Dita.
Anan mengangguk.
"Yaudah makan aja."
Anan menggeleng.
"Gimana sih tadi nya kata mau tapi nolak hisshh." gumam Dita.
"Aku bisa makan kalo kamu yang masakin atau makanan itu kamu suapin ke aku." masih menatap mupeng ke arah bungkusan ayam bakar itu.
"Manja amat sih, emang nya aku istri kamu apa?"
"Oke kalo gitu aku ke depan dulu ya manggil si om pocong yang tadi." tantang Anan.
"Ja ja jangan dong, iya sini aku suapin yak."
Dita membuka bungkusan nasi ayam bakar itu memakannya bersama Anan, teringat dulu dia sering menyuapi Ali jika Ali sedang belajar daripada telat makan mending Dita yang suapin Ali waktu itu persis seperti Dita menyuapi Anan sekarang.
"Kenapa kamu takut sama om yang di depan, kan sekarang kamu harus terbiasa dengan penampakan yang lebih seram lagi."
"Entahlah pokoknya jangan sekarang aku belom siap." Ucap Dita menyuapi Anan dengan suapan besar mendorongnya kedalam mulut Anan.
Terdengar bunyi kentongan siskamling saat berjaga malam keliling kampung.
"Sssttt kamu jangan berisik yak, nanti repot kalo kita digerebek cowo cewek gini mana bukan muhrim lagi." Dita menaruh telunjuknya di bibir Anan dan membuat Anan terkejut dengan pipi yang merona.
"Uhuk uhuk (batuk keselek) pinter banget sih kamu mana ada yang bisa liat aku selain kamu." tutur Anan.
"Oiya aku lupa." Dita menepuk bahu Anan dengan kerasnya.
"Sakit juga pukulan nih cewek." batin Anan.
"Nan.."
"Ya.."
"Disini dulu ya sampai aku pules."
"Takut ya..?"
Dita mengangguk pelan agak malu juga mengaku takut.
"Sama aku kok gak takut?" tanya Anan yang mendekatkan wajahnya ke arah Dita lebih dekat.
"Tampan kaya gini mana gue takut."
Batin Dita.
"I hear you..." ucap Anan.
Oiya gue lupa dia bisa denger pikiran gue.
Dita beranjak cuci tangan menghindari tatapan Anan yang bisa membuatnya klepek-klepek lalu membaringkan tubuhnya di kasur menutup wajahnya yang malu dengan guling. Di hatinya masih terbesit pikiran kalau Anan itu ...
mirip Hyunjin nya Stray Kids lama lama kalo gue liat ihh bikin gemes.
Anan tersenyum senang mendengar pikiran Dita lalu duduk di samping kasur Dita menemaninya sampai fajar menjelang.
To be continued...
Happy Reading...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 489 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa Anan koma ya terus arwahnya gentayangan
2024-01-03
0
cookie_23
Kalo Anan (Pocong tampan) masih hidup alias jadi manusia siapa tau jodoh tuh kan sama Dita juga di panggil tetangganya Anan
2023-12-23
0
Berdo'a saja
nasib punya teman baru malah pocong
2023-01-13
0