Jangan lupa sebelum membaca di like, vote, rate bintang lima, di share juga boleh...
****
"Kak Anan bangun." Ali menggoyangkan tubuh Dita agar sadar dari tidurnya. Dilihatnya sang Ibu yang tersenyum memakai baju gamis putih favorit ibu saat solat 'ied. Ali juga memakai baju Koko putih baju couple keluarga bersama ayah, ibu, dan Dita.
"Li ini kan waktu kamu umur 5 tahun belinya, kok masih muat?"
Ali hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dita.
"Ayo kak, ikut Ali sama Ibu." Ali mengulurkan tangannya dan Dita membalasnya mengikuti Ali sampai ke koridor Rumah Sakit.
"Ini di mana Bu?"
"Rumah sakit, Nan." Ibu memeluk Dita dengan erat.
"Terima kasih sudah menjadi anak ibu yang membanggakan, yang selalu berjuang untuk kami, Ibu sayang sekali sama Anan."
"Ibu ngomong apa sih, Anan gak ngerti deh Bu."
Ali juga memeluk Dita dari belakang dengan eratnya.
"Makasih ya kak, kakak selalu berusaha nyenengin Ali." Ali membenamkan wajahnya di punggung Dita menangis tersedu-sedu.
Dita berbalik badannya memeluk Ali dan mengacak-acak rambut Ali seperti biasa.
"Seorang kakak memang harus menyenangkan adiknya, apapun yang Ali mau selama kakak bisa, Ali bisa minta ke kakak ya."
Ali menggeleng, sekarang ia menghampiri Ibunya dan berpelukan. Ali menoleh pada Dita.
"Kak, sekarang Ali bisa punya apa aja kok."
Ibu tersenyum ke arah Dita
"Jaga dirimu baik-baik yah."
"Ini apa sih maksudnya, Anan gak ngerti Bu?"
Tanpa sadar Dita mulai meneteskan air matanya. Berharap pikiran jeleknya tidak akan terjadi kepada Ibu dan Ali.
Di ujung sana dilihatnya sang ayah yang memakai baju Koko putih yang sama dengan Ali. Ibu dan Ali menghampiri Ayah.
"Ibu... Anan mau ikut Bu, Anan mau peluk ayah."
Dari kejauhan Ayah hanya tersenyum melambaikan tangannya pada Dita.
"Belum kak, kata Ayah belum waktunya kakak ke sini." ucap Ali yang sudah memeluk Ayah.
"Kembalilah Nak, suatu saat kita akan bertemu lagi." ucap Ibu dengan wajah bersinar terlihat cantik sekali saat itu.
Dilihatnya Ayah, Ibu dan Ali yang tersenyum bahagia melambaikan tangannya pergi menjauh. Dita menyadari ini kah saat nya mereka berpisah, pikiran jeleknya itu ternyata terjadi, Dita kini hanya bersimpuh menangis sejadi-jadinya sampai tak sadarkan diri.
"Dokter, dokter pasien sadar." suara suster yang membuat Dita semakin terjaga.
Dita membuka matanya perlahan-lahan ada sinar menyilaukan yang membuat matanya sulit langsung terbuka. Sampai akhirnya ia terbiasa, dilihatnya seorang Dokter perempuan berhijab dengan nama Dr. Riani di nametagnya dan 2 orang suster di kanan kiri kasur Dita terbaring.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga." Dokter itu menempelkan stetoskop pada dada Dita, mengecek denyut nadi dan kondisi suhu tubuhnya.
"Semuanya baik ya, Coba nanti mulai kasih makanan yang lembut ya sus, saya pamit dulu ya." Perintah dokter ke suster lalu berlalu ke arah pintu keluar kamar Dita di rawat.
"Saya dimana sus?"
"Rumah Sakit Abadi."
"Ibu dan Adik saya dimana sus?" Dita berusaha menoleh ke kasur sampingnya namun kosong.
Kedua suster itu saling bertatapan bingung bagaimana dan darimana menjelaskan. Meski Dita sudah tau jawaban terburuk yang akan tersampaikan namun ia ingin memastikan jawaban dari orang lain.
"Satu minggu yang lalu kamu mengalami kecelakaan, mobil kamu tertabrak oleh Bis besar, mmmm maaf ibu dan adik mu serta driver mobil itu tak selamat, cuma kamu dan supir bis serta keneknya yang selamat." ucap suster yang di nametag nya tertulis nama Melati.
"Tapi tenang aja semua biaya pengobatan kamu sudah dibayarkan pemilik perusahaan bis yang menabrakmu, dan kamu akan mendapat tunjangan kematian atas nama ibu dan adikmu, setau aku gitu." ucap Suster satunya yang lebih tua sepantaran dengan Ibu Dita, di name tag nya tertulis Irma.
Dita menangis sejadi-jadinya sungguh ia tak kuat mendengar penuturan para suster meski ia sudah yakin dengan jawabannya.
Kedua suster itu berusaha menghibur Dita membelai rambutnya dengan rasa pilu dan kasihan.
"Ada keluarga yang bisa kami hubungi nak?"
tanya suster Irma.
Dita menggeleng karena menurutnya sang Ayah adalah anak tunggal, namun ibu mempunyai adik perempuan yang entah sekarang berada di mana.
Namun dia ingat Anita teman kerjanya, Dita meminta suster untuk menghubungi tempat kerjanya karena pasti Anita panik mencarinya yang hilang selama seminggu ini.
Para suster itu lalu pamit dan suster Irma berjanji akan menghubungi tempat kerja Dita.
Hening seketika ruangan kamar itu terasa sepi karena dari dua kasur itu hanya Dita seorang. Dita mencoba menyalakan TV.
"Hmmmmm hmmmmm hmmmmm hmmmm"
Terdengar suara wanita bersenandung dari arah samping.
"Ah cuma tv kali." gumam Dita.
Lalu senandung itu terdengar lagi, kali ini Dita mematikan TV nya. Suaranya makin terdengar. Dilihatnya sepasang kaki yang mengguncang-guncang dengan posisi duduk.
Sepertinya ia memakai daster berwarna putih namun lusuh.
"Perasaan tadi gak da orang, maaf Bu, apa mbak yak?" Dita memberanikan diri untuk bertanya.
"Hihihihihihihihi." suara itu sekarang tertawa tak bersenandung.
Dita mencoba membuka tirai samping pemisah dengan kasur sebelahnya perlahan-lahan. Sampai akhirnya dia tidak melihat siapapun disitu. lalu
Booooooo...... perempuan berdaster itu sudah berdiri dihadapannya.
"Arrrghhhh.....!!"
"Ka... ka... kamu siapa?"
Bersambung....
Happy Reading 😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 489 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kayaknya Tante Key deh penunggu rumah sakit
2024-01-03
0
cookie_23
Apakah itu pocong tampannya
2023-12-23
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
👻👻👻👻😱😱😱😱😱
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
lagi serius² sedih sedihnya nyesek meweek.. eh muncul mak kunti kaget dikit dan ngakak dong.. 😂😂😂
2023-09-23
0