Sebelum membaca...
Jangan lupa like babnya, votenya dan masukin list favorit ya...
Komentar positifnya juga biar makin semangat nulis apalagi kalau dapet koin...
Happy Reading...
*****
"Kamu kenapa, Ta? mondar-mandir aja dari tadi kaya gosokan kepanasan hehehe." Tanya Anita teman kerja Dita di bagian tiketing pintu masuk kolam renang terbesar di kota.
"Aku nunggu Pak Herdi, udah dateng belom, ya?" tanya Dita sembari merapikan tiket yang akan dijual ke pengunjung sambil berdiri mondar-mandir.
"Diam apa!!! pusing nih aku liat kamu. Noh pucuk di cinta ulam pun tiba, si ganteng turun dari mobil noh." Tunjuk Anita kearah parkiran.
"Subhanallah cakep banget ya tinggi, putih manly banget kaya Oppa Gong Yoo,ckckck." Dita menelan liurnya memandangi sosok pria berusia tiga pulun tahun itu yang sekarang resmi menjadi duda karena ditinggal istrinya.
Mendiang istrinya meninggal karena menderita sakit demam berdarah.
"Main Li? emaknya siapa tuh Ta?" tanya Anita polos.
"Manly, cowok banget... laki banget gitu say." Jawab Dita masih berdecak kagum.
"Lah, emang Pak Herdi cowok, siapa bilang bencong, udah jelas dia ganteng gitu juga."
"Ya, maksudnya gitu gagah cowok banget ihh." Dita mulai sewot menanggapi keluhkan sahabat nya yang mulai dengan mode super lemot itu.
"Pagi semua..!" suara berat nan seksi itu keluar dari bibir Pak Herdi yang agak kehitaman karena efek perokok aktifnya.
"Pagi, Pak." jawab Dita dan Anita bersamaan.
"Ehmmm... Pak, maaf sebelumnya apa saya bisa ngomong sebentar pak?" Dita mencoba untuk bertanya pada bos nya meski dia takut namun ini sudah ditunggunya dari 1 jam yang lalu saat ia tiba di tempat kerjanya.
Pak Herdi membuka kacamata hitamnya menaruhnya gagangnya diujung bibirnya sambil memperhatikan Dita dari ujung rambut ke ujung kaki.
"Ke ruangan saya nanti saat jam istirahat!"
"Tapi, Pak.."
"Jaga tiket dulu sana tuh ada pelanggan baru pada datang!" tunjuknya.
"Ba- ba- baik, Pak." Dita harus menahan pertanyaannya menunggu kembali sampai waktu istirahat tiba.
"Hehehe udah mondar-mandir sejam eh nunggu lagi tiga jam." Anita terkekeh dari kursinya.
"Awww...!" toyoran Dita mendarat di kepalanya.
"Itu yang di situ maju sini mau berapa tiket buruan cepet sini!" ucap Dita pada tamu wahana kolam renang itu.
"Adaawww... apaan sih, Nit?"
Anita gantian menginjak kaki Dita kali ini.
"Sopan dong jangan kebawa emosi, smile... smile..." ucap Anita sambil menunjukan senyum layaknya bintang iklan pasta gigi.
Dita berusaha tersenyum getir sembari melihat arloji di tangannya. Gadis itu tak sabar ingin cepat-cepat melihat jam tangannya memenunjukkan angka dua belas siang.
***
"Yesss, jam 12 juga akhirnya," ucap Dita lalu bergegas berdiri menuju ruang kantor Pak Herdi namun sudah tidak ada.
"Pak Herdi mana, Nit?" bisiknya pada Anita.
"Lah itu diparkiran," tunjuknya.
Aduh Dita langsung berusaha untuk berlari mengejar Pak Herdi ke parkiran.
"PAK... PAK HERDI...!!" Dita berusaha mengatur napasnya yang naik turun dihadapan Pak Herdi.
"Kenapa Dita kok lari-lari?" tanya Pak Herdi heran.
"Pak, kan tadi saya mau bicara, kata Bapak pas jam istirahat." Dita masih tersengal-sengal mengucapkan nya.
"Oh iya, saya lupa, ayo ikut saya cari makan siang."
"Hah, saya pak? serius?"
"Iya serius, laper, kan?"
Dita mengangguk.
"Ayo masuk!" perintah pak Herdi lalu menyalakan mesin menuju Restoran Seafood Telaga Batu yang terkenal enak dan mahal itu.
Anita melihat dari kejauhan berdecak kagum "Jangan - jangan Dita mau dipake lagi siang - siang gini wah gak beres nih, coba gue telpon."
Dilihatnya ponsel Dita yang bergetar di laci kerja itu makin membuat Anita penasaran dengan apa yang terjadi dengan Dita sekarang.
***
"Saya pesan Gurame saus padang, sayur asem dan es jeruk ya mbak," ucap Pak Herdi pada pelayan.
Gila nasi putih aja sepuluh ribu es teh manis sepuluh ribu, terus gue alergi seafood gini mau makan apa ya.
Batin Dita sambil melihat menu tempe dan tahu yang seharga lima ribu perpotong dan menepuk jidatnya.
"Mau makan apa, Ta?" tanya Pak Herdi.
"Saya alergi seafood, Pak, tadi saya udah bawa bekel, sayang kalo gak kemakan, biar irit juga Pak."
Terlihat senyum manis di wajah pria itu yang membuat Dita meleleh saat itu juga.
"Ini ada Nasi goreng, mbak...Nasi goreng satu ya sama... mau minum apa, Ta?"
"Air putih aja, Pak."
"Sama Air mineral ya, Mbak," perintah Pak Herdi pada pelayan.
Haahhh nasi goreng aja 50 ribu air mineral 10 ribu mana aku gak bawa duit lagi duh Gusti...
Dita menunduk sambil memainkan ujung taplak meja di hadapannya itu dengan pikirannya yang makin kalut.
*****
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 489 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
tenang di bayarin Dita 🤭🤭 jujur msh penasaran apa ini lanjutannya ya 🤔🤔
2024-01-03
1
cookie_23
Tenang di bayarin kok
2023-12-23
0
Aya
.
2023-09-30
0