Pelajaran Sihir Pemula

Keesokan harinya, Lucy, sang guru sihir, kembali datang untuk mengajar. Ia berdiri di tengah ruangan dengan senyum ramah, memperhatikan kedua muridnya yang sudah duduk dengan penuh antusias.

"Jadi, bagaimana? Apakah kalian sudah mempelajari buku yang kuberikan lusa kemarin?" tanya Lucy, menatap keduanya dengan penuh harap.

"Sudah dong, Kak Lucy!" ujar August dengan semangat, matanya berbinar penuh antusias.

Lucy tersenyum lalu melirik ke arah Anastasia. "Lalu, bagaimana denganmu?"

Anastasia sedikit terkejut mendapat giliran ditanya. Dengan ragu-ragu, ia menjawab, "Su-Sudah... tapi sepertinya ada beberapa hal yang kurang aku pahami. Yaitu, bagaimana cara mewujudkan sihir?"

Lucy mengangguk, memahami kebingungan muridnya. "Baiklah, pelajaran kali ini adalah manifestasi sihir. Kita akan belajar bagaimana mengubah mana, yang merupakan bahan bakar sihir, lalu mengolahnya dengan mantra hingga menghasilkan sihir yang nyata."

August tampak semakin bersemangat.

"Khusus untukmu, August, karena kamu sudah bisa menggunakan sihir, bisakah kamu menunjukkan beberapa contoh?" tanya Lucy.

"Baik, Kak Lucy!" jawab August dengan percaya diri.

Mereka bertiga kemudian pindah ke area latihan. Para prajurit telah menancapkan boneka jerami sebagai sasaran target. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma dedaunan dan tanah yang masih sedikit basah akibat embun pagi.

"Oke, karena ini adalah latihan sihir pertama Anastasia, aku akan mendemonstrasikannya sedikit," ucap Lucy.

Ia membuka telapak tangan kanannya, mengarahkannya ke target boneka jerami yang telah dipasang.

Lalu, ia mulai mengucapkan mantra, "Ignis Volare, Ardere, Explodere!"

"Fireball!" seru Lucy dengan lantang.

Sesaat setelahnya, bola api sebesar semangka terbentuk, lalu dengan cepat melesat ke arah target.

DUAARRR!!!

Boneka jerami itu meledak seketika terkena sihir Fireball milik Lucy.

Anastasia dan August hanya bisa menganga, terkagum-kagum melihat kekuatan guru mereka. Tidak heran, Lucy adalah penyihir Mage Rank A, kekuatannya jauh di atas mereka.

"Baiklah, August, sekarang giliranmu. Coba rapalkan mantra Fireball," ucap Lucy.

August mengangguk, meski sedikit ragu setelah melihat betapa dahsyatnya sihir milik Lucy.

"O-oke, Kak!" jawab August, berusaha tetap percaya diri.

Ia mengambil napas dalam, mengangkat tangannya, lalu mulai merapal mantra dengan lantang.

"Ignis Volare, Ardere, Explodere!"

Api mulai berkobar di telapak tangannya. Dengan suara lantang, ia mengakhiri rapalannya. "Fireball!"

Bola api terbentuk di tangannya, lalu melesat ke arah target. Namun, bola api itu melenceng dari sasaran dan hampir tidak mengenainya.

Lucy tertawa kecil. "Hahaha, lumayan!"

August menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengeluh, "Yah... Kukira aku bisa sedikit pamer ke Kak Ana."

Lucy kemudian beralih pada Anastasia. "Dan sekarang, bagaimana kalau kamu juga mencobanya? Bukankah waktu itu kamu sudah bisa merasakan energi mana dalam tubuhmu?"

Anastasia tampak sedikit ragu. "Tapi aku kurang begitu paham caranya menggunakan sihir," ujarnya, menunduk.

Dalam benaknya, ia berpikir keras. Sial, bagaimana ini? Aku tidak tahu sama sekali. Memang aku bisa merasakan energi yang terasa hangat di dalam tubuhku, tetapi aku tidak tahu cara mengeluarkannya!

Lucy, yang melihat kebingungan Anastasia, tersenyum lembut. "Tenang, aku akan membantumu. Ayo, kita mulai dari dasar-dasarnya."

Ia melangkah mendekat dan menjelaskan dengan sabar. "Pertama, seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya, cobalah untuk merasakan energi mana dalam tubuhmu. Fokus dan biarkan perasaanmu menangkap aliran energi itu."

Anastasia mengangguk pelan, lalu memejamkan mata. Ia menarik napas dalam dan mencoba rileks.

"Rileks saja, tidak perlu tegang," kata Lucy lembut.

Beberapa saat kemudian, Lucy yang peka terhadap energi mana mulai merasakan bahwa Anastasia telah berhasil menemukannya.

"Apa kamu sudah merasakannya?" tanya Lucy.

"Sesuatu yang terasa hangat di dalam dadaku?" Anastasia bertanya ragu.

Lucy tersenyum. "Yup, betul. Sekarang, lanjut ke tahap berikutnya."

Ia menggenggam tangan kanan Anastasia dan memintanya membuka telapak tangannya, lalu mengarahkannya ke target. "Jika sudah terasa hangat atau sedikit panas, arahkan energi itu dari dadamu ke telapak tanganmu. Rasakan bagaimana alirannya bergerak perlahan."

Anastasia mencoba mengikuti instruksi. Perlahan, ia mulai mengarahkan energi dari dadanya ke tangannya. Kehangatan itu merambat, terasa semakin nyata.

"Sekarang, rapalkan mantra Fireball," perintah Lucy dengan suara lembut namun tegas.

Anastasia menelan ludah, lalu mulai mengucapkan mantra dengan hati-hati. "Ignis Volare, Ardere, Explodere..."

Di ujung telapak tangannya,  bola api mulai berkobar, kecil namun nyata. Wajahnya seketika berbinar melihat hasil usahanya.

"Fireball!" ucapnya lantang.

Bola api itu terbentuk lebih jelas. Dalam sekejap, bola api melesat cepat ke arah target dengan suara mendesing.

FWOSH~

Namun, bola api itu tiba-tiba menghilang di tengah jalan sebelum mencapai sasaran.

Anastasia terkejut. "Eh...?"

Lucy tersenyum melihat perkembangan muridnya. "Bagus, Anastasia! Ini adalah langkah awal yang luar biasa. Hanya perlu sedikit latihan lagi agar energimu tetap stabil dan bisa mencapai target."

August yang melihat itu pun terkagum-kagum. "Wow, Kak Anastasia! Kamu luar biasa!"

Anastasia tersenyum kecil, merasa sedikit bangga meski masih belum sempurna. Dalam hatinya, ia bertekad untuk terus belajar dan menguasai sihir dengan lebih baik.

Latihan hari itu pun berlanjut, dengan Anastasia dan August berusaha meningkatkan kemampuan sihir mereka, sementara Lucy terus membimbing dengan sabar. Perjalanan mereka sebagai penyihir baru saja dimulai.

Sore itu, setelah latihan panjang di halaman belakang, tubuh Anastasia dan August terasa lelah. Keringat mengalir di wajah mereka, tetapi ada kepuasan dalam setiap tarikan napas mereka.

August meregangkan tangannya ke atas sambil tersenyum lebar. "Haaah… akhirnya selesai juga! Latihan hari ini lebih melelahkan dari yang kukira!"

Anastasia hanya mengangguk kecil, mengibaskan sedikit telinga dan ekornya yang basah oleh keringat. "Hm… cukup melelahkan."

August menoleh ke arah kakaknya, lalu tersenyum kagum. "Kakak, kau luar biasa! Kukira kau tidak bisa menggunakan sihir, tetapi pada latihan pertama, kau langsung bisa menggunakan Fireball!"

Anastasia mengalihkan pandangannya, lalu menjawab singkat, "Itu bukan sesuatu yang patut dikagumi. Hanya bola api kecil… itu pun padam di tengah jalan sebelum mencapai target."

Ia kemudian menoleh ke arah August. "Sedangkan kau, hampir mengenai targetnya."

August tertawa kecil. "Tetap saja, kakak berhasil menggunakan Fireball saat pertama kali belajar sihir. Itu luar biasa! Sepertinya aku harus berlatih lebih keras agar tidak disusul oleh kakak, hahaha!"

Anastasia tidak menjawab, hanya menepuk pundak adiknya pelan sebelum berjalan menuju rumah. "Ayo, mandi. Aku sudah lelah."

Mereka pun masuk ke kamar mandi. Karena August masih anak-anak dan Anastasia, yang dulunya seorang laksamana laki-laki, tidak terlalu memikirkan hal seperti itu, mereka akhirnya mandi bersama seperti biasa.

Saat air hangat menyentuh tubuh mereka, August menatap kakaknya yang tampak tenang. "Kakak, menurutmu aku bisa menjadi penyihir sehebat Kak Lucy?"

Anastasia terdiam sejenak, lalu menjawab, "Jika kau terus berlatih, mungkin."

August sedikit cemberut. "Kakak ini… selalu menjawab pendek sekali."

Anastasia menoleh sekilas. "Aku hanya mengatakan yang perlu."

August menghela napas. "Baiklah, baiklah…"

Setelah selesai mandi, mereka berpakaian dan menuju ruang makan. Aroma makanan yang menggugah selera memenuhi ruangan, membuat perut mereka berbunyi pelan. Seraphina, Liliane, dan Heinrich sudah menunggu di meja makan.

"Kalian tampak kelelahan," kata Heinrich sambil mengamati kedua anaknya yang baru saja duduk.

August dengan antusias mulai menceritakan latihan mereka hari ini. Ia berbicara panjang lebar tentang bagaimana ia hampir mengenai target dengan Fireball, sementara Anastasia hanya makan dengan tenang, sesekali mengangguk.

Heinrich lalu menoleh ke arah Anastasia. "Bagaimana denganmu, Ana? Apakah latihanmu berjalan lancar?"

Anastasia meletakkan sendoknya sejenak, menatap ayahnya, lalu berkata, "Sepertinya..."

"Aku mencoba sihir Fireball, tetapi hasilnya belum sempurna," lanjutnya.

Liliane tersenyum mendengar jawaban singkat itu. "Jangan khawatir, latihan pertama memang selalu sulit."

Seraphina menyeringai dan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tapi kau lebih ahli dalam latihan fisik, kan? Itu sudah cukup untuk sekarang."

Anastasia hanya mengangguk pelan, lalu melanjutkan makan.

Heinrich tertawa kecil. "Sepertinya kalian memang mewarisi bakat ibu kalian. Anastasia berbakat dalam kekuatan fisik seperti Seraphina, sementara August memiliki talenta sihir seperti Liliane."

Seraphina menyeringai. "Mau bagaimana lagi? Mereka memang anak kita."

Liliane ikut tertawa. "Benar sekali. Mereka mewarisi bakat terbaik dari kami."

Mereka semua melanjutkan makan malam dengan suasana yang hangat. Anastasia, meskipun tidak banyak berbicara, merasa nyaman dikelilingi oleh keluarganya. Setelah makan, ia dan August kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, mempersiapkan diri menghadapi pelajaran baru esok hari.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!