Roma mungkin sudah mereka kuasai, tapi Valeria dan Dante tahu satu hal—kekuasaan sejati tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mereka bunuh, tetapi juga siapa yang mereka biarkan hidup. Dan malam ini, mereka memutuskan siapa yang layak tetap bernapas.
Valeria duduk di kursi kulit hitam di sebuah gudang kosong di pinggiran kota, kakinya bersilang dengan anggun, sementara Dante berdiri di sampingnya, memegang gelas anggur.
Di depan mereka, lima pria berlutut dengan tangan terikat di belakang, wajah mereka dipenuhi ketakutan. Mereka adalah bekas orang-orang Marcello dan Federica, yang berpikir bisa bersembunyi setelah tuan mereka mati.
"Kenapa kalian begitu ketakutan?" Valeria bertanya dengan suara manis. "Kalian hanya mencoba menyelamatkan diri, bukan?"
Salah satu pria, Enzo, berusaha bicara. "Kami… kami tidak bermaksud—"
DOR!
Kata-katanya terputus ketika Dante menarik pelatuk pistolnya. Kepalanya terhempas ke belakang, darah menyembur ke lantai beton.
"Aku tidak suka mendengar alasan," Dante berkata dingin, lalu mengangkat bahu. "Lanjutkan, Valeria."
Valeria tersenyum, berdiri, lalu berjalan mendekati pria berikutnya. Jemarinya yang bersarung tangan kulit menelusuri dagu pria itu.
"Apa kau tahu kenapa aku menyukai permainan ini?" bisiknya.
Pria itu menelan ludah, tidak bisa menjawab.
"Karena aku tahu kalian semua berpikir bisa lari dari kami."
Dalam satu gerakan cepat, Valeria menusukkan belati ke leher pria itu, lalu menariknya perlahan, menikmati setiap detik saat darah mengalir keluar.
Tiga pria lainnya menangis, memohon belas kasihan. Tapi bagi Dante dan Valeria, malam ini bukan tentang belas kasihan—ini tentang memastikan tidak ada lagi pengkhianat yang tersisa.
Dalam hitungan menit, hanya ada mayat di lantai gudang, dan Valeria menyeka tangannya dengan sapu tangan satin.
"Tikus-tikus ini sudah beres," katanya sambil tersenyum pada Dante. "Siapa yang berikutnya?"
Setelah para pengkhianat mati, kini giliran mereka yang diam-diam mencoba mengambil keuntungan dari kekosongan kekuasaan. Beberapa pengedar narkoba, beberapa pemilik klub ilegal, dan beberapa politisi yang dulu bekerja sama dengan Marcello.
Dante dan Valeria tidak perlu turun tangan sendiri untuk ini. Mereka mengirim pesan ke seluruh kota—kesetiaan atau kematian.
Dan Roma memilih tunduk.
Beberapa ‘kecelakaan’ terjadi:
Seorang hakim yang berani menentang mereka ditemukan tenggelam di sungai Tiber.
Pemilik kasino ilegal yang tidak mau membayar upeti mereka ditembak di dalam kantornya.
Seorang mantan letnan Marcello yang mencoba mengumpulkan pasukan ditemukan tergantung di jembatan, dengan pesan "Jangan Bermimpi" terukir di dadanya.
Valeria menikmati setiap detiknya.
Saat mereka berdua duduk di sebuah restoran mewah di pusat kota, menikmati makan malam dengan anggur terbaik, Valeria berkata, "Aku suka melihat mereka berusaha melawan, hanya untuk akhirnya menyerah."
Dante mengangkat gelasnya. "Begitulah seharusnya dunia berjalan, tesoro."
Mereka saling tersenyum, tahu bahwa Roma kini sepenuhnya dalam genggaman mereka. Tidak ada lagi tikus. Tidak ada lagi ancaman.
Hanya mereka—dua monster yang kini berkuasa sepenuhnya.
---
Malam itu, di puncak sebuah vila mewah di Amalfi Coast, Dante dan Valeria duduk berhadapan di balkon, segelas anggur di tangan masing-masing. Laut membentang luas di depan mereka, ombak berdebur lembut di bawah cahaya bulan.
Roma telah mereka taklukkan. Semua musuh-musuh mereka telah dilenyapkan, dan tidak ada lagi yang cukup berani untuk menantang kekuasaan mereka.
Namun, keduanya tahu bahwa kekuasaan yang bertahan lama bukan hanya tentang siapa yang bisa membunuh paling banyak—tapi siapa yang bisa bertahan paling lama.
Dante memandangi Valeria, matanya tajam namun penuh obsesi. "Kita harus menghilang."
Valeria mengangkat alis, memainkan gelas anggurnya. "Menghilang?"
Dante mengangguk. "Untuk sementara. Kita sudah terlalu besar, terlalu mencolok. Semakin lama kita di puncak, semakin banyak yang akan mencoba menjatuhkan kita. Jika kita mundur sekarang, membiarkan dunia berpikir kita sudah mati atau lenyap, maka ketika kita kembali… kita akan lebih kuat dari sebelumnya."
Valeria menatapnya lama, lalu menyeringai kecil. "Aku suka permainan ini."
Mereka tahu bahwa dunia bawah tidak akan pernah benar-benar melupakan mereka, tapi mereka bisa menciptakan ilusi. Ilusi bahwa Dante Salvatore dan Valeria sudah tidak ada lagi—setidaknya untuk sementara waktu.
"Kita akan menghilang," Valeria berkata, meneguk anggurnya. "Tapi kita akan tetap mengawasi dari bayang-bayang."
Dante tersenyum. "Dan saat waktunya tiba, kita kembali… dengan lebih banyak kekuatan."
Mereka mengangkat gelas, menandai perjanjian antara dua monster yang siap bersembunyi hanya untuk kembali lebih ganas dari sebelumnya.
Malam itu, dua penguasa Roma memutuskan untuk meninggalkan tahta mereka. Tapi bukan karena mereka takut—melainkan karena mereka tahu, ini hanyalah awal dari permainan yang lebih besar.
---
Dua minggu setelah perjanjian itu, nama Dante Salvatore dan Valeria Moretti perlahan menghilang dari dunia bawah. Tidak ada lagi jejak keberadaan mereka di Roma. Kasino-kasino yang dulu mereka kendalikan ditutup sementara. Klub-klub malam yang menjadi sarang transaksi mereka kini kosong. Para anak buah mereka disebar ke berbagai tempat, diperintahkan untuk tetap diam.
Berita kematian mereka mulai menyebar—desas-desus mengatakan bahwa Dante dan Valeria terbunuh dalam penyergapan brutal di perbatasan Swiss. Beberapa percaya mereka dibunuh oleh sisa-sisa kelompok Marcello yang masih mencari balas dendam, sementara yang lain menganggap mereka dihancurkan oleh organisasi yang lebih besar.
Namun, kebenarannya jauh lebih gelap.
Valeria di Paris
Valeria kini tinggal di sebuah apartemen mewah di Paris dengan identitas baru. Dia bukan lagi Valeria Moretti si psikopat haus darah, tapi Isabelle Laurent, seorang kurator seni eksentrik yang baru saja pindah dari London.
Setiap hari, ia berkeliaran di galeri-galeri seni, berbincang dengan kolektor kaya dan seniman berbakat. Tapi di balik wajah anggun dan senyum misteriusnya, Valeria tetaplah monster yang sama.
Di malam hari, ia diam-diam memantau pergerakan orang-orang yang dulu mengabdi pada Dante. Beberapa di antara mereka mencoba mengambil alih kekuasaan, berpikir bahwa era Dante telah berakhir.
Valeria mencatat nama-nama mereka. Mereka yang berani mengkhianati Dante akan menghadapi konsekuensi—suatu hari nanti.
Dante di Argentina
Sementara itu, Dante berada di Buenos Aires, hidup dengan nama Alejandro Costa, seorang investor kaya yang memiliki ladang anggur di Mendoza.
Ia mengamati dunia dari jauh, menikmati hidup yang lebih tenang. Tapi dalam pikirannya, ia tahu bahwa ini bukanlah akhir.
Suatu malam, ia duduk di bar kecil di tengah kota, menikmati segelas whiskey ketika seorang pria tak dikenal duduk di sampingnya.
"Orang-orang berbicara," kata pria itu pelan. "Mereka bilang Dante Salvatore sudah mati."
Dante hanya tersenyum tipis. "Orang-orang suka membuat cerita."
Pria itu menatapnya dengan waspada, lalu meneguk minumannya. "Kalau dia memang masih hidup, dia pasti sedang merencanakan sesuatu."
Dante tidak menjawab, hanya menatap kosong ke dalam gelasnya.
Karena memang benar—Dante dan Valeria tidak pernah benar-benar menghilang. Mereka hanya menunggu. Mengamati.
Dan ketika saatnya tiba, mereka akan kembali.
Lebih kuat. Lebih kejam.
Dan dunia akan berlutut di hadapan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments