Ternyata Dia Baik

Kembali ke Felyn ....

Keadaan masih berisik karena mereka saling menjelekkan satu sama lain, padahal saat ini yang lebih penting adalah membawa Felyn ke UKS untuk istirahat karena benturan dari bola voli tadi cukup keras.

"Guys, please! Jangan ribut gini, mending bantu aku deh." saran Nadin yang tidak dihiraukan.

Di tengah-tengah keributan itu, Morgan menjadi penengah. Ia tiba-tiba datang sambil membawa speaker musik miliknya dengan suara berdengung sehingga membuat semua yang ada di dekatnya mulai berhenti berdebat karena berisik.

"Hentikan sifat kekanak-kanakan kalian!" tegur Morgan dengan wajah datar.

Karena semua sudah berhenti berdebat dan sedang memperhatikannya, Morgan pun mematikan bunyi speaker tersebut.

"Suara kalian lebih berisik daripada suara speaker ini! Kalian tidak sadar kah?"

"Anak kelas lain yang sedang olahraga memperhatikan dari kursi penonton di atas! Kalian tidak malu?"

Mereka pun tersadar, apa yang dikatakan oleh Morgan ada benarnya. Mereka bukan lagi anak kecil, bahkan sebentar lagi mereka akan naik kelas 12 dan menghadapi ujian sekolah. Tidak ada waktu untuk berdebat seperti anak kecil yang memperebutkan sebuah mainan.

Ya, maaf. Abis geram banget liat kelakuan cewe aneh kayak mereka

Iya, Morgan. Masa lo masih bisa nahan emosi? Gue aja udah panas.

.....

Morgan berjalan menuju Felyn dengan wajah datarnya. "Itu kan, kalian. Bukan saya."

"Astaga, langsung merinding liat wajahnya kayak gitu."

"Iya, cuy. Ngomong dikit aja udah kayak psikopat tu anak."

"Sttt, diam! Kalian ngomong jangan ngawur."

"Yee, siapa juga yang ngawur."

"Emang gitu ya dia orangnya? Aku takut deket-deket Morgan lah!"

"Dingin banget orangnya."

....

Walau anak lain tengah membicarakan tentangnya, Morgan tak menghiraukan hal itu. Ia bergegas menghampiri Felyn untuk membantunya pergi ke UKS untuk beristirahat.

"Kamu tidak apa-apa, kan Felyn?" tanya Morgan sambil mengulurkan tangannya.

Semua orang semakin kebingungan, karena Morgan tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Bahkan, dulu ia tidak akan pernah peduli jika ada keributan seperti sekarang ini.

Nadin menyenggol lengan Felyn untuk menyuruhnya menjawab Morgan. "Emm, iya. Gpp, kok. Cuma pusing dikit aja, entar juga sembuh," jawab Felyn sambil tersenyum kecil.

Morgan memperhatikan kening Felyn sedikit terlihat ada benjolan karena terkena bola tadi.

"Kepala kamu benjol tuh." ucap Morgan setenang es kutub utara.

Felyn pun merasakan apa yang dikatakan Morgan benar. "Hehe, iya. Gpp, biar aku pergi sama Nadin aja ke uks yang lain lanjut aja main bola nya."

"Emm, Fel. Gue kan ketua kelas, mau gue kasih tahu wali kelas aja nggak?" tanya Randi.

Felyn menggeleng. "Ah, gak usah, Ran. Entar jadi panjang banget masalahnya, gue kan gak suka ribet."

"Iya, Makasih ya Randi, udah mau bertanggung jawab sebagai ketua kelas." ucap Nadin sambil tersenyum.

"Mau gue bantu ke uks juga nggak?" tanya Randi.

Felyn dan Nadin serentak menolak Randi, "Gak usah!"

"Biar aku aja yang bantuin Felyn!" ucap Nadin sambil membantu Felyn berdiri.

Lagi-lagi ribut karena mau membantu Felyn pergi ke uks. Padahal awalnya mereka sama sekali tidak peduli dengan Felyn dan sikapnya yang tidak sejalan dengan teman-teman sekelasnya itu.

Saat Felyn sudah berdiri dibantu Nadin, ternyata kakinya sedikit terkilir karena terlipat di tempat duduk tadi. Ia pun tidak mungkin bisa berjalan ke uks, karena sekolah ini cukup besar untuk berjalan sejauh itu akan membuat kakinya semakin sakit.

"Fel, kaki kamu juga sakit?" tanya Nadin.

Felyn mengangguk. "Ah, iya. Aku juga baru terasa sekarang, tadi kayaknya nggak kenapa-kenapa."

Karena melihat Felyn tidak bisa berjalan, banyak yang menawarkan untuk menggendongnya sampai ke uks terutama anak laki-laki. Mereka tampaknya baru menyadari bahwa Felyn sebenarnya juga cantik, cuma sedikit cuek aja sama sekitarnya.

Morgan pun menawarkan punggungnya. Mereka sontak amat terkejut, karena Morgan tiba-tiba bersikap seperti itu.

"Hah, Morgan?"

"Ih, sumpah aneh banget. Dia kan nggak pernah kayak gitu sih?"

"Iya, jadi merinding."

"Ganteng sih, tapi kenapa gue takut ya liat Morgan?"

"Biar gue aja sini!"

"Nggak, biar gue aja. Ya, kan Felyn?"

.....

"Ayo, naik. Kaki kamu sakitkan?" tanya Morgan dengan nada pelan.

Felyn melihat kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan dengan baik. Ia pun mencoba mempercayai Morgan dan menaiki punggung Morgan.

"Pelan-pelan jalannya ya, Morgan! Aku takut jatoh." ucap Felyn seraya mengalungkan tangannya dengan erat pada Morgan supaya tidak terjatuh.

Morgan pun mulai berjalan sambil menggendong Felyn di punggungnya. "I know," jawabnya singkat.

Setelah Morgan menggendong Felyn untuk membawanya ke uks, Nadin dan yang lainnya terdiam sambil memperhatikan sikap Morgan yang berbeda dari biasanya. Bahkan, seharusnya Nadin yang juga pergi bersama Morgan dan Felyn pun jadi lupa dan membicarakan Morgan dengan teman-temannya di lapangan.

Saat berjalan di koridor gedung 2 lantai 1, untuk ke uks, suasana amat sepi sekali. Biasanya, koridor itu ramai dengan anak kelas 10 ipa yang membolos ke uks.

Morgan berjalan dengan langkah tenang, sehingga membuat Felyn tidak takut terjatuh. Ia beberapa kali berbincang dengan Felyn, tetapi Felyn menjawab dengan singkat.

"Kamu tidak apa-apa, kan Felyn?" tanya Morgan.

Felyn tadinya baru saja akan terlelap, tetapi karena pertanyaan Morgan ia pun menjawabnya.

"Hah?....emm, gpp kok." jawabnya dengan nada suara melemas.

Beberapa langkah kemudian, mereka sampai di uks. Tidak seperti biasanya, uks juga sepi, tidak ada guru yang mengawas di uks tersebut. Dan biasanya anak-anak sudah memenuhi uks karena alasan yang beragam-ragam untuk menghindari pelajaran di kelas, tetapi sekarang benar-benar hanya Felyn dan Morgan.

Morgan memperhatikan sekitar di dalam uks, "Apa karena guru sedang rapat, jadi tidak ada yang jaga?"

Ia langsung menurunkan Felyn dan membantunya baring di atas tempat tidur pasien. Tak disangka, ternyata Felyn benar-benar sudah tertidur lelap, karena efek benturan yang membuat kepalanya harus beristirahat sejenak.

"Cepat sekali tidurnya." Morgan pun tidak sengaja melihat sebuah gunting yang ada di atas laci, tepat di depan matanya.

Tatapan matanya berubah tajam dan seketika serius memperhatikan benda tersebut. Jari-jari tangannya sudah bergerak-gerak menandakan ia ingin mengambil gunting itu.

Tetapi, tiba-tiba sebuah tangan menghampiri gunting itu lebih dulu sebelum Morgan.

BERSAMBUNG ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!