Hanzel dan juga Sahira merasa begitu khawatir sekali karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, tetapi Cia belum juga pulang. Anak perawan itu tidak memberikan kabar sama sekali kepada mereka.
Awalnya keduanya berpikir kalau Cia pergi jalan-jalan bersama dengan teman-temannya, karena wanita itu baru pulang dari luar negeri dan pastinya kangen dengan teman-temannya.
Namun, rasanya sangat tidak mungkin karena Cia bukanlah anak remaja yang suka pergi sampai larut malam.
"Gimana, Yah? Apa Cia sudah bisa dihubungi?" tanya Sahira.
Hanzel yang sedang berusaha untuk menelpon Cia nampak menggelengkan kepalanya, berkali-kali dia menelepon Cia, tetapi gadis itu tidak mengangkat panggilan telepon darinya.
Panggilan teleponnya berdering, tetapi tidak diangkat sama sekali. Pesan chat yang dia kirimkan juga langsung ceklis dua, tetapi tidak dibaca sama sekali.
"Ayah jadi khawatir, apa mungkin dia ketiduran di resto?"
Hanzel dan juga Sahira memang merasakan hatinya tidak tenang, tapi mereka tidak mau berpikiran buruk. Sahira yang mendapatkan usulan dari suaminya langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya, Sayang. Kita ke resto aja, siapa tau dia begitu kecapean dan langsung ketiduran di sana."
Ini pertama kalinya Cia bekerja, rasanya masuk akal kalau mereka berpikir jika Cia tertidur setelah seharian bekerja dengan begitu lelah.
"Ayo kita ke sana," ujar Hanzel cepat mengambil kunci dan juga jaket.
Lalu, dia memakan Sahira jaket dan mengajak wanita itu untuk pergi menuju Resto cabang. Dia pergi dengan melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi, beruntung hari sudah begitu malam, hal itu membuat jalanan terlihat begitu lenggang.
"Loh, bukannya itu mobil Hafis?" tanya Sahira.
Keduanya sudah sampai di depan resto, mereka begitu kaget karena di halaman Resto terlihat ada mobil Hafis yang terparkir.
"Iya, bener, Bun. Itu mobilnya Hafis, kenapa ada di sini? Ke mana anak itu?"
Keduanya turun dari mobil dengan tergesa, lalu mereka menuju pintu resto. Keduanya begitu kaget sekali karena ternyata pintu Resto tersebut tidak terkunci, dengan cepat Hanzel mendorong pintu Resto itu dan mengajak istrinya untuk masuk.
Keduanya nampak menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, lampu di sana sudah dipadamkan. Namun, mereka yakin jika keduanya ada di sebuah ruangan yang entah di mana.
"Kira-kira di mana Cia dan Hafis?"
Keduanya saling pandang, tak lama kemudian keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan kerja Cia. Saat mereka masuk, keduanya begitu kaget karena melihat Hafis dan juga Cia yang sedang tidur di atas sofa.
Keduanya tidur dalam keadaan saling memeluk, yang lebih membuat keduanya kaget adalah Cia dan juga Hafis yang ada dalam keadaan polos.
Baju keduanya bercecer di atas lantai, tentu saja Sahira dan juga Hanzel tahu dengan apa yang sudah terjadi jika keadaannya seperti itu.
"Astagfirullah! Apa yang sebenarnya sudah terjadi?"
Sahira yang begitu lemas langsung luruh ke atas lantai, tubuhnya benar-benar bergetar dengan hebat. Wanita itu merasa kecewa dengan apa yang sudah dia lihat, dia bahkan langsung menangis tersedu-sedu.
Hanzel juga merasakan kekecewaan yang luar biasa, dia langsung merangkul istrinya dan mengajak istrinya untuk duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
Hanzel dengan cepat mengambil selimut, lalu menutup tubuh keduanya. Setelah itu, dia berusaha untuk mengontrol emosinya dan menepuk pundak Hafis.
Tak lama kemudian Hafis membuka matanya, pria itu nampak kaget dan langsung bangun ketika melihat Hanzel yang sedang menatap dirinya dengan penuh amarah.
"Hafis! Bisa jelaskan apa yang sudah terjadi?"
Hafis dengan cepat duduk, lalu dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.
"Maaf, Tuan. Tapi ini di luar batas keinginan saya." Hafis menunduk setelah mengatakan hal itu.
"Maksudnya bagaimana?"
"Saya tadi sore datang dan berniat untuk menjemput Cia, tapi tiba-tiba ---"
Hafis menceritakan apa yang dia alami, tak lama kemudian Hanzel memberikan bogem mentah pada rahang pria itu yang dirasa kalau Hafis terlalu mengada-ada.
"Tak mungkin Cia melakukan hal itu!" teriak Hanzel.
"Saya juga tak paham, tapi dia memang memaksa saya untuk melakukannya. Kalau Tuan tidak percaya, boleh Tuan mengecek rekaman CCTV."
Hanzel memang marah dan juga kecewa, tetapi pria itu juga harus mencari kebenarannya. Dia dengan cepat keluar dari sana, pria itu dengan marah membanting pintu dengan kencang.
Cia yang sedang tertidur karena kelelahan tentunya langsung terbangun, dia mengucek matanya dan tak lama kemudian dia meringis kesakitan.
"Aduh! Ini sangat sakit," ujar Cia sambil memukul-mukul pinggangnya.
Tak lama kemudian Cia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing dan berat, dia sampai belum sadar dengan apa yang sudah terjadi.
"Cia, coba jelaskan apa yang sudah terjadi?"
Sahira tak tahan lagi untuk bertanya, Cia yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ibunya langsung menolehkan wajahnya ke arah ibunya.
Dia begitu kaget melihat ibunya ada di sana, dia bahkan lebih kaget lagi ketika melihat ada Hafis di sampingnya dan tubuh mereka bahkan saling menempel dengan keadaan polos.
"Loh, kenapa aku dalam keadaan polos? Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Cia.
"Justru Ibu yang harusnya bertanya kepada kamu, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan bersama dengan Hafis?"
Cia terdiam sesaat mendengar pertanyaan dari ibunya, tidak lama kemudian dia teringat sesaat setelah dirinya mau makan kue putu buatan Nina.
Dia merasakan tubuhnya begitu panas, dia bahkan merasa begitu bergelora. Dia ingin disentuh, dia ingin merasakan hal yang belum pernah dia rasakan.
Cia bahkan dengan brutal memedulikan kasih dengan Hafis, walaupun awalnya dia menjerit kesakitan, tetapi tak lama kemudian dia meminta Hafis untuk menggauli dirinya. Cia sampai merasa nikmat berbalut lelah.
"Cia gak tau, Bu. Cia juga gak paham kenapa Cia bisa melakukan itu sama Hafis," jawab Cia sambil menangis.
Dia merasa malu ketika mengingat apa yang sudah dia lakukan, dia juga merasa kecewa terhadap dirinya sendiri. Karena bisa-bisanya dia melakukan hal yang tidak baik.
"Maafkan Cia, Bu. Cia juga nggak tahu kenapa ini harus terjadi," ujar Cia terus saja menangis.
Sahira ikut menangis dan memeluk putrinya, tak lama kemudian dia bahkan membantu putrinya untuk memakai pakaian. Sahira juga meminta Hafis untuk mengenakan pakaiannya.
"Bagaimana, Yah?"
Hanzel sudah mengecek rekaman CCTV, diyakini sudah kembali ke dalam ruangan Cia. Lalu, dia itu duduk di samping istrinya.
"Kabar ini jangan sampai terdengar keluar, kalian segera menikah saja."
"Tapi, Yah. Cia gak cinta sama Hafis," ujar Cia tak terima.
"Mau dikata apa, Cia? Kamu sudah kehilangan keperawanan, kalau tidak menikah dengan Hafis, mau bagaimana masa depan kamu?"
"Tapi, Yah. Aku---"
"Kalau kamu tak hamil mungkin tak apa, tapi kalau hamil bagaimana? Kamu mau merusak masa depan kamu? Kamu mau merusak keturunan kamu?"
Cia menunduk lesu, menurutnya Hafis memang merupakan pria yang baik. Namun, sungguh dia tidak memiliki perasaan apa pun kepada pria itu.
"Besok kalian harus langsung menikah, Ayah gak mau tau. Urusan bang Dion gampang, nanti Ayah yang ngomong."
"Iya, Ayah." Cia hanya bisa tertunduk lesu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Far~ hidayu❤️😘🇵🇸
pasti Nina yg bubuh itu ubat perangsang pada makanan
2025-03-19
0