Mulai hari itu juga mereka tidak akan kembali ke rumah dan sekolah di dunia manusia.
Mereka berempat akan sepenuhnya berada di sana. Menjalankan tugas akademi maupun aktifitas sehari-hari. Tapi Delphine berusaha meyakinkan mereka kalau di sana tidak seburuk seperti yang dikira.
Terutama masalah makanan. Karena sebagian murid-murid Myth Akademi di sana adalah manusia, jadi persediaan makanan juga disesuaikan.
Bahkan sebagian yang murni mahkluk sana pun sudah membiasakan diri dengan memakan makanan bumi.
Dan tiga hari kedepannya nanti akan diadakan duel antara lima kelas akademi dari lima alam untuk pertama kalinya. Terkecuali Leprechaun. Tapi untuk hari itu, mereka menghadiri kelas seperti biasanya. Itu berarti Melody terpisah dari yang lainnya.
Seperti yang sudah dibilang oleh Bastet sebelumnya... Melody di taruh di kelas alam Underground. Karena tidak ada tempat atau kelas bagi murid sepertinya.
"DANG!!!..."
Lonceng dari menara akademi berdentang di waktu yang berbeda sesuai jadwal kelas. Dan yang baru saja berdentang adalah tanda waktu kelas Underground akan dimulai. Malam hari! Mereka yang masih berada dia sekitar halaman akademi pun berjalan masuk ke dalam sana. Menempati kelas mereka.
Jadi Melody bukan hanya terpisah dalam jarak dan tempat, tapi juga waktu.
Sedangkan Delphine atau Abigail sudah lama selesai dari kelas mereka masing-masing. Dan mungkin sekarang itu mereka sedang berbaring santai di kamar mereka.
Hanya Underground yang memiliki jadwal kelas malam.
Sesampainya di kelas Underground... "Melody terpaku untuk sejenak di ambang pintu. Memandang seluruh kelas yang dihuni oleh murid-murid lain dengan tampilan yang macam-macam, aneh, dan sebagian banyak dari mereka cukup mengerikan.
Dan mereka juga balas memandang Melody.
"Ehem!" Seseorang berdehem tepat di belakangnya. Itu guru dari underground, Medusa! dari kaum Gorgon.
"Kau bisa masuk sekarang!" Ucapnya. Mata ularnya melirik ke bawah. Terpaku terkejut untuk sesaat... Melody lalu berjalan cepat masuk dan segera mencari kursi yang bisa ditempatinya.
Dan guru tadi berjalan masuk di belakang Melody. Tapi dia bukan berjalan dengan kaki. Seingatnya... waktu pertemuan untuk perkenalan degan para guru dan murid, dia berdiri dengan dua kaki. Tapi tidak kali itu. Melody baru menyadari setengah tubuh bawahnya adalah ular.
Panjang menggeliat pelan di lantai kelas. Melody sempat memperhatikan ekornya. Sehabis itu dirinya kembali fokus mencari bangku kosong.
Di sana, semua duduk satu orang per meja. Dan Melody melihat satu meja atau kursi yang berada di barisan tengah kosong. Satu-satunya yang kosong. Jadi dia menempati yang satu itu.
Sepertinya itu memang sudah disediakan bagi Melody.
"Hai...," Sapanya pelan kepada yang menempati meja sebrang_ sebelah kanannya. Senyumnya canggung.
Gadis berkulit kemerahan, bertanduk dua, dan memiliki ekor tajam seperti ujung busur panah yang menempati bangku di sebelah kanan Melody itu, dia samar mengeluarkan nafas panas dari dalam mulutnya. Sedangkan gadis berambut lurus panjang bergaris keabu-abuan yang berada di belakang Melody memiliki sepasang telinga serigala, lengkap dengan tampilan kumisnya.
Dan Gadis serigala itu samar menggeram kepadanya dengan taring yang terlihat. Menatap Melody tajam.
Melody menelan ludah. Kembali menghadap lurus ke depan.
BRAAK!!
Medusa membanting tumpukan bukunya di atas meja guru di depan sana. Suaranya sampai mengejutkan Melody yang hampir melompat dari kursinya.
Pelajaran dimulai. Tapi jangan berharap akan ada matematika, pelajaran bahasa, atau pelajaran-pelajaran lainnya yang biasa ada di sekolah atau akademi di dunia manusia pada umumnya.
Di kelas Underground, mereka tidak diajarkan kekuatan persahabatan yang menjadi salah satu ajaran yang diajarkan di kelas peri. Tapi di sana mereka diajarkan ketangkasan, ambisi, dan kekuatan. Juga berpikir kritis.
Tidak ada yang boleh terlalu berbaik hati terhadap sesamanya. Penghianatan bisa saja terjadi kapanpun. Ucap Medusa di depan sana. Suaranya lantang dan keras.
Suasana kelas yang berbeda. Ditambah ruang luas dan tinggi dengan atap terbuka... menunjukan terang bulan sabit yang terlihat seperti begitu dekat tepat di atas kepala Melody dan lainnya.
Hampir tidak ada lampu di sana. Pancaran terang bulan dari atas mereka itulah penerangan kelas mereka.
Melody mencoba membiasakan diri dan serius. Setidaknya untuk seminggu itu saja, demi mengatasi sayapnya.
Tapi tentu tidak mudah!
Di hari pertamanya di akademi saja sudah mulai ada gangguan, konflik, dan desakan dari murid-murid yang lain. Dan itu berarti bukan karena suasan kelas yang tampak mencekam.
Bermula ada seekor lalat terbang di depan wajah Melody... "Slap!" Di sisi sebrang meja sebelah kiri tiba-tiba menjulurkan lidahnya cepat dan langsung mendapatkan lalat tadi. Melody terkejut.
Dia terlihat sedang mengunyahnya. Tampilannya memang normal seperti gadis normal pada umumnya, hanya saja warna kulit pada wajahnya yang sebagiannya berwarna kehijauan. Terutama urat mengakar di balik kulitnya.
"Bisakah Kau turunkan sayapmu itu?!" Yang dibelakang tadi lalu mendesaknya.
"Oh maaf! Tapi aku tidak tahu caranya," Sahut pelan Melody di tengah suara Medusa yang berbicara di depan sana. Sedikit memutar tubuhnya_ menatap gadis serigala dibelakangnya tadi.
Melody berusaha sopan. Tapi dia mengoceh terus.
"Ada apa dengan kalian berdua?!" Medusa terpancing. Yang lain pun serentak menoleh menatap ke arah mereka juga. Terutama Melody.
"Sayapnya menghalangi pandanganku!" Keluh yang dibelakang Melody. Berusaha memiringkan tubuhnya agar dapat melihat ke depan sana.
"Melody, Bisakah kau...," Medusa fokus padanya. Meminta Melody untuk menyimpan sayapnya, seperti Siera yang menempati bangku di samping kanannya.
"Tapi aku tidak bisa! sungguh!" Melody kembali terus terang.
"Iiiiiiiih...!" menyempitkan kedua bahunya. Emosi yang dibelakang Melody mulai semakin memuncak. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya.
"Tenanglah Medeina! Pasti ada solusi untuk mengurus masalah ini," Medusa berusaha menenangkan. "Kau mungkin bisa bertukar saja dengannya. Bagaimana?!"
"Apa?! Tidak! Ini tempatku!" Tolaknya.
"Biar aku saja!" Interupsi suara dari yang lain. Satu murid lain beranjak dari bangkunya dan menghampiri tempat Melody. Lalu seekor ular bersisik pucat keluar dari balik kerudung seragamnya.
Dan ular itu mulai merambat dari bawah kaki kursi yang ditempati Melody.
Melody sontak ketakutan. Sigap cepat beranjak berusaha kabur. Tapi satu lagi yang lain langsung mencegatnya. Si murid pria bertubuh besar bermata satu menahan tubuh Melody dan kembali menaruhnya pada tempat duduk.
"Rebeca! Bisa kau bantu?!" Medusa meminta tambahan bantuan dari yang lain. Dia tahu apa yang ingin berusaha dilakukan oleh satu-satunya murid yang hampir tidak pernah membuka kerudungnya di hadapan murid lain di Akademi itu.
Gadis berambut hitam begitu panjang sampai hampir menyentuh betis, berkulit begitu putih pucat, dan bermata merah yang barusan diminta oleh guru Medusa itu mulai melakukan sesuatu terhadap sayap Melody.
Dan Melody tidak bisa melakukan apa-apa.
Rebeca menekuk paksa sepasang sayap Melody ke bawah. Lalu ular yang sama tadi merayap dan melilit sekitar pinggangnya_ bersama dengan sayapnya. Jadi sayap itu terikat di belakang punggungnya.
Masalah mungkin sudah teratasi. Tapi yang jadi masalah adalah ular yang melingkar di sekitar pinggangnya.
Saking jijiknya, Melody sampai enggan untuk melihatnya. Dia terdiam tegang. Juga karena takut kalau ular itu nanti malah akan menggigit dan menanamkan bisa di dalam tubuhnya.
"Jangan khawatir. Enam puluh persen ular itu tidak akan menggigitmu!" Selip ucap yang berkerudung tadi, lalu dia berjalan pergi kembali ke bangkunya. Mendengar ucapannya tadi... biji hitam kebiruan bola Mata Melody mengecil.
Dua yang lainnya juga kembali ketempatnya. Pelajaran kembali dilanjutkan.
Dan gadis serigala bernama Medenia tadi kembali duduk ditempatnya dengan tenang. Tapi matanya masih sempat melirik kepada Melody dari belakang sana.
Ekspresi jengkel yang masih membekas. Dia memang agresif. Terutama jika berhadapan dengan murid baru.
Tadi juga nyaris saja. Saat amarahnya mulai memuncak tadi, Medeina sempat ingin menggunakan jimatnya untuk berubah dalam wujud siap bertarung.
Masing-masing dari mereka memiliki jimatnya masing-masing. Tanpa itu, mereka tidak bisa berubah ke wujud sempurna.
Di underground, mereka memiliki benda seperti jam saku tapi dengan bola mata hidup di dalamnya. Di kelas peri, mereka memiliki tongkat bunga sebagai benda untuk perubahan mereka. Di kelas Mermaid, mereka memiliki liontin cangkang dengan barisan mutiara. Sedangkan di kelas Penyihir, mereka memiliki tongkat sihir dengan batu kristal di ujungnya. Dan untuk kelas bangsawan mereka memiliki Pin kehormatan untuk pria atau pangeran, dan Gelang untuk wanita atau putri kerajaan. Juga mahkota sebagai peningkat kekuatan mereka.
Lupakan Leprechaun! Karena sudah dibilang sebelumnya kalau mereka bukan petarung, jadi mereka tidak memiliki perubahan. Telinga runcing itu akan permanen dan langsung muncul selama mereka di Akademi atau dunia Mythtopia. Bagi yang manusia, mereka akan kembali normal ketika kembali ke luar portal.
Tapi mereka tidak banyak. Hanya beberapa orang termasuk Theo yang sebagai Leprechaun. Mungkin lima.
Sesuai buku yang tersisa... Hanya tinggal empat puluh satu portal yang masih aktif dan faktanya itu termasuk yang belum aktif. Sisanya sudah pernah dimasuki oleh orang dari dunia manusia tapi kini sudah terkunci.
Jadi intinya sekarang tidak banyak dari mereka yang berasal dari manusia. Banyak yang tidak pernah kembali ataupun keluar.
Tidak pernah kembali berarti itu karena pihak manusia sendiri yang sengaja menutupnya dari luar sana. Info yang belum lama didapat dari Abigail. Tetapi yang tidak pernah keluar lagi... berarti hanya satu yang terjadi. Tersesat selamanya, atau Akhir dari hidup mereka!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments