Episode 16

Selesai makan siang Safi benar-benar kena palak sama Martin,mana harganya setinggi langit lagi makan ditempat ini,hampir separuh bonus habis buat traktir atasannya itu.

"Kenapa manyun?"tanya Martin

"Gak papa."jawab Safi

"Sini kunci mobil."kata Matin

Safi memberikan kunci mobil kepada Martin,dia meninggalkan Safi begitu saja karena ada urusan ditempat lain,Safi disuruh naik taxi kembali kekantor.

"Awas kamu Pak."kata Safi dengan geram

Safi kembali kekantor dengan taxi,meski sedikit terlambat namun Safi tetap memburu waktu dengan berlari.

Saat tiba diruang kantornya Safi melihat Martin baru saja masuk kedalam ruangannya dan pintunya sengaja tidak ditutup,bukannya tadi bilang ada urusan diluar tapi mengapa dia sudah lebih dahulu disini.

"Issshhh,menyebalkan sekali dia."kata Safi

"Safi kamu darimana kok ngos-ngosan begitu?"tanya Celine

"Abis dikejar kucing liar tadi."jawab Safi

"Kucing liar?"tanya Linda teman dekat mejanya

Safi mengambil botol air minum dan meneguknya setelah duduk,dia kembali melanjutkan pekerjaannya meski masih merasa kesal.

****

Angin kencang mulai menusuk tulang melewati pori-pori,menjelang malam Ibu Aini menyalakan lampu dibantu Aini,suara ombak bergulung-gulung membuat perasaan Aira takut,dia ingin segera masuk kedalam rumah karena merasa ombak akan menyeretnya.

"Apa sudah selesai?"tanya Ibu

"Sudah Bu."jawab Aini

"Sini,kemarilah biar Ibu ikat rambutmu yang berantakan."kata Ibu

Aira mendekat dan duduk didepan Ibu,dengan menggunakan sisir Ibu mengikat rambut Aira,meski dengan keterbatasan Aira merasa nyaman karena Ibu memperlakukannya seperti Aini anaknya.

Selama menjadi Aira dia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang menyenangkan dari Ibunya Murni,selama ini Aira selalu dijadikan tameng untuk mencukupi kebutuhannya,bahkan pernah menjodohkan dengan lelaki yang usianya hampir cocok menjadi Ayahnya sebelum Murni bertemu dengan Lintang.

"Jangan melamun,gak baik malam-malam."kata Ibu

"Enggak Bu,Mengapa Ibu betah tinggal disini?"tanya Aira

"Disini lebih tenang,meski tetangga tidak banyak tapi setidaknya masih bisa makan."jawab Ibu

Aira merebahkan kepala dipangkuan Ibu,dia merasa nyaman meski hanya memakai baju seadanya,lampu tempel minyak tanah karena terkadang listrik sudah mati sebelum jam sembilan malam.

Murni kelimpungan setelah kehilangan Air,dia merasa gelisah karena saat tidur bermimpi bertemu dengan Aira,dia tersenyum namun berjalan mundur dan lama-lama menjauh.Karena penasaran akhirnya Murni menghubungi Lintang,satu jawaban dari Lintang hanya satu tidak tahu.

****

Pagi ini Zahira sudah kembali masuk kerja setelah cuti selama seminggu dan Jerri memperpanjang menjadi dua minggu,bahkan Jerri masih nego kepadanya untuk menambah lagi cutinya,namun Zahira menolak dengan alasan pekerjaan akan bertambah.

"Sayang,aku tambah cuti kamu dua hari lagi."kata Jerri saat Zahira sudah naik dalam mobilnya

"Kamu belum puas mengerjaiku tiap malam?"tanya Zahira

Jerri tersenyum mendengar pertanyaan Zahira,jika dirumahnya mungkin sudah dia tarik kembali masuk kedalam kamar,namun karena ada dirumah mertua Jerri merasa segan dengan Bunda jika harus mendekam didalam kamar setiap saat.

"Bagaimana kalau kita pulang kerumah atau keapartemen?"tanya Jerri

"No."jawab Zahira

Jawaban Zahira hanya menambah rasa gemas,akhirnya Jerri mengalah,dia fokus menyusuri jalanan beraspal melewati satu persatu kendaraan yang berada didepannya,apalagi saat jalanan lengah dia menambah kecepatannya tidak memikirkan siapa yang ada disampingnya,setelah berhenti dengan sempurna Zahira mengeluarkan lipgloss dan mengaplikasikan dibibirnya,serta membenahi hijabnya.

"Kira-kira kalau mau main balap."kata Zahira memasukkan kembali lipgloss kedalam tas

Saat Zahira ingin membuka pintu Jerri malah menguncinya,dia masih duduk bersandar dengan kedua tangan dilipat didada.

"Mau disini apa diruanganku?"tanya Jerri

"Apa sih?pagi-pagi juga,jangan aneh-aneh."jawab Zahira

"Aku tanya sekali lagi,mau disini atau diruanganku?"tanya Jerri

Zahira tidak menjawab,dia ikut duduk bersandar ketika tidak memiliki jawaban,tidak mungkin melakukan didalam mobil meski kacanya gelap,apalagi diruangan Jerri bisa-bisa dia ditertawakan saat keluar.

Zahira hanya menggaruk kepala yang tidak gatal,sementara Jerri masih menunggu jawaban istrinya meski dia tahu Zahira tidak punya pilihan,ada rasa malu jika keluar dari ruangannya.Jerri masih menghitung dengan jari-jarinya,saat Zahira pelan-pelan melepaskan sit belt sambil mendekatkan kewajah Jerri dan mengecup bibirnya namun tangan satunya berhasil membuka pintu dan dia langsung keluar.

Jerri sempat terlena dengan menutup mata melihat keberanian Zahira namun saat mendengar suara pintu dibuka dia baru sadar jika Zahira sudah mempermainkannya.Jerri tidak punya waktu lagi untuk mengejar karena Martin memanggilnya.

"Bos."panggil Jerri

"Aaaiiiissshhh."lirih Jerri

"Kenapa mukamu,gak dapat jatah semalam?"tanya Martin

Jerri tidak memperdulikan pertanyaan Martin,dia terus berjalan masuk kedalam lift dan menyandarkan tubuhnya,menunggu lift terbuka sampai diruang kantornya.

Begitu sampai bukan keruangannya tapi mencari Zahira dimejanya karena tidak menemukan Zahira dia duduk dikursinya,menunggu sampai Zahira datang.

Safi masuk lebih dahulu disusul Zahira,mereka berdua kehilangan senyuman karena melihat Jerri duduk dikursi Zahira.

"Kemana saja kalian,kenapa baru sampai?"tanya Jerri

"Aku bikin kopi dulu ya Ra."kata Safi meninggalkan Zahira

"Kenapa kabur?"tanya Jerri

"Ah,aku kebelet pipis tadi."jawab Zahira

"Ikut aku,kali ini jangan kabur lagi kalau gak mau sakit."kata Jerri

Zahira sempat meronta minta tangannya dilepas,meski Martin melihat namun dia berpura-pura melihat kearah yang lain,Safi yang baru kembali dengan membawa segelas kopi juga hanya berjalan melewati tanpa memperdulikan mereka.

Jerri menutup pintu dengan keras,setelah Zahira didalam meski begitu Jerri tetap tersenyum melihat wajah Zahira yang memerah karena menahan malu.

"Berapa kali kubilang,aku tidak akan membiarkanmu bekerja dua hari kedepan."kata Jerri mendekat sambil melepas jasnya

"Kamu mau apa?"tanya Zahira berjalan mundur

"Tidak usah pura-pura,karena aku masih menginginkanmu."jawab Jerri

Jerri berjalan menuju kamar dan membuka pintu dia masih menunggu Zahira yang masih berdiri mematung karena merasa ragu,Zahira masih berfikir bagaimana rasanya nanti saat dia keluar dari ruangan pasti rasanya sangat malu.

"Ra."panggil Jerri

Zahira berjalan dengan langkah pasti,pikiran tentang malu dia buang jauh-jauh karena Jerri adalah suaminya,dia memilih mengikutinya daripada harus berlari hasilnya akan sama dia akan tetap dikerjai sama Jerri.

"Kamu sangat manis seperti cheri."kata Jerri sambil membantu melepas satu per satu baju yang melekat pada tubuh Zahira

Kali ini Zahira tidak mampu melawan lagi,serangan Jerri yang beberapa kali membuatnya lelah.

"Cukup Mas,aku lelah."kata Zahira disela-sela nafasnya

"Aku masih menginginkanmu."kata Jerri kembali menindih Zahira.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!