"jangan anggap remeh saya, tuan!"

"oh ya? lakukanlah! memangnya kamu bisa apa?" Tio tertawa lebar, sambil memandangi Fitri dengan tatapan remeh.

Fitri langsung tersenyum, sebisanya, ia menekukkan lutut. Ia angkat lutut itu dan di arahkan ke selangkangan Tio,

"bughh...!!"

Tio yang tidak siap, seketika mendelik, rasa sakit di kepala burungnya benar-benar membuatnya menjerit kesakitan. Bola matanya melebar, nyaris melompat ke luar dari tempatnya. "aaaaaaah!!! sialan kamu Fit!!" pekiknya berang.

Fitri mengulas senyum, "kan saya sudah bilang sama tuan, " jaga batasan tuan, jangan sampai saya berbuat kasar sama tuan. tuan sih yang memaksa saya melakukan ini!"

Meski begitu, Tio tak menyerah, rasa sakit yang ia rasakan itu hanya sebentar. Tio lekas meremas lengan Fitri dengan kasar. "jangan berani melawan saya. Apalagi sampai membuat saya marah dan menyakiti saya. Saya tidak suka!"

Dengan santainya fitri menjawab perkataan Tio. "saya juga tuan. Bahkan saya juga bisa menyakiti siapapun yang berani kurang ajar sama saya. Saya juga tidak perduli siapapun itu orangnya, termasuk anda tuan!"

"kalau begitu, ayoo lakukan! Aku mau lihat sekasar apa kamu saat aku mele\*ehkanmu." Too memaksa untuk mencuri ciu\*an pertama gadis itu dengan kasar.

Namun, bukan Fitri orangnya jika dia selemah yang Tio pikirkan. Dengan kasar, Fitri mendorong tubuh Tio, kemudian satu kakinya terangkat dan menendang tepat di bagian perut Tio. "brughh...!"

"maafkan saya Tuan!" senyum lebar terukir di wajah gadis itu. Dengan santainya Fitri berlalu meninggalkan Tio yang sedang meringis kesakitan.

"sialan kamu, Fit. Kamu pikir kamu bisa lari setelah apa yang kamu lakukan padaku! cih.. jangan harap kamu bisa pergi!" Tio bangkit, kemudian berlari mengejar Fitri yang hendak keluar dari pintu. Tio menyergap Fitri dari belakang, kedua tangannya melingkar kuat di perut Fitri.

"tolong lepas tuan. jangan buat saya bersikap lebih kasar lagi. Tuan akan menyesal." kata Fitri, tak sedikitpun gadis itu merasa takut.

"sombong amat kamu. Jangan pikirkan untuk menyakitiku, tapi pikirkan siapa yang akan menolongmu setelah ini." pekik Tio.

Jika sebelumnya kaki Fitri yang bekerja, kali ini satu sikut Fitri di tekuk ke belakang, di tekan dengan keras hingga berhasil menumbuk ulu hati Tio. "aaah... kurang ajar kau Fitri!" Tio berteriak marah, Wajahnya memerah karena marah bercampur kesakitan. Tangannya yang semula memeluk erat tubuh Fitri terpaksa ia lepas karena tak kuat merasakan sakit.

Fitri menoleh, keduanya saling berhadapan. "masih mau memaksa untuk berbuat tak senonoh sama saya?" ucap Fitri yang seakan berhasil membuat Tio merasa tertantang.

Tio menegakkan tubuhnya dan menatap Fitri dengan tatapan haus dan buas. Satu sudut bibir nya tertarik ke atas. "ternyata kau bukan gadis sembarangan."

Fitri hanya tersenyum sambil membenahi hijabnya. "kalau gitu saya permisi dulu, tuan. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan."

"Sombong sekali!" Tio langsung bergerak dan menangkap tubuh kecil Fitri, namun sebelum tubuh Tio sampai, Fitri langsung mengangkat kaki dan menendang tubuh Tio hingga Tio terjengkang ke belakang. Kali ini Fitri maju, dia mengangkat krah baju Tio sambil berkata "jangan suka berbuat seperti ini pada wanita. Karena tidak semua wanita itu lemah! Ingat tuan. Ada Yang Maha Kuasa yang akan selalu melindungi saya." kata Fitri kemudian melepaskan krah baju itu dengan kasar.

Tio meringis, ia benar-benar tak menyangka jika Fitri memiliki keahlian untuk membela diri. Kali ini Tio hanya bisa menatap Fitri dan membiarkannya pergi. "suatu saat saya akan balas perlakuan ini, Fitri."

Fitri melangkah pergi dengan santainya. Seolah tak terjadi apa apa, dia kembali mengangkat jemuran, pekerjaan yang sempat tertunda karena di ganggu oleh Tio.

"dari mana kamu, Fitri?" Susan tiba tiba berada di sana.

"gak ada, hanya cari angin saja." sahut Fitri dengan tersenyum.

Susan hanya bisa menatap heran melihat sikap Fitri. Tak lama setelah itu, Tio juga muncul dari arah yang sama, dimana baru saja Fitri keluar.

"tuan Tio?" Susan melihat kondisi Tio tidak baik baik saja. Tio yang sedang meringis sambil memegangi perutnya.

"tolong bantu aku ke bawah!" titah Tio.

"tuan kenapa?" tanya Susan keheranan. Ada rasa curiga di hati wanita yang seprofesi dengan Fitri itu, ia kemudian menatap Fitri seakan meminta klarifikasi apa yang sedang terjadi.

Fitri hanya mengangkat bahu acuh, sambil kedua tangan terangkat pertanda dia tidak tau. "tanya saja sama tuan Tio."

"mari, tuan. Saya bantu turun ke bawah." Susan memapah Tio dengan perasaan heran. Menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi, pasalnya baru saja sebelum Tio keluar dari tempat itu, Susan melihat Fitri keluar juga dari tempat yang sama. Tapi, mau menuduh Fitri, rasanya tak mungkin, jika gadis sekecil Fitri bisa melukai Tio yang lebih besar dari Fitri.

"ayoo tuan. Duduklah!" Susan membawa Tio hingga ke sofa. "Saya ambilkan minum dulu." Susan ke belakang untuk mengambil air minum.

"kenapa kamu, dek?" Tasya tiba-tiba datang.

"gak apa apa, kak. Saya tadi terjatuh." Tio berpura-pura baik baik saja meski sebenarnya di area perutnya terasa benar-benar sakit karena tendangan Fitri.

Tasya tak percaya, ia lekas menepis tangan Tio yang sedari tadi melindungi area perutnya. Tasya memeriksa, dia membuka kancing kemeja Tio dan melihat ada luka memar di bagian dada turun ke area perut. "kau terluka, dek. Ingat, ini area operasi kamu, seharusnya ini tidak boleh terluka. Luka jahitan bekas operasi ini belum sepenuhnya kering. Kenapa kamu bisa jatuh? ceroboh sekali kamu jadi orang? Kamu mau mati?"

Tio tak menyahut, ia hanya diam dengan omelan kakaknya sambil meringis.

Tak lama setelahnya, Susan datang dengan membawa segelas air putih, dan di berikannya kepada Tio.

"Susan, apa yang sebenarnya terjadi pada Tio?" tanya Tasya.

"saya tidak tau, nyonya. Tadi saya lihat tuan Tio di Jemuran, dia keluar dari gudang dengan kondisi meringis seperti ini. Makanya saya membantunya turun." Susan menjelaskan apa yang dia lihat.

"ngapain kamu di jemuran, Tio!" sentak Tasya.

Tio hanya terdiam, dia tak berani membuka mulutnya.

"maafkan saya nyonya, tadi sebelum saya melihat tuan Tio, saya melihat Fitri juga keluar dari tempat yang sama dengan tuan Tio. Saya sudah bertanya pada Fitri, tapi kata Fitri suruh tanya saja langsung pada tuan Tio." kata Susan.

"apa? Fitri?!!" bola mata Tasya seketika membola. Ia paham betul dengan apa yang di maksud oleh Susan.

"iya, Nyonya. Begitulah yang saya tau." sahut Susan.

Tasya menatap tajam ke arah Tio, ada sesuatu di balik tatapan tajam seorang kakak pada adiknya. Tio tertunduk, seakan ia tau sang kakak sedang mengintrogasinya.

"Panggil Fitri sekarang!!" suruh Tasya pada Susan.

Terpopuler

Comments

Yani Aulia

Yani Aulia

ayoo

2025-03-25

0

partini

partini

wihhhh keren

2025-03-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!