Yoon Ji berjalan setengah berlari di koridor rumah sakit dengan raut wajah cemas. Sesekali ia menabrak beberapa perawat dan keluarga pasien demi cepat-cepat sampai ke ruangan dimana Sehun berada tanpa mempedulikan tatapan jengkel dari orang yang ditabraknya. Ternyata inilah sebabnya, setelah hampir dua hari tak pulang ke rumah, disinilah suaminya berada.
Sedih sewaktu pertama kali mendapat kabar kalau Sehun mengalami kecelakaan ketika hendak bertemu klien perusahaannya. Sakit hati ketika tahu Sehun melarang pegawainya untuk memberitahukan istrinya tentang hal ini. Sebegitu tak berartikah dirinya hingga Sehun berbuat demikian?
Begitu pintu terbuka, hatinya serasa diiris. Sehun tergeletak lemah tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia sedih, bagaimanapun juga Sehun adalah suaminya terlepas dari segala perlakuan kasar yang ia lakukan.
Yoon ji menelusuri pipi Sehun terus sampai ke rahang tegas suaminya. Airmatanya menetes turun saat dia mendaratkan kecupan tulusnya di kening sehun.
"Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Mungkin kau tak mencintaiku. Tapi tetap saja, aku adalah istri sahmu. Kau tak bisa begini kepadaku. Hiks." Yoon Ji tak kuasa lagi menahan kesedihannya kali ini.
Kristal bening itu mengalir turun tepat mengenai mata Sehun. Sehun mengerjap. Ia mulai mendapatkan kesadarannya dan mendapati wajah istrinya berlinangan air mata. Yoon Ji tak sadar jika Sehun sudah siuman hingga ia masih tetap pada posisi menempelkan keningnya dengan kening suaminya.
"Yoon Ji," panggil Sehun parau.
Yoon ji terkesiap. Hatinya benar-benar lega melihat suaminya sadar sekarang. Tangan Sehun terulur mencoba menggapai wajah gadis yang dua bulan lalu telah sah menjadi istrinya. Refleks Yoon ji menyodorkan wajahnya untuk mempermudah Sehun melakukan apa yang dia mau. Dipejamkan matanya saat Sehun mengelus pipi, hidung dan bibirnya dengan lembut. Baru kali ini Sehun seperti ini padanya. Ia senang. Dan kata-kata terakhir dari Sehun sebelum suaminya tertidur lagi karena efek obat adalah...
" Maaf "
Sehun pov
Sepertinya sekarang aku tak pernah menyesali lagi keteledoranku saat di bandara hingga akhirnya aku bisa bertemu dengan gadis cantik yang kini menjadi istriku. Lingkaran takdir yang membuatku harus terikat dengannya, kini menjadi suatu hal yang sangat aku syukuri. Awalnya aku membencinya karena aku selalu menganggap dirinyalah yang membuat hidupku kacau.
Wanita yang aku cintai meninggalkan aku, dan ayahku... Bisa-bisanya dia lebih memperhatikan Yoon Ji yang notabene orang asing ketimbang aku. Itu membuatku cemburu karena, semenjak kematian ibu, sikap ayah berubah. Dia terus-terusan menyalahkan aku karena sebelum ibu meninggal, aku sempat berdebat dengan ibu tentang hubunganku dengan Sejeong. Itu yang menjadi alasan sikap ayah berubah tak sehangat dulu dan sangat membenci Sejeong wanita yang sempat mengisi hatiku.
Ayahku menjadi seorang yang workaholic dan lupa akan tugasnya sebagai seorang ayah. Tapi aku tak begitu peduli karena ada Sejeong di sisiku yang terus memberiku semangat. Saking tak sukanya ayah dengan kekasihku, dia bahkan mengancamku dengan tak memberikan sepeser pun warisannya kepadaku. Lagi-lagi aku tak peduli.
Aku tetep bersikeras dengan pendirianku meski ayah memboikot semua uang dan fasilitasnya. Ayah hampir menyerah hingga aku hampir membawa Sejeong bertemu dengan ayah. Tapi itu hanya tinggal rencana. Kenyataannya Sejeong tak pernah datang menemui ayahnya melainkan Yoon Ji yang datang. Gadis asing yang secara tak terduga menggantikan posisi Sejeong. Tapi kedatangannya yang merupakan "kesalahan" membuat ayahku kembali menjadi lebih "manusiawi". Aneh bukan?
Namun sekarang aku mulai mengerti mengapa ayah menyukainya. Kadang aku merutuki diriku sendiri yang telah berlaku kasar padanya dan menyakitinya. Karena setelah menikah dengannya dan mengenalnya lebih dalam, semua kebencianku memudar. Yoon Ji-ku adalah wanita yang sangat manis, baik, dan perhatian.
Bahkan ketika aku sakit dan kedua kakiku sempat tidak bisa berjalan sementara waktu, dia merawatku dengan sangat hati-hati dan penuh ketelatenan.
Dia membuat dirinya seolah kaki yang bisa aku gunakan untuk berjalan. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini ada. Yang aku tahu, aku merasakan hatiku berdebar kencang saat berada di dekatnya. Dan sekarang... aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya. Akan aku tebus semua perlakuan burukku mulai saat ini.
Aku janji.
Sehun tersenyum puas melihat satu set kalung berlian yang akan ia hadiahkan pada istrinya nanti. Sehun tersenyum simpul saat membayangkan benda indah ini sudah melingkar menghiasi leher jenjang Yoon Ji. Sempurna! Hanya satu kata itu yang terlintas di pikirannya sekarang. Di liriknya lagi kalung berlian yang ada di genggamannya dengan gaya mencermati.
"Kalung yang cantik untuk wanita yang cantik."
Dengan hati berbunga-bunga, dia simpan kembali kalung itu dan bergegas pergi ke lokasi yang telah ia booking untuk acara makan malam romantisnya.
Jika efek dari jatuh cinta itu membuat hati seseorang berdebar-debar saat kau berada didekatnya, jawabannya adalah iya... Yoon ji merasakannya saat ini.
Jika efek dari jatuh cinta itu perasaan senang yang terus-menerus saat seseorang yang kau cinta memberikan perhatiannya padamu, menggenggam erat tanganmu seolah tak ingin kehilanganmu... Lagi-lagi jawabannya adalah iya, Yoon ji merasakannya juga.
Ia benar-benar tak bisa menutupi rona merah wajahnya saat Sehun menarik pinggulnya dan mengajaknya berdansa mengikuti alunan musik slow. Tatapan matanya jauh lebih lembut dengan senyum mengembang yang begitu indah. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan sosok Sehun dengan sorot mata dingin yang biasa menjadi jurus andalannya.
Dia pun tak lagi bersikap kasar. Bahkan Yoon Ji bisa menarik kesimpulan bahwa seorang Oh Sehun pada dasarnya adalah seorang yg romantis dan perhatian di balik sikap dingin yang kerap kali dia lakukan. Sikap lembut itu belum lama Sehun tunjukkan pada Yoon Ji. Tepatnya pasca dia sembuh dari lumpuh sementara akibat kecelakaan kerja tempo hari.
Hari ini pun Sehun tiba-tiba mengajak Yoon Ji pergi ke butik ternama di London untuk membelikannya gaun. Sehun bilang akan mengajaknya pergi makan malam berdua dan akan ada kejutan spesial untuknya. Hingga akhirnya disinilah mereka berada.
Ini seperti dongeng pangeran tampan yang tengah memadu kasih dengan putri yang dicintainya. Yoon ji tidak menyangka jika apa yang pernah ada dalam khayalannya itu benar-benar terwujud. Sehun membalik tubuh Yoon Ji dan memeluknya dari belakang. Dengan gerak cepat, Sehun melingkari leher Yoon Ji dengan kalung berlian yang sudah disiapkan. Yoon Ji tercekat.
"Kau suka?" tanya Sehun sembari mengecup lembut pipi Yoon Ji. Gadis itu mengangguk pelan masih sedikit tak percaya.
"Sehun-ah."
" Iya?" Tatapan Sehun tak pernah lepas memandangi wajah istrinya yang semakin cantik malam ini.
"Ini semua..." Yoon Ji menelan ludah. Ia ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.
Sehun menaikkan satu alisnya menunggu kelanjutan kata dari Yoon ji.
"Hemmm?"
"Ini semua untukku?"
"Tentu saja. Untuk siapa lagi memangnya?"
"Aku pikir... ini untuk dia... yang kau sebut saat malam pertama kita."
Yoon Ji mencoba mengorek "dia" secara halus pada Sehun.
Deg
Sehun terdiam.
Dia? Dia siapa? Memang apa yang pernah aku racaukan kala sadar hilang dari ragaku?
Ia bahkan tak mengingat dengan jelas kalau dia pernah menyebut tentang 'dia' .
"Aku sedang mabuk. Aku tak ingat apa yang aku bicarakan."
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia sungguh menyesali pertanyaannya yang sekarang sukses membuat raut wajah Sehun berubah. Ia tak mau momen manisnya musnah begitu saja hanya karena pertanyaan konyolnya.
"Ma- maaf, Sehun. Aku hanya..."
Gadis itu tertunduk tak sanggup meneruskan kalimatnya. Sehun mengangkat dagu Yoon Ji. Membiarkan mata mereka bersitatap mengeluarkan bahasanya.
"Yang terpenting adalah sekarang. Bukan masa lalu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan masa laluku. Aku..."
Sehun tertunduk sejenak untuk menata hatinya.
"Aku minta maaf atas sikap kasarku pada mu. Dan aku akan menebus semuanya. Sekarang yang aku ingin adalah menghapus jarak antara aku dan kau yang sudah aku ciptakan. Mulai saat ini hanya ada kita. Aku... aku mencintaimu."
Cup.
Tubuh Yoon Ji menegang saat Sehun menempelkan bibir tipisnya di bibir Yoon Ji. Tindakan suaminya sungguh memacu jantungnya untuk bekerja lebih cepat. Bahagia. Hanya itu yang dirasakan keduanya. Perlahan bibir Sehun mulai bergerak. Mengajak Yoon Ji untuk turut serta dalam sensasi menggelitik bak ribuan kupu-kupu menari menghinggapi perutnya.
Yoon ji tidak berpengalaman sebelumnya dalam hal berciuman, tapi instingnya yang memberi perintah tak kasat mata untuk mengikuti pergerakan bibir Sehun. Saling *******, saling bertukar saliva dengan mata terpejam. Menikmati alunan cinta dalam bahasa tubuh mereka yang coba mereka salurkan.
. . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 504 Episodes
Comments
hellonan.
tuh kan gak kayak dulu banyak yg direvisi katanya . tapi tetep mantap lah tor aku udah baca berulang kali tetep aja nangis menyayat hati kasian Yonji Ama Sehun thorr
2022-02-09
0
Heny Ekawati
mulai bucin
2021-09-11
0
Heni Anggraeni Anggraeni
suka cerita nya
2020-12-11
0