Terletak di Champ De Mars, lebih tepatnya di tepi sungai Seine. Paris. Kota sebelah utara negara Prancis yang sekaligus menjadi ibu kotanya merupakan kota romantis nan eksotis yang bertahtakan menara eiffel yang begitu tersohor. Tempat inilah yang menjadi pilihan seorang Oh Sehun untuk sejenak melepas penat dan menanggalkan segala sesuatu yang menyangkut pekerjaan kantor. Tidak hanya itu, dia bertekad hanya akan menjadi seorang Oh Sehun yang merupakan suami sah dari wanita cantik bernama Oh Yoon Ji dan bukan seorang CEO seperti di hari sibuk biasanya.
Sehun menyesap nikmat caramel machiato kesukaannya sambil menatap pemandangan menara tertinggi di Prancis dari balkon kamar hotelnya. Matanya menerawang ke arah menara yang berdiri menantang tersebut. Menikmati pemandangan pagi dengan hawa sejuk, bersama secangkir kopi hangat dan tidak lupa bersama seorang istri yang cantik. Namun tiba-tiba saja, Sehun mengerjap-ngerjapkan mata.
Kemana istriku?
Sehun memutar kepala ke arah kamar utama di hotel yang ia sewa. Sebelum Sehun memutuskan untuk bersantai sejenak di balkon, ia sudah berpesan agar Yoon Ji segera menyusulnya. Namun lima belas menit berlalu, wanitanya tak juga muncul.
Sehun baru akan beranjak dari tempat duduknya saat Yoon Ji menampakkan dirinya sembari tersenyum manis. Ditangannya, Yoon Ji membawa nampan berisi sarapan yang ia pesan secara khusus untuk suami tercintanya.
"Kau mencariku?" tanya Yoon Ji.
"Tentu saja. Aku pikir kau tersesat atau bahkan diculik," gurau Sehun.
"Kalau aku benar-benar di culik?" Yoon Ji mengangkat sebelah alisnya. Menurunkan nampan yang ada di tangannya dan menatanya di meja makan.
Sehun mengitari Yoon Ji. Memeluk pinggang istrinya erat, menempelkan pipinya di pipi sang istri. Aroma rose yang menguar dari tubuh Yoon Ji, menggelitik indera penciuman seorang Oh Sehun. Mendorong pria itu untuk menghidu aroma khas wanita yang ia cintai dalam-dalam, ketika hasrat menggebu untuk menyatukan kulit mereka tanpa adanya sedikit pun jarak membuyarkan konsentrasinya.
Ya Tuhan, mengapa istriku begitu memabukkan?
Satu kecupan hangat dari Sehun mendarat di leher jenjang Yoon Ji yang terbuka.
"Tidak ada yang boleh mengambilmu dariku. Yang boleh menculikmu itu hanya aku. Kalau ada yang berani menyentuhmu. Dia harus menerima akibatnya, Sayang."
Seperti biasa, Sehun bersama jari-jari nakalnya malah sibuk menelusuri leher Yoon Ji dengan gerakan naik turun yang lembut. Bulu kuduk Yoon Ji pun meremang. Jelas saja Yoon Ji terbuai. Siapa yang tidak merinding diperlakukan seperti itu oleh suami nakal yang sayangnya sangat tampan dan... menggoda?
"Sehun... jangan nakal!"
Yoon Ji berbalik. Menahan tangan Sehun sambil mengerucutkan bibir. Sungguh cantik dan imut disaat yang bersamaan. Sehun tidak bisa untuk tidak mencubit gemas pipi istrinya, saat Yoon Ji bertingkah imut di depannya.
"Oke oke. Ayo kita makan. Aku sudah kelaparan dari tadi." Sehun lantas menarik Yoon Ji untuk duduk dihadapannya. Menikmati sarapan pagi dengan background menara Eiffel yang menjadi kebanggaan negara Prancis.
"Aku tadi menengok ke kamar Sejun. Ternyata dia masih tertidur pulas. Mungkin dia lelah," kata Yoon Ji yang dibalas Sehun dengan sebuah anggukkan.
"Setelah ini aku akan mengajakmu berkeliling. Aku juga sudah membuat jadwal tujuan destinasi kita. Untuk hari ini... bolehlah kita ajak semuanya ikut berkeliling. Tapi untuk keesokan harinya, itu khusus bulan madu kita. Hanya kita berdua." Sehun menyeringai penuh arti.
"Siapa takut!" seru Yoon Ji bersemangat.
Wanita itu tidak sabar untuk menjelajahi kota yang sering dijadikan pilihan untuk bulan madu romantis. Sebelumnya ia hanya tahu cerita betapa eksotisnya Paris bersama menara Eiffel-nya yang terkenal itu hanya dari cerita teman-temannya yang pernah ke tempat ini.
Tidak disangka, akhirnya Yoon Ji pin bisa pergi ke sini setelah sekian lama. Sebenarnya mudah saja baginya kalau ia meminta liburan kemanapun yang ia mau pada suaminya. Sehun termasuk seorang pengusaha sukses yang bisa mengabulkan permintaannya itu dengan mudah. Hanya saja... ketika kau menginginkan sesuatu, lalu kau mendapatkannya tanpa kau meminta, bukankah itu terasa lebih spesial?
Dua sejoli itu saling bertatapan dan saling melempar senyum, layaknya dua orang muda-mudi yang tengah di mabuk cinta. Manik mata mereka sama-sama membahasakan cinta terhadap satu sama lain, hingga mereka salah tingkah sendiri. Malu dan juga bahagia di saat yang sama.
Ayolah... mereka sudah beberapa tahun menikah dan mempunyai anak. Namun sensasi yang mereka rasakan saat ini, seperti sepasang kekasih yang baru menikah dan sedang menikmati bulan madu pertama mereka.
...My Regret...
"Setelah makan, Sejun mau naik mobil itu lagi!" seru Sejun bersemangat.
Ternyata Sejun merasa ketagihan ketika diajak berkeliling kota Paris menggunakan 2CV mobil kuno yang menjadi simbolik kota tersebut. Menikmati suasana pagi menjelang siang di taman seluas dua hektar di Jardin Luxemborg, menjadi pilihan Sehun untuk transit sejenak dan menikmati pemandangan.
Yoon Ji tersenyum manis melihat Sejun yang tampaknya sangat menikmati liburannya kali ini. Tak lama kemudian, Sehun berjalan mendekati Sejun yang sedang berlari-lari kecil di depannya, lalu mengangkat tubuh mungil putranya yang tercinta ke dalam gendongan.
"Tentu saja, Sejun. Kau boleh menaikinya lagi sepuasmu dan berkeliling kota Paris sampai kau bosan."
Selagi Sehun dan Sejun sedang bermanja-manja dan jalan santai berkeliling taman, Yoon Ji, Sejeong, dan juga Bibi Jung, berjalan beriringan menuju bangku taman yang tampak kosong. Mereka duduk santai di sana sambil menikmati semilirnya angin musim semi, sembari mengagumi berbagai macam bunga berwarna-warni yang sedang bermekaran.
"Sejeong, bagaimana keadaanmu?" tanya Yoon Ji.
Sejeong menoleh ke arah Yoon Ji, tersenyum simpul.
"Aku baik-baik saja Yoon Ji. Suasana di sini juga semakin membuatku bertambah segar. Terima kasih karena kau mau mengajakku ikut berlibur bersama kalian."
"Ya, sama-sama, Sejeong. Aku senang mendengarnya. Oh ya, Bibi Jung, tidak apa-apa, kan, aku menculikmu sebentar? Aku sudah memaksa Paman Jung untuk ikut tapi dia tetap tidak mau." Yoon Ji mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.
"Tidak apa Yoon Ji. Suamiku memang takut kalau disuruh naik pesawat. Terakhir waktu Sehun mengajaknya ke Seoul, dia malah jetlag paran dan akhirnya sakit."
Mereka bertiga pun tertawa.
"Dulu waktu aku masih bekerja di rumah sakit, aku sering mendengar teman-temanku bercerita tentang romantisme kota Paris. Aku jadi penasaran," kata Yoon Ji, sementara tatapannya menerawang ke depan.
"Lalu suamimu pun mengajakmu ke sini." Bibi Jung menimpali.
"Ya, tanpa aku memintanya."
"Kau sangat beruntung Yoon Ji." Sejeong mulai ikut berkomentar. Tersenyum sedih, sedangkan guratan masa lalu yang indah bersama Sehun menyeruak kembali.
Ya, beruntung.... Yoon Ji sangat tahu itu. Siapa pun yang berhasil mendapatkan hati seorang Oh Sehun menurutnya sangat beruntung. Gadis itu tahu betul, Sehun yang begitu dingin dan angkuh dari luar saat kau tak begitu mengenalnya, akan berubah 180 derajat jika kau berhasil merebut hatinya.
"Benar sekali, Sejeong. Aku sangat beruntung memiliki suami seperti Sehun. Kau tahu? Awal pernikahan kami tidaklah manis. Dia cenderung dingin dan sedikit kasar." Yoon Ji diam sejenak sebelum melanjutkan. "Aku bahkan meragukan semua yang ayah Sang Hyun dan Sehun ceritakan padaku saat aku tidqk mengingat apa pun."
"Maksudmu?" tanya Sejeong tak mengerti.
"Ya, aku meragukan perkataan ayah mertuaku juga suamiku, yang berkata kalau aku adalah tunangan Sehun sebelum kami menikah. Menurut cerita, Sehun sengaja mengajakku ke London menemui ayahnya untuk meminta restu. Dia ingin melamar dan menikahiku. Begitu yang ia ceritakan."
Mata Sejeong membola.
"Jadi, tujuan sebenarnya Sehun dulu mengajakku itu untuk, melamarku?" batin Sejeong bergemuruh.
"Tentu saja dulu aku meragukan Sehun. Kalau dia mencintaiku dan aku itu tunangannya, mengapa dia bersikap begitu dingin? Apa mereka berbohong? Aku sempat tertekan. Saat itu, aku sangat ingin mendapatkan kembali ingatanku yang hilang akibat kecelakaan. Namun seiring berjalannya waktu, aku pun menemukan jawabannya. Dia tidak bohong. Dia sungguh mencintaiku. Bahkan sekarang aku tidak peduli jika aku tidak akan pernah mendapatkan ingatan masa laluku kembali. Aku sudah sangat bahagia memiliki mereka." Yoon Ji tersenyum cerah. Wajahnya cantiknya berseri-seri mengingat pengalaman cintanya di masa lalu.
Sejeong fokus menatap wajah lawan bicaranya yang terlihat begitu bahagia. Sangat kontras dengan apa yang dirinya rasakan sekarang. Hanya saja ia paham satu hal, ia pernah mendapati passpor yang bukan atas namanya berada di dalam tasnya setelah dia gagal terbang bersama Sehun ke London. Dulu ia tak begitu ambil pusing bahkan cenderung tak peduli. Namun sekarang ia paham jalan cerita yang takdir gariskan di antara mereka.
"Yoon Ji, kau tidak ingat sama sekali kalau kita sebelumnya pernah bertemu? " tanya Sejeong penuh harap.
"Eh? Benarkah? Apakah kita bertemu sewaktu aku masih di Seoul? Saat masih sekolah?"
Sejeong menggeleng.
"Tidak saat sekolah. Tapi di bandara Incheon. Saat itu aku yang akan— "
"Chagiya," panggil Sehun lembut, sementara matanya fokus menatap sang istri.
Belum tamat Sejeong bercerita, Sehun datang menginterupsi.
"Aku lapar. Ayo kita makan," ajak Sehun sambil mengulurkan tangannya di hadapan Yoon Ji.
"Iya, ayo kita makan. Kata ayah, kita akan makan diatas menara yang tinggi itu!" seru Sejun terlihat tidak sabar.
"Baiklah, ayo." Yoon Ji bangkit dari duduknya diikuti oleh Bibi Jung. Mereka semua berjalan bergerombol. Sedangkan Sejeong mengekor di belakang sambil menggigit bibirnya.
Takdir benar benar mempermainkanku. Begitu batinnya berteriak. Semakin banyak fakta dan cerita yang dia tahu, semakin sesak hatinya dipenuhi oleh penyesalan.
Sejeong menyesal telah melepas Sehun ke tangan perempuan lain. Menganggap dirinya bodoh karena tidak pernah berpikir, kalau toh iya dia akan tumbang bersama penyakitnya, setidaknya ia bisa merasakan bahagia bersama Sehun disisa waktu yang dia miliki meski itu hanya sebentar. Bukannya melepas cinta matinya itu dan terus tersiksa dengan kesepian saat dirinya menunggu ajal.
. . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 504 Episodes
Comments
Nemsyar Frida Lumban Toruan
kenyataan tak kadang sangat menyakitkan
2022-05-03
0
kiki
sejeong awas aja klo memanfaatkan penyakitmu
2021-12-16
0
I C H A
kasian sejeong:(
2020-08-17
1