"Sejeong, kau sudah sadar?"
Mata gadis bernama Kim Sejeong perlahan terbuka ketika Yoon Ji sedang meminta tolong Sehun untuk mengambilkan air minum. Sejeong mengerjapkan mata guna membiasakan bias cahaya masuk ke dalam retina matanya.
"Aku...."
"Tadi Sehun menemukanmu pingsan di depan kamarmu sendiri," ujar Yoon Ji, sambil menatap Sejeong cemas.
"Iya aku ingat. Maaf membuat kalian repot." Sejeong terdiam, menipiskan bibir, ingin menanyakan sesuatu tetapi ragu menahan laju kalimatnya. "Eum... apa suamimu yang menggendongku ke atas ranjang?"
"Iya, suamiku yang mengangkatmu kesini. Karena kalau aku yang melakukannya sendiri, tentu saja aku tidak akan kuat," jawab Yoon Ji tanpa sedikit pun menaruh curiga.
Sejeong samar-samar menyunggingkan senyuman yang tak diketahui oleh Yoon Ji. Merasa senang karena Sehun menaruh perhatian padanya meskipun dalam kadar yang sedikit.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Aku dan Sehun sangat khawatir tadi. Ini, minumlah. Aku baru membuatkanmu teh manis hangat. Atau kau ingin minum air mineral? Sehun sedang mengambilkannya untukmu."
Yoon Ji membantu Sejeong untuk bangun dan duduk dari posisi tidurnya. Tak berselang lama Sehun masuk kembali ke kamar tamu.
"Kau sudah sadar?" tanya Sehun, menempatkan dirinya berdiri di sisi Yoon Ji.
Sejeong mengangguk pelan dengan tatapan hangat yang terpancar untuk lelaki yang menanyainya barusan. Ini kali pertama Sehun bersuara untuknya, dan dia... sungguh merindukan suara mantan kekasihnya itu. Tak bisa dipungkiri kalau sekarang ia merasa senang.
"Iya. Aku sudah sadar. Terima kasih, Sehunie. Eh... ma-maaf, Sehun."
Sehunie?
Sejeong tertunduk malu, sedangkan rasa tidak suka mulai menjalari hati Yoon Ji ketika secara tidak sengaja, dia menangkap raut wajah Sejeong yang menurutnya agak tak biasa ketika sedang menatap suaminya. Terlebih lagi ketika Sejeong memanggil Sehun dengan sapaan yang begitu akrab. Seolah-olah mereka berdua adalah dua orang yang telah lama saling mengenal, padahal menurut cerita yang Sehun katakan pada Yoon Ji, mereka tidaklah sedekat itu.
Sejeong menggigit bibirnya sendiri. Bisa-bisanya dia keceplosan memanggil Sehun tanpa embel-embel "ssi"? Ia malah memanggilnya dengan panggilan sayang yang biasa ia sematkan kepada Sehun dulu. Namun yang membuat Sejeong merasa lega, Yoon Ji terlihat tidak menyadari sesuatu yang tersimpan rapat di dalam hatinya. Perasaan terlarang yang Sejeong simpan pada Sehun—mantan kekasihnya yang sudah memiliki istri dan anak.
"Sayang kau sudah menghubungi ayah? Aku rasa Sejeong harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit," kata Yoon Ji kemudian.
"Sudah," jawab Sehun datar.
"Baguslah. Sejeong aku tinggal sebentar, ya? Aku akan menyiapkan makanan untukmu lalu setelah itu, kami akan mengantarmu ke rumah sakit."
"Eum... Yoon Ji ssi. Bolehkah aku minta tolong sesuatu?" Raut wajah Sejeong memelas.
"Apa itu?"
"Bolehkah kalau... aku beristirahat saja sendiri? Maksudku kalian tak perlu membawaku ke rumah sakit. Tadi aku pingsan hanya karena tak sengaja menabrak pintu saat aku mau masuk ke kamar. Aku sedikit terpeleset. Maaf merepotkanmu. Hanya saja... aku takut jarum suntik," akunya.
Yoon Ji saling berpandangan dengan Sehun seakan meminta pendapatnya tentang keinginan yang diutarakan oleh Sejeong barusan. Sehun pun mengangguk mengiyakan. Memaklumi rasa takut yang menghinggapi mantan kekasihnya dulu, karena Sehun masih ingat jika Sejeong memang takut pada jarum suntik.
"Baiklah. Kami akan menurutimu. Beristirahatlah...."
......***My Regret***......
Yoon Ji baru hendak memejamkan matanya ketika Sehun memiringkan badan dengan tangan yang tertopang di kepala menghadap ke arahnya.
"Sayang... kau sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk liburan kita lusa nanti, kan?" tanya Sehun, menatap manja pada istrinya.
Yoon Ji ikut memiringkan badannya ke arah Sehun. Tersenyum manis, membalas tatapan cinta dari suami tersayangnya itu.
"Sudah, Sayang. Tapi... aku rasa kita harus mengajak Sejeong ikut bersama kita nanti."
Sehun mengernyitkan alisnya, merasa tidak setuju terhadap apa yang diusulkan oleh Yoon Ji.
"Kenapa? Biarkan dia tetap di sini! Aku tidak mau orang lain mengganggu acara liburan kita," jawab Sehun mantap.
"Orang lain? Dia kan masih saudaramu, Sehun. Lagipula... aku khawatir terhadapnya. Aku rasa kesehatannya sedang tidak baik."
Keheningan pun membentang diantara mereka.
"Aku memang sudah tidak bekerja sebagai dokter lagi. Tapi bukan berarti ilmuku hilang begitu saja. Aku bisa melihatnya kemarin. Denyut nadinya lemah. Wajahnya sangat pucat. Hidungnya juga berdarah. Bisa jadi terpeleset dan takut jarum suntik itu, hanya alasan agar dia tidak merepotkan kita. Untuk memastikan apa yang sedang Sejeong alami, dia memang harus diperiksa secara medis di rumah sakit. Makanya, aku jadi merasa khawatir jika kita meninggalkannya sendiri disini," bujuk Yoon Ji pada Sehun, murni karena merasa kasihan.
"Kau terlalu berlebihan. Dia tidak apa-apa. Dan tentang jarum suntik, dari dulu dia memang takut dengan jarum suntik. Pernah dulu di sekolah, dia kabur ke kelasku hanya karena ada pemeriksaan kesehatan secara rutin. Dia mengadu padaku kalau dia takut dokter menyuntiknya." Mendengar penjelasan dari sang suami, Yoon Ji pun mengerutkan dahi.
"Oh ya? Sepertinya kau cukup dekat dengannya. Tidak seperti yang kau ceritakan kepadaku kemarin-kemarin." Yoon Ji memicingkan mata, menatap Sehun curiga. Spekulasi yang istrinya kemukakan pada Sehun, tak ayal membuat pria tampan itu gelagapan. Bingung.
"Lagi pula," Yoon Ji meneguk salivanya sendiri sebelum kembali bersuara, "aku melihat adanya perubahan ekspresi di wajah Sejeong, ketika aku berkata padanya bahwa kaulah yang mengangkatnya ketika dia jatuh pingsan. Walaupun itu tidak signifikan, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari raut wajahnya ketika dia melihatmu."
Yoon Ji menghirup nafas dalam-dalam, menatap Sehun tepat di mata. "Apalagi dia sempat memanggilmu dengan sapaan yang menurutku cukup akrab, untuk takaran seseorang yang sudah lama tidak bertemu dan tidak menjalin hubungan."
"Kau berlebihan. Kau hanya sedang cemburu." Sehun cepat-cepat menyanggah apa yang Yoon Ji katakan karena tak mau pembahasan ini terus berlarut-larut.
"Entahlah, aku akan biasa saja kalau dari awal, kau bilang padaku bahwa kau memang dekat dengannya. Tapi nyatanya yang kau katakan padaku lain." Yoon Ji menatap Sehun lamat-lamat. "Aku rasa ada yang kau sembunyikan dariku."
Sehun sempat menegang mendengar pertanyaan yang dikemukakan oleh istrinya. Ia tak tahu harus mengatakan apa kepada Yoon Ji. Apakah ia lebih baik jujur pada Yoon Ji dengan mengatakan bahwa Sejeong adalah mantan pacarnya sendiri. Atau... memilih menunggu dalam artian, dia akan bercerita tapi tidak sekarang.
"Dia hanya saudara jauhku tidak lebih." Sehun menjawab dengan mimik wajah tegas.
"Tapi Se—" Yoon Ji belum sempat menamatkan bicaranya saat bibir Sehun menyambar bibir cherry milik Yoon Ji.
"Malam ini kau terlalu banyak bicara," desis Sehun dengan suaranya yang berat.
"Sehun aku hanya ingin—" Lagi, Sehun membungkam kembali bibir manis Yoon Ji agar wanitanya berhenti bersuara.
"Istriku sedang cemburu rupanya."
"Sayang, kau harus jelaskan—"Merasa gemas, Sehun menarik pinggang Yoon Ji agar merapat ke tubuhnya hingga membuat dada mereka pun saling beradu.
Berbeda dengan kedua ciuman tadi, Sehun menahan tengkuk istrinya dan melahap dengan penuh gairah bibir ranum yang selalu jadi favoritnya itu. Sehun membalik posisi mereka hingga kini laki-laki itu berada di atas tubuh sang istri, dengan kedua tangan mencekal tangan Yoon Ji disamping kepala.
"Kau terlalu banyak bicara, chagiya. Aku akan menghukummu sampai kau menjeritkan namaku dan meminta ampun."
Sehun membuka satu per satu kancing piyamanya dengan gerakan sensual. Setelah kancing piyamanya terbuka sempurna, gantian Sehun melepaskan kancing piyama Yoon Ji sembari memberikan kecupan di leher jenjang Yoon Ji yang menggoda. Seiring berjalannya waktu, napas mereka semakin terengah-engah. Yoon Ji haus akan sentuhan suaminya. Dan Sehun kecanduan menyentuh Yoon Ji. Setiap sentuhan yang diluncurkan Sehun, baik di kening, wajah, leher, dada, semuanya tidak bisa tidak membuat Yoon Ji melayang. Dan ia tidak akan sudi membagi apa yang dia rasakan ketika Sehun mampu membawanya bagai terbang ke langit ke tujuh dengan wanita lain. NEVER!
. . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 504 Episodes
Comments
El Nafis
aku juga. nonoonoooonoo...
never
2020-08-02
2
⭐Nda 1-2⭐
yaaaa yaaaa yaaaa.....never...😄😄😄
2020-07-29
2
Rosmini
mata gue langsung terang thor liat yang bening langsung meleleh
mampir yuk " pacar bibiku jadi suamiku,,
2020-07-23
1