Sang Hyun dengan entengnya memegang tangan Sejeong yang merupakan mantan kekasih anak angkatnya lalu membawanya ke hadapan istri sah anaknya itu. Marah. Air muka Sehun menjelaskan itu semua. Wajahnya tak secerah sebelum kedatangan Sang Hyun dan Sejeong di tempat ini. Kehadiran wanita masa lalunya membuat rona wajah Sehun memerah bukan karena tersipu malu melainkan karena geram.
Sang Hyun tahu Sehun sedang mati-matian meredam amarahnya, namun Sang Hyun malah berlagak seperti tidak tahu apa-apa.
Pria paruh baya itu menengok ke arah Sejeong. Putrinya masih terlihat gugup. Bahkan samar-samar ia bisa melihat tubuh putrinya gemetar. Digenggamnya tangan Sejeong erat seakan sedang mengalirkan energi positif dari dalam dirinya agar Sejeong merasa lebih tenang.
"Ayah."
Sapa Yoon Ji sambil tersenyum manis ke arah kedua orang itu.
"Yoon Ji-ya... kau sehat, Nak?"
Sang Hyun melangkah maju ke arah Yoon Ji, memeluknya dan mencium keningnya. Yoon Ji tampak santai karena ia tidak mengetahui hawa tegang yang menyelinap di antara mereka yang ada di sana. Namun tidak dengan Sehun. Sorot matanya seolah berkata apa yang kau lakukan, saat ayah angkatnya bergantian menatapnya.
"Kami berdua sehat, Ayah. Ayah baik-baik saja, kan, selama di Seoul? Dan... siapa gadis cantik ini?"
Sejeong mengangkat wajahnya takut-takut, mengarahkan pandangannya ke arah wanita yang tangannya sedang digenggam erat sang mantan kekasih. Nyeri. Kim Sejeong yang datang bersama Sang Hyun itu ingin sekali menatap Sehun secara langsung. Bahkan, dia sangat ingin memeluknya sebagai luapan rasa rindu yang menggebu.
Di lubuk hatinya dia merasa sangat bahagia sekaligus sedih bisa kembali bertemu dengan sang pujaan hati. Ia sangat merindukan lelaki ini, tapi saat matanya melihat tangan Sehun mengait erat di sela-sela jemari gadis asing yang menatapnya lembut, hatinya terasa tersayat. Dulu... dialah gadis yang selalu berada di posisi itu.
Gadis yang selalu berdiri di samping Sehun. Gadis yang tangannya selalu digenggam erat olehnya. Gadis yang selalu dilindungi oleh Sehun, dan menerima semua perlakuan Sehun yang manis hingga ia merasa sangat dicintai. Namun kini Sejeong hanya bisa menahan dadanya yang bergemuruh.
Ia harus menghadapi kenyataan kalau semuanya kini berbeda. Posisinya telah tergantikan. Sejeong ingin membalas tatapan Sehun yang ia tahu sedang menatapnya dingin. Sayangnya, ia tak punya nyali untuk balik menatap mata setajam elang yang seperti sedang mengulitinya.
"Ah... Yoon Ji-ya... ayah hampir lupa. Perkenalkan, dia Sejeong. Gadis ini masih sepupu jauh Sehun. Aku membawanya ke sini agar dia bisa menjadi temanmu. Lagipula di Seoul dia sudah tidqk punya siapa-siapa. Kau tidak keberatan, kan?"
Sehun dan Sejeong spontan terkesiap, karena tahu apa yang Sang Hyun katakan pada Yoon Ji jelas sebuah kebohongan. Pria bermarga Oh itu mengeluarkan satu tangannya yang tersimpan di saku, sementara mulutnya membuka hendak membantah.
"Tentu saja tidak, Ayah. Aku malah senang." Sehun belum sempat melemparkan sanggahannya pada sang ayah, tetapi Yoon Ji-nya yang polos, sudah keburu mengiyakan permintaan Sang Hyun diiringi senyuman tulus.
Selama beberapa detik, Yoon Ji dan Sejeong saling bertatapan, dan mengeluarkan senyuman manisnya masing-masing.
"Te-terima kasih... Yoon Ji-ssi," ucap Sejeong, sambil melirik ke arah Sehun sebelum menjatuhkan pandangannya ke bawah.
"Baiklah Ayah, Sejeong. Mari kita masuk. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita."
Yoon ji mengamit lengan suaminya lalu mengajaknya masuk ke dalam.
...My Regret...
Setelah selesai membawa berbagai menu masakan yang ia buat dengan tangannya sendiri ke meja makan dan menatanya dengan apik, Yoon Ji bergegas ke ruang keluarga untuk menemui ayah mertuanya juga Sejeong, gadis yang baru ia kenal.
Tak lama, Sang Hyun dan Sejeong sudah menempatkan diri mereka bersisian di depan meja bundar yang berisi berbagai macam makanan. Sementara Sehun, setelah mereka masuk ke dalam rumah, ia sendiri memilih untuk langsung masuk ke kamarnya dengan alasan lelah. Enggan berkumpul dengan ayahnya dan Sejeong di ruang keluarga.
"Sayang... makanan sudah siap. Ayo, Sayang, ayah juga Sejeong sudah menunggu di eja makan."
Sehun yang sedari tadi tampak melamun menghadap ke jendela pun tersentak. Ia berbalik ke arah pintu, dimana istrinya juga anaknya yang tengah berada dalam gendongan ibunya tersenyum hangat padanya.
"Sejun kau sudah bangun?"
Sejun beringsut turun dari gendongan Yoon Ji dan berlari kecil ke arah Sehun. Dengan sigap Sehun meraih tubuh mungil darah dagingnya itu ke dalam gendongannya, lalu menciumi pipi Sejun yang chubby.
"Sudah Ayah. Aku juga sudah mandi."
"O, ya? Masa, sih? Coba ayah cium."
Sehun langsung menyerang Sejun dengan ciuman bertubi-tubi di kening, dan seluruh wajah anak kesayangannya itu yang terang saja membuat anak itu meronta kegelian. Sejun dan Sehun tertawa terbahak-bahak. Pemandangan itu membuat Yoon Ji tak bisa menyembunyikan senyum bahagia, ketika kehangatan memiliki keluarga yang harmonis merasuk menyelimuti hatinya.
Lihat! Betapa miripnya ayah dan anak itu. Cara mereka berdua tersenyum sangat mirip.
Melihat dua orang yang sangat ia cintai tampak bahagia satu sama lain, merupakan hal terindah dalam hidupnya. Ia bersyukur setiap harinya kepada Tuhan, karena Dia telah memberinya kehidupan yang menurutnya sangat sempurna. Ia diberi suami yang tampan, sangat menyayanginya, juga sangat romantis, meski Yoon Ji akui diawal pernikahan mereka Sehun sangatlah jauh dari kesan romantis. Sebagai pelengkap, Ia juga bersyukur atas kehadiran Sejun ditengah-tengah mereka. Buah hati yang menjadi wujud nyata kisah cinta mereka.
"Sudah, Chagiya... kaja! Ayah sudah menunggu di bawah. Kemari Sejun."
"Sejun biar aku yang membawanya."
Sehun enggan melepaskan Sejun dari pelukannya. Sehun pun menggandeng tangan istrinya sementara sebelah tangannya yang lain menggendong Sejun, lantas berjalan bersana menuruni anak tangga menuju ruang makan. Dari tempat duduknya, Sejeong menatap mereka dengan senyum dipaksakan. Salahkan saja hatinya yang tak bisa dikontrol, saat melihat kemesraan yang berlangsung antara sepasang suami istri yang baru saja bergabung bersama dia dan ayahnya.
"Sehun-ah... salahkah aku kalau aku berharap... aku yang berada diposisi istrimu?" bisik hatinya, miris.
Tak tahan, ia alihkan matanya ke arah makanan yang tak lagi mengundang selera. Itu lebih baik ketimbang dia harus menonton romantisme yang bukan miliknya, hingga api cemburu itu tersulut besar dan bisa saja merobohkan pertahanannya. Malahan, sekarang dia jadi menyesali keputusannya ikut dengan Sang Hyun ke kota ini, karena kurang mengantisipasi luka lain yang akan ia rasakan nanti.
"Kakek...." Sejun berlari dengan senyum ceria ke arah Sang Hyun, kakeknya.
"Ah, jagoan kakek. Sini. Duduklah di sini." Sang hyun menepuk pahanya, dan membawa Sejun kepangkuannya.
"Sejeong, kenalkan, ini Sejun cucuku."
Tersenyum, Sejeong pun melambaikan tangannya ke arah Sejun. "Hai Sejun, kau tampan sekali," pujinya.
Kau sangat tampan seperti ayahmu, Sejun.
Kata-kata itu hanya muncul diotaknya yang langsung dialihkan dengan mengelus puncak kepala Sejun yang dilanjut mengelus pipi anak kecil itu. Sejun hanya tersenyum kecil menanggapi Sejeong karena dia memang sedikit pemalu.
"Sudah sayang. Ayo turun lalu kita makan."
...My Regret...
"Sejeong,ssi, apa dulu di Korea kau pernah bersekolah di sekolah yang sama dengan suamiku?"
Sejeong menghentikan kegiatan memotong dagingnya sejenak.
" Ah, itu...."
Berbeda dengan Yoon Ji yang dengan santai melanjutkan acara makannya, Sejeong sedang sibuk memutar otak demi menjawab pertanyaan Yoon Ji. Hal yang jelas tidak mungkin bagi Sejeong untuk mengatakan secara terang-terangan, bahwa Sehun adalah mantan pacarnya semasa sekolah dulu.
Pertanyaan Yoon Ji pun sukses menarik perhatian mertuanya yang kini menatap wajah Sejeong dengan kening berkerut. Sedangkan Sehun, ia hanya melirik sekilas dari sudut matanya lalu kembali ke aktivitasnya semula.
"Aku... hanya pernah satu sekolah bersama Sehun saat aku berada di tingkat satu sekolah menengah atas. Dia... dia... kakak tingkatku."
"Oh, ya? Apa dulu kalian berteman dekat?"
"Eum... kalau itu...."
"Tidak." sanggah Sehun cepat.
Suara Sehun yang terdengar lebih keras dari intonasi suara di sekitarnya membuat pria itu menjadi pusat perhatian.
"Kami tidak terlalu dekat. Hanya sebatas tahu saja. Lagipula kita hanya sepupu jauh seperti yang ayah bilang."
Tanpa sadar, Sejeong meremas dress hitam yang ia kenakan sambil menahan nyeri di dada.
Sehun-ah. Kita saling mengenal, tapi bertingkah seperti orang asing. Aku sudah biasa dengan kesendirian. Tapi kenapa hati ini tetap terasa sakit saat kau yang mengasingkanku?
"Sayang sekali, aku kira kau dan Sehun itu berteman dekat juga. Aku ingin bertanya banyak hal tentang Sehun tadinya," kata Yoon Ji, santai.
"Kenapa kau harus bertanya padanya? Kau bisa bertanya langsung padaku."
"Itu karena... kau bisa saja menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Aku kan tak bisa mengingat banyak tentangmu, tentangku, ataupun tentang kita."
Yoon Ji berkata dengan wajah polosnya kemudian mengedikkan bahu. Sehun hanya bisa tertegun, dan Sejeong... akhirnya mulai menyadari sesuatu. Seperti ada hal yang tak beres di antara Sehun dan istrinya, tetapi belum ingin mengorek informasi tentang sesuatu yang janggal itu.
Tunggu... kalau diingat-ingat, wanita ini aku sepertinya pernah bertemu sebelumnya. Sejeong mengernyitkan dahinya. Mencoba mengingat-ingat sesuatu yang sungguh ia lupakan.
"Yoon Ji-ssi... apa dulu kau pernah tinggal di Seoul?" tanya Sejeong hati-hati.
Hasrat ingin tahunya tentang wanita yang kini mendampingi mantan kekasihnya itu tiba-tiba saja berkembang dengan pesat.
"Kata Sehun, iya. Dulu kami sama-sama tinggal di Seoul dan kami bertetangga dekat. Kami juga sudah menjadi sepasang kekasih saat masih SMA."
"Kau kekasihnya Sehun sewaktu SMA?" tanya Sejeong sedikit terkejut, yang refleks langsung mengundang tatapan tak suka dari Sehun.
"Iya... hanya saja kami tidak bersekolah di sekolah yang sama. Makanya aku tak pernah mengenalmu sebelumnya. Atau... kita pernah mengenal tapi aku yang lupa, ya? Aku, kan, mengalami—"
"Lusa ayah akan pergi ke New York. Ayah harap semuanya tentang perusahaan yang kau tangani terus stabil seperti sekarang ini."
Sang Hyun akhirnya menyuarakan diri memotong topik pembicaraan yang tengah berlangsung. Percakapan tadi jika terus dilangsungkan sungguh tak baik, timbangnya.
"Dan untuk Sejeong, aku minta Sejeong sementara waktu bisa tinggal disini sampai aku datang. Aku khawatir kalau dia ayah tinggalkan di rumah sendirian, selama ayah pergi."
"Tidak bisa!" tolak Sehun seketika. "Dia tidak bisa tinggal disini," tegasnya lagi.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Sang Hyun, sok polos.
"Di rumah ayah, kan, banyak asisten rumah tangga yang bisa menjaganya. Kenapa dia harus tinggal di sini?" kata Sehun, bersikeras dengan pendapatnya.
"Aku... aku akan pulang ke Seoul saja. Tidak apa. Aku tidak mau merepotkan kalian. Lagi pula—"
"Tidak! Sejeong akan tetap disini dengan atau tanpa persetujuanmu," sela Sang Hyun tak mau tahu, sembari menatap Sehun tajam.
"Ini rumahku, Ayah, asal kau tahu."
"Bagaimana kau bisa memiliki rumah ini kalau bukan ayah yang membantumu, asal kau tahu."
Suasana seketika menjadi tegang. Yoon Ji sudah sangat hafal dengan karakter kedua pria yang tengah berdebat di hadapannya ini. Sama-sama keras kepala. Sama-sama tak mau kalah.
"Mungkin Sehun keberatan karena kata Sehun dia ingin mengajak kami semua untuk pergi ke suatu tempat. Tapi aku rasa tidak apa-apa kalau Sejeong bersama kami. Lagipula, mereka juga masih saudara dan kata ayah hanya beberapa hari saja. Aku rasa itu bukan masalah besar. Iya, kan, Sehun?"
Yoon Ji lalu mengeluarkan jurus memelasnya yang sering ia keluarkan agar Sehun mengabulkan sesuatu. Tentu saja teknik itu ampuh. Buktinya, Sehun tak pernah bisa bilang tidak pada Yoon Ji jika istrinya suda bersikap imut seperti itu. Kali ini pun sama. Sehun hanya bisa menghela napas dan berbalik menatap Sang Hyun yang sama-sama tengah menatapnya.
"Sepertinya ada banyak hal yang harus kita bicarakan dan kau jelaskan padaku, Ayah."
"Aku rasa begitu. Banyak hal yang perlu diluruskan di sini."
. . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 504 Episodes
Comments
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
kok daah mulai sesek ya hatiku.,...
2021-11-04
0
Riyah Harun
geregetan bgt sm sang hyun ini. gak mikirin perasaan anak²nya apa, masak mo disuruh tinggal 1 rumah?
2020-11-07
0
Umi Salsabilla
jadi g pingin lanjutin baca thort, aq jadi deg2kan sendiri ,khawatir tdk sesuai dg ekspeksi aq, tp bikin penasaran jd kuputuskan dilanjutin ajha
2020-11-03
0