Marcel menelan ludah setelah mengatakan alasan yang tidak masuk akal itu, hanya itu alasan yang bisa dia katakan dari pada Widuri tahu jika dirinya mengawasinya beberapa hari ini bukan karena takut gadis itu kabur.
Sejak awal ia tahu jika Widuri tidak membawa apa-apa selain pakaian yang menempel ditubuh kurusnya, ia juga melihatnya sewaktu ditaman saat Widuri berdagang minuman dengan giat.
Saking aneh dan kikuknya ia sampai tidak berani menatap Widuri yang tengah menyorotinya sejak tadi.
"Ok ... Catat itu sebagai hutangku! Aku akan menggantinya bahkan dengan yang lebih bagus lagi!" tukas Widuri, ia merasa mampu dan tidak ingin direndahkan.
Mendengar hal itu justru membuat Marcel tertawa, entah apa yang dimiliki Widuri hingga gadis itu sepercaya diri ini.
"Kau butuh waktu bertahun-tahun untuk mengganti pakaianku ini, Widuri."
Emosi Widuri yang sejak tadi terus dipancing, gadis itu mendekati Marcel yang masih tertawa dengan tatapan tajamnya.
"Kau tidak percaya kalau aku mampu mengganti semuanya?"
Marcel menggeleng, ia memang tidak percaya bahkan sejak awal.
"Kau tidak percaya kalau aku sebenarnya cucu orang terkaya di kota B?"
Marcel menggeleng lagi, tawanya kali ini bertambah renyah.
"Butuh waktu lama untuk melunasi hutangmu yang berkali lipat kemarin ditambah mengganti pakaian mahalku ini dengan pekerjaanmu saat ini."
Sepertinya sudah lama ia tidak menertawakan sesuatu seperti ini.
Kedua tangan Widuri mengepal, ucapan pria tinggi didepannya terdengar meremehkan kerja kerasnya yang memang hanya berupah kecil.
"Dengar ya Tuan Marcel yang terhormat, aku akan membuktikan siapa sebenarnya diriku. Tunggu saja, kau akan menyesal nanti!" sentak Widuri dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.
Marcel merasa situasi ini cukup menyenangkan juga rupanya, sudut bibirnya ia naikkan, membuat orang lain emosi justru merasa tertantang. Apalagi wajah Widuri menggemaskan ketika tersulut emosi, kedua pipinya menjadi merah, mata coklat membola begitu indah dengan bulu-bulu lentik tanpa riasan. Dan bibirnya, bibir tipis merah muda yang sesekali basah saat Widuri menggigitnya tanpa sengaja saking kesalnya.
"Bagaimana cara membuktikannya Nona Widuri? Kau akan pulang ke rumahmu dan mengadu? Lalu kau akan kembali kemari dengan membawa hartamu yang banyak itu?" katanya lalu terkekeh. "Sudahlah, tidak usah banyak drama lagi. Aku sudah tahu dan tidak ingin memperjelasnya lagi. Kau bisa membayarku dengan cara lain! Bukankah sikapku ini baik?"
Marcel terlalu meremehkan gadis yang memiliki harga diri yang tinggi. Mereka berdua terus menyerang dan tidak ada yang mau mengalah.
"Hal lain apa maksudmu? Kau ingin aku menjual tubuhku sebagai bayarannya!" Widuri menangkup tangannya didepan dada dengan tatapan nyalang pada Marcel, "Jangan harap!"
Marcel menelan saliva saat mendengarnya, bisa-bisanya Widuri bicara secara terang-terangan. Apalagi gadis itu selalu mengaku kalau dia adalah orang kaya, tentu saja tidak ada orang kaya yang sefrontal dia.
Wanita wanita kaya yang ia kenal justru lebih anggun, mewah juga sangat menjaga perkataannya. Sangat berbeda dengan Widuri.
"Cih ... Kau fikir aku tertarik padamu?" sorot Marcel tak kalah nyalang, ia menatap Widuri yang saat ini memakai kemeja miliknya yang kebesaran, lekukan tubuhnya memang tidak bisa ia lihat dengan jelas namun Marcel tahu lekukan tubuh Widuri sangat indah.
Leher seputih susu, lekukan di dadanya, paha serta kaki jenjangnya. Bisa-bisa salivanya kering karena terus saja ia telan sendiri.
"Harga kemejaku saja lebih mahal dari itu!" katanya membuang wajah, mengontrol fikiran yang tiba-tiba saja kotor.
"Kau!!"
"Apa?"
Widuri menghentakan kaki, ia juga melempar sisir rambut ke arah Marcel dan mengenai bahunya, setelah itu ia bergegas masuk kedalam kamar.
"Hey ... Ini kamarku!" teriak Marcel dari luar.
Saking marahnya Widuri sampai lupa kalau dialah yang menumpang dan saat ini pemilik kamar ada dirumah.
"Sialan!" ucapnya saat keluar dan berhadapan dengan Marcel.
Keduanya saling melotot tajam, tidak ingin mengalah satu sama lain.
Bertepatan dengan itu pintu unit terbuka, dihadapan mereka Ferdy berdiri dengan mulut menganga. Pria berkaca mata itu terperangah melihat wanita yang sama yang dia lihat di hotel dan juga di mobil Marcel tempo hari.
Jadi kesibukan mungkin bukan alasan sebenarnya pak Marcel selalu tidur di hotel dan meninggalkan wanita ini atau jangan jangan mereka itu....
Ferdy sibuk membatin seorang diri sambil terus menatap keduanya.
"Maaf ...! Aku masuk tan---"
Keduanya menoleh ke arah yang sama dengan sama-sama terperanjat kaget bahkan Marcel sampai mengusap wajahnya kasar.
"Maaf pak, tapi ada laporan yang har---," ujar Ferdy dengan kata-kata yang menggantung.
Tatapan Ferdy silih berganti, dari Marcel lalu ke arah Widuri lalu kembali pada Marcel saking heran dan tanda tanya memenuhi fikirannya tidak juga menemui jawaban yang pas.
Tatapan Marcel tiba-tiba menajam menatap Ferdy setelah ia tahu apa dan siapa yang ditatap Ferdy. Ditariknya Widuri yang masih berdiri hingga ke arah belakang dan tertutup oleh tubuhnya yang tinggi.
"Ada apa. Bukankah semua sudah beres?" kata Marcel tiba-tiba mengagetkan Ferdy, juga Widuri yang berada dibelakang punggungnya.
"Ada laporan yang harus ditanda tangani saat ii---,"
"Tunggu diluar!" jawabnya tegas sebelum Ferdy menyelesaikan perkataannya.
Ferdy mengangguk cepat, ia langsung bergegas keluar dari unit walau tanda tanya didalam kepalanya semakin banyak setelah mengetahui gadis yang dua kali dia lihat itu kini berada di unit milik bosnya.
"Jadi mereka tinggal bersama disini, sejak kapan ya. Apa sejak hari itu?" cicitnya mendekap map berisi laporan.
Marcel masuk kedalam kamar, sementara Widuri masih sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Apa kita harus menjelaskannya agar tidak ada kesalah fahaman?" gumamnya pelan.
"Tidak perlu. Untuk apa?" tiba-tiba Marcel sudah ada dibelakangnya saja.
"Ya agar dia ... Mm mereka tidak berfikir aneh-aneh."
Marcel yang berjalan melewatinya kembali berhenti lalu berbalik menghadapnya. "Apa yang ingin kau jelaskan padanya! Bukankah kau sudah mengatakannya tempo hari saat di hotel? Apa kau sepeduli itu?"
"Ya aku hanya tidak ingin namamu jelek saja dimatanya!" Widuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa juga dia harus peduli semua itu.
Marcel mengernyitkan dahinya. "Kau sungguh peduli padaku? Atau kau hanya ingin menjaga harga dirimu yang tinggi itu!"
Setelah berkata seperti itu Marcel melangkah keluar guna menemui Ferdy. Sementara Widuri memukul angin dengan penuh emosi.
"Sialan. Kenapa harus manusia itu yang menolong ku diantara ribuan orang di muka bumi ini!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
lina
karna marsel d kirim ma zee buat jd jodoh u 🤣🤣🤣
2025-02-14
1