Dering ponsel terdengar samar-samar di telinga Abi, yang tengah terlelap. Bangun menahan mata yang akan tertutup, meraba ke sembarang arah mencari ponsel miliknya.
Ponsel yang berbeda di kaki Abi, dengan cekatan di raih nya lalu melihat nama yang tertera di ponsel.
Membulatkan matanya saat nama papah itu ia baca.
"Papa kalo telfon gak mungkin, gak ada sesuatu." cemas tapi takut kalau di tanya soal Amira yang belum ia temukan.
Panggilan Anton di abaikan Abi, karena tak mau membuat cemas mereka, Mata tak lagi mau terpejam, pikiran kembali terbayang dengan keberadaan Amira yang hilang.
Memacu kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan mencari segala tempat yang kemungkinan Amira berada.
Semakin di pikirkan, Abi semakin merasa bersalah.
Tak menemukan titik terang pada pemikiran nya, Abi mencoba menelfon Renata
"Hallo Ta." ucap Abi dengan nada frustasi
"Ya ka." sahut Renata
"Kamu di mana." ucap Abi bertanya
"Ka Syarif, mending pulang dulu deh." mengakhiri panggilan.
Renata mematikan sambungan telepon genggamnya secara sepihak . Perlakuan Renata membuat Abi semakin frustasi saja.
"Amira kamu di mana, aku benar-benar khawatir ." gumam Abi hampir menangis pilu di dalam mobil
Tangis Abi mulai pecah saatmemikirkan bagaimana keadaan Amira sekarang. apakah ia baik baik saja?
"aku benar-benar mohon maaf Amira, kamu di mana." ucap Abi dengan nada frustasi
Kecewa, rasa bersalah dan marah pada diri sendiri membuat Abi merasa hina.
Abi kembali ke hotel tempat ia menginap, dengan frustasi tingkat akut Abi telah menelusuri kota bahkan sampai ke luar kota untuk mencari Amira
Dert. ......dert. .......dert. ....
"Hallo, ini benar dengan pak Abi." ucap seseorang di balik telfon
Abi tak menjawab sama sekali. Dan orang yang menelfon Abi pun tak banyak bicara hanya menyampaikan hal penting saja
"Pak Abi ini dari pengawas sekolah meminta data anak murid yang akan di ikutkan dalam olimpiade. Di harapkan bapak segera mengkonfirmasi data dari para siswa." ucap seseorang pengawas dari balik telfon
Mendengar itu Abi pun kembali memikirkan para siswanya yang akan ikut dalam lomba. Memutuskan kembali ke rumah karena datanya ada di ruangan Abi.
Melaju kembali ke rumah karena data data yang penting tak bisa di tunda, Abi memilih mengirim data para siswa yang akan di ikutkan dalam lomba.
Sempat ia memikirkan jawaban sebelum ia masuk ke rumah karena ia merasa harus menyiapkan mental dan juga alasan yang tepat agar papanya tak menyuruh ia menceraikan Amira
"Ya tuhan kuatkan hamba mu yang lemah ini aku sungguh tak punya muka jika ayah menanyakan Amira padaku." Guman dengan sedikit segan saat akan masuk ke dalam rumah
Dengan langkah-langkah berat beranjak turun dari mobil
"Tuhan berikan aku kesempatan sekali lagi." ucap Abi menguatkan dirinya
Dan betapa terkejutnya Abi melihat seorang yang wajahnya di balut perban bagaikan mumi yang hanya bagian mata , hidung ,dan mulut yang tak di tutupi perban.
"Puas dengan apa yang kamu lakukan pada nya." sahut anton pada Abi yang membuyarkan perhatian nya pada seorang yang di perban.
Abi yang langsung di cerca dengan pertanyaan hingga dirinya sendiri kebingungan .
Ingin rasanya menghardik sang ayah ,namun di urungkan, kerena paham hanya akan memperburuk keadaan. Abi menatap penuh curiga, sekaligus tak percaya. Dugaan dirinya yang mengira itu adalah Amira yang mendapati tindakan kekerasan.
Tatapan Abi mengarah ke satu persatu yang ada di sana dengan maksud meminta jawaban.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments