Renata menatap Abi dengan tatapan bingung, tak mau ambil pusing berlalu masuk ke dalam kamar. Membuka pintu kamar menatap Amira yang tengah terlelap, sebelum kaget karena terkejut dengan wajah Amira yang penuh lipstik seperti tuan kelinci.
Tawa Renata menggelegar, di setiap sudut ruangan, sampai Amira terbangun melihat Renata dengan tatapan bingung.
"Kamu kenapa." bertanya masih melamun namun tangan Amira menggaruk Faruk wajahnya Yanga terasa gatal.
"Kamu lucu." ucap Renata dengan tawanya dan berlalu
Amira heran dengan ucapan dari renata mencoba menjernihkan pikiran nya yang baru bangun.
Melihat ekspresi Amira kebingungan, Renata mengambil cermin dalam tas yang selalu di bawa. Betapa terkejutnya Amira saat melihat wajahnya yang penuh dengan lipstik .
"Renata kamu." ucap Amira dengan tangan yang akan menggaruk wajahnya yang teramat gatal.
"Gak bukan aku ko." ucap Renata Dengan masih tertawa dan tangan yang diangkat lalu kibas Kanya. Seolah memberi tanda kalau bukan dirinya yang melakukan perbuatan itu.
Amira sangat marah dan tak perduli dengan ucapan dari Renata. Karena semua terlihat jelas, bagi Amira lipstik di tangan Renata. Berlari keluar kamar memilih meninggalkan Renata di kamarnya tanpa mendengar kan penjelasan.
Renata mengejar Amira yang berlari namun langkah nya terhenti .
"Ah paling ka Syarif akan jelaskan juga, Toh paling dia lari ke kamarnya sama ka Syarif." kembali melangkah masuk ke dalam kamar
Amira berlari ke luar dari rumah, berharap segera menemukan taxi. halaman rumah yang besar membuat wajah nya lebam lebih cepat di area lipstik menempel.
Bersusah patah baru bisa keluar dari halaman rumah, dan juga mencari taxi di area kompleks yang mewah begitu susah, dan harus melangkah lebih jauh lagi untuk mendapatkan taxi.
Sedikit merasa beruntung karena mendapat taxi yang lewat secara kebetulan.
Berada di dalam taxi, belum membuat Amira tenang, karena wajah lebam nya semakin parah, tangis pun tak henti-hentinya terdengar di telinga sopir
"Pak boleh cepetan dikit gak."ucap Amira sudah tak tahan
"Ia neng, di usahakan." ucap sopir menancap gas
Sekilas sopir itu melirik Amira dari kaca tengah, terkejut melihat bibir Amira yang sudah membengkak dan wajah yang lebam.
"Emm, neng ke rumah sakit terdekat aja dulu." saran sopir tak tega melihat wajah Amira.
Amira tidak menjawab karena bibir yang bengkak membuat sudah bicara.
Karena gatal yang hebat, membuat Amira ingin berteriak karena tak sanggup lagi. Menahan begitu lama membuat Amira tak sadarkan diri di dalam mobil. Sopir yang memperhatikan Amira yang kesakitan menancap gas melaju di jalanan.
Melaju di jalanan, membuat pak sopir dengan cepat sampai di area rumah sakit. Bingung bagaimana harus membawa Amira masuk, karena badan pak supir kurus itu tak sanggup kalau harus mengangkat tubuh Amira yang berisi.
Melihat sekitar, ada seorang pemuda yang baru saja keluar dari mobil, pak sopir berinisiatif untuk meminta bantuan.
"Den, maaf boleh tolongin bapak." ucap sopir berhati-hati.
"Ia kenapa pak." Menatap sekilas.
"Bantu angkat neng yang di dalem soalnya bapak kurang kuat." ucap pak sopir sambil membuka pintu mobil.
Pemuda yang tak lain adalah Andy, berjalan mendekat ke mobil dan melihat gadis yang tengah duduk tak sadarkan diri itu. Andy melihat sekilas seperti mengenal nya namun wajah lebam Amira membuat siapa pun yang kenal tak akan tahu kalau itu adalah Amira.
Andy menggendong Amira masuk sampai ruangan. setelah itu pak sopir harus meminta bantuan Andy lagi, untuk menjaganya karena dirinya harus pulang mengingat hari sudah mau gelap.
"Den maaf boleh bapak minta tolong bantuannya lagi den." ucap pak sopir, tak enak.
"Apa ada yang masih kurang pak." sahut Andy menatap heran.
"Gini den, saya masih harus pulang karena istri saya pasti khawatir, boleh saya minta tolong sama aden." jelas pak sopir
"Buat jagain neng itu dulu, nanti kalo sempat saya nengok ke sini lagi besok." lanjut pak sopir berucap
"Lho aku kiranya itu anak bapak."ucap Andy heran
"Bukan den, tadi saya melihatnya tengah berjalan sambil nangis, di jalan Cemara." jelas sopir berkata.
Itu kan, jalan rumah paman Anton
mengingat nama jalan nya membuat Andy menebak wanita itu adalah Amira.
Semakin yakin kalau itu adalah Amira." Tapi kenapa wajah nya bisa begini." gumam Andy penasaran.
Andy yang kuliah di bagian kedokteran, berhubungan dengan itu Amira berada di rumah sakit milik keluarga Malendra.
Andy memberikan penanganan yang paling bagus untuk Amira selama di rawat di rumah sakit.
Dokter Anas yang bekerja di rumah sakit itu, dan dia spesialis kulit Andy langsung yang memintanya untuk melakukan penanganan.
" Dermatitis kontak iritan, produk kosmetik tertentu yang tak bisa tersentuh oleh kulitnya yang sensitif." jelas dokter Anas.
"Bagaimana sekarang kondisinya dok." tanya Andy ingin tahu
"Untuk sekarang masih harus di berikan penanganan yang pas, karena ini dapat memicu rasa perih, iritasi, seperti terbakar nya kulit. penyembuhan nya bisa memakan waktu beberapa hari atau beberapa Minggu kedepannya." menjelaskan secara garis besar.
"Dia pacar kamu? Lain kali kalo main nya jangan lipstik lah, kayak gini gak bagus buat kulitnya tahu " beritahu dokter Anas dengan kesal.
"Dokter tahu kan, saya anak satu satunya. Menurut dokter dia siapa saya." sahut dengan jengkel
"""
boleh ya outornya minta jempol sama jejak, koin sama poin nya juga novel nya lagi ikut kontes 🙏🙏🙏 help me pliss para raidersss yang Budiman
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Leni Ani
rasain lo syarif kek batu lu.tunggu aja apa yg akan dibiat sm amira
2023-06-23
0