Di dalam kamar Amira masih fokus mengerjakan tugas tugas sekolah. Sedari sore setelah Azar sampai malam menjelang isya ia hanya berhenti sejenak pada saat sholat saja. Sampai sekarang pukul 9 malam baru ia berhenti.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." ucapnya merenggangkan otot-otot nya
T O K.................TOK...............,........TOK..........
"Amira." teriak ibunya di depan pintu kamar Amira
"Iya Bu." sahut Amira membuka pintu.
"Bantu ibu siapin makan malam yuk." pinta ibu Amira.
"Iya Bu, Amira beres bentar lagi." ucapnya membereskan buku-buku di atas meja dengan cepat.
"Hem mungkin udah saatnya cepat atau lambat pun harus di hadapi" gumam Amira pada dirinya sendiri
Di dapur Amira menata piring, gelas, bahan makanan, untuk mereka santap di meja makan. Selama proses makan berlangsung mereka sesekali bercanda gurau sambil menunggu makanan siap di sajikan.
"Bapak makanya yang banyak kan supaya bisa jagain ibu terus." ucap Amira menyendok nasi ke piring bapaknya.
"Iya makanya ibu masaknya yang yang banyak supaya bapak Kuat jagain ibu." balas pak Rudi berucap.
Hahaha tawa dari ketiga nya pun mewarnai ruang makan. mereka bertiga pun tertawa bersama dengan kehangatan yang mereka ciptakan.
"Alhamdulillah masih di kasih rezeki sama Allah untuk makanan selezat ini." ucap pak Rudi setelah selesai menyantap makanan di atas meja.
"Ia pak, ibu tau, ibu juga sengaja masak yang enak supaya bapak makan nya banyak, biar nantinya tidak kaya zombie pas di pelaminan Amira nanti." ucap Romlah berkata meledek.
Suasana yang tadi nya hangat jadi terasa berbeda seketika bapaknya yang sadar akan hal itu coba untuk memberikan pemahaman pada Amira .
"Amira kamu satu satunya anak bapak, dan kamu tau itu, kamu adalah harapan bapak karena kamu adalah jantung dari bapak dan ibu. Bapak ingin tanya apa kamu siap berumah tangga di usia yang masih sangat muda ini." ujar pak Rudi pada Amira dengan perasaan bersalah.
"Inn sya Allah pak Amira siap." menarik nafas sebelum ia mengatakan pada bapak berharap keberanian nya terkumpul dan kuat di hati.
"Nak bapak tau kamu anak yang berbakti, tapi di dalam rumah tangga kamu di tuntut harus bisa melayani kebutuhan nya suami kamu nanti." ujar bapak memberi penjelasan pada Amira.
"Bapak hanya takut kalau bapak menyerahkan kamu pada orang yang salah nantinya. Jujur bapak pertama yakin dengan nak Abi, tapi entah perasaan apa ini semakin dekat dengan hari pernikahan kamu, malah semakin bapak gak rela kalau kamu menikah secepat ini." ujar pak Rudi dengan mata berkaca-kaca, tak dapat menahan tumpukan air di pelupuk mata hingga akhirnya meluap deras mengguyur di pipi mereka masing-masing.
Isak tangis dari pak budi pun pecah begitu pun dari buk Romlah.
"Pak jangan nangis donk, gimana nanti Amira tega tinggalin bapak sama ibu." ucap Amira yang sudah dengan suara tangis yang sama.
Mereka pun berpelukan ala teletabis yang mengharukan
* * *
"Ya Allah gini yah rasanya bakalan ninggalin orang tua, kayak enggak tega gimana gitu." ucap Amira saat ia sedang berbaring di atas ranjang tempat ia tidur.
"Mir ibu masuk ya." ucap ibu Amira bersuara di balik pintu kamar.
"Ibuku yang cantik, silahkan duduk di kasur yang empuk ini." ucap Amira dengan manja hingga tawa mereka pun pecah dengan celotehan Amira itu.
"Ihh anak ibu udah besar yah." ucap Romlah saat akan duduk di kasur samping Amira.
"Nak boleh ibu ngomong sesuatu." lanjut ibu Romlah berkata.
"Apa sih, yang ga boleh ibu, ngomongin sama Amira." sahut Amira sambil memeluk sang ibu.
"Amira tau kan ibu sama bapak sayang banget sama Amira." berkata dengan penuh penekanan dan membelai kepala Amira.
"He em tau ko, biar ibu gak ngomong juga Amira, sadar akan hal itu." ucap Amira yang masih dengan memeluk ibunya.
"Satu yang ibu minta sama kamu. jangan pernah kecewa in, ibu sama bapak ya." ucap Bu Romlah pada Amira dengan tatapan memohon
"Maaf Bu, kalau sering kali udah pernah buat ibu sama bapak kecewa sama Amira." ucap Amira dengan sedikit suara Iskan.
"Lho lho gak gitu sayang kok malah nangis sih, maksud ibu, kamu udah nikah nanti jangan sampai ibu dengar kalo kamu pisah sama nak Abi. Mereka itu orang baik, yang udah nolong nenek kamu beberapa kali." ucap ibunya masih dengan membelai kepala Amira.
Sejenak Amira berfikir maksud ibu ngomong apa yah .
"Kamu harus janji sama ibu bakal kaya rumah tangga ibu dan bapak." pinta ibunya pada Amira
"Amira janji Bu, Amira janji." ucapnya dengan memeluk lebih erat tubuh ibunya dengan sedikit isak tangis.
"Nah sekarang mana senyum nya anak manisnya ibu." ucap Bu Romlah yang menarik tubuh Amira dan mencubit gemas pipi nya.
"Iih, ibu sakit, pipi Amira tanpa ibu narik juga aku bakal senyum Pepsodent kok." ucap Amira memegang wajahnya dengan kedua tangan.
gelak tawa keluar dar mulut kedua kaum hawa. Tertawa lepas dalam keadaan saling memeluk satu sama lain.
"Ya udah sekarang tidur yah liat jam udah jam 11." ucap ucap Bu Romlah sambil menunjuk pada jam dinding yang tergantung di kamar Amira
"selamat malam ya sayang." ucap Bu Romlah Dengan beranjak keluar kamar Amira.
"Ya Allah gak tau kenapa kok rasanya kayak lega banget yah setelah aku bisa ngomong sama ibu. Aku tidak tau kalau dia akan suka padaku di kemudian hari atau tidak. aku serahkan semua nya kepada mu ya Allah. mohon bantuannya untuk selalu menjaga perasaan pak Abi kelak jika aku jadi istri nya." pinta Amira saat ia berdoa dalam hati
"Ihh kok aku ngomong nya berasa kaya jadi ibu aku yah." ucapnya dengan mengingat kembali doa nya.
"Aduhh ya Allah apapun nanti yang terjadi jangan engkau biarkan aku melupakan mu walau hanya sedetik dan jangan engkau biarkan aku serahkan semua hidupku pada diriku, aku butuh engkau ya Allah, untuk selalu mengambil langkah dalam hidup ini." ujar Amira sambil berbaring
"Pak Abi semoga engkau 1 untuk selamanya aaammiinnn ucap Amira berbaring menyamping
Cling .......cling........cling....
"Hah, nomor siapa yah." pesan pada layar ponsel tanpa nama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments