"Ibu ngapain." tanya Amira saat bangun dengan mata bengkak khas orang baru bangun.
"Buat kue, kan bentar penentuan tanggal kamu nikah." ucap ibu romblah sambil mengolah adonan di dalam loyang.
"Lah terus kenapa pake acara buat kue Bu, emang tanggalnya di kasih makan." tanya Amira dengan bingung dan menarik kursi meja makan untuk tempat ia duduk.
"Kamu ini bego atau gimana sih, kan mertua kamu bakal pada datang. Terus emang mereka gak di kasih makan apa." jawab ketus ibu Amira.
"Hahaha ia yah bu, aduh ni otak juga gak make mikir dulu baru tanya." ucap Amira sambil mukul kecil jidatnya.
"Sudah sudah, gak usah debat sama otak kamu yang gak ada gunanya itu, ayo cepat sini bantuin ibu masak." ujar bu romblah dengan ketus laku memberikan loyang berisi adonan pada amira.
"Siap komandan chef." ucap Amira yang langsung berdiri dan memberikan hormat pada ibunya atas perintah dari sang ibu kemudian ia cengar-cengir mendekat pada ibunya. Membantu mengolah adonan di dalam loyang.
****
"Bu kayaknya ini kue nya dah Mateng deh coba lihat." mengakat tempat dari kukusan di dalam wajan ke ibunya.
"Ia ia kamu pindahin ya, tolong, karena ibu mertua kamu udah di depan. Lebih cepat datangnya dari pada dugaan ibu." ucap Bu Romblah sambil membersihkan terigu yang menempel di bajunya.
"Ah masa bukanya nanti sore ya bu." ucap Amira tak percaya.
"Kamu tuh ya kalo di kasih tau gak pernah langsung percaya, aku ni tuh ibu kamu apa bukan sih." nada ketus yang terdengar saat ibu Amira bersiap akan keluar.
"Lah ibu nanya aku? Aku mana tau, kali aja aku ni anak dari seorang miliarder ternama gitu, trusss hilang, dan yang Nemu bapak sama ibu. Jadi deh aku di asuh sama bapak dan ibu." ujar halu Amira memindahkan kue ke atas meja.
"Anak miliarder juga gak mungkin lah muka kamu mirip sama ibu, ngaco ya kamu kalo ngomong." balas ibu berucap dengan nada ketus.
"Atau kamu mau ibu keluarin dari kartu keluarga." ucap asal Romlah.
"Emang ada cara kayak gitu yah buk." sahut Amira serius.
"Huakkkk." teriak memukul Amira
"Ihh ibu gak jelas banget sih ahh, malas ladeni ibu bercandanya kaga ke arah." ucap Amira dengan wajah di tekuk .
Suara mobil, terdengar hingga ke dapur, Romblah yang bersiap menyambut kedatangan keluarga besan akan segera menjamu mereka.
"Mari Bu lita, pak Anton silahkan duduk." ucap pak Rudi sambil mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.
"Ia, makasih lho Bu udah di sabut." ucap mama lita dengan senyuman sumringah.
"Amira ke mana Bu." tanya mama lita saat duduk di kursi ruang tamu.
"Ada kok di dalam lagi buat kue katanya biar kesannya dia bisa masak." ledek Bu romblah pada mama lita dengan mengejek Amira
"Bentar ya Bu lita, pak Anton." ucap Bu romblah sambil meninggalkan di ruang tamu menuju dapur
"Eh nak Mira lagi buat apa." tanya mama lita pada Amira yang sedang memotong kue kue yang baru saja ia masak
Suara yang tiba-tiba membuat Amira dan ibunya pun sontak kaget karena mereka tak menyadari bahwa ibu lita sudah di dekat mereka entah sudah berapa lama.
"Loh kok mba lita ke sini." tanya Bu romblah kaget saat mama lita sudah berada di dapur bersama dengan mereka.
"Mending mama di luar aja nunggu minuman sama makanan nya yah." bujuk Amira sambil mendekat pada mama lita.
"Gak papa kok sekalian mama bantuin buatnya karena kamu juga harus di sana mendengar kan nya sayang." ucap mama lita sambil membersihkan tepung yang menempel di wajah Amira dengan telapak tangannya
Amira pun mengangguk menandakan ia setuju pada perkataan mama lita.
Ia membuat minuman dan menyajikan makanan lalu mengantarkan ke ruang tamu tempat mereka berkumpul. Tanpa sadar Amira datang dengan penampilan belepotan di mana-mana, sisa tepung, dan juga ia masih menggunakan celemek saat di gunakan nya membuat kue.
Melihat penampilan Amira membuat mereka tertawa namun saat itu pandangan nya tertuju pada pria yang berpakaian baju dinas sekolah yang sedang duduk di samping mama lita.
"Aduh maaf ya Amira abis buat kue gak langsung bersih bersih badan."tiba tiba suara Bu romblah berkata sambil membawa Amira ke kamarnya.
Amira mendengar sekilas dari dalam kamar percakapan beberapa orang dari ruang tamu, jantung berdebar, perasaan mulai gelisah, akan kah ini berjalan seperti semestinya?
"Lebih cepat lebih baik kalau menurut saya." Ucap pak Anton pada pak Budi
"Ok lah pak Anton kami menurut saja kapan kalian tentukan." ucap pak Rudi menyerahkan sepenuhnya pada pak Anton
"Ada baik nya kita ambil langkah tanggal 20 ya." ucap pak Anton dengan yakin.
"Yang berarti 2 Minggu lagi acaranya di adakan di hotel milik pribadi saya, dan 50 orang tamu undangan saya rasa sudah cukup untuk tamu-tamu nya nanti." lanjut pak Anton menjelaskan.
****
hai para raidersss .semoga kalian senang dengan cerita ini. mohon bantuannya comen dan like jika suka ya 😀😀
buat para penulis lainya bagi yang mau promosi di sini gak apa apa kita saling bantu sesama penulis 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Umi Nabila
oon
2022-10-16
0
Fitri Achhel
aduh bagus bangett😍😍
2021-11-27
0
Nina Taruli
duh, greget ni. klw mimin bersedia, tolong revisi dibagian si EKSPRESI SI AMIRA PERTAMA KALI NYA DIA TAHU BAHWA CALON SUAMI NYA ITU TERNYATA GURU BARUNYA DISEKOLAH dan sebaliknya. PASTI NYA mereka kaget dong, secara cerita nya mereka belum pernah bertemu.
thank you min, semangat ^^
2021-09-24
0