"Amira, tadi ibu mertua kamu nanya, katanya kalian bakal fitting baju di salah satu butik milik mamanya." ucap Bu Romblah saat melihat Amira tiba di rumah.
"Aduh Bu, baru aja aku sampe di rumah, aku capek Bu mau istirahat bentar! Memangnya kapan nikahannya." tanya Amira dengan nada ambigu.
"Secepatnya dong sayang, ibu kan tadi udah bilang kamu enggak usah ke sekolah, eh kamu nya malah ngeyel." ucap Romblah sambil duduk di kursi.
"Ia...ia ...Bu maaf." ucap Amira sambil masuk ke kamarnya.
"Kamu istirahat aja dulu, sebelum di jemput calon ibu mertua kamu." ucap Romblah dengan candaan.
"ibu." teriak Amira menatap ibu kesal dengan persoalan itu."
"Aduh, maaf maaf, sekolah nya tadi gimana sayang, lancar kan ketemu sama guru barunya." interogasi Romblah penasaran.
"lancar. Jangan lupa bangunin Amira yah Bu." ucapnya sambil menutup pintu kamar.
****
"Assalamualaikum ... Bu Amira di mana." teriak Rudi bergegas mencari Amira.
"Walaikumusalam ... bapak udah balik ."jawab ibu Amira sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Ia buk mira mana." tanya bapak dengan tak sabar.
"Ada pak di kamarnya, kenapa pak.? tanya Romblah balik pada suaminya.
"Bapak tadi dapat telfon, istri pak Anton mau datang katanya." duduk di kursi mengipas dirinya yang merasa gerah." cepat kamu bangunin Amira, suruh dia siap siap." Perintah Rudi sedikit cemas.
"Oh ia pak nanti biar ibu bangunin." ucap Bu Romblah yang langsung melangkah ke depan pintu kamar Amira.
Tok...tok..tok ... "Amira bangun nak calon ibu mertua kamu udah nyampe." ucap Romblah dengan memberikan kode pada pak Rudi berupa kedipan mata.
"Ia buk, masih ngantuk." sambil mengerjap ngerjapkan matanya dan menggeliat rileks di tempat tidurnya. " His, semangat sekali mereka." umpatan kesal Amira.
"Amira kamu mau buat ibu mertua kamu nunggu berapa lama." teriak Rudi lantang.
Sontak ia pun langsung segera bangun dan berlari keluar pintu.
"ibu kenapa enggak beritahu lebih awal sih bukanya udah nyampe gini, kan Amira malu nanti kesan nya Amira tuh, gak baik di awal bertemu dengan ibu mertua." ujar Amira ketus.
ibu Romblah kaget saat mendengar Amira berkata seperti itu. Ia berfikir kalau Amira akan marah dan berceloteh dengan nyaring seperti biasanya.
"Hahaha tuh liat anak kamu pak udah malu aja."sambil tertawa Romblah menatap geli.
"Hahaha ia bu kamu bisa aja. Ternyata Amira anak kita sudah besar." lanjut pak Rudi berkata sambil memperhatikan Amira.
Amira pun merasa ada yang ganjil dengan tawa dari ibunya namun perhatian nya fokus dengan seseorang yang akan menjadi mertuanya itu.
Berlari ke dapur lalu ke teras rumah, mencari ibu mertua nya yang tak di lihatnya di ruang tamu. Setelah berkeliling tak menemukan orang yang ia cari ia pun kembali ke ruang tamu dan menanyakan pada ibu nya di mana ibu mertua nya itu sebab ia sudah kesana-kemari mencari namun tak dapat menemukan nya.
"Mana Bu calon mertua aku."sambil nengok ke kursi ruang tamu.
"Hahahaha kamu bisa aja di bohongin. Ibu mertua kamu belum datang sayang, masih di jalan mau ke sini." ucap Bu Romblah dengan tawa yang tak tertahankan
"Tuh....kan ibu kebiasaan deh, apa apa selalu bikin Amira jantungan, ih." ucap Amira dengan nada kesal kemudian ia berlalu ke kamar mandi.
Ibunya yang melihat tingkah Amira sontak langsung tersenyum "ibu akan merindukan hal ini kalau Amira di bawa sama suaminya nanti pak." langsung menangis mengingat Amira akan menikah di waktu dekat ini.
"Itu sudah resiko Bu punya anak cewe, ya pasti nya akan di tinggalkan." nanti kita bikin satu lagi ya." goda Rudi di tengah pembicaraan dan membuat istrinya yang langsung tersenyum memukul dada suaminya.
Sementara itu Amira yang sedang berada
Di dalam kamar mandi masih menggerutu dengan kesal. "Ihh heran deh sama ibu, pengen kali nya liat anaknya mati muda. Masa, ia apa apa selalu kaya gitu." melamun mengingat ingat kelakuan ibunya.
**Ingatan di kepala Amira**
"Amira katanya jam 7 ada ulangan matematika ini udah hampir jam 7 lho mau bangun apa masih mau molor cantik di kasur kamu." teriak Romblah di depan pintu kamar Amira.
Sontak Amira yang mendengar nya pun langsung segera bangun dan berlari masuk ke kamar mandi. Gerakan cepat ia lakukan mulai dari sikat gigi, dan cuci muka, tanpa mandi langsung masuk ke dalam kamar dan buru buru. Memakai seragam nya dengan gerakan seribu bayangan, Amira dengan cepat keluar kamar menuju ke arah pintu, dan seketika ia sadar setelah di depan pintu rumahnya ternyata cahaya dari bulan masih nampak dan langit malam, masih belum berubah menjadi biru. Kekesalan Amira bertambah hingga ia tak tahan akibat hatinya yang terasa panas.
"Ibuuuuuuuu . teriak Amira nyaring di depan pintu rumahnya.
Mengingat itu Amira tertawa kecil, walaupun saat itu sedang kesal hingga pikiran nya kembali mengingat di mana ibunya juga pernah mengerjai dirinya. Berbagai macam kejadian aneh dengan ibunya yang kembali terlintas di kepala Amira.
Tanpa sadar ia berada di kamar mandi sudah lebih 30 menit.
"Amira kamu ngapain di dalam kamar mandi buat acara, apa.? Ibu mertua kamu mau nunggu berapa lama lagi." teriak Romblah di depan pintu kamar mandi.
"Ia ibu masih reunian. Bilang aja sama ibu mertua ku nunggu dulu." Pekik tawa Amira." hahaha ladenin ibu aja dulu main main, kan kalo udah nikah bakalan gak sering sering lagi kayak gini." Keke Amira membalas ucapan ibunya.
"Amira cepetan ibu mertua kamu udah di depan kenapa ibu malah di becandain."teriak Romblah memberi tahukan.
"Heleh ibu mah apa apa selalu gitu."ucap Amira dengan nada ketus saat membuka pintu kamar mandi.
Ia pun berjalan ke kamar, dilihat nya dengan samar samar seorang wanita duduk di ruang tamu bersama bapaknya sedang asik berbincang bincang. Amira pun yang langsung sadar akan ucapan ibunya tadi dengan berbisik bicara kepada ibunya" lho lho, bu itu yang duduk sama bapak calon mertua aku ya." tanya Amira dengan menunjuk ke arah seorang wanita berparas cantik nan elegan.
"Ia kan ibu udah bilang, kamu nya aja yang ngeyel." ucap Romblah dengan ketus kemudian berlalu dengan wajan, tempat minuman buat calon besan dan suami nya.
"Ibu gitu sih kebanyakan becanda sekalinya serius aku juga malah enggak percaya, di kirain bercanda." ucap Amira sambil mengkerut kan bibirnya.
Ia pun melihat sosok calon ibu mertua nya dari dapur sambil mengintip intip. Saat ia memajukan kepalanya dari pintu dapur ternyata Bu lita sosok mertua nya itu sedang memandang ke arahnya dan tatapan mereka pun bertemu, tak enak hanya berdiri dari kejauhan ia pun segera berjalan menghampiri ibu mertua nya yang masih mengunakan handuk di lilit pada body gols miliknya, lalu menyalami punggung tangan ibu mertua nya itu.
"Maaf Tante jadi nunggu lama." ucap Amira merasa bersalah.
"Hahahaha enggak papa sayang." ucap lita ramah.
"Aduh Tante maaf banget lho aku kira tadi ibu aku becanda." mencoba menjelaskan.
"Haha ia ia anak kamu lucu ya mas Rudi." ucap Bu lita dengan tawa sumringah.
"Sudah sudah kamu masuk sekarang Amira, terus ganti baju kalo kamu masih di sini kamu bakalan suruh ibu mertua kamu nunggu lagi dong." tegur ibunya ke Amira dan memaksanya masuk ke kamar.
Segera Amira masuk ke kamar dan berganti baju, di pilih nya baju terbaik yang ia punya di dalam lemari. Setelah selesai ia memakai baju lengan panjang berwarna armi, ia pun menggunakan jilbab berwarna senada dengan bajunya, membuat penampilan nya terkesan sangat sopan di tambah dengan jam tangan juga tas samping sebagai pemanis dari tampilannya.
Di rasa sudah cukup, Amira segera keluar dari kamar dan menghampiri tempat duduk di mana ibu lita, dan ibu romblah juga bapaknya yang tengah duduk di ruang tamu.
"Udah siap sayang." Sapa lita pada Amira saat di lihatnya Amira keluar kamar dengan pakaian yang begitu rapi.
"Ia Tante." ucap Amira dengan senyuman.
"Ayo kalo gitu, mas Rudi kami pamit dulu yah." ucapnya dengan menarik tangan Amira.
"Pak Amira pergi dulu yah." pamit Amira sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
Kejadian saat di sekolah, terlintas di pikiran Amira saat mereka menuju tempat fitting baju.
Kejadian memalukan saat di sekolah membuat Amira, kesal. Pasalnya ia ketiduran hingga jam pelajaran selesai, tak sada satupun orang yang membangunkan Amira. Dan itu atas perintah pak Abi.
Hampir Amira mengamuk pada satu kelasnya karena tak di bangunkan, kemurkaan bertambah saat tahu kalau itu adalah ulah guru baru.
Sahabat Amira ketakutan dengan tatapan Amira, yang seakan mengatakan kalau ia ingin mengerjai pak Abi.
Namun ia lebih memilih, mengerjai teman temannya dengan mengunci pintu saat pulang sekolah, lalu menitipkan kunci pada satpam yang berjaga di gerbang sekolah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 188 Episodes
Comments
Iwan Kerenz
cerita dimasa - masa sekolah memang menarik...
2021-04-23
0
pryamlia
tanda kutipnya jangan di awal doang dong aku jadi bingung dialognya sampe mna aja
2021-03-22
1
ふじょし
iya mak gue jg suka banget kek gitu padahal masih pukul 6.30 ehh dibilangnya jam 7.
hadehh kdanag bikin jantungan takut telat
2021-03-01
0