Karin tertawa, mata coklat muda berbinar. "Kamu masih ingat semua itu, Al, dan kau tahu itu aku Al?"
Alfist tersenyum. "Aku tidak pernah lupa, Baby. Kamu sudah menjadi bagian hidupku sejak saat itu."
"Berarti Kau selama ini.... " ucapan Karin terhenti karena mendengar ketukan pintu, sungguh Karin kepo kok bisa Alfist tahu anak kecil itu adalah dia, kan Karin jadi berpikir yang lain.
Marsel masuk ke ruangan, melihat kedua orang yang dicintainya. "Papa, Mama, apa yang kalian lakukan?"
Marsel dan Alfist saling menatap, kemudian Karin tersenyum pada Marsel. "gak ada kok Marsel" kata Karin.
"oh iya, Baby, aku punya kejutan untuk mu" waktu itu sudah memasuki petang (18.00 - 20.00)
Alfist memasang penutup kain di mata Karin, katanya Alfist dan Marsel ada kejutan untuk nya. "Al, kelihatan tau, gw masih bisa ngintip di bawah, eheheh" "Baiklah, kalau itu mau mu" Alfist menutup mata Karin lagi dengan kedua tangan nya "Al, ini baru gak kelihatan" canda Karin "Iya Baby, karena sudah dua lapis, kau pasti suka" Alfist menuntun Karin dan masih sempat nya Alfist mengendus mencium rambut harus Karin "Kita mau ke mana sih Al, Marsel, perasaan gak sampe-sampe"
"Bentar lagi Mah" ujar Marsel
Karin tersenyum, merasakan sentuhan hangat tangan Alfist. "Apa sih kejutan ini?" tanyanya lagi penasaran.
Marsel tertawa. "Sabar, Mah. Kami ingin membuat hari ini spesial."
Alfist menuntun Karin ke sebuah ruangan yang dihiasi bunga dan lilin. Suara musik lembut memenuhi udara.
"Siap?" tanya Alfist.
Karin mengangguk. Alfist membuka penutup mata Karin.
Karin terkejut melihat dekorasi romantis dan ada Nathan yang memainkan gitar. "Cinta kita, cinta sejati," bisik Alfist tepat di telinga Karin
Alfist mengambil tangan Karin. "Karin, aku cinta kamu. Apakah kamu mau jadi kekasih ku?"
Karin tersenyum lembut. Dan mendekat ke wajah Alfist dengan suara kecil yah bisa di bilang hanya mereka berdua yang dengar "Jujur Aku tidak tahu itu cinta Al. Dan aku tak tahu perasaan ku sendiri tapi melihat mu yang tampan ini dan kegigihan nya aku memberi mu kesempatan, jangan pernah lepas aku akan cinta mu itu, dan Ya, aku mau menjadi kekasihmu."
Biar pun dia awal Alfist merasa tak tenang tapi Alfist gembira, memeluk Karin erat. "Aku bahagia sekal, terimakasih Baby"
Nathan menyambung "selamat kalian berdua, aku dan semuanya yang ada disini sangat senang melihat kalian bersama"
Karin dan Alfist berbagi ciuman romantis di bawah cahaya, Alfist menggenggam tangan Karin dan melihat cincin yang dia kasih dia awal pertemuan di Rumah Sakit, Karin masih mamakai nya. Alfist mencium lembut jari tangan Karin.
Setelah perayaan singkat itu, Karin ingin pulang ke rumah untuk siap-siap untuk besok sekolah, eh Alfist gak nyuruh malah kekeh Al dan Marsel ingin nginep di sana, ya kali ye kan, jadi akhirnya Karin minta tolong besok subuh mohon di anterin, baru lh Alfist mau nurut, emang sulit ygy mahamin orang yang suka maksa, tapi mungkin Alfist ada maksud, ingin depeyukkk saat bobo ygy wkkw
Sesampai nya di kamar, Marsel di paksa Alfist untuk tidur di Mansion utama entah apa yang diucapin sama Alfist sampe Marsel gak bisa ikut Mama nya itu.
"Coba jelasin apa pun tentang gw menurut lu, Al?"
"Manis tapi bahaya" ujar Alfist menatap intens, Karin garuk-garuk bingung, "Opo yang bikin bahaya, manis gini apa nya yang bahaya" Karin sedikit cemberut karena di katain bahaya, Karin terkejut dan sedikit kesal karena disebut "bahaya" oleh Alfist.
"Apa maksudnya bahaya, Al? Kok bisa?" tanya Karin dengan mata yang sedikit merah.
Alfist tersenyum dan mendekati Karin. "Bahaya karena kamu bisa membuat aku jatuh cinta lebih dalam lagi. Kamu memiliki kecantikan dan kepribadian yang luar biasa, Baby."
Karin tersenyum dan cemberutnya hilang. "Jadi, itu yang membuat aku bahaya?"
Alfist mengangguk. "Iya, Baby. Kamu bahaya karena aku tidak bisa menahan diri untuk mencintaimu lebih banyak lagi."
Karin tertawa "Bercinta atau mencintai ini Al?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments