Duar!
Petir menyambar, cahaya di langit berkilat-kilat. Malam yang semula tenang dan cerah, tiba-tiba hujan turun mengguyur bumi dengan derasnya. Myra memanfaatkan keadaan malam itu untuk mencegah Xavier pergi ke penjara bahwa tanah.
"Xavier, aku sangat takut. Bisakah kau tinggal di kamarku malam ini?" rengeknya sembari mendekap erat-erat tubuh suami Lyra itu.
Xavier diam tercenung, entah kenapa pikirannya tiba-tiba berkelana pasa sosok Lyra. Apakah gadis kecil itu juga ketakutan? Siapa yang memeluknya? Siapa yang menenangkannya? Adakah kehangatan yang bisa membuat hatinya merasa aman dan damai?
"Xavier, kenapa kau diam saja? Kau tidak mendengar ku?" Myra protes, mengguncang lengan laki-laki itu dengan cukup kuat.
"Ah, tidak. Baiklah, aku akan tetap di sini sampai kau tertidur dan merasa aman," ucap Xavier sambil tersenyum.
Myra turut tersenyum senang, hatinya merasa lega karena berhasil menahan Xavier.
Xavier Baldrick, kenapa kau memikirkan gadis kecil itu? Ingat, kau menikahinya hanya untuk menjalankan perintah ayahmu saja. Bukan untuk memikirkannya. Dia hanya gadis belasan tahun yang manja dan kekanakan.
Xavier bergumam dalam hati. Dia selalu merasa bersalah ketika mengingat tentang umur mereka. Xavier berusia dua puluh delapan tahun menikahi gadis yang masih berusia delapan belas tahun karena paksaan ayahnya.
Jika bukan karena hutang budi ayah terhadap keluarga Eleanor, aku tak akan mungkin menikah dengannya. Satu-satunya gadis yang ingin ku nikahi hanyalah Myra yang telah menyelamatkanku waktu kecil dulu.
Xavier menunduk, menatap gadis manja di pelukannya. Halon dan istrinya menentang hubungan mereka. Myra tinggal di mansion itu hanya untuk menerima balas budi atas apa yang telah dia lakukan dulu. Keluarga Baldrick tidak pernah ingin memiliki hutang budi.
Sementara di kamar Lyra, tiada kehangatan sama sekali. Tiada pelukan, tiada yang mengelus rambutnya untuk membuat hati tenang. Lyra menggigil dalam tidur, peluh sebesar-besar biji beras bermunculan. Dalam tidur, dia terlihat gelisah.
"Ibu, Ayah. Aku merindukan kalian. Aku ingin ikut dengan kalian, aku tidak ingin lagi tinggal di neraka itu," rengek Lyra di hadapan dua orang paruh baya yang terlihat berwibawa.
Mereka tersenyum, memeluk tubuh kurus Lyra dengan senyuman penuh luka. Sementara di balik sebuah pohon, gadis lainnya mengintip. Dia Lyara yang saat ini menempati jiwa Lyra.
"Pantas aku merasa tidak asing, ternyata kedua orang tua itu mirip sekali dengan kaisar, ayahku, dan juga ibuku yang hanya seorang selir," gumam Lyara, air matanya tanpa sadar terjatuh. Dia yang tangguh ternyata rapuh.
"Maka tinggallah di sini bersama kami, biarkan nenek moyangmu yang membalaskan dendam untuk kita," ucap sang ayah sembari menatap sosok Lyara yang bersembunyi di balik pohon.
Gadis itu muncul dan berjalan mendekat. Wajah mereka serupa, nasib juga sejalan. Hanya saja, Lyara lebih tegas dan kuat dari pada Lyra.
"Nona! Nona, sadarlah!" panggil Nira yang merasa cemas melihat kegelisahan sang majikan.
Lyara bermimpi, bertemu Lyra dan orang tuanya. Mereka memintanya untuk membalas orang-orang yang sudah menyakiti keluarga mereka. Lyra juga memberitahu bahwa dia sebenarnya memiliki beberapa keterampilan bela diri. Hanya saja, tubuhnya lemah sehingga tak dapat melakukan apapun untuk seumur hidup.
"Nona, jangan menakuti aku!" Nira menangis, masih mengguncang tubuh Lyra agar terbangun.
Kelopak itu terbuka, menatap langit-langit ruangan sebelum berhenti di wajah Nira yang berderai air mata.
"Jangan menangis! Aku tidak akan mati semudah itu," ucap Lyra sembari menyentuh tangan Nira.
"Ah, Nona! Akhirnya Anda membuka mata. Anda menakuti saya, Nona." Nira memeluk Lyra merasa lega.
Siapa bilang tidak ada kehangatan? Ada Nira yang menemani hari-hari sepinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
awesome moment
nira j udh ckp buat lyra. krn dia kuat
2024-11-28
2
Edy Sulaiman
cepat kuat Lyra hajar tu si Myra...biar nyaho.!"
2025-02-16
1
Siti Aisyah
satu nenek moyangkah..?? lembarannya kali yaa
2024-12-25
1