"Hoi, hoi, apakah kita bisa mengalahkan hewan ini?" salah seorang peserta bertanya dengan suara gemetar.
“Kita bisa dimusnahkan dalam sekali kepakan sayapnya,” jawab yang lain, wajahnya penuh ketakutan.
Burung raksasa itu, yang dikenal sebagai burung Rock, memindai sekelilingnya, dan tatapannya tertuju pada kawanan burung yang mati terkapar di tanah, lalu pada seekor burung kecil merah yang terluka parah. Menyadari kondisi burung kecil itu, burung Rock langsung mengamuk. Ia menyemburkan api besar ke arah kelompok peserta, yang dengan panik berlarian menghindari kobaran api.
Di tengah kekacauan itu, Aegle melihat burung kecil merah yang terluka. Tanpa pikir panjang, ia berlari mendekatinya dan memeriksa kondisinya. Dengan pil kehidupannya yang telah habis, Aegle hanya bisa menatap burung itu dengan perasaan sedih. Namun, aksi Aegle membuat burung Rock salah paham; ia mengira Aegle akan menyakiti burung kecil itu. Burung Rock langsung berbalik dan bersiap menyerang Aegle.
Nyth, yang melihat bahaya itu, segera berlari dan mendorong Aegle keluar dari jalur semburan api, membuat Aegle terjatuh. Nyth menarik tangan Aegle, namun Aegle malah melepaskannya, berlari membawa burung kecil itu dalam pelukannya. Kemarahan burung Rock semakin memuncak, ia terus mengejar Aegle, menyemburkan api besar yang menciptakan lubang besar di tanah. Aegle kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam lubang itu. Nyth berusaha meraih tangannya, tetapi terlambat.
“Sepertinya aku selalu berakhir seperti ini,” gumam Aegle pelan, sambil memeluk burung kecil dalam pelukannya.
Dalam sekejap, Nyth mengubah wujudnya ke bentuk dewasa dan melompat, memeluk tubuh Aegle erat-erat. Aegle membuka mata dan melihat Nyth yang menatapnya dengan cemas.
"Nyth…" gumam Aegle, merasa terkejut.
“Dasar gadis bodoh,” ucap Nyth sambil memeluknya lebih erat. Mereka pun terjun ke dasar lubang bersama.
Setibanya di dasar lubang, Aegle segera mencoba mengobati burung kecil itu. Namun, meski usahanya keras, burung itu masih terlihat lemah. Luka-lukanya terlalu parah setelah terkena senjata dewa.
“Nyth, apakah burung ini sudah tidak bisa diselamatkan?” ucap Aegle, suaranya penuh kesedihan.
Nyth menarik napas panjang. “Gunakan sihir penyembuhmu,” titahnya.
Aegle kebingungan dan menggeleng. “Aku tidak bisa menggunakan sihir,” jawabnya lirih.
Nyth kemudian memegang tangan Aegle dan memberikan arahan padanya. “Ikuti arahanku, fokuskan kekuatanmu. Pusatkan semua energi penyembuhanmu pada burung itu.”
Dengan tenang, Nyth memandu Aegle, yang mulai mengarahkan tangannya ke burung kecil tersebut. Ia memejamkan mata, berkonsentrasi penuh pada niat untuk menyembuhkan. Nyth menempatkan tangannya di atas tangan Aegle, tubuhnya sangat dekat, memberikan energi yang stabil dan mendukung.
“Aegle, fokuslah,” ujar Nyth dengan suara lembut namun tegas.
Aegle mengangguk, lalu memalingkan wajahnya untuk berkonsentrasi. Cahaya hijau mulai bersinar dari tangannya, aura penyembuhan Aegle memancar begitu terang. Selama beberapa menit, mereka terus menjaga fokus, hingga ritual penyembuhan itu akhirnya selesai. Burung kecil itu perlahan membuka mata, tanda bahwa ia mulai pulih.
Aegle bersorak gembira. “Lihat, Nyth! Dia baik-baik saja sekarang!” ucapnya senang.
Namun, tiba-tiba Nyth terbatuk dan memuntahkan darah. Aegle terkejut dan segera berlari menghampiri Nyth.
“Nyth, apa kau baik-baik saja?” tanyanya panik.
Nyth terjatuh ke tanah, tubuhnya melemah. Aegle memeluknya erat dan mencoba mengeluarkan aura hijau penyembuh untuk membantu Nyth, namun kekuatan Nyth terlalu terkuras.
“Aegle… jangan khawatir…” bisik Nyth dengan napas tersengal.
Aegle terus berusaha, matanya berkaca-kaca. Di antara air matanya, ia mengerahkan seluruh kekuatan penyembuhannya, berharap bisa menyelamatkan Nyth seperti ia menyelamatkan burung kecil tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments