Minggu pagi seperti tak terjadi apa apa. Danish berusaha untuk melupakan apa yang dikatakan Jingga semalam. Ia menganggap itu hanya Bualan karena wanita itu tengah cemburu. Meski tak bisa dipungkiri ada Ketakutan yang begitu besar dirasakan Danish jika Jingga benar benar ingin berpisah darinya.
Sedangkan Jingga tak ingin lagi mengungkit, ia membiarkan semuanya berjalan seperti semestinya. Ia sudah kembali menjadi istri yang baik, menyiapkan pakaian dan sarapan untuk sang suami seperti yang biasa ia lakukan. Setidaknya ia tak boleh meninggalkan kesan yang buruk sebagai istri Danish, ia juga ingin dikenang dengan kebaikannya.
Jingga menata sendiri isi roti gandum Danish dan menuangkan pria itu susu, ia tetap tersenyum melayani suaminya sehingga membuat Danish sedikit lebih tenang.
"Siang ini kita ke Perkebunan!" tegas Danish, itu bukan ajakan namun sebuah perintah.
"Baik abang..." Jingga tersenyum teduh. Ia tak berniat membantah, meski angannya bertemu Koa seraya memandang Sang Jingga harus pupus.
Jingga masih menikmati roti gandumnya saat ponsel Danish diatas meja bergetar. Foto cantik Alea terpampang begitu indah disana.
Danish tak menjawabnya, bukan karena takut pada Jingga hanya malas saja.
"Bang...mbak Alea telepon. Mungkin ada yang penting." Jingga mencoba bersikap setenang mungkin walau hatinya tercabik cabik. Ikhlas ternyata tidak semudah itu.
"Hah...."Danish menghela nafas kasar sebelum menjawab.
"Hemmm kenapa?"
"Iya....sudah selesai."
"Maaf tidak bisa Al, aku harus ke perkebunan."
"Iya sampai jumpa hari senin dikantor!"
Jingga menatap heran kearah Danish. Aneh! ia bukan memikirkan percakapan Danish tapi malah mengingat bagaimana ia dan Koa selama ini saling mengerti satu sama lain, tanpa pernah saling terhubung melalui benda pipih yang kini sudah kembali diletakkan Danish diatas meja.
Jingga mengulum senyumannya mengingat kemungkinan ia dan Koa memang benar benar memiliki ikatan batin.
"Ada apa?" Danish menatap heran dengan tingkah Istrinya yang sedikit aneh. Tadinya ia khawatir Panggilan Alea kembali membuat Jingga cemburu, tapi ternyata ia salah wanita itu seperti tengah berbahagia dan Danish benci itu.
"Kita berangkat Sekarang! Aku tunggu diluar!" Tukas Danish, ia membuang dengan kasar tissue yang barusan ia pakai membersihkan sisa makanan dibibirnya.
"Apa?" Jingga tersentak, "Sepagi ini bang? Tapi aku belum mandi" protes Jingga. Mentang mentang suaminya itu sudah rapi ia bisa membuat keputusan seenaknya. Melihat Danish tak menghentikan langkahnya ia akhirnya menurut. Jingga menghentak hentakan langkah kakinya sambil menggerutu tak karuan menuju tangga.
Sesaat Danish tertegun melihat tingkah Jingga yang terlihat begitu menggemaskan, ia persis gadis kecil yang tidak kebagian mainan. Tanpa sadar Danish menarik kedua sudut bibirnya. Pria dingin itu tersenyum sangat lebar.
Apakah Jingga memang memiliki sifat kekanakan seperti itu? Kemana saja ia selama tiga tahun ini? kenapa ia merasa baru mengenal Jingga.
tiba tiba Danish dilanda rasa bersalah. Wanita mana yang begitu sabar setelah ia abaikan selama tiga tahun dan hanya datang saat ia membutuhkannya untuk menuntaskan hasratnya?
.
.
Tidak butuh waktu lama bagi Jingga untuk bersiap.ia hanya mandi sebentar, berpakaian santai dengan atasan Hodie berwarna putih dipadukan celana jeans ketat berwarna hitam. Rambut sebahunya digerai begitu saja tanpa aksesoris apapun. Meski tidak terlihat girly seperti biasa karena mereka akan ke Daerah yang dingin, namun kecantikan alami Jingga masih tetap terlihat. Sejak keluar dari rumah, Danish yang sudah berada diatas mobil tak pernah melepas memandangi sang istri sampai wanita itu duduk disampingnya dan mengenakan seatbeltnya. Kali ini Danish menggunakan mobil Pajero . Sebuah mobil yang sudah ia miliki sejak jaman kuliah dulu, Mobil itu begitu tangguh untuk menaklukkan jalanan berbatu menuju Perkebunan.
"Aku lupa kapan terakhir kali semobil berdua dengan Abang....mungkin saat kita sering bolak balik Rumah sakit ketika Ayah Sakit, setelah Beliau meninggal kita tak pernah lagi pergi berdua." Jingga tersenyum sangat miris mengingat kehidupan rumah tangganya. Ia tidak yakin ada hal menyenangkan yang bisa ia ingat kelak saat sudah menjadi mantan Danish.
Danish tercenung. Sebegitu tidak perhatiannya kah dirinya pada Jingga? Hubungan mereka memang jauh dari kata romantis selama ini. Bahkan mereka tidak pernah berbulan madu atau sekedar berlibur bersama.
Jika suntuk Jingga hanya akan keperkebunan bersama Supir, dan terkadang mengajak beberapa ARTnya.
Sebenarnya Danish beberapa kali menawarkan liburan keluar negeri untuk Jingga, sayangnya Liburan yang dimaksud Danish adalah tanpa dirinya.
Danish menelan saliva susah payah, ia bingung bagaimana menanggapi Jingga. Dibiarkannya sang istri larut dalam fikiran dan lamunannya sendiri sepanjang perjalanan.
Jingga nampak asyik menghembuskan hawa panas kekaca mobil lalu menulis beberapa huruf disana.
Ada huruf K dan A , hanya kedua abjad itu yang dapat ditangkap Danish melalui sudut matanya.
"Perjalanan masih Jauh, kau boleh bermain ponsel agar tidak jenuh." tawar Danish.
"Aku tidak membawa ponsel!" Jingga masih betah menatap jejeran rumah dan pepohonan yang seakan bergerak menjauh meninggalkannya.
"Kau lupa?"
"Tidak! Aku sengaja melupakannya." Ponsel kini sudah tidak menjadi prioritasnya. Entahlah bagi Jingga sudah tak ada lagi yang menarik dari benda pipih itu. Ia masih takut membuka media sosial apalagi kemarin Danish dan Alea baru saja reuni, bukan tidak mungkin ada saja yang meng tag akun Danish dengan postingan foto mereka berdua. Meski itu potret beramai ramai namun Jingga masih sakit jika harus melihatnya.
Danish menghela nafas mendengar jawaban Jingga.
Mobil mereka berhenti disebuah lampu merah. Seorang anak nampak membersihkan kaca depan mobil Danish dengan kemoceng. Lalu seorang anak lagi menghampiri anak tersebut namun berbicara dengan bahasa isyarat.
Jingga mengambil selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya lalu membuka kaca mobilnya. Sedangkan Danish mengambil sebatang coklat dari dalam dashboard dan memberikannya pada Jingga untuk diberikan pada anak itu.
setiap mobil Danish memang selalu menyediakan cemilan untuk dibagikan seperti ini. Ia lebih suka memberi makanan dari pada uang kepada anak anak jalanan karena berfikir mereka hanya akan menyetorkannya kepada kepala preman jika diberi uang. Sedangkan Jingga tak berfikir panjang seperti Danish. Namun bukan berarti Danish pelit Perusahaannya sering memberi sumbangan dalam jumlah besar.
"Ini.....Dimakan ya coklatnya terus uangnya ditabung." ujar Jingga namun diiringi dengan bahasa isyarat.
Anak itupun mengucapkan terima kasih dengan bahasa Isyarat. setelahnya Jingga kembali menutup pintu mobilnya.
"Kau bisa bahasa isyarat?" heran Danish.
"Abang lupa aku dulu kuliah Diploma tiga pendidikan luar biasa , jurusan Tuna Rungu." Jingga terlihat begitu kecewa karena Danish sama sekali tidak mengingat apapun mengenai dirinya. Padahal dulu saat perkenalan resmi dengan Danish ia begitu antusias menceritakan mengenai dirinya.
"Ah....." jawab Danish Singkat, ia sedikit merasa bersalah.
Danish pun tak berbicara apapun lagi sampai mereka tiba rest area, Keduanya berpencar ke toilet. Lalu setelahnya mereka kembali duduk disebuah kursi dengan meja bundar besar dibawah kanopi.
"Mau pesan makanan?" tanya Danish sembari membawa dua botol air mineral yang baru ia beli.
Satu botol diberikan ke Jingga sedangkan yang satunya langsung diteguk hingga setengah isi.
Sebelum menjawab Jingga melirik dulu Arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Tidak usah Bang, ini sudah jam sebelas kita tiba sekitar sejam lagi. Aku mau makan siang di Villa saja, Kangen sama masakan Mbok Yum." Jingga tersenyum membayangkan masakan penjaga Villanya itu.
"Ohh....begitu..." Sembari melepas lelah, Danish kemudian mengambil ponsel dari dalam sakunya dan mulai memeriksa beberapa laporan dari sang sekertaris. Ia tidak bekerja hanya mencari kesibukan, karena jujur ia bingung harus berbicara apa kepada istrinya yang sepertinya tidak berminat memulai obrolan. Jingga terlihat memainkan gantungan boneka mini ditas jinjingnya.
"Abang...." Panggil Jingga lembut.
"Hemmm" Danish segera menaruh kembali ponselnya didalam saku celana.
"Mengenai......"
"Kita Berangkat!" Potong Danish cepat, ia tak membiarkan Jingga melanjutkan perkataannya. Firasat Danish mengatakan Jingga hendak mengungkit prihal semalam.
Pria itu berjalan cepat menuju mobil tanpa menunggu istrinya.
Didalam mobil pun ia segera memasang headset agar Jingga tak mengajaknya bicara.
Jingga hanya mencebik kesal melihat sikap acuh suaminya yang mengabaikannya, padahal ia baru saja mendapat ide sebagai bahan masukan agar penjualan produk susu mereka bisa mengalami peningkatan.
*Alurnya memang agak lambat ya....semoga dinikmati. Namun seperti novel2 author yang lain Bab pada novel ini tidak akan terlalu banyak, mungkin hanya sampai puluhan bab
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Elisawati Hutabarat
jangan terlalu berputar putar ceritanya bikin bosan berputar dalam satu masalh tanpa ada penyelesaian yang berarti
2025-01-03
1
janie
/Good//Good/
2024-12-16
0
Nur Yuliastuti
👍
2024-11-27
1