Lara memeluk boneka di dekapannya, menyembunyikan wajahnya dibalik boneka itu. Dulu itu adalah boneka kesayangan Lara karena sang pemberinya adalah orang yang istimewa.
"Sudah siap?"
"Ayahh, jangan itu-"
Ravindra merampas boneka tersebut dari tangan Lara. Ravindra mengeluarkan pisau kemudian memotong boneka di tangannya hingga hancur.
Lara terdiam, hanya boneka itu dan album di balik tubuh Lara yang tersisa tapi Ravindra menghancurkan bonekanya.
"Jangan pernah mengingat masa lalu Lara, kau harus menatap masa depan dan saat ini. Kau harus menebus kesalahanmu."
Lara melihat sosok di hadapannya dengan mata yang memerah. "Atas dasar apa tuan Ravindra? Kesalahan yang tak pernah ku perbuat?"
Sudah tujuh tahun apakah Ravindra tak bisa melupakan semua itu? Apakah selama itu juga Ravindra tidak menyelidiki kasus tersebut?
"Tak perlu menyangkal kau ada di sana bersama Florencia yang terkapar. Apa perlu ku perjelas? bahkan pisaunya juga masih kau genggam saat itu."
Lara menunduk, iya juga menyesal karena tidak ada di samping ibunya saat itu. Lara malah mengejar seorang wanita yang ingin memberinya permen. Saat kembali Florencia sudah tak bernyawa dan Lara tidak mengetahui apa yang membuat ibunya
terkapar dalam keadaan tak bernyawa.
"Ay-"
Plakk
"Kamu menghancurkan cinta saya Lara saya tidak akan membiarkanmu menghancurkan putri saya juga."
Lara mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Memberanikan diri menatap Ravindra yang saat itu di penuhi amarah.
"Bukan aku ayah, ya tuhan bukan aku." Batin Lara berteriak, ingin rasanya gadis itu mengatakan bahwa bukan dirinya. Tapi apa Ravindra akan percaya?
"Alena? Dia yang salah ayah."
Ravindra semakin murka. Tidak mungkin Alena takut jika itu adalah perbuatannya. Sudah pasti Lara yang sengaja menyenggol Alena.
Ravindra berpikir Lara pasti sudah mencari tahu mengenai Alena. Karena itu Lara menyenggolnya dengan sengaja agar dapat dengan mudah menyingkirkan Alena.
Lara benar benar licik. Setelah ini Ravindra akan memperketat penjagaan untuk Alena. Ia tidak akan membiarkan Lara membuat Alena pergi darinya sama seperti Florencia.
Melihat wajah Lara yang sama persis seperti Florencia membuat Ravindra muak. Itu membuatnya semakin membenci Lara, sekarang di tambah Lara tidak menyukai Alena maka rasa benci di hati Ravindra semakin menjadi.
Plak
Plak
Bugh
Brukk
Tamparan keras dari Ravindra kembali mendarat di pipi mulus Lara. Ravindra juga mendang gadis itu membuat Lara terjatuh.
"TAK PERLU MEMBELA DIRI LARA! TRAUMA ALENA KEMBALI KARENA KAMU KAMU MENGGUNCANG MENTAL ALENA."
Lara tersenyum kecut, Ravindra sangat menyayangi Alena tetapi menganggap benalu Lara.
Lara meringis saat merasakan sakit di kedua pipinya, gadis itu mencoba bangkit dengan tubuh yang lemas. Tidak Lara tidak lemah hanya saja gadis itu lelah kalau Ravindra ingin membunuhnya sekarang Lara sangat ikhlas.
"BANGUN LARA."
Lara milirik Ravindra datar, apa Ravindra buta? Sudah jelas Lara berusaha bangkit sambil menahan pusing akibat tamparan dari Ravindra. Kedua sudut bibir gadis itu sedikit sobek, tapi ia tak boleh lemah Lara yakin meskipun ia di siksa seperti ini tuhan tidak akan membiarkannya mati dengan mudah.
"Aku sedang berusaha ayah."
Ravindra geram melihat Lara yang masih berani menyahut. Ravindra kembali menendang Lara hingga gadis itu terhuyung kemudian membentur sebuah meja.
Darah mengalir dari kening Lara, gadis itu merasakan pusing sebelum akhirnya pandangan Lara perlahan mulai gelap, gadis itu tak menyadari apapun lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Rafinsa
apa an ini ya??? sadis amat jadi baoak
2025-02-25
0