Episode 17

Jangan lupa like komen dan votenya yah

Terimakasih

_

Sementara itu, David tidak mengetahui apa yang terjadi pada Lara. Ia sibuk membangun kembali hubungannya dengan Arini, meskipun perasaan bersalah masih menghantui dirinya. Suatu sore, ketika David sedang duduk di ruang tamu bersama Arini, ia menerima pesan dari salah satu teman lama mereka.

🗨️ Teman: "David, kamu dengar tentang Lara? Dia masuk rumah sakit. Kondisinya lumayan parah. Kupikir kamu harus tahu."

Mata David membelalak saat membaca pesan itu. Ia merasa ada rasa bersalah yang besar menghantam hatinya. Meski ia telah memilih untuk bersama Arini, Lara tetaplah seseorang yang pernah ia cintai. Pikiran bahwa perpisahan mereka mungkin menjadi penyebab sakitnya Lara membuatnya gelisah.

Arini melihat perubahan di wajah David dan bertanya, "Ada apa, David?"

David menatap Arini dengan wajah tegang. "Ini tentang Lara... Dia masuk rumah sakit. Temanku bilang kondisinya cukup parah."

Arini terdiam sejenak, berusaha menenangkan perasaannya sendiri. Ia tahu bahwa Lara masih menjadi bagian penting dalam hidup David, meskipun mereka telah berpisah. "Apa kamu mau menjenguknya?" tanya Arini dengan suara yang berusaha terdengar netral.

David mengangguk perlahan. "Aku harus. Ini bukan tentang kita atau masa lalu, Arini. Ini tentang Lara, dan aku harus memastikan dia baik-baik saja."

Meskipun ada kekhawatiran di hatinya, Arini memahami keputusan David. Ia tahu bahwa dalam situasi seperti ini, David perlu mengikuti kata hatinya.

***

Di rumah sakit, Lara terbaring lemah. Tubuhnya yang dulu kuat dan penuh semangat kini tampak rapuh. Matanya tertutup, namun pikirannya masih terus berputar, mencoba memahami mengapa semua ini terjadi. Kesedihan karena kehilangan David telah memakan sebagian besar energinya, membuatnya merasa terasing dari dunia sekitarnya.

Ketika pintu kamar rumah sakitnya terbuka, Lara tak menyangka melihat sosok yang begitu familiar masuk. David berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Hati Lara berdegup kencang, campuran antara kejutan dan rasa sakit mengalir dalam dirinya.

"David..." gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.

David mendekat, duduk di sisi tempat tidur Lara. "Lara, aku dengar kabar dari teman. Aku... Aku ingin tahu bagaimana keadaanmu."

Lara tersenyum lemah. "Aku akan baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan... mungkin terlalu banyak pikiran."

David tahu itu lebih dari sekadar kelelahan. Ia bisa merasakan bahwa semua ini adalah hasil dari perpisahan mereka, dari rasa sakit yang tidak terucapkan.

"Lara, aku... Aku minta maaf. Aku tidak pernah bermaksud menyakiti kamu. Aku tahu semuanya sulit, tapi aku tidak ingin kamu menderita karena semua ini," kata David dengan penuh penyesalan.

Lara menatap David, matanya berkaca-kaca. "Ini bukan salahmu, David. Aku yang terlalu sulit melepaskan. Aku tahu kamu telah membuat pilihan, dan aku hanya perlu waktu untuk menerimanya."

David menggenggam tangan Lara dengan lembut. "Kamu tidak sendirian. Aku akan ada di sini jika kamu butuh seseorang."

Lara mengangguk, merasa hatinya sedikit lebih ringan. Meskipun rasa sakitnya belum sepenuhnya hilang, kedatangan David memberinya sedikit ketenangan di tengah badai yang mengamuk di dalam dirinya. Mungkin, dengan waktu, Lara akan sembuh—baik dari luka fisiknya maupun dari luka di hatinya. Namun untuk saat ini, ia merasa lega bahwa David, meskipun tidak lagi sebagai kekasih, tetap peduli padanya.

Pada hari-hari berikutnya, setelah pertemuan emosional dengan David, Lara terus menjalani perawatan di rumah sakit. Meski tubuhnya mulai membaik, kesehatan mentalnya masih menjadi kekhawatiran utama. Firman, yang baru ditugaskan untuk merawat Lara, menyadari bahwa penyakit fisik yang diderita Lara memiliki akar yang lebih dalam.

Suatu sore, setelah melakukan pemeriksaan rutin, Firman duduk di samping tempat tidur Lara. Ia melihat Lara yang masih tampak pucat dan murung, matanya kosong menatap ke luar jendela.

“Lara, bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Firman, suaranya lembut namun tegas.

Lara menoleh, terkejut oleh kehadiran dokter yang ramah ini. “Secara fisik, mungkin lebih baik. Tapi... ada hal lain yang masih terasa berat,” jawabnya dengan suara yang lemah.

Firman menatapnya dengan penuh pengertian. "Aku bisa melihat itu. Kadang, rasa sakit yang paling sulit disembuhkan adalah yang ada di dalam hati dan pikiran. Apakah kamu ingin berbicara tentang apa yang membuatmu merasa seperti ini?"

Lara terdiam. Ia ragu, tetapi ada sesuatu tentang Firman yang membuatnya merasa nyaman untuk membuka diri. Mungkin karena Firman tidak hanya sekadar dokter yang merawat tubuhnya, tetapi juga seseorang yang benar-benar peduli pada dirinya sebagai manusia.

“Aku baru saja melalui perpisahan yang sulit,” akhirnya Lara berkata, suaranya bergetar. “Seseorang yang sangat aku cintai... dia memilih orang lain.”

Firman mendengarkan dengan penuh perhatian, membiarkan Lara meluapkan perasaannya. Ia tahu bahwa kadang-kadang, berbicara tentang rasa sakit bisa menjadi langkah pertama menuju penyembuhan.

“Aku merasa tersesat. Selama ini aku berharap dia akan kembali padaku, tapi akhirnya dia memilih untuk melanjutkan hidup dengan orang lain. Aku merasa semua yang kami miliki tidak ada artinya,” lanjut Lara, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

Firman mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Aku mengerti betapa sulitnya itu, Lara. Kehilangan seseorang yang kita cintai adalah salah satu hal paling berat yang bisa kita alami. Tapi, penting untuk diingat bahwa nilai hidupmu dan kebahagiaanmu tidak hanya bergantung pada hubungan itu. Kamu adalah individu yang kuat, dan aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan lagi, meskipun sekarang rasanya seperti tidak mungkin."

Lara terdiam, terharu oleh kata-kata Firman. Ada sesuatu dalam cara Firman berbicara—ketenangan dan kebijaksanaan yang membuatnya merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia bisa melewati ini semua.

“Terima kasih, Dokter,” kata Lara akhirnya, suaranya pelan tapi lebih mantap dari sebelumnya.

Firman tersenyum kecil. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Selain perawatan fisik, kita juga bisa bekerja bersama untuk memperbaiki apa yang ada di dalam. Kadang, memulai dari diri sendiri adalah langkah yang paling sulit, tapi juga yang paling penting."

Setelah pertemuan itu, Lara mulai merasakan perubahan kecil dalam dirinya. Kehadiran Firman sebagai dokter dan pendengar yang baik membuatnya merasa lebih dihargai dan didengarkan. Setiap kali Firman datang untuk memeriksa kondisinya, percakapan mereka berkembang menjadi lebih dalam. Lara mulai berbicara lebih terbuka tentang perasaannya, tentang David, dan tentang ketakutannya akan masa depan.

Firman, dengan kesabarannya, membantu Lara melihat sisi lain dari perasaannya. Ia tidak memberi solusi instan, tapi memberi Lara ruang untuk merenung dan menyadari bahwa kebahagiaan tidak hanya datang dari hubungan yang telah lalu, tapi juga dari bagaimana ia memilih untuk menghadapi masa depannya.

~

Salam Author

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!