Pagi hari Dara sudah terlihat rapi. Saat ini ia memakai gamis berwarna abu, dengan paduan kerudung hitam. Sepertinya apa pun yang dipakainya tak akan melunturkan aura kecantikan dalam dirinya. Ia tampak mempesona dengan senyuman indahnya. Pagi ini jadwal kuliahnya penuh. Jadi ia harus mempersiapkan diri dengan penuh semangat.
"Astagfirullahalazim, tugasku ketinggalan." Dara mengurungkan naitnya untuk memasuki mobil. Ia ingat tugasnya semalam masih disimpan di atas meja. Dara pun kembali masuk ke rumah sambil berlari kecil. Dan ia tak sengaja berpapasan dengan sang suami yang baru saja keluar dari kamar. Lelaki itu terlihat tampan dengan kemeja hitam yang begitu pas di tubuh atletisnya. Kini Dara mengetahui sesuatu, Arham sangat menyukai warna hitam dan biru. Karena lelaki itu sangat sering menggunakan warna keduanya.
"Pagi,Pak. Bapak mau berangkat sekarang juga?" Tanya Dara tersenyum begitu manis. Namun Arham sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Dara. Ia melenggang pergi meninggalkan Dara yang masih terdiam. Dara sama sekali tidak kecewa, ia sudah tahu sifat dingin suaminya. Meski ia masih mengharapkan es itu akan segera mencair.
Dara menarik napas panjang. "Sabar, Dara. Dengan bersabar kamu akan mendapatkan buah yang manis. Tetap semangat dan yakin, es itu akan segera mencair." Dara menyemangati diri sendiri. Karena ia sangat yakin, suatu hari nanti Arham akan luluh. Dengan penuh semangat, Dara berlari menuju kamarnya untuk mengambil tugas yang tertinggal. Lalu ia pun bergegas menunju kampus.
Di kampus, terlihat seorang pria tampan sedikit berlari untuk mengejar seorang gadis yang hendak memasuki kelas. Lelaki itu tak lain adalah Ilham.
"Syila tunggu!" Panggilnya yang berhasil menahan langkah gadis itu. Syila pun menoleh untuk melihat siapa gerangan yang memanggilnya.
"Ah, Kak Ilham rupanya. Ada apa ya?" Tanya Syila menatap Ilham penasaran. Tumben sekali pria itu mencarinya. Biasanya juga mencari si cantik Dara. Sepertinya ada udang di balik batu.
Benar saja, Ilham terlihat merogoh tas dan mengeluarkan sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado yang begitu indah.
"Tolong berikan ini pada Dara, katakan padanya ini dariku." Kata Ilham memberikan benda itu pada Syila. Dengan ragu Syila menerima benda itu.
"Tapi... apa Kakak yakin Dara akan menerimanya?" Tanya Syila menatap Ilham. Bahkan ia tidak yakin Dara akan menerima hadiah dari seorang pria. Dan Syila juga tahu, Dara selalu menghindari pria di hadapannya.
"Aku yakin dia akan menerimanya. Terima kasih sudah mau membantu. Aku pamit dulu, Assalamualaikum." Ucap Ilham yang langsung pergi meninggalkan Syila.
"Wa'alaikumusalam." Sahut Syila menatap punggung Ilham yang mulai menjauh. Lalu beralih menatap benda yang sedang ia pegang. Syila menghela napas dan langsung masuk ke dalam kelas. Ia melihat Dara dan Nissa sudah berada di dalam kelas.
Syila mengernyit bingung saat melihat perban di kening Dara. "Kepala kamu kenapa, Ra?" Syila pun duduk di sebelah Dara.
"Jatuh kemarin." Jawab Dara asal. Saat ini ia sedang fokus menyalin beberapa pelajaran yang tertinggal.
"Kok bisa?" Tanya Syila menatap Dara penuh selidik.
"Bisalah, Dara juga manusia kali, Syil." Sahut Nissa tanpa melihat lawan bicaranya. Gadis itu sedang asik memainkan ponselnya.
"Ck, kalau itu aku juga tahu kali. Oh iya, Ra. Tadi aku dapat titipan dari Kak Ilham." Syila memberikan kotak tadi pada Dara. Dara menatap Syila dan kotak itu bergantian.
"Kenapa kamu terima sih?" Tanya Dara seakan enggan menerima benda itu. Itu juga yang menjadi alasan Ilham tak langsung menemui Dara. Tentu saja Dara akan menolaknya. Dengan melalui Syila, sudah pasti mau tidak mau Dara menerimanya. Sepertinya Ilham masih belum menyerah juga.
Syila menghela napas dan memberikan kotak itu di tangan Dara. "Ambil aja, nanti kamu balikin sendiri. Aku cuma menyampaikan amanah." Kata Syila tersenyum manis. Dara menggeleng pelan sambil menatap kotak yang ada di tangannya.
"Kalau kamu gak mau buat aku aja, kan lumayan kalau isinya berlian." Ujar Nissa yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Syila.
"Dasar matre, tahunya berlian aja di otak kamu." Ledek Syila. Nissa yang mendengar itu malah tertawa riang.
"Bukan matre, tapi itu memang kebutuhan wanita. Zaman sekarang mah semua serba uang. Ribet urusannya kalau menyangkut uang." Oceh Nissa yang berhasil membuat Syila dan Dara tertawa renyah.
***
Sore hari, Dara berlari kecil saat melihat Ilham hendak masuk ke dalam mobil. Dara sengaja menunggu Ilham, karena ingin mengembalikan benda itu. Dara tidak mungkin menerimanya, ia tahu posisinya sata ini yang sudah menjadi seorang istri.
"Kak Ilham tunggu!" Seru Dara menghampiri Ilham. Ilham tampak terkejut dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Seulas senyuman ia terbitkan saat melihat kehadiran Dara.
"Maaf mengganggu, saya hanya ingin mengembalikan ini. Saya tidak bisa menerimanya." Ujar Dara seraya memberikan hadiah yang Ilham berikan tadi pagi. Bukanya manerima kembali benda itu, Ilham malah tersenyum lebar.
"Lihat dulu isinya, setelah itu kamu boleh putuskan menerima atau tidak hadiah itu. Aku menunggunya." Pungkas Ilham yang langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Dara yang masih mematung di tempatnya.
Dara menghela napas gusar, ia bingung dengan benda yang ada ditanganya. Ia takut jika Arham melihat benda ini dan terjadi salah faham lagi. Dara tidak ingin itu terjadi, mungkin besok ia akan mengembalikan benda itu.
"Gimana?" Tanya Nissa menghampiri Dara bersama Syila. Dara menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih.
"Hmmm... Sudahlah, kamu terima aja dulu. Siapa tahu niat Kak Ilham baik. Lagian Kak Ilham itu orangnya baik, mungkin aja dia emang jodoh kamu." Ujar Nissa merangkul Dara.
Tapi aku sudah punya suami. Desis Dara dalam hati. Ia menatap kedua sahabatnya dengan tatapan sendu. Ingin sekali rasanya ia berkata jujur pada kedua sahabatnya. Tapi belum saatnya ia jujur.
"Ya sudah, kita pulang yuk. Kamu pulang ke asrama aja ya, Ra? Kita kangen sama kamu. Udah lama gak ngobrol panjang kayak dulu." Ajak Syila memasang wajah penuh harap. Dara pun mengangguk untuk menyetujui ajakan sahabatnya. Kedua gadis itu tersenyum bahagia. Lalu mereka langsung beranjak pulang.
Di sebuah mobil, Arham terus memperhatikan istrinya yang mulai meninggalkan parkiran kampus. Ia juga menyaksikan saat Dara menghampir Ilham tadi. Membuat hatinya kembali memanas. Arham melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, meninggalkan tempat itu dengan perasaan berkecamuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Julia Juliawati
cwek bodoh udh di cuekin pun ttep senyum manis seksn g ada harga diri
2025-03-08
0
Yen Margaret Purba
Arham ne lebih cocok mahasiswa deh, ga pernah Mak dlm kelas. apalagi kls nya sidara
2023-02-10
0
Debbie Teguh
dosen baperan itu
2022-12-06
0