Biarkan aku menjadi sebuah pelita untuk menerangi kegelapan di hatimu. Walaupun tak seterang rembulan.
...\~Cut Dara Maristha\~...
"Abang, bisa berhenti di sini?" Pinta Dara saat mereka sudah hampir tiba di rumah Arham. Haikal yang mendengar itu langsung menatap Dara penuh tanda tanya. Ia begitu yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Adiknya. Ia juga menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Apa kemarin suamimu marah?" Tanya Haikal yang berhasil membuat Dara kaget. Seharusnya Dara tahu, ia tak bisa menyembunyikan apa pun dari Haikal. Namun Dara tetaplah gadis keras kepala.
"Enggak kok. Dara cuma mau olah raga dikit, kan lumayan jelan ke depan. Jadi Dara turun di sini aja ya?" Sahut Dara tersenyum dan langsung beranjak keluar dari mobil. Haikal mengernyitkan kening karena merasa ada yang aneh pada Adiknya. Namun Dara mengurungkan niatnya untuk turun, karena melupakan sesuatu.
"Assalamualaikum, Bang." Ucap Dara yang hampir melupakan kebiasaan mencium tangan Haikal. Ia pun mengecup tangan Haikal sebelum benar-benar keluar dari mobil.
"Wa'alaikumusalam." Balas Haikal menatap kepergian Dara.
Haikal tidak benar-benar pergi, karena hatinya tidak tenang sebelum melihat Dara sampai ke rumah dengan selamat. Mungkin Haikal terbilang terlalu berlebihan, karena rumah dengan mobilnya tidak terlalu jauh. Namun ia tak dapat menyangkal kenyataannya, bahwa dirinya begitu menyayangi Dara.
Dara membuka pintu gerbang rumahnya dengan perasaan berdebar. Ia takut Arham akan marah seperti kemarin. Dan benar saja, saat ini Arham sudah berdiri tak jauh dari gerbang. Tentu saja dara terkejut dan refleks menahan langkah kakinya. Detak jantungnya juga seakan berlari maraton.
"Kemana saja kau hah?" Tanya Arham mendekati Dara dengan tatapan tak bersahabat. Dara merasa tak heran lagi, seolah sudah terbisa dengan tatapan suminya itu. Arham menarik tangan Dara dan mencekalnya dengan erat. Membuat Dara sedikit meringis.
"Pak lepasin, sakit." Pinta Dara mencoba melepaskan genggaman tangan Arham. Namun Arham semakin memperkuat cengkramanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Dara." Bentak Arham membuat Dara memejamkan matanya karena ia sangat takut dengan suara keras.
Dara membuka matanya dan menatap Arham lekat. "Dara dari rumah, Bunda." Sahut Dara dengan cepat, ia juga terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Arham.
"Jadi kau ingin mengadu pada orang tuamu, jika aku menyiksamu hah?" Bentak Arham lagi. Dara pun segera menggelengkan kepalanya. Bahkan tak sedikit pun terbesit dihatinya untuk mengadu. Bukannya membaik, Arham semakin mempertajam tatapannya dan hendak menyeret Dara. Namun Haikal lebih dulu menahannya dan melayangkan sebuah pukulan keras di wajah Arham.
BUUGH!
Arham tersungkur ke tanah saat menerima pukulan itu. Dara yang melihat itu sangat kaget dan menutup mulutnya tak percaya.
"Apa yang Abang lakukan?" Seru Dara hendak membantu Arham. Namun dengan kasar Arham menolaknya hingga menyebabkan Dara terjatuh. Dan itu kembali menyulut api amarah dalam diri Haikal. Ternyata selama ini dugaanya benar-benar terjadi, Arham memperlakukan Dara layaknya sampah tak berharga. Bahkan selama ini Haikal tak pernah mengasari adiknya. Membentak saja tidak pernah. Tapi apa yang lelaki ini lakukan sekarang? Dia menyakiti adiknya.
"Dasar brengsek! Kau menyakiti adikku." Haikal menarik kerah baju Arham dan kembali melayangkan pukulan pada Arham. Alhasil sudut bibir lelaki itu mengeluarkan darah segar. Bukan hanya sekali, Haikal terus memukuli dan menendang Arham. Emosi tengah menguasainya saat ini.
Dara yang melihat itu semakin panik. Ia bangun dan menghampiri Haikal untuk menghentikan aksinya yang terus menghajar Arham yang sudah babak belur.
"Abang cukup! Hentikan itu." Teriak Dara menahan tangan Haikal. Namun Haikal sudah dirasuki amarahnya, hingga tanpa sadar mendorong Dara. Dan lagi-lagi Dara terjatuh dan kali ini kepalanya terbentur bebatuan yang ada dipinggiran bunga. Dara meringis kesakitan karena keningnya mengeluarkan darah segar. Haikal yang menyadari itu langsung melepaskan Arham yang sudah tak berdaya dan membantu Dara.
"Maaf." Ucap Haikal membantu Dara bangun. Namun dengan cepat Dara menepis tangan Haikal.
"Sudah Adek katakan kan? Abang tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga, Adek. Sebaiknya abang pulang. Jangan mempersulit Adek. Adek mohon, Bang." Pinta Dara meneteskan air matanya. Dara tidak bermaksud untuk mengusir Haikal. Hanya saja ia tahu, saat ini Haikal tengah dirasuki amarah. Tidak akan baik jika lekaki itu masih ada di sini. Dara tahu betul sifat Abangnya itu. Bagaimana jika Arham melaporkannya ke polisi? Dara tidak ingin itu terjadi.
Haikal terdiam di tempat karena mendengar ucapan Dara yang berhasil menusuk hatinya. Namun dalam hitungan detik, ia kembali tersadar dan langsung menarik tangan Dara.
"Ikut pulang. Kamu tidak pantas mendapatkan pria brengsek seperti dia." Ajak Haikal hendak membawa Dara. Namun lagi-lagi Dara menolaknya.
"Cukup, Bang. Biarkan Adek menyelesaikan urusan rumah tangga Adek sendiri. Jadi Adek mohon, Abang jangan ikut campur lagi. Dara minta maaf." Dara menangkup kedua tanganya di dada. Lalu berbalik meninggalkan Haikal. Ia juga menghampiri Arham yang tergeletak tak berdaya. Dara juga membantu Arham bangun. Dan untuk yang pertama kalinya Arham tidak menolak, karena ia memang tak berdaya saat ini.
"Apa yang kamu lakukan, Dek? Bahkan kamu masih membantunya sampai tahap ini. Brengsek kau Arham!" Kesal Haikal mentap Dara yang kini tengah memapah Arham memasuki rumah. Haikal mengusap wajahnya dengan kasar, dari awal seharusnya ia membatalkan pernikahan adiknya. Namun saat ini semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Bahkan ia tahu adiknya itu sangat keras kepala.
***
Dengan hati-hati Dara mengobati luka memar di ujung bibir dan pipi Arham. Dara menggigit bibirnya saat Arham meringis kesakitan. Seolah ia merasakan apa yang sedang Arham rasakan. Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian Arham.
"Apa kau senang melihatku seperti ini?" Tanya Arham mentap Dara yang sedang pokus memberikan obat di lukannya.
"Jika Dara suka, pasti Dara tidak akan menghentikan Bang Ical dan membiarkan Bapak terkapar di sana." Sahut Dara dengan santai.
Arham yang medengar itu langsung terdiam, ia membenarkan posisi duduknya karena kurang nyaman. Dara yang mengerti pun langsung membantu Arham. Arham hendak menolak namun dengan cepat ditahan oleh Dara.
"Bapak boleh membenci Dara, tapi untuk kali ini izinkan Dara untuk menolong Bapak." Kata Dara membenarkan posisi Arham. Arham hendak bicara lagi, namun ia meringis karena ujung bibirnya kembali robek dan mengeluarkan sedikit darah segar.
"Jika ingin memarahi Dara, tunggu sampai Bapak sembuh dulu. Jangan keras kepala, ini pasti sakit kan?" Dara kembali membersihkan darah di sudut bibir Arham. Ia juga ikut meringis saat Arham mendesis karena meraskan perih.
Arham menatap wajah Dara begitu tajam, dan itu tak lagi memengaruhi istrinya. Sepertinya Dara sudah terbiasa dengan tatapan itu.
"Oh iya, maaf tadi Dara tidak minta izin untuk pergi ke rumah Bunda. Dara tidak punya nomor Bapak, jadi tidak bisa menghubungi Bapak." Ujar Dara sambil memasang perban diwajah Arham dengan begitu telaten.
Arham memperhatikan wajah Dara yang begitu dekat dengannya. Wajah itu terlihat cantik meski tanpa polesan make up. Bahkan pipinya merona secara alami. Dan yang menjadi pusat perhatian Arham saat ini adalah bibir tipis berwarna pink. Membuat pikiran anehnya muncul.
Sial! Apa yang kau pikirkan Arham? Batin Arham. Ia memalingkan wajahnya, mencoba menghilangkan pikiran aneh itu.
"Bapak tahu tidak? Jika seseorang itu bisa menjadi sebuah lentera yang bisa menerangi sebuah kegelapan. Ya, walaupun tak seterang rambulan. Tapi setidaknya lentera bisa menerangi sekitarnya." Oceh Dara sambil merapikan kotak P3K. Entah keberanian dari mana ia terus mengoceh.
"Tapi sayang, lentera itu tidak bisa hidup karena pemilik rumah tidak menyediakan minyak untuk menghidupkannya. Anggap saja lentera itu Dara dan pemilik rumah itu, Bapak. Dara ingin menerangi hati Bapak, tapi Bapak sama sekali tak mengizinkannya. Dara tidak bisa apa-apa, Pak." Lanjutnya dengan senyuman manisnya. Dara menatap Arham, tetapi dengan cepat Arham memalingkan wajahnya. Karena ia tidak mau jika Dara mengetahui jika sejak tadi ia terus memperhatikan wajah cantik istrinya. Arham tak tahu, jika Dara menyadarinya.
"Bapak bebas menatap wajah Dara, karena Bapak suami Dara." Imbuh Dara sebelum bangun dari posisinya. Ia meletakkan kotak obat itu di dalam laci nakas.
"Saya keluar dulu, jika Bapak membutuhkan sesuatu. Bapak bisa panggil Dara." Pamit Dara hendak pergi dari kamar Arham. Namun dengan cepat Arham menahan tangannya. Dara menoleh dan menatap Arham penuh tanda tanya.
Arham berdeham kecil dengan memasang wajah datar. Lalu ia menunjuk kening Dara. Dara menyentuh keningnya dan meraskan perih dengan darah yang sudah mengering.
"Akan Dara obati di kamar." Katanya sambil tersenyum bahagia. Setidaknya Arham menunjukkan rasa peduli padanya walaupun sedikit.
Dara meninggalkan kamar Arham, lalu menyandarkan tubuhnya di depan pintu kamar. Ia juga menyentuh dadanya yang berdetak sangat kencang. Perhatian kecil yang Arham berikan membuat hatinya berbunga-bunga. Dengan senyuman lebar, Dara kembali menuju kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Yen Margaret Purba
ud berdarah2
cuma digituin mikirnya kek ud dikasih perhatian gmn bgget...
dunia novel sih
2023-02-09
0
Rima Soni
ya alloh daravbaik banget...terbuat dr apa hatinya
2022-05-31
0
Benazier Jasmine
salut sm abang haikal, sayang bgt sm adekny thooor
2021-10-31
1