11

Mentari akan tetap bersinar, walau terkadang dihadang oleh awan mendung.

...\~Cut Dara Maristha\~...

Saat ini Dara berada di pemakaman. Sudah hampir dua puluh menit ia berada di sana, menatap ukiran nama yang tertera di nisan. Tetes demi tetes air matanya terus berjatuhan, rasa sesak di dada tak mampu lagi ia bendung.

"Maaf, Mbak. Dara baru sempat mampir." Ucapnya seraya mengelus nisan Della. Ia kembali terdiam untuk beberapa saat.

"Mbak, Dara tidak tahu kenapa Mbak memilih Dara untuk mendampingi Pak Arham? Dara bingung harus berbuat apa sekarang? Pak Arham sama sekali tidak menyukai Dara, Mbak. Dara tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Jangan marah jika suatu hari nanti Dara menyerah, Mbak. Untuk saat ini, Dara akan terus berusaha untuk tetap di samping Pak Arham." Dara menjeda ucapanya dan menarik napas dalam-dalam.

"Dara selalu berdoa, supaya Allah melembutkan hati Pak Arham dan bisa menerima Dara sebagai istrinya." Dara mengusap jejak air matanya dengan lembut. "Dara pamit dulu, Mbak. Assalamualaikum." Dara bangun dari posisinya dan langsung beranjak pergi dari sana. Karena hari mulai siang.

Sepulangnya dari pemakaman, Dara memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia sangat merindukan sang Bunda. Dan pelukan hangat yang selalu diberikan Ibunya.

"Assalamualaikum." Ucap Dara seraya mengetuk pintu rumah. Dengan senyuman lebar, Dara menunggu sahutan sang Bunda. Ia sangat yakin Bundanya itu ada di rumah. Karena keseharian Zahra memang sebagai Ibu rumah tangga.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan menampakan sosok yang amat ia rindukan. Senyuman Dara pun semakin mengembang.

"Wa'alaikumusalam," sahut Zahra ikut tersenyum saat melihat kehadiran putri bungsunya. Karena terlalu senang, Dara pun langsung berhambur ke pelukan Zahra. Membuat wanita paruh baya itu sedikit tersentak ke belakang.

"Ya ampun, Sayang. Ada apa ini?" Tanya Zahra masih terkejut.

"Dara kangen Bunda." Sahut Dara dengan lembut. Zahra yang mendengar itu tersenyum geli dan membalas pelukan putrinya penuh kehangatan.

"Ya sudah, kalau begitu masuk dulu yuk." Ajak Zahra melerai pelukan putrinya. Dara mengangguk antusias dan mereka pun memasuki rumah. Lalu memilih duduk di ruang keluarga seperti biasanya mereka berkumpul.

"Bunda masak apa hari ini?" Tanya Dara saat merasakan perutnya terus berontak meminta diisi. Karena sejak pagi tadi ia belum sarapan.

"Bunda masak soto ayam, Abang kamu katanya pengen soto. Kamu lapar ya? Makan gih sana. Bunda masaknya banyak kok." Jawab Zahra menatap putrinya penuh kasih sayang.

Dara mengangguk antusias dan langsung beranjak menuju dapur. Lima menit kemudian, ia kembali dengan semangkuk soto dan jus buah kesukaannya. Lalu duduk di sebelah Bundanya. "Abang belum pulang, Bun?"

"Belum, mungkin bentar lagi. Ayah juga katanya mau pulang, tapi belum keliatan batang hidungnya. Sahut Zahra seraya menghidupkan televisi.

Dara mengangguk dan kemudian menikmati soto buatan sang Bunda. Dara terdiam sesaat, merasakan nikmat yang luar biasa. Rasa rindu itu pun terobati sudah.

"Soto bunda enak banget. Rasanya gak pernah berubah dari dulu." Puji Dara dengan senyuman lebarnya.

Zahra yang mendengar itu langsung memberikan tatapan tajam. "Hus, kalau makan jangan bicara. Habiskan dulu baru kamu bisa menanggapi rasanya." Protes Zahra.

Spontan Dara menutup mulutnya, ia melupakan hal itu. Zahra yang melihat itu menggelengkan kepala, tingkah putrinya itu masih seperti anak kecil. Bahkan Zahra tidak menyangka jika putrinya kini sudah bersuami di usia muda. Seharusnya saat ini Dara masih sibuk untuk mengejar cita-citanya. Tentu saja Zahra tahu jika putrinya memiliki banyak impian. Seperti melanjutkan kuliah di luar negeri dan berkeliling dunia. Namun takdir berkata lain, sejauh apa pun manusia berencana. Jika Allah belum mengizinkan, maka itu tak akan terjadi.

Setelah selesai makan, Dara kembali ke dapur untuk mencuci mangkuk bekas makannya. Usai itu Dara pun berbalik dan betapa terkejutnya ia saat menemukan Haikal sudah berada dibelakangnya. Haikal yang berhasil mengerjai adiknya pun tertawa puas.

"Abang!" Seru Dara memukul lengan Haikal dengan kuat. Hampir saja jantungnya terlepas. Karena kesal, pipinya memerah bak kepiting rebus.

"Lihat, dikejutin aja merona. Gimana kalau digombalin? Lucu banget sih kamu, Dek." Ledek Haikal seraya mengusap kepala Dara.

"Ck, ngeselin. Awas, Adek mau ke depan. Jahat tahu gak?" Kesal Dara yang langsung beranjak pergi meninggalkan Haikal yang masih tertawa riang.

"Bunda, kok Abang gak kedengaran sih pulangnya?" tanya Dara kembali duduk di sebelah Zahra. Dengan bibir yang masih manyun.

"Masak sih? Kadang kamu aja yang terlalu fokus di dapur. Atau menghayal?" Sahut Zahra tersenyum geli saat melihat wajah kusut Dara.

"Iya tuh, Bun. Dia ngayal tadi di dapur." Timpal Haikal yang ikut bergabung. Dengan mangkuk berukuran besar di tangannya.

"Enak aja, Abang bohong, Bun. Abang memang sengaja kan ngerjain Adek? Udah kebaca." Semprot Dara semakin mengerucutkan bibirnya.

"Eh... kok malah ribut sih? Sudah pada dewasa juga. Ical, jangan ganggu Adek kamu. Lanjutin makannya, udah pada besar juga masih saja seperti anak kecil." Ujar Zahra menatap Dara dan Haikal bergantian.

"Maaf, Bun." Ucap keduanya kompak.

"Oh iya, Dek. Kamu ke sini sudah minta izin Arham kan?" Tanya Zahra memusatkan perhatian pada Dara. Haikal yang mendengar pertanyaan sang bunda pun ikut menatap Dara.

Seketika Dara gugup. "Be--belum, Bunda." Zahra terkejut mendengar jawaban anaknya.

"Ya Allah, Dara. Kamu tahu kan hukum seorang isitri keluar rumah tanpa izin suami seperti apa?" Seru Zahra merasa kesal dengan keteledoran putrinya.

Dara mengangguk dan menunduk penuh penyesalan.

"Hubungi Suami kamu sekarang, Dara." Titah Zahra menatap Dara tajam.

Dara pun mengangguk pelan dan mengambil ponselnya dari dalam tas. Namun ia melupakan sesuatu, jika ia tak memiliki nomor ponsel suaminya. Seketika rasa bingung menggerayanginya. Dara menghela napas panjang, lalu menatap Zahra lamat-lamat.

"Ada apa?" Tanya Zahra saat melihat wajah Dara yang kebingungan. Haikal yang merasa curiga pun ikut menatap sang adik penuh selidik.

"Emm... itu, Bun. Emmm... Dara tidak punya nomor Pak Arham." Zahra tersentak kaget mendengar kejujuran putrinya.

"Astagfirullahalazim, Dara. Bunda tidak tahu harus bicara apa lagi?" Zahra memijat pelepisnya pelan. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan putrinya. Sedangkan Dara hanya bisa menunduk, ia sangat takut dengan amarah sang Bunda. Meski selama ini Zahra tidak pernah menunjukan amarahnya secara langsung. Namun saat ini Dara tahu, Bundanya tengah marah padanya.

"Abang, antar Adek kamu pulang sekarang!" Tegas Zahra.

Dara langsung mengangkat kepalanya dan menggeleng kuat.

"Bunda... Dara masih mau disini. Dara...."

"Pulang, Dara. Sekarang kamu sudah punya suami. Selangkah saja kamu keluar rumah tanpa izinnya, neraka balasannya, Dara. Jadi jangan membantah, pulang sekarang." Jelas Zahra melembutkan suaranya. Ia tahu Dara masih membutuhkan bimbingan.

Tidak berapa lama Raffi pun pulang dan terlihat gembira saat melihat keberadaan putrinya. "Ada apa ini rubut-ribut? Wah... anak Ayah yang paling cantik di sini rupanya? Suami kamu mana, gak ikut?" Raffi pun duduk di sisi putrinya.

Dara mencium punggung tangan Ayahnya dan menggeleng pelan.

"Dara tidak meminta izin pada suaminya, Yah. Kalau dia akan ke sini." Sahut Zahra yang berhasil membuat Raffi terkejut.

"Benar itu, Dara?" Tanya Raffi yang langsung dijawab anggukan oleh Dara.

Raffi menghela napas. Lalu mengusap lembut kepala putrinya. "Pulanglah, Sayang. Jangan sampai Arham mencari kamu."

Pak Arham tidak akan mencari Dara, Yah. Teriak Dara dalam hati. Ingin sekali ia mengeluarkan jeritan hatinya. Namun itu teramat sulit.

"Ayok kita pulang, Abang antar." Ajak Haikal meletakkan mangkuknya diatas meja, lalu meraih kunci mobilnya. Dara mengangguk pasrah. Ia mencium tangan kedua orang tuanya sebelum beranjak pergi.

Terpopuler

Comments

Julia Juliawati

Julia Juliawati

haah ngpain bertahan klo di hina trs.

2025-03-08

0

clararine

clararine

dara sabar tingkat dewa

2022-01-10

0

Aisyah Hayati

Aisyah Hayati

ko lebay ya thor, coba jadika sosok dara nya tegas jgn terus aja ditindas, itu sama dgn terus mendzolimi diri sendiri, dan itu dosa.

2021-11-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!