Hana melangkahkan kakinya menuju ruangan yang biasa dia tempati bersama Siska dan Levin. Sebenarnya Hana lelah setelah meeting bersama Alvin dan Pak Handoko. Namun kerjaan utamanya sebagai manager dibagian keuangan juga memerlukan tenaganya. Sampai diruangannya Hana melihat papa mertuanya yaitu Prasetyo sedang memarahi Levin.
"Ada apa pa?" tanya Hana begitu masuk ruangan.
"Kau dari mana Na?" tanya Pras. Dahinya mengerut.
"Baru selesai meeting dengan Pak Handoko pa"
"Apa semua lancar?"
"Alhamdulillah lancar pa"
"Emmm apa Levin melakukan kesalahan pa?" tanya Hana hati hati dan melirik Levin.
"Kau lihat ini Na? Bagaimana bisa kau percayakan laporan proyek ini padanya? Kerjaannya amburadul. Bisa bisa investor kita lari kalau kaya gini?" ucap Pras dan kali ini dengan nada agak tinggi. Hana menatap bingung papanya yang terlihat marah dan beralih menatap Levin untuk meminta penjelasan namun Levin hanya mampu menunduk.
"Tenang Pa. Mungkin Levin lagi capek soalnya aku minta Levin dan Siska lembur hampir tiap hari. Lagipula ini kesalahan pertama Levin. Papa bisa mentolerin kan?" bujuk Hana yang mendapat tatapan tajam dari mertuanya.
"Papa gak mau tahu. Besok papa gak mau lihat dia ada disini" tegas Pras. Hana terkejut mendengar titah mertuanya. Levin yang semula menunduk langsung mengangkat wajahnya tak percaya kalau dirinya dipecat.
"Papa tunggu kamu diruang David" Prasetyo berlalu tanpa memberi Hana dan Levin kesempatan untuk membela diri. Hana menghampiri Levin dan menepuk pundaknya. Dilihatnya mata Levin sudah berkaca kaca. Hana tahu kehidupan Levin tidaklah mudah. Dia harus menghidupi adiknya yang masih sekolah dan ibunya yang kini sudah tua. Kakaknya sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena kecelakaan bus dan mobil yang menewaskan semua penumpangnya.
"Aku akan memcoba membujuk papa agar kamu tak lagi dipecat. Nanti kamu temui aku dan jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku menemui papa dulu" kata Hana meyakinkan Levin.
"Terima kasih Bu" hanya itu yang mampu diucapkan Levin. Siska hanya melongo melihat kejadian yang dia sendiri tak tahu karena tiba tiba Prasetyo datang dengan map ditangannya dan mengamuk. Dari jauh ada insan yang tersenyum puas atas kejadian ini. Senyum licik yang penuh kemenangan.
Hana menemui Prasetyo dan kini sudah duduk didepan mertuanya. Tanpa menunggu lama mertuanya langsung menyodorkan map yang sedari tadi dipegangnya. Map yang membuatnya murka. Hana membuka map dan terperanjat.
"Benar benar berantakan. Seperti bukan Levin yang mengerjakannya. Biasanya pekerjaan Levin selalu rapi" guman Hana.
"Bagaimana Na? Apa kamu punya pembelaan lagi?" tanya mertuanya.
"Ini seperti bukan dia pa. Setahuku kerjaan dia selalu rapi. Hana tahu karena finishing semuanya di Hana. Papa bisa lihat laporan laporan sebelumnya" bela Hana.
"Kalau sekali dimaafkan pasti akan mengulang lagi nanti" mertuanya bersikeras.
Hana sibuk meneliti laporan yang benar benar berantakan. Disana memang tertera nama Levin. Hana kembali meneliti dan mengernyitkan dahinya.
"Sepertinya ini laporan minggu lalu yang sudah masuk ke mas David. Tapi laporannya tak berantakan begini" batin Hana.
"Pasti ada yang tidak beres" Hana meneliti sekali lagi dan lagi lagi ada yang janggal.
"Tanda tangannya memang seperti tanda tangan Levin namun seprtinya ini palsu"
"Tunggu pa. Tolong papa jangan pecat Levin dulu. Papa tunggu disini" Hana bangkit dan menuju meja kerja David. Dia membongkar berkas yang berisi khusus laporan keuangan. Dia mencari cari satu persatu hingga akhirnya menemukan apa yang dicari. Hana membuka berkasnya dan mencocokkan dengan hasil dari papanya.
"Lihat ini pa. Ini hampir sama dengan laporan minggu lalu. Kalau laporan ini masih atas nama Levin gak mungkin pa. Karena aku pasti mengeceknya dan minta untuk revisi kalau memang ada yang salah" jelas Hana.
Prasetyo membandingkan dan menyetujui kata Hana.
"Ada yang ingin main main rupanya" guman Prasetyo.
"Baiklah Na. Papa percaya padamu" kata Pras kemudian.
"Apakah itu artinya Levin tak jadi dipecat?" tanya Hana antusias dan mendapat anggukan dari mertuanya. Hana mengucapkan terima kasih padanya. Merekapun basa basi sebelum akhirnya melakukan aktivitas lainnya. Hana memberitahu Levin dan dia sungguh sangat senang. Bahkan berkali kali Levin mengucapkan terima kasih pada Hana. Hana hanya terkekeh melihat reaksi Levin yang berlebihan bagi Hana.
....
Hana masuk kamarnya dengan gontai. Dia merasa sangat lelah hari ini. Dia meletakkan tasnya dan membersihkan diri. Hana tak sadar bahwa dari tadi ada yang memperhatikan gerak geriknya. Hana sudah kembali segar. Kini dia mengenakan piyama jingga yang bermotif kupu kupu. Saat mengeringkan rambut tiba tiba dia merasa ada yang memeluknya.
"Kyaaaaaa.... siapsa kamu?" teriak Hana dan reflek menoyorkan hairdryer pada empunya dan tepat mengenai dahinya yang kini benjol.
"Aduuuuuh, tega sekali kau Na" jawab David yang nemegangi keningnya yang benjol. Hana terkejut ternyata itu ulah suaminya yang entah sejak kapan sudah ada dikamarnya.
"Maaf mas aku gak tahu" kata Hana menyesal dan menghampiri David. Dia mengusap usapkan tangannya pada dahi yang benjol.
"Lagian salah mas sih mengagetkan aku" balas Hana lagi.
"Maunya mau kasih kejutan eh malah dapat benjolan" gerutu David.
"Iya maaf. Tapi kok mas sudah pulang?" tanya Hana.
"Bukankah kata mas besok ya?" lanjut Hana.
"Aku sengaja mengecohmu sayang. Bagaimana apa kamu terkesan?" tanya David.
Hana tersenyum dan mengangguk.
"Aku sangat terkesan bahkan lebih dari yang kupikirkan. Terlebih ada saksi benjolan itu, akan semakin tak terlupakan. hehehehe" jawab Hana cengengesan.
"Kau tega sekali Na" jawab David dan cemberut.
"Jadi apa aku boleh minta hakku? sesuai katamu aku pulang dengan mengesankan" kata David dengan menaik naikan kedua alisnya.
"Hemmmm (berfikir) tapi aku lapar. Mas sudah makan?" tanya Hana.
"Emm belum. Tapi mas tadi order pizza jumbo. Kau mau?" Hana mengangguk karena dia juga belum masak sedang perutnya sudah demo minta di isi.
Mereka akhirnya makan pizza bersama dan saling tukar cerita. Kini keduanya telah berbaring. Hana membalik tubuhnya hingga kini menghadap David yang masih terlentang.
"Mas..." panggil Hana dan David mengubah posisinya hingga kini berhadapan dengan Hana. Dilihatnya wajah lelah istrinya yang merangkap pekerjaan selama dia di Jerman.
"Apa kau lelah sayang?" David mengusap rambut Hana lembut.
"Tadi iya tapi melihat mas sudah pulang lelahku hilang" jawab Hana tersenyum.
"Mas kangen kamu Na"
"Aku juga kangen. Maaf karena waktu itu aku bilang gak bakal kangen sama mas" jujur Hana dan menunduk tak berani menatap David.
David tersenyum dan mengangkat dagu Hana. David menyatukan bibirnya dengan bibir Hana dengan lembut. Hana yang juga rindu pada David memutuskan untuk membalasnya. Semakin lama semakin dalam. Keduanya terbuai dalam kerinduan hingga tanpa sadar tangan David telah bergerilya kemana mana. Mereka terus melanjutkan aktivitasnya. David tidak langsung melakukan intinya. Dia memberi kesempatan Hana untuk merasakan nikmat yang belum pernah dia rasakan. Mereka masih melakukan foreplay hingga Hana telah usai mencapai hasratnya. Kini David akan memulai inti dari aktivitas mereka.
"Sayang ini akan sakit karena baru pertama. Kamu boleh mencakar mas kalau perlu. Mas akan berusaha pelan pelan" kata David sebelum memulai. Dengan sekali hentakan juniornya berhasil masuk.
"Aww sakit" pekik Hana dan dia menangis. David masih membenamkannya tanpa melakukan pergerakan. Membiarkan Hana terbiasa. Malam ini menjadi malam panjang bagi mereka. *Akhirnya David belah duren juga. Hana? akhirnya melepas keperawanannya pada David. hehehe
....
NEXT
.....
Maaf Author kurang bisa mengungkapkan adegan malam pertama Hana dan David*.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Novie
🤣
2023-02-02
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
akhirnya belah duren juga David👏👏👏👏
2021-08-27
0
Ayyara kim
besok David masuk kantor senyum" gk jelas soal'y hbs dpt lotre belah duren
2021-07-18
0