Hana menghela nafas panjang. Genggamannya semakin kuat. David menjadi khawatir.
"Sepertinya yang dialami Hana cukup berat. Bahkan belum cerita dia sudah kerakutan begini" batin David. David mengelus punggung Hana lembut. Hana mulai bercerita yang sebelumnya telah membaca Basmallah.
Ini terjadi sekitar lima tahun yang lalu tepatnya 11 bulan setelah kepindahan Alvin ke Batam. Aku mendapat telpon dari rumah sakit yang mengabarkan kalau Farel kecelakaan. Saat itu aku baru saja selesai kelas. Sebenarnya aku masih ada kelas satu lagi tapi aku bolos dan menyusul Farel ke rumah sakit. Disana aku melihat Farel tak sadarkan diri dan bersimbah darah disekujur tubuhnya. Kakiku lemas melihat adikku terkapar tak berdaya. Aku menangis dan tubuhku merosot kelantai. Aku menunggu diluar UGD hingga beberapa jam. Setelah cukup lama menunggu akhirnya Farel dipindahkan ke kamar rawat kelas satu. Aku semakin pilu kala aku lihat disekujur tubuh Farel dipenuhi dengan alat alat medis. Aku menghubungi papa dan mama untuk mengabarkan kondisi Farel. Setengah jam kemudian papa dan mama datang. Papa menunduk sedih sedang mama menangis. Tak henti henti mama memanggil nama Farel hingga suaranya hampir habis. Keluargaku sungguh sangat berduka. Aku memutuskan untuk menjaga Farel dan ijin untuk sementara dari kampus. Papa harus mengurus pabrik tekstilnya dan mama harus mengurus bagian ekspor impornya. Ketika ada waktu senggang maka mama dan papa akan berkunjung kerumah sakit.
Hana kembali mengambil nafas panjang. Kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
Sudah dua hari Farel dirawat namun dia belum kunjung sadar. Seorang dokter menghampiriku dan mengajakku bicara diruangannya. Dokter menyatakan kalau Farel koma. Luka dikepalanya terbilang cukup parah. Kemungkinan besar jika Farel selamat dia akan kehilangan beberapa memorinya. Itu yang dokter katakan padaku. Seketika duniaku berhenti. Adikku akan melupakanku? kenyataan yang tak pernah kuduga. Aku tak sanggup kehilangan saudaraku satu satunya. Kenangan kebersamaan kami saat kami akur bertengkar sampai hal hal yang manis terlintas dibenakku. Aku meninggalkan Farel untuk shalat dan berdo'a untuk kesembuhan Farel. Aku kembali menemui Farel dan kutemukan sebuah catatan dimeja samping Farel. Kubuka surat itu dan bunyinya Bersiaplah untuk kehilangan jagoanmu sayang. Saat aku membaca itu, yang kupikirkan adalah orang orang yang ingin membunuh Farel dengan melepaskan alat bentu nafas atau memasukkan cairan mematikan di infusnya seperti yang kulihat dalam sinetron. Jujur aku takut dan aku mencoba menghubungi papa untuk memberi tahu tentang surat kaleng itu. Kesimpulanku adalah orang yang sama yang menabrak Farel. Saat panggilanku terhubung aku mendengar suara papa panik. Papa mengatakan kalau pabrik kebakaran. Aku urung untuk memberitahunya. Aku tak ingin menambah pikiran papa. Pabrik papa hangus tak bersisa. Aku pulang untuk bersih bersih dan mengganti pakaianku. Saat aku pulang aku melihat mama dan papa frustasi disofa tamu. Aku memghampirinya dan mencoba menghiburnya. Aku berfikir kalau kita bisa mulai dari awal lagi. Saat aku masih berusaha menghibur mama dan papa, tiba tiba masuklah lima orang pria yang bertampang sangar dan pakaian seperti preman. Hanya satu orang yang berpakaian rapi dan aku prediksi adalah bosnya.
Hana menghentikan ceritanya. Tenggorokannya terasa kering dan Hana meneguk air mineral untuk membasahi bibir tang tenggorokannya. Dia kembali mengambil nafas panjang.
Kelima pria itu masuk tanpa permisi. Salah satu dari mereka mencengkeramku dan yang tiga lainnya menghajar papa dan mamaku. (Hana mengeratkan genggamannya pada genggaman David). Aku meronta ronta dan berteriak untuk menyudahinya. Pria yang berbaju rapi membentakku untuk diam. Aku tak peduli aku tetap berteriak hingga aku saksikan darah segar keluar dari bibir papa dan mamaku. (Hana menggigit bibir bawahnya dan menangis. Yang lain masih diam sedangkan David mengusap rambut Hana). Disisa kekuatannya papa memohon pada pria itu "Tolong lepaskan putriku tolong lepaskan pitriku" kalimat itu diucapkannya berulang ulang bahkan saat papa ditendang dan tubuhnya membentur tembok beliau masih mengucapkan kalimat itu. Aku melihat papaku terpental menjerit jerit histeris. Belum lagi melihat kepala ibu dibentur benturkan kedinding hingga berdarah. Di ruang tamuku saat itu banyak darah tercecer yang berasal dari papa dan mama. Papa dan mama sudah tak berdaya bahkan sudah tak bisa bergerak walau kesadarannya masih ada. (Badan Hana bergetar karena menangis namun dia masih bisa melanjutkan ceritanya. David mengepalkan tangan kanannya menahan amarah).
Mereka menyeret mama dan papa untuk disandingkan. Bahkan disisa nafasnya papa masih memohon untuk melepaskan aku walaupun suaranya sudah tak terdengar lagi. Pria itu mengucapkan kalimat yang entah baik atau buruk. Aku sudah tak bisa memcerna semuanya. Kenyataan yang ada dihadapanku lebih tragis dari apapun yang pernah kutemui. Pria itu berkata "Aku akan membiarkan putrimu hidup dengan tenang dan aku tak akan menghanguskan rumahmu karena aku tak mau gadismu menjadi gelandangan. Soal kerugian pabrikmu biar aku atasi sehingga kau bisa beristirahat dengan damai karena putrimu tak perlu menanggung semua beban pabrik" Setelah selesai bicara pria itu mengeluarkan pistol dan menembak papa dan mama. Cengkeramanku dilepaskan sesaat setelah papa dan mama tertembak. Aku berlari menghampiri papa dan mama. Aku mendengar ucapan papa yang terakhir. "Tolong bawa Farel pada kami" Papa dan mamapun meninggakan kami. Aku tak tahu harus bagaimana saat itu Hanya bisa menjerit dan memeluk papa dan mama bergantian. Aku tak peduli jika bajuku dipenuhi darah papa dan mama. Aku sudah tak sanggup menopang tubuh dan akupun pingsan.
Hana menagis sesunggukan dan David merengkuh Hana dalam dekapannya. Ada rasa bersalah dalam hati Hana mengingat David belum sah baginya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Hana butuh sandaran. Siska dan Karin mendekati Hana dan memberikan kekuatan. Mereka berduapun matanya sembab karena menangis.
"Maafkan aku Na. Aku tak tahu kalau kau melewati ini semua. Kini aku tahu kenapa kau sangat sulit menceritakan tentang meninggalnya orang tuamu" sesal Siska.
"Sekarang kamu tak sendiri ada kami disini. Jadi percayalah" tambah Karin.
"Aku berjanji akan selalu ada di sampingmu Hana" janji David mantap.
"Minumlah dulu Na, biar kau tenang" kata Alvin dan menyodorkan botol mineral pada Hana. David menerimanya dan membukakan tutupnya untuk Hana. Hana meneguk pelan dan masih sesunggukan.
"Kalau kamu belum tenang, sebaiknya jangan dilanjutkan dulu. Istirahat saja dulu" kata Dika dan yang lain mengiyakan. Hana masih diam dan memandang mereka satu persatu. Dia mantapkan untuk melanjutkan terlebih David selalu menggenggam tangannya.
"Aku bisa melanjutkannya. Aku tidak apa apa. Terimakasih karena mau mendengarkan dan menguatkanku" kata Hana lirih
"Kita semua akan selalu ada buat kamu. Kami akan senantiasa disampingmu" sambung Siska.
Semuanya kembali diam dan siap mendengar lanjutan cerita Hana.
......
NEXT
.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
kasian Hana..
2022-09-29
0
kepo
aku pernah baca tapi aku lupa lagi,
2022-01-12
0
Fitri mahayu piliang
sedih bgt ceritanya 😭😭😭👍👍👍
2021-09-04
0