Keesokan harinya....
Hana bersama Karin dan Siska asyik mengobrol dilobi sambil menunggu jam masuk kantor. Masuklah David beserta lelaki gagah yang tak kalah ganteng dari David.
"Eh siapa tuh yang sama pak bos? ganteng banget! sebelas dua belas sama pak bos" celutuk Siska. Kompak Karin dan Hana menoleh kearah jari Siska menunjuk.
"Mereka kesini gays. Pasti pak bos mau nyamperin Hana" timpal Karin. Hana hanya melongo hingga akhirnya sampailah dua insan ganteng itu. Jangan ditanya lagi seisi lobi sudah pasti heboh dengan kedatangan dua pangeran itu. Hana dan lelaki itu beradu pandang.
"Kamu Nana kan? Farhana kan?" tunjuk pria itu.
"Vivin? Alvino Pramana? Vivin? benerkan?" teriak Hana.
"Jadi kamu benar Nanaku? Ya Allah kangen banget aku sama kamu dek" girang Alvin hampir memeluk Hana dengan metentangkan tangan, namun kerah bajunya keburu dicekal David. Hana mundur mendapati Alvin hendak memeluknya.
"Aku juga kangen tau Vin. Tapi gak usah pake peluk peluk segala kali. Bukan muhrim" jawab Hana.
"Kalau begitu kita muhrimin aja gimana?" tawar Alvin. David melotot mendengar ucapan Alvin. Begitu pula yang lainnya. Karin Siska dan Hana saling pandang.
"Ngomong apa sich Vin, baru ketemu juga" omel Hana.
"Hehehehe.... habis kamu gak pernah mau dipeluk sama aku. Padahal waktu kecil kan sering banget peluk pelukan" oceh Alvin membuat rahang David mengeras. Membawa Alvin kekantornya sepertinya kesalahan besar baginya.
"Yeee itu kan waktu masih kecil. Lainlah" balas Hana.
"Oh ya gimana kabar Farel?" tanya Alvin yang belum tahu ceritanya.
"Eeeeeem Fareeeel ... (ucap Hana ragu) aku gak tahu" lirihnya. Alvin memincingkan mata.
"Ada yang gak beres sepertinya" batin Alvin
"Gak usah bahas Farel dululah. Aku gak mau tahu ntar pas makan siang kamu harus traktir kita" sahut Hana dengan semangat.
"Lha kok aku? Harusnya aku dong yang ditraktir sebagai penyambutan gitu" protes Alvin.
"Bodo amat yang penting harus traktir kita. Titik" tegas Hana.
"Kayaknya virus maksanya pak bos menular ke kamu dech Na" timpal Karin tanpa sadar dan mendapat tatapan tajam dari David.
"Eh maaf pak" ucap Karin gugup lalu menunduk. Hana dan Siska tertawa membuat Karin menggembungkan pipinya. Alvin yang gemas melihat pipi gembul Karin mencubit tanpa permisi.
"Iiih gemes banget. Tambah cantik kalau ngambek" ucap Alvin membuat pipi Karin merona merah.
"Pepet terus bang anak orang" goda Hana pada Alvin dan Karin.
"Apaan sih Na? Tapi boleh kan? Udah punya pacar belum?" kata Alvin sambil memainkan alisnya seraya melirik Karin yang tengah menunduk karena malu. Pipinya sudah dipastikan memerah kaya kepiting rebus. David hanya geleng geleng kepala melihat temannya menggoda Karin.
"Tanya aja sendiri ma orangnya. Kalau mau PDKT jangan pinjam orang dong" seloroh Hana.
"Yah yah yah.. beneran Alvin mau deketin Karin? Tinggal aku dong yang ngenes?" ucap Siska memelas.
Mendengar rengekan Siska Hana tertawa. Karin hanya tersenyum malu malu sedangkan Alvin malah cengengesan. David? jangan ditanya kalau dikantor dia akan memasang wajah datar.
" Itu sih derita kamu yah Sis. Godain pak Dika gih. Lumayan tuh ganteng juga kok" tawar Hana.
"Idiiiih, emang aku cewek apaan godain cowok. Harusnya cowok yang godain cewek" gerutu Siska.
"Ceileeh ada yang ngarep digoda tuh" Hana terus menggoda Siska.
"Apaan sih Na gak lucu ah. Udah naik yok dah hampir jam delapan nih" Siska mencoba membubarkan konferensi dadakan yang menyudutkan dirinya.
"Ayok. Kita naik dulu ya Karin. See you" pamit Hana
"See you" balas Karin.
Keempat orang tersebut meninggalkan Karin dan menuju lift. Saat Hana dan Siska hendak menekan tombol lift khusus karyawan, David mencegahnya.
"Ikut saya saja" kata David datar. Hana yang hendak menolak mendapatkan tatapan peringatan dari David. Dengan terpaksa mereka mengikuti langkah David menuju lift eksekutif.
Saat keluar lift Hana memanggil Alvin.
"Save kontak kamu dong vin" Hana menyodorkan HPnya ke Alvin tapi malah diambil David.
"Eeh pak kok diambil sih?" rengek Hana.
David tak peduli. Dia mengetikkan nomor pribadinya lalu memberikan kembali pada Hana.
"Simpanlah itu kontakku" katanya masih dengan wajah datarnya.
"Ya Allah pak tinggal kasih kontak aja sampai ngerebut segala" kata Hana jengkel.
"Ok dah tak save. Nih Vin gantian nomor kamu" Alvin mengambil HP Hana dan mengetikan nomornya.
"Nih cewek emang yah. Bikin gregeten. Bisa bisanya minta kontak cowok lain sedangkan kontak calon suaminya sendiri belum punya. Kalau aku gak ngerebut tadi belum tentu dia akan minta kontakku" batin David kesal.
.......
Saat istirahat Hana juga Siska seperti biasa sholat terlebih dahulu. Selesai sholat Hana mengirim pesan pada Alvin untuk menagih traktiran.
To Vivin
*Vin, kamu gak lupa kan soal traktiran siang ini?
From Vivin
Aku lagi sama pak bos. Bentar aku ijin dulu yah?
To Vivin
Ok.
From Vivin
Mau makan apa?
To Vivin
Terserah kamu ajalah Vin
From Vivin
Ok kalau begitu
To Vivin
Aku ajak Siska sama Karin juga.
From Vivin
Kalian naiklah ke ruang bos. Kita makan bersama disini
To Vivin
Kau bercanda?
From
Cepetan bawel.
To Vivin
Ok deh 5 menit lagi*.
"Eh Sis kita disuruh keruang pak David nich. Panggil Karin juga gih" perintah Hana pada Siska.
"Ok bu bos" Siska pergi memanggil Karin dan mereka bertiga pun menuju ruang David. Sampai disana sudah ada David, Alvin juga Dika. Mereka menikmati nasi rames lauk ayam bersama. Usai makan Alvin memulai obrolan.
"Na, kamu masih betah jomblo?" tanya Alvin.
"Eheem" David berdehem dan Hana melirik David. Beberapa saat saling pandang dan akhirnya Hana mengakhiri saling tatap itu.
"Sebenarnya sih masih. Cuma ya gitu kamu tanyalah sama bos kamu" jawab Hana cuek.
"Apa hubungannya sama kamu bos?" tanya Alvin pada David. Yang lain cuma diam saja setia mendengarkan.
"Dia calon istriku" jawab David santai.
"Ha? Serius? Jadi kau lusa menikah Na?" ekspresi Alvin seperti tak percaya
"Ya begitulah" jawab Hana santai.
"Aduh sakit hati ini bang" ucapnya dramatis sambil meringis memegang dadanya.
Hahahaha semua tertawa.
"Ceileeh biasa ajalah bang" sahut Dika memukul bahu Alvin.
"Eh Na, kamu gak mau nih cerita soal Farel?" tanya Alvin serius.
Hana yang mendapati pertanyaan malah diam. Senyumnya hilang seketika. Tanpa dia sadari airmatanya meleleh. Semuanya saling pandang bingung. David menghampiri Hana dan duduk disebelahnya. David menggenggam jari Hana untuk menguatkan. Walaupun sebenarnya dia juga penasaran siapa Farel, tapi melihat Hana menangis hatinya sakit.
"Tak perlu cerita sekarang kalau kau belum siap" ucap David mengusap rambut Hana lembut.
"Sampai kapan Na kamu akan terus bungkam?" tanya Siska.
"Kamu harus berani cerita. Mumpung kita lagi kumpul. Siapa tahu Pak David , pak Dika dan pak Alvin bisa bantu cari Farel" lanjut Karin.
Alvin dan Dika hanya manggut manggut.
"Gak usah dipaksa kalau memang Hana belum mau cerita" sahut David masih menggenggam tangan Hana.
"Siska dan Karin benar. Aku akan coba cerita tapi..." Hana menggantung ucapannya.
"Tapi apa?" tanya David
"Tapi pak David jangan lepasin tangannya. Aku takut soalnya" lanjut Hana lirih. Genggaman tangan David seolah menyalurkan tenaga bagi Hana.
"Iya aku gak akan lepasin tanganmu" David tersenyum dan hatinya berbunga wanitanya tak lagi menolaknya.
.......
NEXT
.....
Di episode selanjutnya akan ada cerita masa lalunya Hana. Baca terus yah and jangan lupa komentar, like juga bintang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
lanjut 👍
2022-09-29
0
ozan
maaf sedikit saran: diawal katanya bapak dan ibunya meninggal 6tahun lalu. ini kok 5tahun lalu masih hidup.
2021-10-17
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ok Hana saya juga siap mendengarkan👂👂
2021-08-26
0