Dua

...Sehari sebelum David masuk kantor...

"Aku gak mau nikah sama Lili ma. Dia udah punya kekasih. Tolong jangan egois. Lili juga berhak bahagia. Jangan paksa dia untuk menikah denganku" ucap Hafiz pada mamanya. Lili menggenggam jari David erat. Lili takut jika Nyonya Pras akan marah karena ucapan David. Walau yang dibilang David benar.

FLASHBACK

"Mas aku mau ngomong soal perjodohan kita" kata Lili seminggu setelah acara perjodohan keduanya.

"Katakan saja. Kau tak perlu takut" balas David datar

"Sebenarnya aku sudah punya kekasih dan kita berencana ikrar. Tapi malah aku dijodohkan dengan mas" katanya takut takut.

"Kenapa tak bilang sama orang tuamu?" mengangkat alisnya sebelah.

"Sebetulnya aku sudah pernah bilang tapi papa gak percaya. Papa menganggap kalau itu hanya alibi agar aku tak dijodohkan. Aku berusaha meyakinkan papa kalau aku tak bohong tapi sia sia" lancar tanpa takut kali ini.

"Aku mau bertemu kekasihmu untuk meyakinkanku. Setelah itu aku bantu kamu" tegas David

"Mas gak marah sama aku?"

"Aku gak marah. Lagi pula aku juga gak setuju kok walaupun aku belum punya kekasih. Kamu adalah adik bagiku. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan"

"Iya mas makasih. Dia sebentar lagi datang"

Sambil menunggu Riko, mereka ngobrol dengan bebas tanpa beban. Terlihat pria maskulin datang menghampiri keduanya.

"Hai..." sapanya

"Aku Riko pacarnya Lili" mengulurkan tangannya pada David

"David, calon tunangannya tapi gak jadi" David membalas jabatan tangan Riko yang tersenyum menanggapi candaan David.

"Langsung intinya. Kau benar benar mencintai Lili?" tanya David sesaat setelah Riko duduk.

"Kau meragukanku tuan David?" menatap serius mata David.

"Bahkan kalaupun malam ini aku diminta untuk melamarnya pun aku siap" lanjutnya. David menatap mata Riko dan tak menemukan kebohongan didalamnya. Yang dilihat hanya kesungguhan dan tekad yang kuat. Kemudian David mengangguk dan menyeruput kopinya.

"Baiklah aku percaya. Aku minta kau jaga Lili baik baik. Jangan bikin dia menangis atau tulang tulangmu aku patahkan. Dia sudah kuanggap adik. Mengerti?" kata David tegas.

"Siap bos" memberi hormat layaknya penghormatan saat upacara kemudian mereka tertawa bersama.

FLASBACK END

"Ma kita sudah lama mengenal Lili dan keluarganya. Bahkan Lili sudah seperti Adikku. Aku juga ingin Lili bahagia. Percayalah keluarga kita akan tetap bersahabat walau aku dan Lili tak jadi menikah" David meyakinkan mamanya. Papanya hanya mendengarkan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya. (Proklamasi kali pake narasi kaya begituan. Hadech tepok jidad dech!)

Suasana hening. Prasetyo dan istrinya memandang Lili yang menunduk ketakutan. Sikap Lili menunjukkan bahwa yang dikatakan David benar.

"Kau sendiri yang harus membatalkan perjodohan ini. Empat hari kedepan kamu harus menikah entah bagaimanapun caranya" kali ini Prasetyo yang bicara. Semua mata melotot sempurna.

"Empat hari? papa bercanda?" tanya Dela Nyonya Prasetyo.

"Papa gila ya? bahkan David belum punya pacar" kata David tak percaya.

"Itu pilihannya. Kau ingin melihat Lili bahagia bukan? Jadi lakukanlah" Pras menjawab santai.

"Papa, apa ini tak berlebihan?" tanya Dela mencoba membantu buah hatinya.

"Hanya dengan cara ini dia akan menikah. Lihatlah usianya tak muda lagi tapi masih awet jomblo. Dia terlalu kaku dengan perempuan"

"Tapi pa...."

"Tak ada tapi tapian. Itu syarat mutlak dari papa bila kamu ingin melepaskan Lili" Pras beranjak pergi meninggalkan ketiganya yang masih bengong mencerna permintaan Prasetyo. David menatap ibunya untuk meminta bantuan namun Dela hanya mengangkat kedua bahunya.

"Mas pasti bisa mendapatkan gadis pilihannya mas sendiri. Lili yakin itu" hiburnya pada David. David menghela nafas berat. Dela menyusul suaminya sedangkan David mengantar Lili pulang.

Pagi harinya dirumah besar Prasetyo sudah ramai orang diruang tamu. Saat David turun hendak ke kantor melihat mereka berbicara serius dengan papanya. David menghampiri mereka dengan wajah penuh tanya.

"Mereka adalah orang orang yang akan membantu mengurus pesta pernikahanmu. Kau tak perlu khawatir, tugasmu hanya membawa mempelai wanitanya. Untuk perkara yang lain biar papa dan mama yang urus" jelas Pras.

"Jadi papa serius dengan ucapannya semalam?" batin David.

"David pergi dulu pa"

David melangkahkan kaki keluar rumah dan menghubungi seseorang.

*Tuuuuut

"Halo. ya pak"

"Kumpulkan semua karyawan di aula. Aku ingin melihat semua karyawan papa"

"Baik pak saya akan memberitahukannya"

Tuuut panggilan berakhir*.

"Sepertinya ini caranya. Siapa tahu ada salah satu karyawan yang bisa membuatku terperosok. Maka saat itu juga dia akan ku ajak menikah. Bukan kuajak tapi kupaksa menikah. Biar saja aku dikatakan gila sedeng songong atau apalah. Yang penting dia bisa jadi wànitaku. Tapi kalau ternyata tak ada yang membuat jantungku bernyanyi bagaimana? Aaaargh papa ini merepotkan saja" David ngomong pada diri sendiri.

......

Saat jam istirahat kantor, Siska dan Hana menuju mushola terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Usai sholat keduanya terlibat percakapan sambil berbenah.

"Na, aku kemarin tepatnya dua hari yang lalu bertemu cowok mirip banget sama Farel" Siska mulai obrolannya

"Kamu serius? dimana?" tanya Hana antusias.

"Di depan mall dekat kantor. Tapi waktu kupanggil panggil dia tak menoleh sama sekali. Padahal aku yakin banget kalau dia tuh denger suaraku"

"Nanti aku coba cari dech didekat mall yang kamu ceritakan. Oh sebentar ya Sis aku mau telpon Boy dulu"

Hana mengambil ponsel dan menekannya.

*Tuuuut

"Hallo, Ya Han?"

"Boy, ditempatmu ada lowongan gak?"

"Memang kenapa?"

"Aku kayaknya mau pindah dech. Aku pengen ganti suasana"

"Bukankah sudah enak ya kerjamu gajinya lumayan juga. Apa ada masalah?"

"Gak ada kok. Bagaimana?"

"Ada sih tapi posisinya tak sebagus posisimu sekarang"

"Gpp yang penting aku gak nganggur"

"Serius?"

"Iya. Ya sudah nanti kalau sudah final aku hubungi kamu lagi"

"Ok. See you"

Tuuuut panggilan selesai*.

Tanpa diketahui keduanya, percakapan Hana via telpon didengar oleh Dika yang hendak sholat. Mendengar itu dia tak melanjutkan untuk masuk tapi malah mendengar obrolan keduanya.

"Kamu mau pindah Na? Apa gara gara tadi pagi kamu mau ninggalin aku?" tanya Siska memelas.

"Kamu tahu dia maksa banget. Mungkin ini cara satu satunya agar aku bisa lepas dari bos pemaksa itu"

"Sudah dech Na terima aja napa sich. Lagian kamu juga masih jomblo"

"Aku mau tanya dech sama kamu. Apa sich yang bikin kamu bucin sama Pak David?"

"Aduh Na semua karyawan cewek disini pasti pada tahulah. Pak David itu ganteng, mapan badannya atletis bodinya sexi proposional pokoknya perfect dech. Kalau aku yang diajak nikah sumpah dech gak mikir mikir lagi aku. Langsung jawab aja iya"

"Kalau begitu kamu aja yang nikah sama pak David"

"Maunya sih gitu tapi kan Pak David ngajaknya kamu bukan aku"

"Duapuluh menit lagi istirahat selesai. Yuk makan siang dulu" ajak Hana yang tak ingin membahas David lebih jauh lagi. Setelah keduanya pergi masuklah Dika yang tengah bersembunyi.

"Nanti aku harus lapor pak Bos nich. Bisa keget pak bosnya kalau tak diberi tahu" guman Dika.

.....

Next.

....

Maaf ya kalau ceritanya kurang menarik soalnya author masih belajar. Jangan lupa dukung karya anak negeri. Mohon like dan komennya.

Terpopuler

Comments

Novie

Novie

🤣🤣🤣🤣

2023-01-26

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

lanjut.. cerita nya mantap 👍👍

2022-09-28

0

Rastika Wati

Rastika Wati

ceritanya baguss ko Thor,,menarik...semangatt lanjuttt🥰🥰

2022-09-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!