Daniah bersyukur masih bisa menang ketika bicara dengan penghuni perempuan rumah ini. Tapi sejujurnya dia merasa lelah.
Kenapa juga kalian tidak bisa berdamai denganku. Kita kan sama-sama berjuang hidup di tempat mengerikan ini.
Setelah selesai makan malam Daniah memilih masuk ke dalam kamar. Toh dia tidak mengenal siapa pun di rumah ini, termasuk para pelayan.
“Sepertinya aku harus menyapa dan berkenalan dengan para pelayan. Paling tidak aku punya teman di tempat asing ini. Adik ipar dan ibu mertuaku sudah seperti ibu tiriku dan Risya. Mereka sudah seperti membenciku tanpa alasan saja.”
Daniah menyalakan Tv. Menonton film juga pasti lebih menghibur. Sampai tanpa sadar, gadis itu terlelap dengan Tv yang masih menyala. Daniah mengerjapkan mata kaget. Matanya terbuka dan langsung menyipit lagi karena silau lampu. Segera bangun dari sofa dia berdiri dan menoleh ke tempat tidur. Kosong, Tuan Saga belum kembali. Jam berapa ini? Dia bergumam sambil mencari hpnya.
“Jam sebelas.”
Daniah memilih ke kamar mandi, mencuci muka, dan ganti baju. Terserahlah, dia mau kembali kapan, tidur saja lagi. Mengambil selimut dan bantal di lemari lalu membawanya ke sofa. Tapi karena kantuknya malah sudah lenyap akhirnya dia beralih bermain hp. TV yang tadi masih menyala saat dia tinggal tidur dia matikan.
“Wahh grup chat ramai.” Daniah masuk ke dalam obrolan grup chat karyawannya.
“Kalian belum pada tidur?”
“Hehe, Mbak Niah juga belum tidur?”
“Baru kebangun ini, tadi sudah tidur sebentar.”
Ketik-ketik terus, tidak berhenti. Pembicaraan sudah melebar ke mana-mana. Tika memposting foto seorang lelaki kenalannya dari kampung. Lumayan tampan juga. Yang jomblo di grup langsung mencak-mencak teriak pamer. Daniah cekikikan sendiri. Dia berguling di bawah selimut, menyelimuti tubuhnya dengan menggerakkan tubuh tidak menariknya dengan tangan. Jadi badannya geliat geliut ke sana ke mari.
Sementara itu pintu terbuka, Saga berdiri cukup lama di sana. Melihat Daniah dalam balutan selimut geliat geliut tidak jelas. Tawa juga terdengar dari bawah selimut. Sekilas senyum samar muncul di bibir Saga melihat tingkah wanita di bawah selimut.
Apa yang dilakukan gadis bodoh itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” suaranya terdengar setengah berteriak.
Brugg, karena terkejut Daniah refleks bangun. Karena tidak siap dengan posisinya dia terjungkal jatuh dengan selimut menimpa kepalanya. Hpnya terjatuh menyentuh lantai dengan cukup keras. Daniah merapikan pakaiannya tergesa.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
Daniah belum menjawab pertanyaan itu. Ia masih bingung. Saga melirik hp yang terjatuh di lantai.
“Kemari!” dia menjentikkan jarinya. Wajahnya terlihat tergelak, tapi segera berubah dengan cepat.
Apa ini, apa dia mau memukulku.
Walaupun gemetar Daniah berjalan mendekat.
Cetakk! Sentilan jari di kening Daniah terdengar ngilu. Daniah mengerang dengan suara rintihan, namun terdengar agak keras.
Sakittt!
“Sudah kubilang jangan buat aku mengulangi kata-kataku.”
“Maafkan saya Tuan.”
Sakit Keningku sakit.
“Saya sedang menunggu Tuan sambil bermain hp.”
Aaaa sakit, aku ingin mengelus keningku. Tapi aku bahkan tidak berani mengangkat tanganku.
“Aku mau tidur" Otak Daniah langsung bekerja memilah draf aturan yang dibuat Sekretaris Han. Kalau Tuan Saga bilang mau tidur berarti dia minta ganti pakaian begitu bunyinya.
“Ba, baik. Saya ambilkan pakaian dulu.” Bergegas dia masuk ke dalam ruang pakaian.
Sakit!
Diusap-usapnya keningnya dengan rambut. Ahhh sakit. Hiks. Karena tidak mau membuat Tuan Saga menunggu dia bergegas. Menyerahkan pakaian, membalikan badan saat Saga berganti pakaian.
Saga melemparkan pakaian yang ia pakai tepat di kepala Daniah. Pelan gadis itu meraih dan memeluk di dadanya.
“Kau menangis?”
Daniah langsung mengusap wajahnya dengan pakaian Saga yang ada di tangannya. Bagaimana air mata bodoh ini bisa keluar begini. Pikirnya penuh sesal.
“Tidak Tuan.”
“Kemarilah.” Lagi-lagi Saga menjentikkan jarinya. Menyuruh Daniah mendekat. Tubuh Daniah membeku. Sakit di keningnya masih terasa menyayat.
Apa dia akan menyentilku lagi.
Daniah mendekatkan wajahnya ke arah Saga yang sudah duduk di tempat tidur. Dia memejamkan matanya, mengepalkan tangannya kuat. Jika dia harus merasakan sakit kedua kali di keningnya.
Eh, dingin. Kenapa keningku rasanya dingin. Rasa nyeri juga berangsur sedikit menghilang.
Daniah membuka matanya. Dia melihat Saga, laki-laki itu melemparkan salep kecil yang gelagapan ditangkapnya.
“Olesi keningmu dengan itu.”
“Baik Tuan. Terimakasih.”
Ternyata dia orang yang masih punya sedikit hati nurani. Daniah bergumam. Lalu dia masuk ke ruang ganti dan meletakan pakaian Saga di sana. Dia meraba keningnya yang sudah diolesi salep tadi. Setelah menghapus sisa air mata yang tadi keluar tanpa izinnya ia keluar dari ruangan baju. Melewati tempat tidur.
“Baru seperti itu kau sudah menangis.”
Daniah menghentikan langkah.
“Maaf Tuan saya tidak menangis, mungkin tadi saya mengantuk sampai mengeluarkan airmata.”
“Benarkah? Aku bahkan belum mematahkan jari-jarimu kau sudah menangis seperti bayi.”
Tubuh Daniah gemetar, dia berdiri diam. Tangannya tergenggam kuat. Merasai jemarinya sendiri.
“Matikan lampu!”
“Ba, baik Tuan. Selamat malam, semoga Anda mimpi indah.”
Saga sudah menarik selimutnya, Daniah bergegas mematikan semua lampu. Dia menatap jemarinya yang masih menempel di saklar lampu. Merinding mengingat kata-kata yang diucapkan Saga tadi. Bergegas dia menjatuhkan diri ke sofa. Menarik selimut dan berusaha tertidur. Hanya berharap bisa mimpi indah.
Aku bakar kata-kataku tadi, dia iblis, bagaimana iblis punya hati nurani.
BERSAMBUNG......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 268 Episodes
Comments
Ahmad Zaenuri
bingung dgn manusia kaku ... satu klg lagi
2025-03-20
1
Mimin Saminah
iblis ganteng ya Niah🤣🤣🤣
2025-01-18
0
Rafalia Azen
😩😂😂😂
2024-11-20
0