Dear Readers, part ini akan berisi flashback pada masa-masa Bram di Paris, agar pembaca baru memahami sedikit banyaknya yang sudah terjadi antara Bram dan Marin. Yang sudah ikutin Diandra dari awal, mohon diikuti saja alurnya ya, hehe terima kasih banyak 🙏
***
"Di luar dugaan, kau tampak begitu baik-baik saja. Berbanding terbalik dengan aku yang begitu kesulitan bernapas tanpamu." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Kota itu masih sama. Dengan udara yang berhembus sepoi, tidak memberikan sensasi dingin atau menyejukkan, namun berganti dengan sinar mentari yang begitu menghangatkan.
Jika pertama kali dulu Bram menginjakkan kaki di kota ini bersama Diandra, maka kali ini dia datang sebab mantan iparnya--Alberto, yang juga adalah sepupu dari mantan istrinya, mengatakan bahwa dia punya beberapa urusan yang harus dia selesaikan di Paris.
Paris masih seperti itu, begitu menenangkan meski hiruk pikuk warganya tampak jelas sekali terlihat. Setelah memastikan tempat tinggal mereka yang akan ditempati selama mereka berada di kota ini, Bram mengambil jeda untuk beristirahat beberapa jam.
Tidak ingin lama-lama bersantai, dia harus mempersiapkan diri untuk menemui mantan istrinya--Diandra, yang mungkin akan berada di sekitar lelaki itu, Gionard Butcher. Meski dia tahu Gionard tidak pernah berniat mencuri Diandra dari sisinya, tetap dia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia masih memiliki rasa cemburu yang mengisi relung hati. Di satu sisi dia tersiksa, namun di sisi lain dia cukup tenang sebab dia yakin Gionard pasti bisa melindungi gadis itu dengan sangat baik.
Merapatkan jaket, Bram sudah berbelok untuk menuju pada sebuah tempat bersejarah untuknya, yaitu sebuah museum paling terkenal di Paris, Musee du Louvre. Mengingat dia pertama kali mengunjungi bangunan indah ini bersama Diandra, mau tidak mau membuka lagi kepingan kisah yang belum usai. Entah bagaimana soson perempuan itu telah muncul di pelupuk mata, tepat saat dia melangkahkan kakinya memasuki museum.
Menyusuri bangunan yang memamerkan maha karya dari ratusan seniman handal dari seluruh penjuru dunia, Bram menghentikan langkah saat dia berdiri tepat di depan sebuah lukisan fenomenal dari pelukis ternama, dengan maha karyanya Mona Lisa.
Lelaki itu tidak tahu dia akan menemui mantan istrinya begitu cepat. Hanya berencana menyusuri museum yang dulu pernah dia datangi bersama gadis itu, kini Bram benar-benar menatap pada manik kecoklatan milik mantan istrinya.
Diandra berdiri di sana, bergeming. Hingga pertemuan itu menyadarkan Bram bahwa di antara keduanya, hanya dia yang terluka. Setelah perceraian mereka, hanya dia yang merasa kehilangan yang begitu dalam. Menarik napas panjang, Bram telah mengambil kesimpulan bahwa dia selama ini memang terlalu bodoh.
Gadis itu tampak menawan. Dengan dress sebatas lutut yang membalut tubuhnya, wajah Diandra tidak berubah sama sekali. Persis seperti saat dia mengucapkan selamat tinggal di bandara kala itu, tetapi kali ini tidak tampak raut kesedihan pada mimik wajah Diandra. Gadis itu hidup dengan baik, bahkan pancaran matanya tampak lebih indah sejak terakhir kali Bram menatap manik kecoklatannya.
"Aku hamil, Bram. Kami akan memiliki anak."
Kalimat yang kembali menyadarkan seorang Bram Trahwijaya bahwa dia seharusnya memang tidak datang. Seharusnya dia mengabaikan saja tiket dan visa yang ditinggalkan Alberto --mantan abang iparnya-- di mejanya tempo lalu. Kini, di hari keduanya berada di kota romantis itu, Bram telah menyesali diri. Menyesali keputusan yang dia ambil. Mengutuk diri sendiri sebab perasaan yang tidak bisa dia kendalikan. Kali ini rasa cintanya begitu terasa menyiksa, menusuk hingga relung hatinya yang paling dalam.
Fakta yang tidak dapat dia pungkiri adalah, bahwa dia merasa hancur sehancur-hancurnya. Tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi kesempatan. Mereka benar-benar sudah usai. Bahkan Bram sempat berpikir apakah Diandra pernah sedikit saja memikirkan dia setelah perceraian mereka. Ingin sekali bertanya, namun itu semua hanya tertahan di ujung lidah tanpa bisa dia ucapkan sepatah kata pun.
Memikirkan bagaimana hidupnya setahun ini tanpa kehadiran gadis itu, Bram menggeleng pelan. Mengingat betapa bodohnya dia, bagaimana dia terus terjerat cinta masa lalu. Biarlah dia yang merasakan, biarlah dia yang mencoba merelakan.
Tidak mampu berkata apa pun, Bram berjanji akan membiarkan Diandra hidup dengan baik kali ini. Meratapi kesalahan memang sudah jadi bagian dari rutinitas hidupnya, yang entah sampai kapan akan dia lakukan.
Menatap pada manik indah Diandra, yang kini telah resmi menjadi istri pria lain, Bram menarik napas dalam-dalam. Merengkuh asa, meski dia tahu semuanya sudah terlambat.
Diandra, maafkan aku. Seharusnya aku tidak muncul lagi di hadapanmu. Sebab kisah kita telah usai, dan kau baik-baik saja tanpa aku. Meski aku tidak demikian, tetapi berjanjilah agar kau terus hidup bahagia.
***
"Kau kemari kan hanya untuk memastikan dia hidup bahagia, Bram. Hanya itu saja, kan?" Masih terngiang di telinga Bram bagaimana Alberto mengatakan kalimatnya tempo lalu.
Menyadarkan Bram bahwa memang kedatangannya ke Paris kali ini memang adalah untuk memastikan keadaan mantan istrinya dengan mata kepalanya sendiri. Sebab dengan itu dia berpikir dia mungkin bisa melepaskan diri dari belenggu cinta yang telah padam.
Berusaha untuk fokus menyelesaikan urusannya dan Alberto di Paris, Bram tidak lagi berharap apa pun. Dia telah berusaha merelakan, terutama ketika dia benar-benar bertatapan langsung dengan manik tajam Gionard Butcher, suami sah mantan istrinya yang dulu pernah jadi partner bisnisnya. Bram melihat kebahagiaan di sana, di manik Gionard. Keduanya bahagia, baik Diandra atau pun Gionard. Jika ada orang yang tidak bahagia, maka sudah pasti itu adalah dirinya sendiri.
Meski ada sejumput perasaan benci di dalam hatinya, namun Bram bukanlah pria pendendam. Setidaknya dia bersyukur, meski sedikit tidak rela bahwa Diandra kini hidup bahagia bersama seorang lelaki seperti Gionard. Bram sudah tahu lelaki itu menyimpan ketertarikan pada Diandra, bahkan saat sebelum dia mengenal Diandra sampai gadis itu berakhir menjadi mantan istrinya.
Tidak ada yang perlu disesali, setidaknya seperti itu yang Bram mulai pikirkan. Hingga dia tanpa sadar telah dipilih kembali secara acak oleh semesta, saat semesta memainkan takdirnya untuk ke sekian kalinya.
Saat semesta mempertemukannya dengan seorang gadis bermata biru, yang menolongnya ketika dia hampir saja kehilangan dompetnya yang berharga di sebuah jalanan Paris yang ramai. Untungnya gadis itu berada di sana, dan berhasil mencekal tangan sang pencopet nakal. Jika sedikit saja terlambat, sudah dapat dipastikan Bram akan mengalami kesulitan untuk mengurusi surat-surat dan paspornya yang hilang.
Gadis itu memiliki manik biru yang menyihir. Dia mengerjapkan mata dengan bulu mata yang lentik, menggores seutas senyuman indah di wajah khas Parisian miliknya. Dengan tubuhnya yang tampak normal, Bram tidak menyangka dia punya kekuatan luar biasa untuk melumpuhkan pencopet hanya dengan sebelah tangan. Bibirnya yang merah muda mengeluarkan suara khas saat dia berbicara, dengan kata-kata yang terdengar sopan dan terdidik.
Merasa tidak enak hati, Bram memilih untuk membelikan gadis bermata biru itu secangkir kopi, setidaknya sebagai ucapan terima kasih.
Beranggapan bahwa pertemuan itu akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir bagi mereka, Bram sungguh tidak menyangka ketika dia kembali bertemu dengan sang gadis penyelamat itu untuk yang kedua kalinya. Fakta yang lebih mengejutkan adalah, saat Bram mengetahui gadis yang bernama Marinda Schoff itu adalah salah satu rekan dari Gionard Butcher dan Diandra Lee.
Sungguh memang dunia yang sempit.
Semesta semakin tertawa, semesta semakin menikmati keadaan. Menenggelamkan Bram dan membuatnya berada di beberapa situasi menegangkan bersama Marin, semesta telah memilih untuk tetap mempertemukan keduanya. Entah apa yang dipilihkan semesta untuk menjadi takdir mereka nanti, hanya takdir yang tahu.
Bram tidak menyadari, namun mungkin inilah balasan untuk semua rasa bersalahnya selama ini. Tanpa dia sadari, semesta mendengar doanya, tampak sedang berusaha mencari jalan terbaik bagi kehidupan masa depannya.
Sesaat berfikir mereka tidak akan pernah bertemu lagi, Bram kembali untuk benar-benar mengucapkan selamat tinggal pada Diandra. Setelah dua minggu yang dia habiskan di kota indah itu, Bram telah memecahkan batu penghalang yang selama ini menahan langkahnya.
Dia telah berdamai. Dengan dirinya sendiri, dengan masa lalu mereka. Memperbaiki keadaan, meminta maaf dengan cara yang benar. Tidak ingin lagi menyalahkan masa lalu, pria itu telah menjadi dewasa dan lebih matang setelah melalui beberapa peristiwa penting.
Kepulangannya ke Indonesia, pastilah tidak berpengaruh apa pun untuk si gadis bermata biru. Setidaknya begitulah yang Bram simpulkan, hingga dia memutuskan untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun sebagai ucapan selamat tinggal.
Kembali, lelaki itu telah duduk di sebuah kursi kelas bisnis Air France, bersiap untuk menatap hari esok. Dia sudah siap, dia telah siap.
Memandangi ke langit luar, Bram tahu dia begitu dekat dengan langit. Lagi-lagi tidak menyangka semesta telah memilihnya, tidak menyadari bahwa dia telah melupakan sesuatu.
Ucapan selamat tinggal yang tidak terucap, bisa saja mempertemukanmu lagi dengan orang yang sama. Entah untuk sekedar memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan benar, atau malah memberikan kesempatan untuk mengucap halo kembali.
Saat semesta mengatur pertemuannya kembali dengan Marin sang pemilik mata kebiruan, kira-kira kata apa yang akan Bram ucapkan? 'selamat tinggal' atau 'halo'?
Hanya ada dua pilihan. Kata pertama yang terucap akan sangat menentukan. Setelah itu, biar semesta mengatur sisanya.
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Dear Readers, kalau sedikit kurang paham mohon maaf ya. Untuk yang belum baca Diandra boleh baca dulu, biar lebih kenal sama sosok Bram Trahwijaya. Terima kasih sudah mampir 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
ᐤ༺ Ⓡⓘⓢⓨⓐ🏹Hiat༻
jejak
2021-12-06
0
Edmundus Ason
udah jadi milik orang ,ya kamu cari lagilah
2021-11-19
0
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
dengan kata hallo Marin kita bertemu lagi..
2021-11-11
0