"Hahahahhahahaa,"
Suara tawa Syasa meledak. Syasa memalingkan wajahnya sembari tertawa lebar. Syasa pikir jika Gara ucapkan hanya lah sebuah kekonyolan semata.
Gara termangu memerhatikan Syasa sedang tertawa.
"Lo lucu juga, please deh jangan berjanda," Syasa menepuk pundak Gara masih dengan tawanya.
"Eh salah bercanda maksudnya," koreksinya.
Gara menggelengkan kepalanya. Bukan dia yang gila tapi Syasa. Bagaimana bisa gadis itu mengatakan bahwa pertakaannya itu hanya sekedar lelucon saja?
Gara meraih tangan Syasa dan mengarahkan wajah gadis itu agar kembali menatapnya.
"Nggak ada yang lucu, gue serius," Gara memberikan tatapan serius dan lekat memandang bola mata Syasa.
Syasa terdiam. Mulutnya kembali tertutup rapat. Sebenarnya Syasa tahu jika Gara serius sebab sorot mata Gara mengatakan hal yang sama. Syasa hanya mengalihkan pembicaraan saja guna menghindar. Syasa tidak mungkin langsung menerima Gara begitu saja apalagi ia baru saja putus dari Jody. Untuk menolak pun rasanya Syasa tidak enak makanya tidak ada cara lain, selain mengalihkan dan Syasa harus mencari ide lain untuk terhindar dari Gara.
"Ih ada belek di mata lo tuh," Syasa menunjuk mata kanan Gara.
Gara tidak terpengaruh sama sekali, ia masih saja bersikap biasa saja.
"Ya udah bersihin," tantang Gara menaikkan satu alisnya memasang senyum penuh arti.
Syasa bergidik sambil menggelengkan kepalanya, "enak aja, ogah jorok tau," tolaknya.
"Ya udah biarin aja. Gue tau lo bohong, usaha yang bagus tapi lo gak bisa lolos. Gue butuh jawaban. Ya atau tidak?" seperti seakan mengetahui isi pikiran Syasa. Kini Gara menuntut jawaban keluar dari bibir Syasa.
Syasa menelan ludahnya. Entah jawaban apa yang ia berikan ke Gara.
"Ih sotoy lo, gue serius kali. Tuh belek lo makin banyak," Syasa berpura-pura memasang raut wajah jijiknya menutupi kegugupan yang ia rasakan.
"Oke, kalau lo masih ngotot gitu. Kalau lo ketahuan bohong berarti lo siap jadi pacar gue kalau nggak gue kasih lo waktu 3 hari untuk kasih gue jawaban," Gara berdiri dari kursi kayu lalu berjalan menuju motornya. Ia bercermin di kaca spion motor. Tak ada kotoran sama sekali di matanya itu artinya Syasa berbohong.
Gara membalikkan tubuhnya. Syasa terlihat panik. Gara melangkah mendekati Syasa memasang senyum simpul.
"Kok panik gitu mukanya sih pacar?" Gara tersenyum mengejek sembari mengedipkan matanya.
Syasa membulatkan matanya. Tangannya sudah gatal untuk memukul Gara.
"Ih dasar gila. Lo nggak boleh gini dong. Gimana pun kita baru kenal nggak mungkin kan kalau lo cinta gue gitu saja. Lo pikir gue bodoh, gue tau cowok kayak lo sama aja kayak Jody ujung-ujungnya bakal nyakitin cewek. Gue nggak mau disakitin lagi," tak sadar cairan bening pun menetes membasahi kedua pipi Syasa.
Syasa mendongakkan wajahnya dan menatap manik mata Gara. Matanya yang berair serta bibirnya yang bergetar karena tangisan membuatnya terdiam sejenak. Tak ada kata yang keluar lagi dari bibir Syasa.
Gadis itu memilih pergi meninggalkan Gara. Syasa melambaikan tangan memanggil angkutan umum. Gara hanya bisa diam di tempatnya, ia tahu jika Syasa membutuhkan waktu sendiri.
****
Hari berlalu, Syasa menghabiskan waktu di rumah seharian penuh. Tak ada yang Syasa lakukan selain tidur di atas kasurnya. Ponselnya pun ikut terabaikan yang tak henti berdering.
Arya baru saja tiba di rumah dari pertandingan futsal. Hampir 3 hari lamanya Arya tak berada di rumah. Saat ia berjalan menuju kamarnya, ia melihat Anggun mengetuk pintu kamar Syasa. Penasaran, ia pun menghampiri mamanya. Arya memegang pundak Anggun membuat wanita itu terlonjak kaget karena Arya datang secara tiba-tiba.
"Ada apa sih ma?" tanya Arya penasaran.
Anggun mengelus dadanya, "ini kakak kamu seharin gak keluar kamar," jawabnya memasang wajah cemas.
Kerutan terlihat jelas di dahi Arya. Ia mencoba mengetuk pintu kamar Syasa dan secara berulang kali tapi Syasa tak menjawab.
"Mungkin kakak lagi sibuk kerja tugas atau kecapean ma," Arya memberi pikiran positif pada mamanya agar tak cemas. Arya pun menyuruh Anggun melanjutkan aktivitasnya sementara itu Arya yang akan mengecek kondisi Syasa.
Karena ketukan pintu tidak mendapatkan apa pun, Arya mencoba menelepon ponsel milik Syasa tapi hasilnya sama saja.
"Kak, ini Arya. Bukain pintu dong, kak," Arya mencoba mengetuk kembali. Kehabisan ide dan kecemasan pun semakin besar dirasakannya, Arya mengambil kunci serep untuk membuka pintu. Nyatanya pintu itu juga tidak bisa terbuka sebab kunci menyantol di dalam sana sehingga Arya tidak bisa membukanya.
Ponsel Arya bergetar. Ada sebuah pesan singkat masuk, ia mengeceknya dan ternyata pesan itu dari Gara yang menanyakan kabar Syasa. Di luar sepengetahuan Syasa, adiknya itu telah bertukar kontak dengan Gara. Lebih tepatnya, Arya yang meminta duluan agar rencananya berjalan lancar yakni mendekatkan Gara dan Syasa. Sejak awal Arya sangat setuju Gara dengan Syasa jadian. Menurutnya, Gara cocok dengan Syasa apalagi bisa menjaga Syasa lebih dari Jody.
Arya menceritakan keadaan Syasa saat ini yang sama sekali tidak diketahui sebab gadis itu tidak keluar kamar dan berhasil membuat Gara cemas. Tanpa menunggu waktu lama Gara segera menuju rumah Syasa.
Tanpa semua sadari, Syasa tidak berada di kamar melainkan di sebuah cafe sedang menunggu seseorang. Pagi tadi Syasa berhasil keluar rumah tanpa sepengetahuan orang rumahnya termasuk Anggun yang berbolak-balik mengetuk kamar Syasa tanpa curiga. Syasa keluar melalui balkon, turun menggunakan selimut yang dililitnya lalu diikatkan di pagar balkon. Tanpa membuat semua orang curiga Syasa sengaja mencapkan kunci kamarnya di pintu agar semua orang mengiranya berada di dalam kamar.
Syasa tak ingin bila semua orang bertanya-tanya dengannya untuk saat ini makanya ia melakukan hal ini pergi secara diam-diam. Kalian salah jika mengira Syasa hendak kabur dari rumah, ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Jody tanpa campur tangan orang lain. Syasa yakin jika orang tuanya dan Arya tahu tentu saja ia tidak akan diizinkan menemui Jody menurut mereka hubungan Syasa dan Jody sudah jelas berakhir. Tapi bagi Syasa ada hal yang mesti diselesaikan.
15 menit lamanya, Syasa menunggu Gusti—sahabatnya ketika SMA. Syasa teringat dengan perkataan Gusti kala itu, di mana Gusti mengatakan suatu hal mengenai Jody namun Syasa pada itu tak mempercayainya. Karena terlalu bodoh menyadari kebohongan Jody selama ini.
"Sorry lama, dosen gue kelarnya lama," Gusti mendaratkan bokongnya di kursi kosong tepat di depan Syasa.
"It's okay. Gue ngajak lo ketemuan untuk bahas tentang Jody. Gue nggak bisa basa-basi lagi," ungkap Syasa langsung pada pint utamanya.
Gusti mencerna kalimat Syasa dan dari mimik wajah Syasa sangat jelas menyiratkan ada permasalahan yang terjadi dan Syasa tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Pelan Sya, gue nggak tahu kenapa tiba-tiba lo mau tahu tentang itu padahal dulu lo paling gak suka kalau gue udah bahas tentang itu. Sebelum itu, lo harus jawab pertanyaan gue, lo kenapa?" Gusti mulai memandang serius wajah sendu Syasa.
"Gue putus," jawab Syasa menyembunyikan kesedihannya.
"Kok bisa?"
"Ceritanya panjang, tapi intinya papa marah sama gue dan Jody karena waktu acara itu Jody ninggalin gue sendiri. Gue menunggu Jody sampai larut malam berharap kalau dia datang kembali tapi tidak, terpaksa gue minta tolong sama teman gue untung ada dia kalau nggak gue gak tahu apa yang akan terjadi. Jalanan udah sepi dan sialnya aplikasi ojek online gue pun gak bisa dipakai semua orang rumah gak ada yang bisa gue hubungi. Karena itu lah papa marah dan dia larang gue buat pacaran lagi sama Jody," tutur Syasa.
Gusti mengepalkan tangannya, "gue udah peringatin lo dari awal kalau Jody bukan cowok baik buat lo,"
Syasa menyeka air mata hendak menetes di sudur matanya.
"Gue nunggu dia datang dan menyelesaikan semuanya, gue masih berharap kalau hubungan gue sama Jody bisa balik lagi tapi nyatanya dia seakan tidak perduli, gue bahkan pergokin dia jalan sama cewek dan gue rasa selama ini gue dibodohi. Jody selingkuh,"
"Dan bodohnya lo baru sadar itu sekarang sedangkan dari awal dia sudah bohongin lo, Sya!" sergah Gusti tersulut emosi.
Gusti sangat menyayangi Syasa layaknya sebagai seorang sahabat bukan hanya itu ia telah menganggap Syasa sebagai adiknya walau mereka seumuran tapi sifat dan sikap Syasa seperti anak kecil.
"Maksud lo? Selama ini omongan tentang perselingkuhan Jody hanya kebohongan semata apalagi Arya yang bersikeras mengatakannya tapi gue nggak percaya sama sekali," sesal Syasa.
"Lo emang bodoh, Sya. Lo dibutakan sama cinta lo sama Jody sekecil apa pun kesalahan Jody lo gak pernah sadari itu bahkan lo anggap kalau itu hanya hal yang biasa. Apakah ketika lo liat mereka, lo liat wajah cewek itu?"
"Gue nggak liat wajahnya dengan jelas tapi gue ngerasa kalau gue kenal sama cewek itu," kata Syasa.
"Lo emang kenal sama cewek itu, Sya. Dia Sarah," ungkap Gusti.
"Sa—rah?"
"Sarah Utami. Lo mungkin sulit percaya setelah lo dengar fakta yang sebenarnya. Lo masih ingat waktu gue izin ke wc tepat kita lagi ulangan MTK?" Syasa menganggukkan kepala. Syasa ingat.
"Gue nggak sengaja liat Sarah dan Jody di gudang dan mereka ciuman. Gue juga sempat dengar pembicaraan mereka dari situ lah gue tahu kalau ternyata Jody pacaran dengan Sarah tanpa sepengetahuan lo. Bukan salah Sarah, sebelum Jody deketin lo dia udah lama kenal dengan Sarah bahkan Jody sudah lama nembak Sarah tapi Sarah gak langsung kasih jawaban. Gue tahu karena gue iseng kepo nanya-nanya ke Sarah dan gue sempat gak nyangka kalau dia bakal cerita semuanya padahal dulu waktu gue sekelas sama dia, gue nggak akrab sama dia," ungkap Gusti.
Syasa menutup mulutnya mendengar semua penuturan Gusti. Sulit untuk dipercaya tapi itu lah yang terjadi.
"Dan Jody mengaku kalau lo itu adalah sepupunya. Jadi dia nggak pernah curiga sama kedekatan lo dengan Jody karena dia pikir itu wajar saja sebagai sepupu," tambah Gusti.
Syasa mengusap wajahnya, ia harus menyelesaikan semuanya. Syasa harus bertemu dengan Sarah. Beruntunglah Gusti mengetahui rumah Sarah apalagi Sarah sekarang berada di Indonesia mengingat Sarah melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas di Singapura.
Setibanya di rumah Sarah. Syasa dan Gusti mengetuk pintu rumah. Betapa kagetnya ketika sosok cowok yang membukakan pintu untuknya adalah sosok yang pernah menjadikan Syasa sebagai sandera.
"Lo?"
---
RA
---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ney Maniez
😲😲
2022-08-03
0
Ney Maniez
🤔🤔🤔
2022-08-03
0
Sri Wahyuni
makin seru aja....
lanjut....
2020-09-09
0