—4– Risa Ardani Syaqilla?

Aroma obat begitu kental menyeruak masuk ke hidung dan kerongkongannya. Nyeri di bagian kepalanya dan pedih di bagian sudut bibir Gara—pria itu telah siuman. Mata Gara terbuka dan entah sudah berapa jam matanya terpejam. Gara mengamati sekelilingnya, ia berada di sebuah ruangan yang nampaknya ia berada di rumah sakit. Gara memegang kepalannya yang terlilit perban dan tangannya meraba sudut bibirnya yang sedari tadi terasa kaku untuk digerakkan dan pedih.

Gara mengerang ketika hendak bangkit, nyeri di punggungnya mengurungkan niatannya untuk bangun. Gara memaki dirinya sendiri seperti ini. Ia marah karena berujung terdampar di rumah sakit. Gara adalah salah satu cowok yang sangat tidak menyukai bau obat. Jika Gara sakit, ia memilih membiarkan sekaligus menikmati kesakitannya yang berangsur-angsur sembuh dengan sendirinya dari pada menelan obat.

Pintu terbuka menampakkan sosok seorang gadis memakai tas kecil yang tersemat di pundaknya. Syasa melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Syasa memasang senyuman tulus pada Gara tidak mementingkan dirinya menjadi korban dari tawuran Gara. Lagipula, kondisi Syasa baik-baik saja. Justru Syasa merasa bersalah pada Gara dan berterimakasih karena Gara menolongnya dari cengkraman Thio. Walau Syasa sama sekali tidak mengenal Thio mau pun Gara.

"Gimana keadaan lo?"

Mata Gara bergerak naik-turun memerhatikan penampilan Syasa. Gara menghentikan gerakan matanya pada kedua bola mata Syasa. Gara menatap wajah Syasa dalam diam.

Syasa merasa diperhatikan lekat oleh Gara menjadi salah tingkah. Syasa menyelipkan poninya ke daun telinganya. Syasa mengigit bibirnya gugup. Ia merasa canggung saat ini, Gara menatapnya. Terdengar dering telepon berasal dari tas Syasa. Gadis itu merogoh ponselnya. Syasa memukul jidatnya, panggilan itu dari Jody. Syasa lupa dengan Jody. Mereka telah berjanji bertemu dan Syasa telah membuat Jody menunggu terlalu lama. Syasa yakin Jody sudah sangat marah padanya.

"Iya halo, ini aku udah di jalan macet banget sumpah. Aku matiin telfonnya yah, aku harus balap supaya nyampenya cepat, wait me babe,"

Syasa tak memberikan kesempatan bagi Jody untuk mengomel. Syasa menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Syasa beralih pada Gara yang masih memandangnya lekat.

"Gue pamit dulu yah, btw, sorry tadi gue buka hp lo tenang aja gue nggak macem-macem kok apalagi save nomer gue, tenang. Gue cuma telfon bokap lo kasih tau soal keadaan lo sekarang, kalau gitu gue pamit yah, lo nggak usah khawatir gue nggak bakal nuntut apa pun sama lo malahan gue terima kasih karena tolongin gue," Syasa menyunggingkan senyum manisnya.

Syasa membalikkan tubuhnya hendak melangkah pergi. Syasa mengingat satu hal, ia menghentikan langkahnya sejenak. Syasa memalingkan wajahnya ke belakang. Syasa terbelalak, nyatanya Gara masih menatapnya. Syasa menelan ludahnya sendiri, entah kenapa ia merasa gugup dan canggung mendapatkan tatapan seperti itu.

"Satu lagi gue lupa, soal administrasi rumah sakit gue udah bayar, jangan tersinggung gue nggak niat apa pun murni gue cuma mau berbuat baik sesama makhluk Tuhan. Hehe, gue juga nggak minta ganti kok, tenang. Kalau gitu gue pergi, bye," Syasa mengembuskan napasnya lega. Syasa mengontrol deru napasnya dan detak jantungnya berpacu cepat.

"Eh, lupa, get well soon yah," terakhir. Syasa berlari kecil meninggalkan ruangan Gara.

Untuk pertama kali, Gara tersenyum lebar menampakkan giginya tak sadar Gara melupakan perih akibat gerakan bibirnya. Gara merasa tingkah laku Syasa begitu menggemaskan.

Pintu ruangan kembali terbuka. Gara mengira jika itu Syasa nyatanya bukan. Seorang wanita memakai seragam putih khas seorang perawat.

"Permisi, saya membawa KTP ini, gadis itu melupakan KTP nya saat membayar biaya pengobatan,"

Gara menerima KTP itu dari sang perawat. Gara tak lupa mengucapkan terima kasih. Gara membaca data diri yang tertera di KTP tersebut.

Nama : Risa Ardani Syaqilla

Ttl : Jakarta, 15 Agustus 1998

Jenis kelamin : Wanita

Alamat : Jalan Anggrek nomor 2 Jakarta Selatan

Status pernikahan : belum kawin

"Risa," bibir Gara bergumam menyebutkan nama Syasa.

                                     ****

Syasa membaringkan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Syasa mengembuskan napasnya lelah. Syasa baru saja melewati aktivitas yang cukup melelahkan. Apalagi perkelahiannya dengan Jody. Gara-gara, ia terjebak dari tawuran menyebabkan Syasa melupakan Jody yang sedang menunggunya di cafe. Jody begitu marah dan tak berhenti mengomel.

Syasa sampai capek sendiri mendengar ocehan Jody. Syasa juga merasa malu saat Jody memarahi dan membentaknya di depan umum. Syasa menelan malunya sendiri karena ulah Jody. Syasa sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tapi Jody tidak mau tahu soal Syasa apalagi tidak khawatir dengan keadaan Syasa. Jody terus menyudutkan Syasa seolah Syasa yang paling salah walau kenyataannya memang seperti itu.

Syasa memejamkan matanya. Bayangan wajah Gara melintas di pikirannya. Mata dan tatapan Gara membuat Syasa terpaku apalagi manik mata itu mampu menyihirnya. Syasa membuka matanya, ia mengingat satu hal. Gara. Perkataan Arya pun muncul. Syasa memikirkan nama yang di ucapkan Arya. Ia pun mengingat wajah cowok yang ia lihat di tv tahun lalu.

"Gara, jadi..."

Syasa menyadarinya. Gara adalah cowok yang dilihatnya di tv. Gara pun adalah orang yang telah menolong Arya. Jadi bisa dikatakan Syasa memiliki utang ucapan terima kasih pada Gara. Walau ia sudah membayar pengobatan Gara.

Ketukan pintu membuyarkan lamunan Syasa.

"Masuk,"

Pintu terbuka. Nyatanya yang mengetuk pintu adalah Arya—cowok itu, masuk ke dalam. Arya menukik alisnya, wajah Syasa terlihat begitu letih. Arya mendekati Syasa, duduk di pinggir ranjang.

"Kakak kenapa?" tanyanya penasaran.

"Capek,"

"Ya udah berhenti kuliah aja," balas Arya.

Syasa memukul pundak Arya membuat empuhnya meringis.

"Apaan sih kak main tabok aja,"

"Kamu sih ngomongnya asal banget. Trus kalau kakak nggak kuliah nanti kerja apa? Mau jadi apa kakak kalau nggak kuliah,"

"Jadi ibu rumah tangga. Persyaratannya gampang kok nggak perlu sarjana yang penting udah siap mah nikah aja tapi Arya mah nggak setuju kalau sama si onoh, terlalu lembek, gak maco,"

Syasa melototkan matanya. Arya lagi dan lagi menyindir Jody. Bagaimana pun, Jody adalah pacarnya walau ia masih kesal dengan Jody.

"Dek," panggil Syasa dengan suara pelan.

Arya menaikkan satu alisnya dan berkata, "apaan?"

"Kakak pengen kasih tau kamu sesuatu, tapi jangan bilang mama sama papa yah?"

Arya memicingkan matanya curiga, "apaan emang? Wah, jangan-jangan kakak udah ******* yah sama si Judi? Wah, nggak boleh dibiarin, Arya bakal kasih tau papa kalau kakak udah di *****-***** sama si Judi,"

Arya memanggil Jody dengan plesetan 'judi'. Arya tidak suka dengan pacar Syasa. Dari awal bertemu dan mengenal Jody pun Arya sudah tidak suka dan rasa ketidak sukaannya semakin besar ketika Syasa hampir saja terluka karena ulah Jody yang tak bisa melawan preman. Mereka di tolong oleh warga sekitar namun begitu Syasa terkena goresan pisau di lengannya dan luka itu cukup dalam sehingga memberi jejak di lengannya.

"Eh sarap!" Syasa menahan tangan Arya yang ingin melangkah mengadu ke mama dan papa Syasa.

"Jangan sembarang bilang kamu. Sok tau banget,"

"Yah terus apaan dong? Penting nggak nih?"

"Penting nggak penting sih sebenarnya,"

Syasa duduk kembali di atas kasur. Arya mengikuti apa yang dilakukan Syasa.

"Kakak tadi ketemu sama orang itu,"

"Siapa?"

"Gara,"

Arya menegakkan tubuhnya memasang wajah terkejutnya.

"Kakak serius? Di mana? Kapan?"

"Satu-satu kali nanyanya. Di kampus. Tadi. Jadi gini. . ." Syasa menjelaskan apa yang terjadi pada Arya.

Mulut Arya menganga lebar dan menggelengkan kepalanya tak percaya. Pengakuan Syasa sungguh membuatnya terkejut. Arya memegang pundak Syasa, matanya meneliti tubuh Syasa guna mencari dan mengecek apakah Syasa benar baik-baik saja atau tidak. Syasa mendorong jidat Arya agar menjauh.

"Alhamdulillah kakak baik-baik aja, gak usah lebay deh,"

Arya mengembuskan napasnya dari mulut. Syasa menutup mulutnya hendak meledek Arya.

"Napas kamu bau," ledek Syasa.

Arya bedecih, ia meletakkan tangannya di depan wajahnya lalu mengembuskan napasnya tepat di depan tangannya. Arya mencium tangannya mengecek apakah mulutnya bau atau tidak sesuai dengan perkataan Syasa.

"Belagu, mulut Arya nggak bau kok, ngayal," sungutnya.

Syasa tertawa lebar. Ia sangat suka meledeki Arya begitu juga sebaliknya. Mereka suka beradu mulut, saling meledeki satu sama lain, berbeda pendapat tapi mereka saling sayang dan perhatian. Kedua kakak beradik itu akan seperti anjing dan tikus di waktu tertentu namun mereka juga bisa seperti monyet dan kucing saling bergantungan satu sama lain. Kucing memerlukan bantuan monyet untuk mengambil kutunya oleh monyet begitu sebaliknya monyet akan senang hati memakan kutu-kutu itu.

"Kak, putusin si Judi gih, deketin bang Gara noh, Arya yakin dia masih jomblo dan Arya setuju kalau kakak pacaran sama bang Gara," bisik Arya.

---

Comment dong guys.

---

RA

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Kalo aku udah aku putusin tuh cowok..Egois banget,betah2 aja Syasa ama tuh cowok..

2024-03-21

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Waahh Lucky tuh buat Gara..😂😂

2024-03-21

0

Ney Maniez

Ney Maniez

gara lah keren ganteng tajir👍🤭

2022-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!