Tahukah kalian tentang pepatah yang mengatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki Ibu? Tentu pepatah tersebut sudah sering kita dengar, bahkan kita juga sudah familiar dengan pepatah tersebut.
Oleh karena itu, peran seorang Ibu sangat penting dalam kehidupan kita, tidak akan kita terlahir di dunia yang indah ini tanpa seorang Ibu. Allah telah menganugerahkan seorang Ibu yang selalu menyayangi anak- anaknya, juga selalu memberikan kasih sayangnya dengan tulus.
Jadi, kita sebagai anak harus berbakti kepada Ibu, namun tidak hanya pada Ibu, pada Ayah juga. Jangan pernah mendurhakai kedua orang tua kita, karena Allah akan menjanjikan kita neraka bagi siapa pun yang mendurhakai kedua orang tuanya.
🌺🌺🌺
Di sebuah perkampungan yang belum terlalu ramai ini, tinggallah sebuah keluarga yang hidupnya dipenuhi oleh keindahan. Namun beberapa hari ini, keluarga tersebut tengah diberi cobaan oleh sang Maha Pencipta.
Namun begitu, mereka tidak pernah mengeluh, mereka terus mendekatkan diri pada Sang Pencipta untuk memohon pertolongannya. Kenanga adalah sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya, dia terlahir dari rahim seorang Ibu yang bernama Maryam.
“Abi, Ummi, Kak Dzaky, Kenanga berangkat sekolah dulu. Assalamu’alaikum,” pamit Kenanga pada semua anggota keluarganya dan tidak lupa mencium tangan mereka dengan takzim.
“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka serentak.
Kini hanya tinggal Abi, Ummi, dan Dzaky di meja makan pagi itu. Mereka melanjutkan sarapannya, ketika tadi sempat terhenti. Tidak lama kemudian Dzaky bangkit dari duduknya, membuat Abi dan Ummi menoleh.
“Mau kemana, Ky?” tanya Abi pada anak pertamanya tersebut.
“Ke kampus, ada kuliah pagi,” jawab Dzaky.
“Awas kalau kamu seperti kemarin- kemarin hanya keluyuran tidak jelas, apa kamu tahu tujuan kamu disekolahkan? Untuk membangun masa depanmu…”
“Dzaky, berangkat dulu. Assalamu’alaikum,” potong Dzaky sebelum Abi melanjutkan perkataannya.
“Lain kali dengarkan perkataan Abi- mu,” pesan Ummi saat Dzaky mencium tangannya dan lalu mencium tangan Abi.
Abi hanya menggelengkan kepalanya melihat perilaku Dzaky yang terkadang sangat keras kepala dan sulit diatur.
“Kalau begitu Abi berangkat ke kantor dulu,” kata Abi kemudian.
“Iya hati- hati, Bi,” jawab Ummi dan mencium tangan Abi.
“Jangan lupa minum obatnya!” ingat Abi sebelum mencium kening Ummi yang sedikit tertutup oleh kerudung yang menutupi kepalanya.
Ummi hanya mengangguk dan tersenyum manis pada Abi.
🌺🌺🌺
Sepanjang jalan setapak menuju rumahnya, banyak para tetangga yang sedang membicarakan perihal Abangnya yang sering dianggap tidak tahu sopan santun dan terkadang meresahkan warga sekitar.
Kenanga mempercepat langkahnya menuju ke rumah, karena dia tidak tahan mendengar perkataan para tetangganya tersebut. Sampai di rumah, terlihat Ummi sedang duduk di ruang tamu dengan sebuah Al-Qur’an ditangannya, suara merdunya sangat mendamaikan suasana hati Kenanga.
“Assalamu’alaikum,” sapa Kenanga dan masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam, sudah pulang, Nak?”
“Iya, Mi.”
“Loh, kenapa? Kok kelihatannya sedang murung? Ingin bercarita dengan Ummi?”
“Ummi, sepanjang jalan Kenanga mendengar perkataan tetangga tentang Kak Dzaky yang tidak mengenakkan jika didengarkan. Mereka menggunjingkan yang jelek- jelek tentang Kak Dzaky,” cerita Kenanga.
Ummi tersenyum dan membelai puncak kepala Kenanga yang tertutup kerudung dengan lembut.
“Untuk masalah Kak Dzaky, kamu tidak perlu mendengarkan perkataan orang lain. Cukup dengan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Apa Kenanga merasa jika Kak Dzaky orang yang seperti itu?”
Kenanga menggeleng cepat sebagai jawabannya, membuat senyum Ummi kembali mengembang.
“Karena apa yang mereka pikirkan belum tentu benar terjadi.”
Kenanga kembali mengangguk tanda kini dia sudah mengerti dan mengembangkan senyumnya, dipeluknya Ummi erat seakan sang Ummi akan pergi sangat jauh.
Ummi berada di ruang tengah sedang membaca sebuah buku yang tidak terlalu tebal halamannya. Sesekali Ummi terbatuk- batuk kecil, namun makin lama semakin parah saja batuknya tersebut. Ummi pun bangkit dari duduknya menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk meredakan batuknya.
Tetapi, tetap saja, batuknya masih saja terdengar dengan jelas. Beruntung Kenanga sedang berada di kamar dan Dzaky juga baru saja masuk kamar, sedangkan Abi belum pulang dari kantor. Ummi menuju kamarnya untuk mengambil beberapa butir obat yang setiap harinya tidak lupa diminumnya.
“Ummi, sedang sakit?” tanya Kenanga yang sudah berdiri di belakang Ummi. Saat sedang belajar, dia mendengar suara orang yang terbatuk- batuk.
“Tidak, Ummi hanya kecapaian,” elak Ummi dengan senyum yang selalu menghiasi bibir tipisnya.
“Kalau begitu Ummi istirahat saja, mau Kenanga buatkan sesuatu agar Ummi nyaman?” tawar Kenanga.
“Terima kasih, tapi tidak perlu. Ummi hanya perlu istirahat sebentar.”
Ummi membaringkan tubuhnya di tempat tidur, Kenanga membantu menyelimuti tubuh Ummi agar lebih hangat. Setelah Ummi memejamkan matanya, baru Kenanga keluar kamar Ummi dan tidak lupa menutup pintu kembali. Kenanga hendak kembali kekamarnya, namun dia melihat Abangnya keluar dari kamar dengan pakaian yang terlihat rapi.
“Kak Dzaky mau kemana?” tanya Kenanga.
“Astagfirullah, Kenanga kamu ngagetin aja,” kata Dzaky terkejut.
“Maaf, Kenanga tidak bermaksud membuat Kak Dzaky terkejut,” jawab Kenanga merasa bersalah, “Kakak mau kemana?” tanya Kenanga lagi.
“Mau keluar sebentar, Ummi mana?”
“Ummi sedang istirahat, nanti Kenanga sampaikan kalau Kak Dzaky sedang pergi.”
“Tidak perlu, kamu jangan kasih tahu Ummi atau Abi. Kak Dzaky berangkat, Assalamu’alaikum,” kata Dzaky dan segera pergi sebelum Kenanga menjawab salamnya.
“Wa’alaikumsalam,” gumam Kenanga menjawab salam Dzaky.
🌺🌺🌺
Dari hari ke hari sakit yang di derita Ummi tidak kunjung sembuh, bahkan kini Ummi harus dirawat di sebuah rumah sakit. Namun, sampai saat ini Kenanga maupun Dzaky tidak pernah tahu sebenarnya Ummi sakit apa.
Setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik Kenanga selalu berdoa untuk kesembuhan Ummi. Kenanga selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta untuk kesembuhan Ummi, setiap air mata yang keluar ketika selesai sholat selalu ia tujukan untuk Ummi.
Kenanga selalu berdoa agar Allah lekas mengangkat penyakit Ummi- nya. Abi juga sangat rajin menemui dokter untuk mengetahui bagaimana perkembangan Ummi.
“Assalamu’alaikum, Ummi,” sapa Kenanga saat dia masuk ke dalam ruang rawat inap Ummi, Kenanga datang bersama Dzaky.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ummi tetap dengan senyum yang selalu diberikannya.
Kenanga tak kuasa melihat keadaan Ummi yang semakin membuatnya sedih, senyum Ummi yang membuatnya terlihat tegar. Kenanga tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat bibir Ummi semakin memutih. Namun, pikiran- pikiran buruk tentang Ummi segera ditepis sejauh- jauhnya. Kenanga berjalan mendekati ranjang tempat tidur Ummi, berbagai selang terpasang pada tubuh Ummi.
“Ummi, Kenanga kangen. Kapan Ummi pulang?” kata Kenanga mengemukakan seluruh perasaannya, air matanya hendak terjatuh.
“Ummi, akan segera pulang. Kenanga harus terus mendoakan Ummi, agar Ummi cepat sembuh ya?”
Kenanga hanya mampu mengangguk, dia tidak sanggup berkata- kata lagi. Kenanga tak kuasa membendung air matanya, tumpahlah air mata yang sejak tadi ditahannya.
Kenanga memeluk Ummi erat, dia sangat rindu pada Ummi. Senyum Ummi tidak pernah pudar, Ummi tetap tersenyum walau dalam keadaan sakit.
“Beberapa hari lagi Kenanga ulang tahun kan? Ingin meminta hadiah apa dari Ummi?” tanya Ummi saat Kenanga sudah melepaskan pelukkannya.
“Kenanga hanya meminta agar Ummi sembuh, hanya itu permintaan Kenanga,” ungkap Kenanga, yang membuat Ummi kembali tersenyum. Namun kini senyumnya sedikit berbeda, walau begitu, Kenanga tidak menyadarinya.
🌺🌺🌺
Sabtu, 20 Februari
Kenanga masih setia menemani Ummi yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ummi baru saja menunaikan sholat Dzuhur, berjama’ah bersama dengan Abi dan juga Dzaky. Kini mereka semua sedang berkumpul bersama, Kenanga selalu menggenggam erat tangan Ummi yang sedikit dingin.
Sedangkan Abi dan Dzaky duduk berdampingan, entah mengapa tiba- tiba saja perasaan Dzaky merasa tidak tenang. Melihat mata Ummi yang sayu, bibir Ummi yang pucat, nafas Ummi terkadang tidak teratur sehingga membutuhkan bantuan selang oksigen membuat Dzaky merasa sedih juga khawatir.
“Hari ini Kenanga ulang tahun ya? Selamat ulang tahun ya, Nak? Semoga menjadi anak yang solehah, patuh terhadap Abi dan Ummi juga Kak Dzaky. Bisa membanggakan Abi dan Ummi dengan prestasi- prestasi yang Kenanga raih, hanya ini yang bisa Ummi beri untuk hadiah ulang tahun Kenanga,” ucap Ummi memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru muda.
Tentu saja senyum Ummi masih seperti hari- hari sebelumnya.
Kenanga segera memeluk Ummi, Ummi mengelus puncak kepala Kenanga dengan lembut. Namun, lama kelamaan Kenanga merasakan kalau Ummi berhenti mengelus kepalanya juga pelukkan Ummi semakin mengendur.
Kenanga segera melepas pelukannya. Dengan suara bergetar Ummi mengucapkan dua kalimat Shahadat dan kemudian memejamkan matanya untuk selamanya. Ya, Ummi menghembuskan nafas terakhirnnya pada pukul 15.15, waktu yang sama saat Kenanga dilahirkan.
“Innalillahiwainnailahirojiun,” ucap Abi, lalu Kenanga juga mengikuti.
Sedangkan Dzaky terdiam terpaku melihat sosok didepannya sudah meninggalkan dunia ini.
Bahkan dalam tidurnya yang abadi Ummi tetap tersenyum manis dan juga terlihat tenang. Abi segera memanggil tim dokter, Kenanga tidak mampu menahan air matanya untuk keluar. Dia terisak dan kemudian menangis, Dzaky mendekati Kenanga dan berusaha menenangkannya.
Tidak lama tim dokter datang ke kamar rawat Ummi, Dzaky membawa Kenanga sedikit menjauh. Memberi ruang untuk dokter dan perawat memeriksa Ummi.
“Kak, Ummi…,” gumam Kenanga masih menangis.
Dzaky segera menenangkan Adik yang paling disayanginya. Namun apa daya, ternyata Dzaky juga menangis, menangis dalam diam. Dia sangat menyesali perbuatannya pada waktu- waktu sebelumnya.
“Kenanga belum sempat mengucapkan terima kasih untuk Ummi, Kenanga belum meminta maaf pada Ummi selama ini Kenanga belum bisa berbakti pada Ummi, dan Kenanga juga belum mengucapkan kalau Kenanga sangat sayang pada Ummi,” kata Kenanga dalam tangisnya.
Menurut Kenanga, inilah hari ulang tahun yang tidak akan pernah bisa dia lupakan. Hari dimana Ummi menghembuskan nafas terakhirnya dengan penyakit kanker paru- paru yang diderita sekian lama, hari dan jam yang sama saat Kenanga dilahirkan. Sebuah perjuangan Ummi yang sangat luar biasa, Ummi berusaha agar anak- anaknya tidak mengetahui bahwa dia sakit.
Bagitulah kurang lebih cerita Abi selesai pemakaman Ummi, Kenanga kembali meneteskan air matanya, namun senyumnya juga mengembang. Kenanga merasa bangga memiliki Ummi yang sangat tegar dan sabar.
End