Pasti menyenangkan bisa menjadi penulis terkenal. Apalagi karyamu jadi rebutan semua orang. Andai aku bisa mencapai posisi gemilang seperti mereka. Entah sudah berapa lama penantian tak berujung ini kutunggu. Hingga aku merasa bosan dengan pekerjaan ini.
Novel yang kutulis susah payah hanya berakhir didalam kardus berdebu. Aku bosan dan muak dengan semua yang dilakukan. Berbagai perubahan sudah kulakukan agar mereka sedikit memperhatikanku. Namun semuanya nihil karyaku dianggap sampah dan dicemooh orang. Akhirnya aku tenggelam di dalam rasa putus asa dan kuputuskan menyerah.
Aku hidup sebagai pengangguran tanpa tujuan. Curahan perhatian yang kuinginkan seakan tak pernah terkabulkan. Seolah aku tak pantas menerimanya. Aku menghela napas kecewa berjalan sembarangan arah. Aku juga sudah mencoba mencari lowongan pekerjaan lain tapi selalu ditolak. Aku lelah dengan pelik hidup yang dijalani.
“Cih! Selalu saja ditolak. Apa yang salah dengan hidupku? Kenapa aku selalu saja mendapat sial? Hidupku benar benar tak adil. Aku benci semuanya,” umpatku duduk di kursi taman. Rambut berantakan, pakaian yang dikenakan kusut, dan raut wajah bete. Keadaanku terlihat kacau balau untuk seseorang yang baru saja mencari pekerjaan.
Kupejamkan mata sejenak menghirup napas mengisi paru paru yang kering. “Permisi kak,” aku membuka mata melihat asal suara, sedikit terkejut melihat kehadiran seseorang didepanku. Seorang gadis berambut pirang berusia 17 tahun tersenyum manis. Alis mataku bertaut memperhatikannya.
“Ada apa?” tanyaku jutek. Dia tersenyum merogoh saku. Kemudian mengulurkan tangan kepadaku. “Apa ini?” tanyaku kebingungan.
“Ini dompet kakak. Tadi kakak menjatuhkannya sewaktu kemari,” ucap gadis itu menyodorkan dompet berwarna kecoklatan. Mataku menyipit melihat dompet itu yang mirip dengan punyaku, kemudian kuraba kantong celana memastikan jika barang itu masih ada.
Aku menelan ludah saat dompet itu tak ada. “Apa kamu yakin itu punyaku?” dia mengangguk mantap.
“Kalau kakak tidak percaya. Silakan periksa sendiri,” ragu kuterima dompet dari tangannya. Lalu kuperiksa dengan cermat. Aku menghela napas lega saat melihat isi dompet tersebut memang punyaku. Terutama KTP yang tertinggal disana.
“Terimakasih,” ucapku tersenyum memasukkan dompet kedalam saku. Dia mengangguk dan duduk disebelahku. Aku terperanjat kaget bergeser. Selang 20 menit kami berdiam diri. Gadis itu masih asyik memperhatikan orang orang ditaman. Suara canda dan tawa memeriahkan suasana taman.
Sekilas kulihat ada kesedihan di bola mata sebiru batu safir. Apa yang dia pikirkan?, batinku penuh tanya tapi saat kuperhatikan lagi ada yang berbeda darinya. Gadis itu memiliki warna rambut pirang keemasan dan bola mata biru yang tak pernah kulihat di Indonesia. Apa dia keturunan bule?
“Maaf dik. Kalau boleh kakak tau namamu siapa? Dan kamu berasal dari mana?” gadis itu mengalihkan pandangan ke arahku. Manik safirnya berkilau ditimpa cahaya matahari. Aku terkesima melihat kemilau matanya seindah lautan.
“Namaku Carol,” ujarnya tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putih yang tak kalah berkilau. Penampilannya menyilaukan mata sehingga membuat mataku menyipit.
“Nama yang bagus. Apa yang kamu lakukan di taman?” tanyaku mencari topik lebih banyak agar bisa terus berbicara dengan Carol gadis asing ini. Meski tadi dia tak menghiraukan pertanyaanku tentang asalnya. Mungkin dia tak nyaman jika orang asing mengetahui tempat tinggalnya.
“Aku sedang liburan disini,” ucapnya menghela napas. Aku segera paham setelah melihat ekspresi sedih di raut wajahnya.
“Liburan atau kabur dari rumah?” tanyaku bersandar dikursi taman. Matanya mendelik tajam ke arahku membuat bulu kuduk meremang. “Ah … sepertinya pertanyaanku salah,” ucapku dengan nada bersalah. Dia mendengkus memajukan bibir.
Aku tersenyum meskipun saat ini dia sedang marah. Dimataku tingkahnya terlihat mengemaskan. “Aku … memang kabur dari rumah,” ujarnya menunduk sedih, bulir air mata jatuh menetes. Senyumku langsung pudar, terdiam tak tau harus berbuat apa. “Aku melarikan diri dari perjodohan,” ucapnya yang membuatku terhenyak.
Perjodohan? Di tahun 2020? Memangnya ini zaman siti nurbaya. Padahal gadis ini sangat cantik. Sayang sekali jika dia tak bisa merasakan kemerdekaan seorang wanita. Tapi, keluarga mana yang masih menggunakan sistem kolot itu? batinku bercampur aduk antara sedih dan marah. “Aku memang tak tau masalahnya. Kamu harus memilih jalan hidup sendiri dan jangan terus bergantung pada ucapan orang lain. Perjodohan itu tak pernah membawa hal baik.”
Dia tertegun menatapku lamat. “Terimakasih sudah mengatakan hal itu. Kamu orang pertama yang mengatakan hal itu,” ucapnya tersenyum lebar, penat yang tadi kurasakan sirna dalam sekejap. Dan jantungku entah sejak kapan terus berdetak tak karuan terutama saat melihatnya tersenyum. Apa ini cinta pandangan pertama?,
Suara jentikan jari menyadarkanku dari alam bawah sadar. “Maaf aku melamun,” ujarku menggaruk kepala yang tak gatal. “Tapi, aku senang melihat kamu tersenyum. Kamu terlihat sangat cantik.”
Carol merunduk ada rona kemerahan di pipinya. Aku tersenyum geli melihat tingkah polosnya. “Ka-kakak jangan menggodaku,” ujarnya menggembungkan pipi membuatnya kelihatan imut. Ingin rasanya kucubit kedua pipinya yang putih mulus.
“Siapa yang menggodamu. Aku bicara sesuai fakta kalau kamu memang cantik,” ujarku apa adanya membuatnya salting.
“Huh! Kakak ini seperti buaya darat saja,” celetuknya yang membuatku tak bisa menahan tawa. “Kakak kan memang mirip buaya darat. Semua wanita digodain.”
Alis mataku naik sebelah. “Apa aku terlihat seperti itu? Bahkan aku tak pernah berbicara dengan wanita manapun kecuali kamu,” ucapku tanpa sadar mencolek hidung mancungnya. Ada hawa dingin terasa menusuk saat kulit kami bersentuhan.
Dia menangkupkan wajah menutupi rona kemerahan. Aku tertegun merasakan aliran dingin ke sekujur tubuh.
Padahal cuaca sedang cerah dan sekarang musim kemarau. Kami juga duduk dibawah cahaya matahari. Lalu kenapa aku merasakan kulitnya sangat dingin? Apakah aku berhalusinasi?
“Kak,” panggilnya membuatku tersentak kaget. Dia membuka sedikit celah mengintip dari sela jari.
“Eh … maafkan aku. Aku tak bermaksud lancang,” aku menggaruk kepala yang tak gatal. “Apa kamu mau permen? Atau es krim?” tunjukku pada penjual es krim yang berjualan di seberang kami. Sekaligus mengalihkan topik agar tak terasa canggung. Aku merasa sedikit bersalah karena sudah menyentuh orang tanpa seizinnya. Apalagi ini pertemuan pertama kami.
Hela napas terdengar disertai gelengan kepala. “Aku maafkan kakak,” aku bernapas lega. “Aku harus pulang sekarang. Terimakasih sudah menemaniku,” ucapnya melenggang pergi.
“Tunggu!” langkahnya terhenti menoleh ke arahku. Aku terkesiap bibir terasa kelu hanya sekadar ingin bicara. Dia masih berdiri disana menungguku. “Aku mencintaimu, Carol. Aku harap kita bertemu lagi,” ucapku tanpa sadar yang diangguki oleh Carol. Kemudian bagai embusan angin dia menghilang begitu saja dari pandangan.
Tak lama seorang kakek mendekatiku. “Bagaimana kamu bisa melihatnya?” alisku bertaut heran. Belum sempat aku membuka mulut untuk bicara, kakek itu berbicara lebih dulu. “Dia orang yang sudah tewas sejak 99 tahun yang lalu,” aku terkejut mendengarnya. Tubuhku gemetaran. “Gadis itu orang Belanda yang tewas bunuh diri akibat dipisahkan dengan orang pribumi. Apa kamu tidak lihat sumur yang berada disana?” tunjuknya ke arah belakang kursi taman.
Aku menelan ludah melihat sumur tua yang dililiti lumut. “Sumur itu …” kakek itu mangut mangut. Aku ingat sebuah cerita yang diceritakan secara turun temurun. Bahwa dulu ada seorang gadis Belanda jatuh cinta dengan seorang pemuda pribumi. Namun, karena mereka berbeda kasta dipisahkan oleh orangtua sang gadis. Hingga sang gadis memutuskan pilihan yang membuat orangtuanya menyesal di kemudian hari.
“Perigi buto adalah saksi bisu gadis itu bunuh diri,” ucapnya yang sontak membuatku jatuh pingsan.