Malam minggu adalah waktu untuk sepasang kekasih saling meleburkan rindu. Rintangan apa pun pasti bisa dilalui agar segera bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Meskipun mobilku mogok, aku tetap bertekad untuk menemui Luna yang sudah menungguku di restoran Yum-me. Tak ingin kekasihku menanti terlalu lama, aku pun segera memesan driver online.
Tak lama kemudian sebuah mobil sedan telah berada di hadapannya. "Mr. Daniel?" ucap sopir tersebut.
"Iya," jawabku singkat sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Restoran Yum-me ya, Pak? Sebentar saya aktifkan dulu GPS-nya."
"Baik, Pak. Jangan lama-lama ya."
Di perjalanan aku terus menghubungi Luna agar ia tak merasa kesepian. Namun, tiba-tiba sinyal dalam ponselku hilang begitu saja. Awalnya aku hanya kesal, tetapi setelah melihat sisi kanan jendelaku, aku jadi semakin panik.
"Loh, Pak, ini di mana?"
"Maaf, Pak. Dari tadi saya mengikuti petunjuk GPS, tetapi kok cuma muter-muter saja. Saya juga tidak tau. Ini sekarang sinyal gawai saya juga hilang," tutur sopir itu.
Aku sudah kalut tidak jelas. Amarahku memuncak. Gagal sudah rencana kencanku gara-gara sopir yang tidak tau arah ini.
"Pak, saya sudah bayar bapak mahal. Harusnya sebagai sopir bapak ya tau arah meskipun tidak mengandalkan GPS..."
Aku menghentikan perkataanku saat tiba-tiba mobilnya berhenti. Awalnya sopir itu ingin keluar dan mengecek mobilnya. Namun, ia mengurungkan niat saat mendengar lolongan serigala. Ya, kami sekarang berada di hutan belantara.
Tiba-tiba terdengar suara gesekan daun yang diinjak. Aku mencoba keluar dari mobil dengan harapan bisa mendapatkan bantuan. Namun, sayangnya, di depanku justru berdiri manusia berkepala kerbau. Aku nyaris berteriak dan dibungkamlah mulutku olehnya.
Sementara itu sopir yang masih di dalam mobil pun ikut terkejut dan berusaha menyelamatkanku. Ia mengambil palu yang berada di dalam mobilnya dan segera keluar. Namun, saat sopir itu hendak mengayunkan palunya, makhluk itu mengayunkan tangannya hingga palu itu terlempar jauh, meskipun tanpa menyentuhnya.
"Jangan berisik. Di sini tempat berbahaya," ucap makhluk itu. Entah mengapa meskipun telingaku mendengar ia mengucapkan sesuatu seperti suara kerbau, tetapi otakku mampu memahami bahasa mereka dan ternyata sopir itu juga mampu memahami bahasa makhluk itu.
Makhluk itu pun membuka bekapan mulutku. Aku yang mulai penasaran pun menanyakan banyak hal kepadanya.
"Ini tempat apa? Dan kalian ini makhluk apa?"
"Maluhia. Tempat ini adalah tempat di mana Holoholona (hewan) dan Half Kanaka (hewan separuh manusia) berdamai. Namun, saat ini Maluhia sedang tidak sedang baik-baik saja."
"Ah, aku sudah tidak peduli dengan keadaan kalian. Yang penting sekarang aku harus menemui Luna, antarkan aku ke duniaku sekarang."
Tiba-tiba terdengar kembali lolongan serigala. Tampak raut wajah ketakutan saat mendengar lolongan itu. Seketika makhluk itu menggandeng tanganku dan sopir.
"Aku tidak bisa mengembalikanmu sekarang. Yang penting sekarang, selamatkan diri kalian. Ayo ikut aku! Kita temui Ratu Alice."
🦄🦄🦄
Tempat yang begitu gelap. Sesekali kulihat sekeliling terlihat bekas daun-daun yang terbakar. Lalu di ujung hutan ada benteng yang melingkar, tepat di dalamnya ada istana yang tinggi menjulang. Sepertinya di situlah tempat tinggal Ratu Alice, penguasa Maluhia.
Istananya begitu megah, terbuat dari permata yang berkilauan dan batu-batu berwarna-warni yang aku sendiri tak tau namanya. Kulihat sopir yang menemani perjalananku juga terkejut akan indahnya istana ini. Namun, aku kesal melihatnya seakan tak merasa bersalah telah membawaku ke tempat asing ini.
"Yang Mulia, makhluk yang diramalkan itu sudah tiba," ucap makhluk berkepala kerbau tadi.
Mataku tak berkedip saat perempuan yang duduk di singgasana itu membuka tudung yang menutupi wajagnya. Rambutnya panjang bergelombang, berwarna perak berkilauan. Kulitnya seputih susu. Saat tersenyum, lesung pipi menambah kecantikan di wajahnya. Aku merasa berdosa pada Luna saat itu.
"Selamat datang, Daniel, Jason." Betapa terkejutnya kami, ternyata perempuan itu sudah mengenali kami. Aku dan Jason saling memandang keheranan. Namun, perempuan itu malah tertawa.
"Tidak usah khawatir. Kalian berada di tempat yang aman, meskipun saat ini Maluhia tidak sedang baik-baik saja."
Raut wajahnya berubah seketika. Matanya tertunduk seakan memendam kesedihan yang teramat dalam.
"Kalau boleh tau kenapa, Yang Mulia?" tanya Jason, sopir yang menemaniku tadi.
"Ada seorang pengkhianat yang menyebarkan ramalan bahwa manusia akan menyebabkan Maluhia punah suatu saat nanti. Karena itu kaum Holoholona berusaha untuk menumpas tuntas Half Kanaka, karena di dalam diri Half Kanaka masih ada sisi manusianya, yang dianggap berpotensi memusnahkan Maluhia," jelas Ratu Alice.
"Lalu apa hubungannya dengan kami?" tanyaku dengan ketus.
"Aku adalah satu-satunya manusia, yang menguasai Maluhia. Ketika ramalan buruk itu beredar, maka aku sangat berpotensi untuk dilengserkan dan hadirnya kalian pasti bisa menyelematkan Maluhia."
"Omong kosong macam apa itu?!" teriakku. Tempat aneh. Makhluk-makhluk yang aneh dan tentunya ramalan yang aneh. Harusnya malam Mingguku kuhabiskan bersama Luna. Bukan untuk ikut campur dalam urusan dunia aneh ini.
"Istirahatlah dulu. Dalam lima hari lagi pengadilan akan dimulai."
🦄🦄🦄
Hari Pertama. Aku dan Jason diajak berkeliling istana. Betapa terkejutnya aku bahwa penghuni istana ini adalah makhluk-makhluk aneh yang biasa digambarkan dalam mitos-mitos masyarakat. Ada manusia berkaki kuda, ada manusia berkepala kambing, ada manusia kecil bersayap kupu-kupu, dan masih banyak makhluk aneh lainnya. Meski makhluk yang tinggal di sini sangat aneh, tetapi beruntungnya makanan yang ada di sini sama dengan makanan manusia.
Tanpa kusadari aku melupakan janjiku menemui Luna semalam. Kulihat gawaiku, beruntung baterainya masih penuh, hanya saja tidak ada sinyal. Entahlah. Aku sudah pasrah. Tak tau lagi sampai kapan aku terjebak di Maluhia.
🦄🦄🦄
Hari Kedua. Aku dan Jason dilatih pedang dan memanah bersama makhluk-makhluk aneh itu. Katanya untuk berjaga-jaga ketika terjadi hal yang tidak diinginkan saat pengadilan. Demikian juga hari ketiga dan keempat. Anehnya, hanya dalam waktu 3 hari saja, aku dan Jason langsung bisa memanah dan mengayunkan pedang dengan lincah. Padahal sebelumnya kami sama sekali tidak pernah memegang pedang dan panah.
🦄🦄🦄
Hari Kelima. Kaum Holoholona dan Half Kanaka berkumpul di reruntuhan bangunan yang terletak di tengah padang rumput. Hari Pengadilan katanya. Sebelum berangkat ke tempat tersebut, aku dan Jason diminta memakai topeng kepala monyet agar tidak ada yang mengenali kami sebagai manusia.
Sesampainya di sana, aku melihat semua pasukan Half Kanaka membawa senjata. Namun, tidak dengan pasukan Holoholona. Tentu saja karena pasukan Holoholona tidak bisa membawa pedang/panah. Namun, mengapa? Pasukan Half Kanaka justru takut kalau Holoholona akan menyerang mereka?
"Mereka punya sihir yang kuat. Holoholona memiliki sihir yang kuat, sementara Half Kanaka hanya punya sihir dasar. Dan yang mulia Ratu Alice justru tidak memiliki kekuatan, tetapi ia punya akal untuk memimpin Maluhia," ucap makhluk berkepala kerbau yang tampaknya tau isi hatiku.
"Masalah di Maluhia tidak akan selesai, jika kita tidak menurunkan Ratu Alice. Bukankah ramalan mengatakan, bahwa dia yang tidak memiliki kekuatan apa-apa justru berpotensi merusak Maluhia," ungkap seekor Gorila yang katanya ia adalah pemimpin pasukan Holoholona.
"Jika itu masalahnya, bukankah aku tinggal menyerahkan tahtaku? Lalu mengapa mengadakan peperangan dan membunuh Kaum Half Kanaka?" tanya Ratu Alice.
"Karena kau tidak lekas turun dari tahtamu!" Gorila tersebut mengangkat kerah gaun Ratu Alice. Seketika membuat Half Kanaka marah dan langsung meluncurkan senjatanya. Namun, Holoholona juga tidak kalah tanggap, dengan sekali raungan kaum mereka sudah bisa mementalkan senjata.
Sangking kuatnya sihir dari Kaum Holoholona, topeng yang kukenakan dan Jason kenakan pun terlepas dan badan kami pun tersungkur di tanah. Seketika Kaum Holoholona pun bergerak mendekati kami, tetapi dihalang oleh Para Half Kanaka.
"Minggir!" teriak seekor Gajah. Saat belalainya diayunkan, seketika itulah Para Half Kanaka yang melindungi kami terpental.
"Tuan, rupanya Alice benar-benar berniat memusnahkan Maluhia."
Seketika Gorila itu memerintahkan pasukannya untuk berperang. Terompet dan genderang pun mulai terdengar. Sementara Gajah itu masih berhadapan dengan kami.
"Siapkan pesan terakhirmu!"
Aku dan Jason tak sanggup menerima jika takdir kematian kami ada di sini. Namun, sedetik pun tak terjadi apa-apa.
"Pergilah! Selamatkan Ratu!" ucap manusia berkaki kuda yang baru saja meluncurkan anak panahnya pada si Gajah.
Di sekeliling kami terjadi pertumpahan darah antara Holoholona dan Half Kanaka. Namun, aku dan Jason terus berlari dan mencari Alice. Tak lama kemudian, kami menemukan Alice seperti terikat di pohon, tetapi ikatan itu tidak berupa tali, melainkan benang sihir.
"Hai Gorila, lepaskan Alice! Dia hanyalah seorang wanita lemah. Apakah kau tega menyakitinya?" teriak Jason.
"Simon. Namaku Simon. Wanita lemah ini licik. Jika ia tak berniat jahat, maka ia tak mungkin mendatangkan kalian untuk merusak Maluhia," tutur Gorila yang muncul dari balik pohon.
"Maluhia rusak bukan karena seorang perempuan lemah, tetapi karena kalian, rakyatnya yang tak mampu bersatu," jelasku.
Tiba-tiba ia menjentikkan jari-jarinya. Rupanya ia gunakan sihirnya untuk membuat warga Maluhia terpatung, tidak bergerak, kecuali dia.
"Apa buktinya?"
Tiba-tiba Jason mengeluarkan gawainya. "Kami datang dari masa depan. Lihatlah! Ini adalah foto di dunia kami. Di dunia kami justru hanya ada kaum Holoholona, sementara Half Kanaka? Mungkin mereka sudah punah karena dimusnahkan oleh kaummu."
Jason menunjukkan foto-fotonya bersama hewan. Rupanya ia pernah menjadi seorang dokter hewan. Bahkan ia juga menunjukkan video saat ia menyelamatkan kucing yang sedang sekarat. Dan aku tau sebenarnya ucapannya bahwa ia datang dari masa depan itu hanyalah omong kosong saja.
Simon tampak berpikir dan melihat kesungguhan dari Jason, hingga akhirnya ia menjentikkan jari-jarinya lagi dan membisikkan sebuah mantra. Seketika seluruh makhluk yang tadinya berperang langsung berkumpul di pelataran pengadilan. Simon langsung mengajak Alice dan kami ke pelataran pengadilan juga.
"Kalian sudah tenang? Kalau sudah, kita kembali menyelesaikan proses pengadilan. Silakan berikan penjelasanmu, Alice," perintah Simon.
"Maafkan aku, Simon. Sungguh, bukannya aku tidak mau menyerahkan tahta Maluhia pada salah satu di antara kalian. Namun, aku tak ingin tahta ini jatuh pada tangan yang salah. Jatuh pada mereka yang justru memiliki kekuatan, sehingga menggunakannya untuk menyakiti rakyatnya. Aku benar-benar memikirkan seluruh rakyatku, Simon."
Para penghuni Maluhia pun mendengarkan dengan seksama. "Lalu, apa tujuanmu membawa dua makhluk sejenismu ke sini?"
"Mereka mungkin datang dari masa depan. Ramalan palsu itu mengatakan bahwa manusialah yang akan merusak Maluhia, tetapi ramalan istana justru mengatakan bahwa manusia yang akan menyelamatkan ketika Maluhia berada di ujung kepunahan."
"Ya, kami datang dari masa depan. Di dunia kami, Half Kanak sudah tidak terlihat lagi. Mungkin karena Holoholona sangat berambisi untuk menghabisi Half Kanaka dan manusia," jelasku asal-asalan dan menunjukkan foto-foto yang tadi ditunjukkan Jason.
"Bohong! Lalu kenapa manusia bisa kembali hidup berdampingan dengan Holoholona? Jika kami sangat anti dengan manusia, berarti manusia juga sudah habis dibantai oleh kami kan?" tanya seekor serigala yang kemudian berubah menjadi manusia. Ia kemudian mengucap mantra dan mengayunkan tangannya. Seketika itu, Jason merasakan kesakitan di dadanya.
"Kau?! Geo?" Simon tampak begitu marah. Ia baru saja menyadari bahwa Geo-lah yang awalnya menyebarkan ramalan palsu. Ia adalah Half Kanaka yang punya dendam dengan Ratu Alice dan berusaha memecah belah Maluhia.
Geo dulunya adalah kepercayaan Ratu Alice. Ia berkhianat karena tahu bahwa kelak Ratu Alice akan menyerahkan tahtanya pada Simon yang berasal dari Kaum Holoholona, bukan bangsanya (Half Kanaka) yang sudah menjadi pelayan Ratu di istana.
"Bodoh! Harusnya aku langsung membunuhmu juga, Simon! Karena kalian berdualah biang perpecahan ini!"
Geo segera melayangkan serangan yang sama pada Simon. Simon pun kesakitan, tetapi ia berusaha menyelamatkan Alice. Namun, tidak berhasil. Aku yang melihat Alice dalam bahaya pun segera menyiapkan busur panahku dan melayangkannya ke arah Geo. Dan, pas!!! Tepat sasaran. Simon pun berusaha berdiri, sementara itu seekor Gajah yang tadi menyerangku, mengangkat tubuh manusia Geo itu dengan belalainya.
"Aku sudah mendengarnya dari manusia itu. Perpecahan memang akan terjadi jika kita tidak bersatu. Meskipun berbeda kita harus bersatu agar Maluhia damai kembali. Aku tidak ingin jika kita semua punah hanya karena terus menerus berperang. Maka mulai hari ini, Kaum Holoholona akan berdamai dengan manusia dan Half Kanaka.
🦄🦄🦄
Meskipun hanya lima hari berada di Maluhia, tetapi rasanya sungguh melelahkan, seperti sudah 5 tahun di sini. Namun, bagaimana dengan duniaku ya? Sudah berapa lama ini berlalu di duniaku?
Peperangan kemarin membuatku lupa bahwa aku tengah berada dalam perjalanan menemui kekasihku, Luna. Namun, kedamaian yang tercipta di Maluhia saat ini membuatku semakin merindukan Luna dan ingin segera melepaskan penatku dalam pelukannya.
Aku segera memohon pada Alice agar menolongku dan Jason kembali ke dunia kami. Alice pun memerintahkan Simon untuk mengantarkan kami menuju mobil kami yang kemarin berhenti di hutan Maluhia.
"Terima kasih, Daniel, Jason. Berkat kalian kami bisa menemukan dalang di balik kerusuhan Maluhia dan memulihkan kembali keadaan Maluhia. Kata Alice agar kalian sampai di dunia kalian cukup pejamkan mata saja setelah masuk mobil."
"Baiklah, sama-sama. Tetap jaga dunia perdamaian, seperti halnya nama dunia kalian, Maluhia," ucapku sebelum akhirnya masuk ke mobil.
🦄🦄🦄
Hanya dengan menutup mata, kami pun kembali ke dunia kami. Bahkan kami telah sampai di restoran Yum-me, tempat aku bertemu dengan Luna. Aku segera menyodorkan uang pada Jason. Namun, Jason malah tersenyum.
"Tidak usah. Maaf, GPS-ku mengantarkanmu ke Maluhia selama 5 hari," ucap Jason.
"Ah, tidak apa-apa. Bukankah kita tinggal memejamkan mata agar bisa sampai ke Yum-me?
Gelak tawa seketika pecah saat itu. Aku dan Jason tidak menyangka melakukan perjalanan yang sangat menegangkan.
Sebelum aku memasuki Yum-me, aku melihat gawaiku. Rupanya masih di tanggal yang sama. Aku pun segera berlari dan melihat Luna masih menungguku di sana. Ia pun segera memelukku.
"Kamu ke mana saja? Lima menit yang lalu masih bertukar pesan, kenapa tiba-tiba menghilang? Kupikir kamu kecelakaan?" protes Luna sambil tak henti-hentinya menangis.
Kuusap air matanya dan tersenyum ke arahnya. "Aku baik-baik saja. Hanya kehilangan sinyal dan GPS-nya menunjukkan arah yang salah."
🦄🦄🦄
Lima menit atau lima hari atau kapan pun itu adalah waktu yang begitu berharga. Jangan menggunakannya untuk hal yang sia-sia, apalagi untuk menciptakan perpecahan yang berujung penyesalan. Maka dari itu, berjalanlah di atas jalan cinta dan damai.