Safira Prameswari, gadis malang yang tak pernah merasakan kebahagiaan dari keluarganya. Ia selalu tidak di perdulikan bahkan di aggap tidak ada, entah itu dari teman maupun keluarganya sendiri. Karena itulah Ia menjadi seorang gadis pendiam, Ia lebih suka menyendiri.
Keluarga yang selalu dikatakan orang menjadi rumah ternyaman ternyata tidak seperti itu baginya. Safira hidup bersama Papa dan Kakak perempuannya. Mamanya? Beliau meninggal saat melahirkannya.
Apa alasan Papa dan Kakaknya membencinya karena Ia adalah penyebab Mama meninggal? Sepertinya begitu, tapi semuakan sudah takdir dari-Nya. Jika bisa memilih Safira tidak mau lahir ke dunia saja dari pada di benci seperti ini.
"Lama bangetsih cepetan turun!"
Bentakan itu membuat Safira tersadar dari lamunannya, Ia melihat Kakaknya-Vanya berdiri di ambang pintu kamar. Menatap tajam ke arahnya yang masih duduk di depan meja rias.
Safira segera berdiri. "Iya." Ucapnya lalu mengikuti Kakaknya turun ke lantai satu.
Selama perjalanan menuju ruang tamu entah kenapa perasaan Safira tidak nyaman, mungkin karena Ia terlalu gugup. Malam ini Safira sudah berdandan cantik karena keluarganya akan menjodohkannya. Entah kenapa Ia merasa sakit hati karena alasannya di jodohkan adalah untuk membayar hutang keluarganya.
Benar, Papanya mempunyai hutang lalu sebagai gantinya Ia yang di jadikan bayaran, miris.
"Duduklah sayang."
Kata-kata itu terdengar manis di telinga Safira, percayalah baru kali ini Papany mengatakan kata 'sayang' kepadanya. Selama ini Papanya bahkan tak pernah mau mengobrol dengannya, pria itu selalu menghindarinya.
Safira duduk di samping Papanya, perhatiannya lalu teralih pada seorang pria yang duduk di hadapan mereka.
Glek
Safira menelan ludahnya kasar, apa pria itu yang akan di jodohkan dengannya? Dulu saat Papanya mengatakan akan menjodohkannya, Safira sempat berpikir kalau calon suaminya adalah pria tua bertubuh buncit dengan kepala botak. Tapi ini? Pria ini sangat tampan, rahang yang tegas, hidung mancung dan tatapan tajamnya membuat auranya semakin bertambah.
"Nak kenalkan dia Raditya Malik, calon suami kamu." Ucap Papanya.
Safira menggigit bibir bawahnya, Ia sangat gugup sekarang. Kenapa pria itu hanya diam saja dan terus menatapnya. Apa ada yang salah dengan penampilannya?
"Pernikahan kalian akan dilaksanakan satu bulan lagi, semuanya akan di persiapkan oleh keluarga besar."
Hanya anggukan pelan yang Safira berikan, jujur Ia sedih sekali. Di umurnya yang baru menginjak usia dua puluh dua tahun, apakah Ia akan segera melepas masa lajangnya?
Sedangkan Kakaknya bahkan masih bisa menikmati masa muda dan bebas. Tak apa, Safira ikhlas mungkin dengan ini mereka bisa memaafkannya.
---
Maafkan semua sikap Papa, mungkin selama ini Papa tidak bisa menjadi sosok orang tua yang baik untuk kamu. Safira percayalah nak, Papa sangat menyayangimu. Kau adalah putri kecil kesayangan kami. Bahagialah sayang, kami semua mencintaimu.
Safira terisak setelah membaca sepucuk surat terakhir dari sang Papa yang kini sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Papanya meninggal karena mengalami kecelakaan pesawat saat akan kembali ke Indonesia setelah perjalanan bisnisnya di Singapura.
Ini sudah seminggu Papanya meninggalkannya, dan Safira masih belum bisa mengikhlaskan. Walaupun selama ini Papanya selalu acuh padanya, tapi Ia sangat menyayangi pria itu.
Surat ini baru Safira temukan di kamar mendiang Papanya, Ia tak menyangka ternyata selama ini Papanyapun menyayanginya. Safira bahagia, tapi Ia butuh pria itu disini sekarang.
"Suamimu menunggu di bawah, dia sudah membawa semua barangmu."
Safira melihat Via yang berdiri di samping ranjang yang Ia duduki. Wanita itu menghapus air matanya sebelum berdiri, saat akan keluar kamar pergelangannya di tahan.
"Aku minta maaf tidak bisa menjadi Kakak yang baik."
Safira menatap bingung Kakaknya dan terkejut saat wanita itu memeluknya. "Jaga dirimu baik-baik, bahagialah." Bisik Via sebelum pergi meninggalkannya lebih dulu.
Safira terdiam sesaat mendapat perlakuan itu, selama ini Kakanya tak pernah memeluknya dan baru kali ini Ia merasakan pelukan hangat itu. Setelah lumayan lama terdiam, akhirnya Safira pergi ke bawah menyusul Radit yang sudah menunggu di dalam mobil. Setelah mobil itu berjalan keheningan sangat terasa, tidak ada obrolan sepanjang perjalanan.
Safira dan Raditya sudah menikah dan tidak terasa pernikahan mereka sudah berjalan selama satu bulan. Jujur Safira merasa bingung dengan pernikahannya ini, pria yang kini menjadi suaminya itu terlalu pendiam dan terkesan cuek. Mereka memang serumah, tapi mereka seperti orang asing yang saling canggung.
Terkadang Safira berpikir apa suaminya mencintainya? Tentu saja tidak, toh mereka menikah karena di jodohkan, lebih tepatnya Ia yang di jadikan alat pelunas hutang. Tapi kenapa juga pria yang tiga tahun lebih tua darinya ini mau menjadi suaminya?
"Kenapa kita kesini dulu?" Tanya Safira bingung saat mobil yang mereka kendarai berhenti di depan salah satu tempat makan mewah.
"Turun, kita makan malam di sini saja."
Safira menghela nafasnya pelan, tak bisakah Radit bersikap manis sedikit saja kepadanya? Pria itu sangat kaku.
Selama makanpun tak ada obrolan yang keluar dari mulut mereka, hanya dentingan piring yang beradu dengan sendok yang menemani. Restoran ini pun tak terlalu ramai, tapi tempatnya sangat mewah dan elegan.
"Raditya?"
Repleks Safira mengangkat kepalanya menatap heran seorang wanita cantik berpakaian seksi yang berdiri di samping meja makannya.
"Mina?"
"Hai."
Radit langsung berdiri dan memeluk wanita itu, Ia tak menyangka mereka akan di pertemukan lagi di tempat ini.
"Kau di Indonesia?" Tanya Raka.
"Iya aku sudah seminggu disini."
"Benarkah? Kenapa tidak mengabariku? Sekarang tinggal di..."
Obrolan mereka terus berlanjut tanpa sadar jika Safira yang dari tadi melihatnya merasa cemburu, hatinya sesak melihat suaminya terlihat sangat akrab dengan wanita itu. Radit bahkan terlihat banyak bicara dan ceria, berbeda sekali saat bersamanya. Tak terasa setetes air mata menetes di pipi Safira, karena tidak mau di lihat suaminya, Iapun memilih pergi ke toilet.
Sakit sekali saat melihat orang yang kau cintai terlihat lebih dekat dengan wanita lain. Ya Safira mengakui jika Ia sudah mencintai Raditya, mencintai suaminya sendiri. Entah sejak kapan, tapi Ia tak tahu apakah Raditpun mencintainya. Sedangkan selama ini pria itu seolah tak peduli padanya.
Sikap Radit kembali mengingatkannya pada perlakuan keluarganya. Tak cukupkah Safira selama ini menderita? Ia juga ingin bahagia.
Mama kenapa harus kau yang pergi, kenapa bukan aku saja? Aku lelah..
Setelah pulang dari restoran itu, hubungan Safira dan Raditya masih sama saja, hambar. Sebenarnya Safira mencoba memaafkan, tapi Ia masih sakit hati. Raditpun tak meminta maaf padanya, pria itu malah seperti tidak merasa bersalah.
Sore ini Safira sudah cantik dengan kemeja bermotip bunga dan rok selutut berwarna navy, tak lupa dengan make up tipisnya. Ia akan pergi belanja bulanan, apalagi makanan di kulkas sudah hampir habis.
Safira pergi di antar supir di rumah. Sebenarnya kalau di ingat Radit perhatian juga. Memberikan uang bulanan yang sangat banyak, kendaraan, bahkan mengijinkannya jalan-jalan kemanapun.
Saat lampu lalu lintas berwarna merah, Safira menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia melirik keluar jendela dan matanya langsung terbelak melihat sosok familiar sedang berada di dalam toko bunga.
Di sana ada Radit sedang bersama wanita kemarin yang Ia tahu bernama Mina. Mereka terlihat sedang memilih bunga, senyuman pun tak luntur dari kedua orang itu. Safira memegang dadanya saat merasakan denyutan sakit disana. Apa mereka memiliki hubungan spesial atau sudah bersama sebelum menikah dengannya?
Safira menutup wajahnya dan terisak, kenapa Radit jahat padanya? Jika tidak mencintainya kenapa pria itu mau menikah dengannya?
"Nyonya Anda tidak papa?"
"Pak kita hiks pulang saja ya?"
---
Safira membuka matanya perlahan, kamarnya sudah dalam keadaan terang. Sepertinya sudah malam, berapa lama Ia tertidur? Kepalanya menoleh untuk melihat jam yang ternyata waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Wanita itu beranjak dari berbaringnya untuk turun ke lantai bawah karena merasa haus, menangis berjam-jam menguras tenaga juga. Tetapi langkah Safira terhenti melihat dekorasi di lantai satu yang sangat indah, banyak balon juga lilin dimana-mana, lalu kelopak bunga mawar yang bertebaran di lantai. Lampu temaram dan satu meja kecil di tengah tidak lupa dengan makanannya, romantis sekali.
"Selamat ulang tahun Safira Prameswari."
Suara itu membuat Safira membalikan badannya, Ia melihat Radit yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya. Malam ini pria itu terlihat sangat tampan sambil memegang buket bunga mawar merah besar.
"Kau sangat nyenyak tidur." Ucap Radit sambil tersenyum manis, Ia lalu menyerahkan buket bunga pada Safira. "Selamat ulang tahun Istriku yang cantik."
Safira masih diam, Ia terlalu syok dengan yang terjadi sekarang. Apa Ia sedang bermimpi? Kenapa suaminya terlihat sangat berbeda?
"Ini bukan mimpi." Desah Raditya. Pria itu menyimpan buket bunga di meja lalu menggenggam kedua tangan Istrinya.
"Maaf jika selama ini aku bersikap dingin padamu, tapi percayalah aku mencintaimu." Radit berdehem pelan. "Mungkin terdengar aneh, tapi saat bersamamu aku selalu gugup tak tahu harus bersikap bagaimana. Sekarang aku ingin berubah dan memperbaiki hubungan kita."
Safira menggeleng pela. "Bohong." Ucapnya lirih.
Radit membawa wanita itu ke pelukannya. "Maaf, kau pasti sangat menderita karena sikapku. Aku hanya masih tidak percaya menikahi wanita yang aku cintai."
Jangan beranggap kalau Raditya berbohong, semua perkataannya itu sungguhan. Masih ingat di kepalanya dulu saat meng-ospek Safira, gadis itu berbeda dari yang lain. Walaupun pendiam dan suka memyendiri, tapi pesonanya mampu menarik hatinya. Pertama Ia jatuh cinta saat Safira menyelamatkannya saat berkemah, jika tidak ada gadis itu mungkin Ia sudah jatuh ke dalam jurang. Safira tidak mengingatnya karena Istrinya itu sangat cuek saat kuliah.
Safira akhirnya membalas pelukan suaminya, Ia percaya pada pria itu. Tapi sejenak wanita itu terdiam saat teringat sesuatu. "Tapi kau mencintai Mina."
Radit tersenyum geli mendengarnya, Ia mencubit pipi merah Istrinya. "Dia sepupuku sayang, mana mungkin aku menyukai keluargaku sendiri."
"Benarkah?"
"Iya, Mina kuliah di luar negeri jadi dia tidak bisa hadir di acara pernikahan kita. Sudah jangan menangis lagi, lihat matamu bengkak."
Safira memukul pelan bahu Radit. "Tapi mas juga yang bikin aku nangis." Kesalnya.
"Hehe iya maaf, aku juga bingung karena sudah lama menyukaimu. Aku hanya tidak menyangka kita bersama."
Raditya janji akan menceritakan semuanya, termasuk alasan mereka menikah. Pasti Istrinya itu menyangka hanya di jadikan alat pelunas hutang keluarganya, padahal kenyataannya tidak begitu. Aditya tulus mencintai Safira dan ingin menjadikan pendamping hidupnya. Hutang itu hanya di jadikan peluang baginya untuk bersama Safira, sungguh Ia tidak mempermasalahkan hutang keluarga Istrinya.
"Jangan berubah lagi."
"Iya sayang, aku mencintaimu."
"Aku juga."
Tamat.