Tantangan tema dari : Arbansa Film 🙏
Terimakasih hantu gentayangan
****************************
Desa Senja berada tidak jauh dari bukit hijau, sebuah desa yang khas dengan pemandangan alam yang indah. Pepohonan rimbun menghiasi sepanjang jalan desa.
Semua rumah di desa senja tertutup rapat, pepohonan rimbun yang ada seakan menutup rumah penduduk. Kendaraan hilir mudik dari luar kota berhenti di halaman masing-masing rumah dan pengendara bergegas turun langsung masuk ke dalam rumah. Jika ada yang mengamati cermat maka keganjilan di desa senja akan terlihat karena nyaris tidak ada penduduk yang terlihat berada di jalan atau sekedar dihalaman rumah.
Dibalik keindahan desa senja siang hari tersimpan kesuraman yang sudah berasal turun temurun. Ketika malam tiba, pepohonan rimbun menyerupai kanopi seakan membentuk terowongan gelap tanpa ujung.
Desa ini terkenal dengan desa para dukun. Semua dukun ternama terkonsentrasi dalam desa Senja.
Dahulu desa Senja hanya dihuni dukun yang disebut komunitas dukun nurani, mereka terdiri dari dukun obat yang bekerja untuk mengobati orang sakit, dukun beranak, dukun urut, dukun perjodohan. Sampai suatu hari datang seorang bernama dukun Kumbara. Para dukun nurani tidak tahu keahlian dukun Kumbara. Mereka menerima keberadaan dukun Kumbara dengan terbuka.
Lambat laun mereka menyadari aura hitam dan jahat yang selalu menyelimuti kediaman dukun kumbara. Mereka terlambat mengetahui dukun Kumbara memiliki keahlian mantra guna santet, pelet, ilmu hitam, pesugihan serta bersekutu dengan jin. Keberadaan dukun Kumbara di ikuti dukun lainnya yang memiliki kemampuan serupa.
Terlambat untuk mengusir dukun Kumbara karena telah banyak kematian yang berakhir tragis ditangannya ditambah arwah para tumbal berada di sekeliling kediaman dukun kumbara. Para dukun nurani tidak memiliki keahlian beladiri dan ilmu kanuragan mereka bekerja dengan hati nurani dan keahlian alami. Ketakutan mulai dirasakan penduduk desa dan dukun nurani.
Perlahan tapi pasti aroma menyan dan suara-suara misterius mulai menjalar hampir ke seluruh desa. Pemukiman dukun nurani dan dukun kumbara yang dipisahkan sungai kecil mulai terasa imbas untuk para dukun nurani.
Penyakit misterius mulai menjakiti anggota keluarga mereka, merenggut jiwa tidak bersalah. Suara misterius, jeritan tengah malam, lolongan anjing menimbulkan ketakutan penduduk Senja.
Para dukun nurani dan anggota keluarga lainnya satu persatu meninggalkan desa hanya tinggal dukun obat dan dukun beranak yang tersisa. Kakek Satya sang dukun obat belum bisa pindah karena putrinya tinggal menunggu hari untuk melahirkan. Dukun beranak yang tinggal seorang diri tidak tega untuk meninggalkan tetangganya tersebut.
Pada masa itu kendaraan masih terbatas sedangkan suami putrinya sudah meninggal tidak lama setelah putrinya hamil.
Semakin mendekati kelahiran putrinya, Kakek Satya mulai merasakan ada kekuatan mistis jahat mendekati kediamannya lalu dia bergegas melakukan tirakat. Sampai di suatu malam kakek Satya mendapat mimpi berupa keberadaan kartu garansi kematian. Sebuah bisikan dalam pikirannya membisikan untuk ke halaman belakang rumahnya. Kakek Satya mendapatkan lempengan batu berbentuk persegi kehitaman. Terasa dingin dan cukup berat. Dia meyakinkan itulah kartu garansi kematian.
Kakek Satya tidak tahu bagaimana cara kerjanya kartu garansi kematian yang pasti gangguan yang sering dirasakan setiap malam berkurang lalu menghilang. Putrinya tidak pernah lagi menjerit ketakutan setiap malam atau mencoba membenturkan diri ke dinding. Jelas hal itu berbahaya untuk ibu hamil.
Kartu garansi kematian disimpan Kakek Satya dalam salah satu lemari di kamar putrinya. Terkunci dengan aman. Dia hanya memberitahukan kepada Nenek Isa mengenai hal ini.
Tidak lama kemudian dengan dibantu Nenek Isa sang dukun beranak. Putrinya melahirkan bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Mereka bernama Andi dan Adinda, setelah usia si kembar 4 tahun. Ibu mereka wafat. Kakek Satya mulai merasakan kekuatan jahat perlahan menguasai sebagian rumah.
Kediaman Kakek Satya berada diantara pemukiman dukun nurani dan dukun Kumbara. Keganjilan mulai dirasakan kakek Satya dan dukun beranak yang bersebelahan rumah. Mereka selalu gagal ketika hendak meninggalkan desa. Dari badai yang tiba-tiba datang atau kerusakan dari peralatan yang dibawa mereka mendadak sakit sehingga tidak bisa beranjak dari ranjang.
Ketika si kembar berusia 10 tahun kakek mereka wafat, sejak itu si kembar berada dalam asuhan Nenek Isa.
Sekarang usia si kembar menjelang 17 tahun. Kakek beradik itu tumbuh menjadi remaja yang cerdas, mereka mulai tidak betah berada di desa. Aroma kemenyan, suara misterius, lolongan anjing di tengah malam bahkan jeritan yang tidak diketahui asalnya seakan menjadi kesehariannya. Mimpi buruk semakin sering hadir menimbulkan ketakutan di hati mereka.
Selama ini mereka bekerja membantu dukun beranak tetapi jaman sekarang orang yang hendak melahirkan sudah jauh berkurang. Kakak beradik itu berniat untuk pergi dari desa tetapi mereka tidak memiliki keahlian beladiri dan ilmu kanuragakan sedangkan teror misterius perlahan mulai mencengkram mereka setiap malam dan semakin nyata menimbulkan ketakutan di hati mereka.
Suara desisan angin malam memasuki kamar Adinda, membelai tubuhnya lalu perlahan udara malam itu tiba-tiba menjadi amat dingin mencekik leher Adinda. Mencengkram erat, mempersempit udara untuk masuk ke paru-paru. Setelah berjuang mati-matian untuk bangun, Adinda baru berhasil tersadar dari tidurnya. Dia meraba lehernya yang terasa sakit dan ketika bercermin tampak bayangan biru samar melingkar lehernya.
Sedangkan Andi akhir-akhir ini ketika terlelap tidur merasakan tubuhnya begitu berat seakan ada batu ratusan ton menimpa tubuhnya. Dia berusaha memberontak tetapi rasa berat itu semakin terasa menekan dadanya. Setelah sekian lama akhirnya dia tersadar dari tidurnya. Lengan serta dadanya terasa sakit ketika dia bangun, keesokan harinya ada lebam biru samar terlihat.
Andi dan Adinda mulai tidak betah lagi, mereka berusaha menghentikan mobil yang lewat tetapi tidak ada kendaraan yang mau berhenti bahkan ketika Andi nekat berada di depan jalan agar terlihat. Dia nyaris tertabrak.
Keanehan pun berlanjut ketika mereka pergi dari rumah dengan berjalan kaki. Adinda merasakan kakinya dicengkram kuat lalu ia terjatuh sehingga keseleo menyakitkan sedangkan Andi merasakan pukulan kuat menghantam kepalanya lalu dia pingsan.
Semakin hari teror yang mereka terima semakin nyata, seakan siap menyajikan kematian tragis. Mereka pun kesulitan untuk pergi dari desa. Dengan rasa takut mereka bergegas ke rumah Nenek Isa sang dukun beranak.
"Nek, Adinda sudah tidak tahan ingin pergi dari desa Senja ini".
"Kami sudah merasa ketidaknyamanannya yang mulai mengusik"
Nenek Isa memandang kakak beradik yang telah diasuhnya dari usia 10 tahun lalu selintas pikirkan menghampiri Nenek Isa.
"Kalian menjelang usia 17 tahun bukan? kapan kalian genap berusia 17 tahun?".
"Dua minggu lagi, Nek". Nenek Isa melihat leher Adinda tampak biru yang semakin jelas baru berapa hari lalu biru itu tampak samar. Begitu pula dengan lengan Andi.
"Apakah kakek kalian pernah menceritakan tentang kartu garansi kematian?".
"Tidak Nenek, kami belum pernah mendengarkan".
"Kakek kalian menceritakan kepada nenek kalau kartu garansi kematian yang menyelamatkan kalian saat dilahirkan". Andi dan Adinda saling berpandangan.
"Ambil lah ini kunci untuk membuka lemari di kamar ibu kalian disitu tersimpan kartu garansi kematian. Kartu itu hanya memberikan garansi usia kalian sampai 17 tahun jika ingin memperpanjangnya kalian harus memusnahkan dukun Kumbara". Andi terhenyak bagaimana caranya.
"Kami tidak mempunyai keahlian bela diri apalagi ilmu kanuragan" Adinda tampak kebingungan
"Kami tidak tahu bagaimana cara menggunakannya kartu tersebut".
"Sejatinya Kakek Satya dan Nenek Isa pun tak tahu bagaimana kartu ini bekerja tetapi menjelang hari kelahiran kalian. Gangguan yang kalian terima menghilang karena keberadaan kartu ini".
Andi dan Adinda pulang dari rumah Nenek Isa dengan menyimpan tanya. Bagaimana cara kartu garansi kematian ini bekerja?
***********************
Hari demi hari terlewati besok adalah hari ulang tahun Andi dan Adinda tapi mereka belum tahu bagaimana menggunakan kartu garansi kematian dan memusnahkan dukun Kumbara tapi tiba-tiba Adinda teringat sesuatu.
"Kak Andi apakah kakak masih ingat perkataan Ibu ketika kita masih kecil yang selalu dikatakan ketika kita takut".
"Sebenarnya Kakak tidak terlalu ingat karena saat itu kita masih berusia 4 tahun tapi kemarin Aku menemukan tulisan ini di bawah laci dimana kartu garansi berada. Ini tulisan Ibu".
"Sepertinya Kakak tahu cara menaklukan dukun Kumbara". Mata hitam Andi berkilat tajam dan Adinda menangkap maksud dari kakak kembarnya yang lahir berbeda detik dengan dirinya.
*****************************
Keringat dingin kakak beradik tersebut mengucur deras. Mereka telah tiba di kediaman dukun Kumbara, rasa takut menjalar Andi dan Adinda tetapi mereka memaksa diri terus melangkah. Pintu gerbang kediaman dukun kumbara yang terbuka telah mereka lewati, halaman rumah dukun kumbara yang di tumbuhi pohon besar membuat suasana siang menjadi gelap. Gesekan daun kering yang menumpuk seperti melantunkan lagu kesedihan.
Andi dan Adinda berada di depan teras dukun kumbara, sang dukun duduk di teras rumah seakan sudah tahu kedatangan si kembar, ia menggunakan topi pandora yang menutupi wajahnya. Suara berat dengan tawa merendahkan terdengar.
"Bocah kecil kalian telah remaja. Sudah lama Ku nantikan kehadiran kalian".
Setelah mengucapkan kalimat itu. Adinda dan Andi merasakan tubuh mereka begitu berat untuk bergerak. Terasa ada rantai tak kasat mata menjerat mereka kuat, jeratan itu semakin memanas membuat tubuh Andi dan Adinda mulai memerah. Kulit Andi tampak sedikit terkelupas.
"Aaarrrghhhhhh.. Adinda tolong Aku". Adinda menatap kembarannya. Dia merasakan hal yang sama, rasa sakit yang terjerat oleh sesuatu tak tampak dimata.
"Eerrrrgggh.. Lepaskan kami". Susah payah Adinda mengeluarkan suaranya.
Dukun Kumbara mengangkat topi pandora nya. Adinda terkesiap bukan kah dia sudah ada saat kakek nya dulu masih hidup mengapa dukun Kumbara begitu muda dan tampan. Adinda dan Andi terus memberontak.
"Diamlah.. Bekerjalah untuk Ku. Aku akan memberi kalian kekayaan,kekuasaan anggaplah sebagai hadiah ulang tahun". Suara dukun kumbara merayu lembut.
"Kau laki-laki iblis, Aku tak sudi bekerja dengan mu". Adinda tidak terbuai akan perkataan dukun kumbara. Jeratan yang kuat ditubuhnya menimbulkan kemarahan memusnahkan rasa takut yang selama ini bergelayut dihatinya.
"Kau wanita laknat enyahlah dari desa kami". Mata Andi berapi-api, keberanian tampak membara dalam kilatan matanya.
Andi dan Adinda saling bertatap ketika mereka berteriak bersamaan. Sadarlah mereka apa yang dilihat mereka ada lah hal berbeda. Ilusi akan sosok tampan dan cantik hanya kebohongan untuk menjerat mereka. Adinda mengedipkan mata memberi kode pada Andi
"Kau hanya pengecut, lihat saja mengalahkan bocah cuma duduk di kursi tanpa berdiri. Kau pasti takut Ku hajar bukan". Andi berkata merendahkan.
"Kau bocah sialan". Dukun kumbara segera berdiri dari posisi duduknya, sekian detik terasa jeratan melemah. Kesempatan berharga ini tidak di sia-siakan keduanya. Adinda maju sedikit lalu melemparkan kartu garansi kematian ke arah Andi dengan tangkas Andi menangkap kartu tersebut.
Andi berlari sekencang mungkin lalu melempar kartu garansi kematian ke arah mata dukun kumbara. Kartu itu mengenai mata dukun kumbara, tampak bayangan hitam disekitar dukun mulai mengelilingi kakak beradik ini menciptakan kabut hitam gelap.
Rasa panas kembali menjalar, ketakutan merayap di hati Andi dan Adinda tapi keduanya tetap maju bergerak. Adinda menarik kursi kayu di teras dalam samar kabut dia melihat bayangan dukun kumbara lalu ia melempar ke arah sang dukun ketika si dukun terhuyung. Andi menghajar dengan pukulan bertubi.
"Tolong.. tolong hentikan". Andi terhenyak ketika melihat dukun kumbara yang tersungkur sambil menahan kedua tangannya. Dia hanya kakek tua keriput dengan kulit menghitam.
Andi dan Adinda tahu kekuatan dukun Kumbara telah lenyap. Sekarang mereka bernapas lega.
*****************************
JIKA KETAKUTAN MENYERANG JANGAN PERNAH MUNDUR, BERDIAM DI TEMPAT LEBIH BAIK. MELANGKAH WALAU SEDIKIT JAUH LEBIH BAIK, TERUS MELANGKAH ITU PILIHAN TERBAIK.
Catatan dari Ibunya itulah yang diyakini Andi dan Adinda. Seyogyanya teror yang dilancarkan Dukun kumbara untuk menciptakan ketakutan telah menghancurkan keberanian penduduk desa. Ketakutan yang mendatangkan pikiran dan memperkuat aura jahat menjadi nyata.
Andi dan Adinda yakin bukan kartu garansi kematian menyelamatkan mereka tetapi rasa sayang terhadap bayi yang dikandung menimbulkan keberanian pada diri ibunya. Suatu kebetulan bersamaan dengan mimpi kakek akan kartu garansi kematian.
Nenek isa juga meyakini pendapat kakak beradik ini. Kartu Garansi kematian hanya lempengan batu biasa karena aura jahat kembali masuk ketika Ibu Adinda dan Andi telah pergi. Ketakutan kakek Satya lah yang membuat aura itu kembali meneror kehidupan mereka.
Sekarang desa Senja kembali dihuni para dukun nurani. Kekalahan dukun kumbara membuat dia dan pengikut terusir dari desa.
Ketakutan adalah hal yang alami tetapi mengatasi ketakutan itulah tercipta keberanian dengan akal.
Keberanian dan kasih sayang kakak beradik itu mengalahkan kekuatan jahat yang telah lama mengakar. Desa Senja kembali dengan keindahan tanpa kesuraman.