"T-terimalah surat ini..!"
Seorang gadis populer dari Sekolah Fritina memberikan sebuah surat kepada laki-laki yg sama sekali tak mengenalnya.
"Baiklah..?"
Laki-laki itu langsung menerima surat darinya itu.Sesaat setelah dia menerimanya,Gadis itu langsung berlari secepat mungkin.Laki-laki tersebut sangat kebingungan dengan tingkah laku gadis itu.
Siang harinya,Laki-laki itu pergi ke rooftop untuk makan siang sekalian membuka isi surat yg diberikan oleh gadis tadi padanya.
Setelah ia membuka isi suratnya...
"Apa?!Pernyataan cinta..?!"
Laki-laki itu nampak sangat kaget karena isi surat itu yg merupakan pernyataan cinta dari gadis tadi.
Isi suratnya:
Kau mungkin belum mengenalku.Tapi,kau menarik perhatianku sejak awal kau memasuki sekolah ini.A-aku tau ini tidak sopan.Tapi,Aku sepertinya punya perasaan terhadapmu.Dan juga,Uhmm..Tolong temui aku di Taman Emerald jam 8 malam ya.Ada banyak hal yg ingin kusampaikan<3
"Dia pasti bercanda kan?Kenapa seorang gadis populer sepertinya mau aku untuk menjadi pacarnya?"
Pikirannya terus dipenuhi akan tanda tanya akibat pernyataan cinta darinya itu.
Sesuai dengan poin terakhir di isi suratnya,Dia kemudian berangkat ke Taman Emerald pada jam 8 malam.Disana ia melihat gadis itu dari kejauhan,Dengan cepat laki-laki itu berjalan ke arahnya.
DISANA...
"Ah,Kau sudah datang rupanya!"
Gadis itu tampak kegirangan karena melihatnya sudah datang disana.
"Sebenarnya apa maksud dari suratmu itu?"
"A-aku sebenarnya punya perasaan terhadapmu.Aku sudah memperhatikanmu dari awal kau masuk sekolah itu.Jika kau belum mau menerima pernyataan cintaku,Bagaimana kalau kita berteman dulu?"
Laki-laki itu kemudian mengangguk tanda ia menerima hubungan pertemanan antara dia dan gadis itu.
"Namaku adalah Gladis Larias.Kau bisa memanggilku dengan sebutan Gladis"
"Kalau begitu,Namaku adalah Vin Ikmus.Dan juga kau bisa memanggilku dengan nama Vin"
"Salam kenal.."
Keduanya kemudian mulai berteman sejak hari itu.Gladis lalu berkata kepada Vin untuk menemaninya selama beberapa waktu ke depan sambil berjalan-jalan bersama.
Vin menyanggupi permintaan dari Gladis lalu pergi menemaninya.
~~~~~~~~~~~~~
BESOKNYA...
"Apa-apaan kau berani mendekati Gladis!"
Kata seorang laki-laki dengan marahnya sambil menendang Vin sampai menghantam locker.
Vin tak bisa berbuat apa-apa karena fisiknya yg lemah.Dia hanya bisa menerima semua kekerasan fisik yg dilancarkan kepadanya.
*TAP TAP TAP*
Dari arah lain,Gladis berlari dengan kencangnya kemudian langsung memukul wajah dari laki-laki yg melukai Vin.
"Enyahlah darisini sebelum aku membuat kalian tak bisa bangun daari tempat tidur.."
Ancam Gladis sambil menatap mereka dengan sorot mata yg sangat tajam.
Gerombolan laki-laki yg tadinya melukai Vin langsung lari terbirit-birit karena takut akan Gladis.
"Kau tidak apa-apa,Vin..?"
Gladis mengulurkan tangannya ke arah Vin yg sedang duduk dengan lemahnya di dekat locker.
*BRUK*
Vin kehilangan kesadarannya dan akhirnya terjatuh ke pelukan Gladis.
"Relus,Gray..Tolong bantu aku membawa Vin ke Klinik Sekolah.Cepat!"
Kedua teman Gladis dengan sigap menggotong Vin untuk dibawa ke Klinik Sekolah.
~~~~~~~~~~~~~
SESAMPAINYA DISANA...
"Apakah dia terluka parah,Bu?"
Gladis bertanya dengan khawatirnya kepada suster yg bertugas di Klinik Sekolah itu.
"Tidak ada yg parah,Gladis.Dia hanya terluka di beberapa bagian saja tapi tidak terlalu parah"
"Syukurlah"
Gladis bersyukur karena Vin tidak menderita luka yg cukup parah dan hanya menderita luka ringan.
"Ngomong-ngomong,Kenapa dia bisa jadi seperti ini?"
Suster itu bertanya karena sangat penasaran bagaimana Vin bisa terluka sampai kehilangan kesadaran seperti itu.
"Sebenarnya tadi dia dipukuli oleh beberapa mulid lainnya.Tapi dia tidak bisa membalas.Kemungkinan kondisi fisiknya lemah,Jadi dia tak berani melawan"
Sorot mata Gladis langsung berubah menjadi sangat sedih karena Vin belum kunjung bangun dari pingsannya.
"Kau kembali saja ke kelas.Saat dia sudah bangun nanti,Akan kuberitahukan semuanya kepadanya"
"Baiklah kalau begitu,Bu"
Sesaat sebelum Gladis benar-benar meninggalkan Klinik Sekolah,Ia berbalik sebentar kemudian bergumam..
"Jaga diri baik-baik ya,Vin.Maaf sudah membuatmu terkena musibah seperti itu.."
Gladis lalu kembali ke kelasnya.
1 JAM KEMUDIAN...
"Uhh..Dimana aku..?"
Tanya Vin di dalam hati sambil celingak-celinguk melihat ke sekitar.
"Ah,Kau sudah bangun"
Suster yg tadi merawat Vin kemudian tiba-tiba datang dari luar ruangan itu.
"Bagaimana saya bisa ada disini?"
"Gladis dan kedua temannya yg membawamu kesini saat kau pingsan"
Jelas suster itu sambil tersenyum.
"Hahh..Seharusnya aku tak merepotkan Gladis untuk urusan sepele seperti ini"
Katanya di dalam hati sambil menepuk dahinya.
"Karena kau sudah baikan,Bagaimana kalau kau kembali ke kalasmu sekarang?"
"Tentu"
Vin kemudian pergi meninggalkan suster itu sendirian di Ruangan Klinik Sekolah.
~~~~~~~~~~~~~
SORENYA...
"Vin!"
Panggil Gladis dari kejauhan sambil tersenyum riang.
"Gladis..?"
Vin lalu berbalik ke arah Gladis dengan ekspresi sedikit bersalah karena tadi merepotkannya.
*BUGH*
Gladis langsung memeluk erat Vin dengan perasaan yg amat senang.
"E-eh..Gladis!"
Wajah Vin memerah karena dipeluk oleh Gladis dengan eratnya.
"Maafkan aku karena telah membuatmu kerepotan!"
Gladis terisak karena baginya dia telah membuat Vin menanggung beban berat akibat dirinya yg terus-terusan berdekatan dengan Vin.
"Seharusnya aku yg meminta maaf padamu karena sudah repot-repot membawaku ke Klinik Sekolah"
Kata Vin sambil menggaruk-garuk kepalanya yg tidak gatal.
"Sudahlah,Sekarang ayo kita pulang"
"Sebelum itu,Bisakah kau melepaskan pelukanmu dulu..?"
Vin berusaha menutupi wajahnya dengan tangan sambil melihat ke arah lain.
"A-ah maaf,Aku sudah berlaku tidak sopan lagi"
Akhirnya mereka berdua pulang bersama tapi dalam situasi yg cukup canggung karena sikap mereka satu sama lain yg seperti pacar dan bukannya teman.
BEBERAPA MINGGU KEMUDIAN...
"Ada apa..Vin?"
Gladis tersenyum dengan manisnya seperti mengharapkan sesuatu dari Vin.
"A-aku sepertinya sudah jatuh hati kepadamu.Aku uhmm..
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya,Gladis yg seakan sudah tahu akan apa yg dikatakan selanjutnya oleh Vin langsung menjawab "Iya!"
"B-benarkah?"
Vin nampak tak percaya akan perkataan Gladis yg hampir membuat jantungnya copot.
"Kau tahu kan kalau hari ini adalah hari yg kutunggu-tunggu sejak hari itu!"
Gladis tanpa berpikir panjang langsung memeluk Vin dengan eratnya sampai membuat Vin sesak napas.
"Terima kasih.."
Bisiknya pelan di telinga Gladis yg sedikit memerah..
~The End~