Tema oleh : Angel Belinda Beloved
...
Angela adalah gadis cantik berusia 6 tahun yang sangat menyukai hal mistis. Berbanding terbalik dengan hobinya yang suka mendengarkan cerita horor, dia justru adalah gadis penakut yang akan berkata "Semoga aku tidak pernah melihat wujud mereka."
Sebenarnya Angela memiliki kemampuan mata batin yang tidak ia sadari, namun kemampuan tersebut belum sepenuhnya terbuka. Dia hanya mampu merasakan kehadiran sosok lain disekitarnya. Gadis cilik itu hanya bisa melihat sosok 'mereka' dalam bentuk bayangan buram di pandangan mata batinnya.
"Ma, kita jadi pergi kerumah nenek ?" Angela menghampiri mamanya yang sedang memasukkan beberapa baju kedalam koper.
"Iya, Sayang. Kita harus kesana secepatnya!" ucap Siska, mama Anggela yang tengah terlihat sibuk.
"Ma, Angela aneh deh. Masa setiap kali kerumah nenek Angela mimpi buruk terus, Ma." Angela mulai berceloteh sembari memainkan boneka yang akan dibawanya.
"Sayang, makanya kalau tidur jangan lupa baca doa dulu." Siska tersenyum seraya membelai rambut panjang putrinya.
Angela tak meneruskan kalimatnya. Padahal ia ingin bercerita tentang mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya kala malam tiba, saat ia menginap di rumah sang nenek.
"Ma, sudah belum beres-beresnya?" teriak papa Anggela, laki-laki berusia 36 tahun yang bernama Dodi.
"Sudah, Pa!" Siska keluar rumah dengan menggandeng putri cantiknya yang sedari tadi hanya menunjukkan wajah suram.
"Eh, Putri Papa kenapa kok keliatan gak seneng? Kan kita mau kerumah Nenek," ucap Dodi sembari menggendong tubuh anggela yang mungil.
"Biasa lah pa, Anggela gak kerasan di rumah Ibu," ujar siska dengan nada lembut.
"Yaudah kita berangkat Sayang ya." Dodi tersenyum dan mengecup kening putrinya. Ia membantu angela masuk ke dalam mobil untuk duduk di kursi belakang.
Mereka bertiga pun berangkat menuju rumah nenek Angela, yaitu ibu dari Siska. Disepanjang perjalanan, Anggela hanya duduk terdiam memeluk boneka Teddy Bear kesayangannya. Ia tak terlihat bahagia sedikit pun, kecuali hanya menampakkan lengkungan bibirnya yang cemberut yang setia menghiasi wajah manisnya. Bahkan ia tak ragu untuk bersikap dingin saat menjawab perkataan kedua orang tuanya.
Anggela menghela nafas panjang. Ia gelisah harus mengalami malam-malam yang menakutkan lagi saat berada di rumah sang nenek. Gadis itu hanya berharap bahwa ia tak akan mendapat mimpi buruk seperti yang dialami sebelumnya. Ketakutan di dalam hati dan pikirannya, membuat Angela lelah dan akhirnya tertidur pulas di dalam mobil.
Setelah 3 jam menempuh perjalanan, Angela sampai di rumah sang nenek. Ia dibangunkan oleh mamanya dan langsung bergegas turun dengan malas-malasan.
Anggela menatap bangunan rumah neneknya yang terlihat kuno dan menyeramkan. Bagian dinding terbuat dari susunan kayu bercat putih yang terlihat usang karena lumut yang menempel. Jendelanya tak memiliki kaca dan hanya ditutup dengan pintu kayu seukuran jendela tersebut.
Angela mengedarkan pandangannya kesegala penjuru disekitar rumah sang nenek. Pohon tua yang hampir tak memiliki daun itu pun tak luput dari asumsinya, yang mengatakan bahwa hampir setiap sudut dirumah sang nenek pasti memiliki penunggu yang jahat, pikir Angela.
Tak lama kemudian muncullah seorang wanita tua berusia sekitar 60 tahun, yang berjalan keluar pintu dengan tongkat kayu di sebelah tangannya.
"Angela ...," panggil wanita tua itu sembari tersenyum, menampakkkan garis-garis kerutan di wajahnya.
"Nenek ...." Anggela berlari menghampiri sang nenek dan melupakan sejenak ketakutannya.
Wanita itu mempersilahkan mereka semua untuk masuk. Lagi-lagi, Angela diliputi rasa ngeri saat memasuki rumah sang nenek. Ia merapatkan tubuh mungilnya pada sang papa dan menggenggam erat tangan pria itu. Melihat hal itu Dodi mengerti bahwa putrinya sedang sangat ketakutan.
Hari beranjak malam. Tak banyak yang mereka lakukan saat hari pertama tiba di rumah sang nenek. Setelah makan malam, Angela mengajak sang Mama untuk tidur lebih awal, karna terlalu takut dengan atmosfir suasana di rumah neneknya.
"Angela ... akhirnya kau datang, Angela ..." Suara lirih itu mendadak muncul. Mengejutkan Angela yang mencoba merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Angela ... Angela ...." Angela terkejut saat kuku jari yang hitam nan panjang menggerayangi tubuhnya dan mulai mengcengkram keras bahu mungilnya.
"Aaaah ... hosh ... hosh ... hosh ...." Lagi-lagi angela terbangun tepat tengah malam, karena mimpi buruk yang sama yang sering ia alami ketika menginap di rumah sang nenek.
Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Tenggorokannya terasa kering, dan ingin sekali menenggak air untuk membasmi kehausannya. Ia menatap letak gelas berisi air putih di meja kecil, yang terletak disalah satu sudut ruang kamar, yang jauh dari jangkauannya saat itu.
Awalnya Angela berniat turun dan mengambil sendiri air dalam gelas tersebut. Namun keinginannya dihentikan oleh rasa takutnya sendiri. Terlebih lagi keadaan kamar Angela hanya disinari oleh sebuah lampu minyak kecil, yang terletak disamping tempat tidurnya. Akhirnya gadis cilik itu pun mengurungkan niat dan mencoba untuk merebahkan tubuhnya lagi.
Srekk ... srekk ....
Angela mendengar sebuah suara misterius yang bersumber dari bawah kolong tempat tidur. Matanya seketika membulat dan melirik kesegala sudut ruangan tanpa berani menoleh sedikitpun. Ia tak berani membuat pergerakan besar.
Srekk ... srekk ....
Untuk kedua kalinya suara itu berhasil membuat nyali Angela semakin menciut drastis. Ia berusaha membangunkan kedua orangtuanya yang sedang tertidur pulas.
"Ma, Mama, Mama, bangun!" rengek Anggela dengan mengoncang-goncangkan tubuh mamanya. Namun percuma, wanita itu tak bergerak sedikitpun.
Srekk ... srekk ....
"Pa, Papa, Papa bangun Pa, ayo bangun." Gadis kecil itu hampir menangis, karena suara tersebut semakin jelas terdengar dari arah bawah kolong tempat tidurnya. Ia menggoncang-goncangkan tubuh sang papa yang tidur membelakanginya. Namun lagi-lagi Angela tak berhasil membangunkan kedua orangtuanya.
Tiba-Tiba, di ujung tempat tidur, Angela melihat jari-jari hitam muncul dari bawah kolong. Seketika kuku-kuku hitam nan panjang mulai mencengkeram erat kain alas tempat tidur mereka.
Angela ingin berteriak, namun bibirnya seolah mengatup bahkan tak dapat mengeluarkan suara sedikitpun. Tubuh mungilnya seketika menjadi kaku dan sulit digerakkan. Padahal ia sangat ingin merebahkan dirinya dan menutupinya dengan selimut. Namun ia tak kuasa karena seolah terpaku dengan penampakan seram di hadapannya.
Perlahan, makhluk itu mulai keluar dari dalam persembunyiannya. Kedua tangan hitamnya menjalar ke atas selimut yang menutupi tubuh mereka. Kain putih lusuh yang dikenakannya sedikit robek di bagian dada, sehingga Angela bisa melihat lubang pada dada makhluk itu yang mengeluarkan belatung.
Perlahan, makhluk tersebut mulai menampakkan setengah badannya. Kepalanya terbalik dan menghadap ke belakang.
KRUAK ....
Tangan hitam makhluk menyeramkan itu menyentuh dan memutar kepalanya sendiri. Sehingga suara tulang lehernya yang patah hampir membuat Angela muntah. Kini wajah hangus makhluk menyeramkan tersebut berhasil menghadap ke arah Angela. Gadis kecil itu semakin ketakutan, kala melihat kedua bola mata makhluk dihadapannya hampir keluar dengan lidah yang menjulur panjang. Mulutnya pun menyeringai lebar memperlihatkan sisi pipi sebelahnya yang robek hingga ke telinga. Perlahan tangan makhluk tersebut mulai menggerayangi selimut yang mereka gunakan. Ia mulai naik dan merangkak ke atas tempat tidur, mendekati Angela yang terbelalak melihatnya.
Angela ingin berteriak namun suara di tenggorokannya seakan hilang. Lalu, gadis itu memejamkan mata dan mulai berdoa dalam hati. Saat ia membuka mata, gadis malang tersebut terkejut karena makhluk menyeramkan itu sudah memposisikan wajahnya tepat di hadapannya.
"Aaaaaaaaaaa ...." Seketika Angela berteriak dan tak sadarkan diri.
Semua yang berada dalam rumah saat itu terbangun dan berusaha menyadarkan Angela. Nenek Angela yang juga terbangun mendengar teriakan cucunya, langsung bergegas menuju kamar tempat Angela dan orang tuanya tidur.
"Bu, kita tidak bisa menunggu lagi, kita harus segera melakukan ritualnya!" ucap Siska pada ibunya, yang tak lain adalan nenek Angela. Wanita itu segera mengangguk menyetujui permintaan Siska.
~~
Keesokan harinya, Nenek Angela mengundang orang pintar untuk membantu menyadarkan cucunya yang belum sadarkan diri dari semalam.
Tubuh Angela dibalut kain putih bak orang yang mati. Ia diletakkan diatas tikar pandan bertabur bunga 7 rupa. Bau khas dupa memenuhi seluruh ruangan tempat dilakukannya Ritual.
Siska, Dodi, dan nenek angela saling menyatukan genggaman, membentuk lingkaran di sebelah kiri Angela. Mereka memejamkan mata dan membaca mantra seperti yang diperintahkan orang pintar tersebut. Ketiganya juga dilarang membuka mata sebelum ritual selesai.
Sementara itu orang pintar tersebut mencipratkan air khusus yang telah ia siapkan. Setiap sudut ruangan ia cipratkan dengan air tersebut. Setelah selesai, dukun dengan pakaian serba hitam itu memulai ritualnya. Ia duduk bersila dekat kepala Angela.
Dukun tersebut mulai merapalkan beberapa mantra. Tubuh Angela bergetar hebat. Sementara itu Siska, Dodi, dan nenek Angela mulai merasakan kedatangan energi negatif di sekitar mereka.
Tiba-tiba Angin bertiup kencang, hingga membuat pintu jendela berhasil terbuka dengan sendirinya. Tirai-tirai berterbangan dan seketika suhu ruangan menjadi sangat dingin menusuk tulang.
Srakk ... srakk ....
Suara langkah yang seperti diseret terdengar berasal dari atap rumah dan mulai mendekat ke arah mereka. Siska, Dodi dan nenek Angela mengeratkan genggaman tangan mereka sembari merapalkan mantra dengan mata terpejam.
Srakk ... Srakk ... Bruk ...
Makhluk tersebut mencuat dari balik lubang atap dan melompat kebawah. Beberapa belatung jatuh dari lubang yang mengaga di dadanya. Ia mulai merangkak mencoba mendekati Angela dan orang-orang yang berada dalam ruangan itu, namun tubuhnya terpental. Makhluk tersebut marah dan terus berusaha mendekati mereka namun tetap tak bisa.
"Kalian membuatku marah," makhkuk itu mengeluarkan suara parau. "Anak ini adalah tumbal yang aku nantikan selama 6 tahun. Nyawa anak ini akan sepadan dengan ilmu hitam yang aku berikan pada suamimu, wanita tua. Hahaha." Teriak makhluk perempuan menyeramkan itu sembari menegakkan kembali badannnya yang terpental ke dinding.
"Aaaaaaa ...." Makhluk tersebut berusaha memecah konsentrasi untuk mengecoh mereka, dengan membuat suara jeritan mirip suara Angela.
"Angela ...." Nenek Angela berteriak.
Wanita tua itu berhasil terkecoh dan membuka mata serta melepas genggaman mereka. Kemudian makhluk tersebut dengan cepat merangkak ke arah sang nenek yang terlihat panik.
"Ibu ...." Siska berteriak tatkala melihat sosok tersebut mencengkram leher nenek Angela.
Dengan sigap orang pintar tersebut mengambil batok kelapa berisi air bercampur bunga 7 rupa yang ada di hadapannya. Ia mencipratkan ke arah makhluk tersebut sembari membaca beberapa mantra.
Kemudian diambilnya sebuah Botol kaca hitam berbentuk bulat. Seketika makhluk tersebut tersedot kedalam botol dan melepaskan cengkraman tangannya dari leher nenek Angela. Sang dukun lantas menutup mulut botol yang digenggamnya dengan penutup kayu yang dibuat secara khusus. Ia langsung membawa botol berisikan Iblis yang ditangkapnya tadi untuk dibuang ke tengah laut.
Sementara itu nenek Angela terbaring tak sadarkan diri karena Ulah makhluk jelmaan Iblis yang hampir saja membunuhnya.
~~
Beberapa jam kemudian, Angela mulai membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang sangat Asing baginya. Ia terjaga dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Eh, sayang sudah bangun." Siska segera berlari memasuki kamar begitu melihat putrinya telah sadarkan diri. "Ibu, Pa, Angela sudah bangun." Siska berteriak dari dalam kamar memanggil ibu dan suaminya.
"Angela sayang, syukurlah kamu sudah sadar." Dodi sangat senang melihat putrinya kecilnya telah sadar. Ia memeluk erat tubuh imut Angela.
"Cucu nenek sudah sadar, minum dulu ya sayang," nenek Angela memberikan segelas Air pada cucunya yang masih nampak kebingungan itu.
"Angela ada dimana ini?" tanya angela kebingungan sembari memberikan segelas air yang baru saja diminumnya.
"Loh, Ini dirumah nenek sayang. Masak kamu gak inget?" ucap siska seraya mengusap rambut putrinya.
"Sejak kapan rumah nenek menjadi bagus seperti ini? Bukankan rumah nenek terbuat dari kayu dan sangat jelek? Bahkan tak pernah ada lampu selain hanya lampu minyak. Tapi ini rumah nenek bagus dan ada lampu juga!" Angela berceloteh sembari menatap seisi ruang kamarnya yang benar-benar berbeda 360 derajat dari penglihatannya selama ini.
"Nek, Nenek jangan tinggal dirumah Nenek yang serem itu ya. Nenek tinggal disini aja. Angela takut kalau tinggal dirumah Nenek yang serem itu." Angela menggerutu pada neneknya.
Ketiga orang tersebut hanya terdiam. Mereka menyadari bahwa makhluk jelmaan Iblis itu berusaha membuat Angela menjadi gila dengan menipu pandangan mata Angela. Sama seperti kakek Angela yang meninggal setelah gila akibat dikendalikan oleh ilmu hitam yang ia pelajari dulu.
Makhluk itu juga ingin melakukan hal yang sama kepada Angela, untuk dijadikan tumbal selanjutnya. Beruntung kedua orangtua Angela segera menyadari dan membawa putrinya ke rumah sang nenek untuk segera ditangani.
Karena menurut orang pintar, makhluk tersebut hanya bisa ditangkap di kediaman nenek Angela yang juga merupakan tempat tinggal kakeknya semasa hidup dulu.
"Iya sayang, nenek gak mau tinggal di rumah jelek itu. Nenek hanya akan tinggal di rumah bagus ini ya. Jadi, Angela jangan takut lagi main kerumah nenek ya." Nenek Angela memeluk cucunya dan mencium pipi gadis mungil itu.
"Oke, Nenek." Angela mengacungkan kedua jempolnya dan tertawa bahagia.
Kini Angela tak merasa takut lagi saat akan mengunjungi rumah sang nenek. Padahal sebenarnya yang membuat ia takut adalah tipu daya iblis yang ingin menyesatkan Angela.
-TAMAT-