Pada masa kejayaan Kerajaan Kediri, Sri Aji Jayabaya yang memimpin. Masyarakat makmur hidupnya. Tanahnya subur, gemah ripah loh jinawi. Terutama di wilayah ibukota Kediri.
Bersamaan dengan itu, di wilayah selatan Kediri, tepatnya di daerah Lodaya, seorang putri yang cantik jelita, putri dari adipati Lodaya, telah menguasai semua ilmu-ilmu dan ajian-ajian dari sang ayah. Sehingga ia menjadi seorang putri yang sangat sakti.
Putri patih Lodaya itu mendengar tentang kebijaksanaan dan kehebatan Raja Sri Aji Jayabaya. Ia tertarik pada Sri Aji Jayabaya dan mengatakan pada ayahnya untuk melamar ke kerajaan Kediri. Namun ayahnya tidak menyetujui permintaan putrinya. Karena ayahnya merasa bahwa putrinya memiliki sifat yang keras dan angkuh setelah mewarisi ilmunya.
Si putri marah. Ia pun berangkat sendiri ke wilayah Kediri. Berbekal kemampuannya menggunakan ajian, dia pun berhasil memasuki perbatasan. Ia yang datang dengan keadaan marah pun membuat keonaran dan kerusuhan di desa-desa yang ia lewati.
Sampailah ia di pintu gerbang Kediri. Para pasukan kerajaan pun menghadangnya. Menahan dia agar tidak masuk ke ibukota dan membuat kerusuhan. Pertarungan sengit terjadi. Hingga semua pasukan dapat dikalahkan olehnya.
Kekalahan para pasukan di gerbang itu terdengar oleh Raja Sri Aji Jayabaya. Hal itu membuatnya turun tangan. Raja mengahadapi putri di gerbang. Dan dengan tegas menolak lamaran putri. Ia tidak mau menerima lamaran dari putri yang berakhlak tidak baik dan suka berbuat onar.
Jawaban raja ternyata menambah amarah putri. Wajah cantiknya tak bisa menutupi amarah yang meledak-ledak. Dengan wajah yang bersungut-sungut ( 'methothok') dan menggertakkan giginya ('kerot-kerot), ia ingin adu tanding dengan raja. Kalau ia menang, raja harus menerima lamarannya. Akhirnya keduanya bertarung. Jurus demi jurus, ajian demi ajian di keluarkan oleh keduanya.
Pada akhirnya putri kewalahan menghadapi raja. Dengan kekuatannya, raja pun mengutuk putri Lodaya menjadi 'buto'( raksasa ) wanita.
***
Begitulah cerita asal muasal arca totok kerot. Namanya diambil dari ekspresinya saat melawan Sri Aji Jayabaya, 'methothok kerot-kerot'. Patung raksasa wanita yang mempunyai tinggi sekitar 3 meter. Patung itu menggambarkan seorang raksasa wanita dengan rambut terurai, dalam posisi jongkok dan satu kakinya tegak. Matanya melotot menunjukkan amarahnya. Mempunyai mahkota dan kalung yang berbandul tengkorak bertaring di atas bulan sabit. Dan tanpa tangan kiri. Patung itu merupakan salah satu dari beberapa patung selamat datang yang ada di pintu gerbang.
Konon katanya, masyarakat pernah memindahkan patung tersebut di alun-alun kota kediri. Namun patung itu seolah hidup. Dia kembali lagi ke tempat asalnya ditemukan dalam waktu semalam. Karena itulah masyarakat membiarkan patung itu di tempat awalnya.
Dan kini di sekitar patung itu di buatkan taman yang sangat cantik. Untuk bisa ke sana pun sangat mudah karena tempatnya berada di pinggir jalan. Patung itu berjarak sekitar 4 km dari Monumen Simpang Lima Gumul Kediri, tepatnya di Jl. Totok Kerot Desa Pagu Kabupaten Kediri.
***
Itulah sepenggal cerita yang aku tahu tentang kota kelahiranku.
thank's ya udah mau baca.