Di sebuah desa tinggallah satu keluarga yang baik hati. Keluarga yang berjumlah kan 4 orang selalu berkumpul di malam hari.
"besok Pak Maryo sama Mas Harso mau nginep dirumah bapaknya Pak Maryo, jadi bapak disuruh jagain rumah mereka" ucap kepala keluarga itu.
"Terus mau jagain rumah yang mana Pak? " ucap anak laki laki yang penasaran.
"Ibu jagain rumah sendiri juga tidak apa apa, biar Bapak yang dirumah Pak Maryo" ucap wanita yang tidak muda lagi.
"Aku dirumah aja sama Ibu lah" anak perempuan yang masih muda ingin bersama ibunya.
"Kamu sama Rendra jagain rumah Mas Harso, nanti Bapak ikut nonton televisinya sama kalian"
"Iya deh Pak" jawab mereka berdua dengan menganggukkan kepalanya.
Esok harinya Bu Maryo kerumah Bapak Wandi untuk menitipkan kunci rumahnya.
"Kang ini kuncinya, di meja makan ada ayam goreng sama capcay dimakan saja nanti" ujar ibu yang sudah berdandan rapi.
"Iya bu hati hati dijalan"
"Titip rumahnya ya Kang"
Setelah Bu Maryo pergi, Bapak Wandi juga ikut pergi bersama istrinya ke kebun mereka. Sedangkan kedua anaknya sudah berangkat ke sekolah mereka masing-masing.
Suara adzan maghrib sudah berkumandang, langit sore terlihat kemerahan.
"Aku mau kerumah Pak Maryo sama Mas Harso ya Pak, nyalain lampu" ujar anak yang masih berusia 13 tahun.
"Yang ruang tamu tidak usah dinyalakan Ry"
Anak itupun keluar rumah, namun tidak langsung kerumah tujuannya. Dia menutup jendela miliknya dari luar, setelahnya Dia berjalan menuju rumah Pak Maryo. Rumah mereka hanya berjarak 1 kolam ikan saja.
Setelah menyalakan lampu di rumah Pak Maryo Dia keluar dan berjalan tanpa alas kaki kerumah anaknya Pak Maryo.
'Cetek' bunyi petikan lampu yang dinyalakannya.
'Srekk' bunyi gorden yang ditutup anak itu.
"Aku kok merinding ya" anak itu bicara sendiri karena tengkuk lehernya merinding.
"Itu apa si kok kaya bulu" anak itu melihat ada bulu hitam di pojokan sebelah televisi. Perlahan Dia menghampiri pojokan sebelah televisi, bukan karena Dia ingin memastikan bulu apa itu.
"Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan" Dia menutup jendela yang ada di pojokan sebelah televisi dengan bernyanyi keras.
"Kenapa oh kenapa ini sulit sekali untuk ditutup" karena perasaan takut yang membuatnya sulit menutup jendela.
Dia keluar rumah Mas Harso dengan sedikit berlari. Setelah mengunci rumah itu Dia berlari terbirit-birit ke rumahnya.
"Kenapa lari-lari Ry ini maghrib lo" Ibunya berkomentar pada anak gadisnya.
"Mau solat bu" jawab anak yang disapa Ry ini.
"Ndra kamu mulai besok disuruh tidur dirumahnya Mas Harso"
"Lha kenapa bu? "
"Rumah sebesar itu terlalu sepi buat 2 orang saja, jadi kamu disitu buat nemenin anaknya Pak Maryo yang baru menikah"
"Iya Pak"
Anak perempuan keluarga itu keluar dari kamar setelah solat isya.
"Rury ayo katanya mau nonton"
"Iya mas ayo" jawabnya dengan semangat tanpa takut seperti sore tadi.
"Nanti Bapak nyusul"
Mereka berdua jalan bergandengan tangan dengan berceloteh yang tidak penting.
'ceklek'
"Nyalain televisinya Ry"
Tanpa menjawab kakanya yang memerintah Rury langsung menyalakan televisi. Rury sangat bersemangat ingin menonton televisi lantaran dirumahnya tidak ada televisi.
"Iklan yah"
"Mas besok mulai tidur disini ya"
"Iya, di atas kamar pojok Ry"
"Di atas kan cuma buat njemur"
"Iya tidak apa-apa, biar kamu tidurnya di kamar aku tidak bareng sama bapak ibu terus"
Hawa adem menjalari mereka berdua yang sama-sama diamnya. Rury melirik Rendra begitu juga sebaliknya.
"Mas Rendra lihat tidak ada yang lari cepat banget di belakang itu" Rury menunjuk ruang tamu yang ada disamping mereka duduk.
"Iya kaya kerasa gitu sih" Rendra sama juga melihat bayangan berkelebatan.
Seketika mereka merinding bersama.
"Ndra Ry"
Mereka menghembuskan napas dengan lega. Bagi mereka saat ini Bapaknya adalah superhero.
"Kok lama si Pak" omel Rury, sebenarnya dia takut namun mencoba untuk berani.
"Ada Pakde Miswar tadi"
"Ngomongin apa? "
"Biasa kebun"
Saat Bapak dan kedua anak sedang menonton televisi, bayangan berseliweran itu datang lagi.
"Pak" undang Rendra dan Rury bersamaan.
"Hmm"
"Kaya ada yang seliweran disitu Pak" ucap Rendra.
"Tidak apa apa tidak menganggu"
"Berati memang ada Pak" jawab Rury cepat.
"Dimana sih yang tidak ada? " tanya balik Bapaknya.
"Di rumah kita kan tidak ada Pak" ujar Rury dengan nada rendah.
"Ada cuman baik gitu saja cara nyimpulinnya"
Rendra hanya diam mendengarkan adiknya dan Bapaknya yang saling sahut menyahut. Rendra sedang memikirkan hal apa yang akan ditemuinya saat dirinya nantinya tidur di rumah ini.
"Udah Bapak mau tidur, jangan kemalaman tidurnya besok sekolah"
"Besok libur Pak"
"Iya tetep jangan kemalaman"
"Iya" "iya"
Setelah Bapak keluar Rendra mengunci pintu dan masuk kembali, Dia mendapati adiknya yang sudah tidur dengan selimut yang membalut tubuh mungilnya.
Sekitar jam 2 pagi Rury terbangun kebelet pipis, Dia jalan ke kamar mandi tanpa rasa takut.
"Leganya" Rury kembali ke selimutnya untuk melanjutkan mimpinya.
Hari-hari berlangsung seperti biasanya, Rendra dan Rury berangkat sekolah dan kedua orang tuanya pergi ke kebun.
Yang membedakan hanya Rendra saat malam tidur dirumahnya Mas Harso anaknya Pak Maryo.
Malam yang biasa saja ternyata tidak bagi Rendra yang selalu takut saat akan tidur.
Dia tidur di kamar atas yang kosong, hanya ada kamar yang ditempatinya depannya hanyalah ruangan luas yang digunakan untuk menjemur pakaiannya.
"Sudah malam kenapa ini mata tidak ngantuk ya"
"Apa hadap kanan ya"
"Ahh jangan"
Rendra tidur selalu menghadap kiri atau tembok yang aman menurutnya. Sebelah kanan Rendra ada pintu yang tidak berpintu.
Itu alasan Rendra tidak berani menghadap kanan, karena itu akan menampilkan ruangan kosong yang kelihatan seram.
Yang selalu membuat Rendra merinding setiap malamnya, di ruangan itu sangat sepi tidak seperti saat Dia dirumahnya walaupun di malam hari.
Hari-hari berlanjut dengan Rendra yang selalu merinding saat malam.
Tiba-tiba
'krekk'
"Suara apa itu" batin Rendra
"Tidur lagi aja lah, jangan menghadap jangan pantang" Rendra memejamkan matanya dengan terpaksa.
"Gawat kalau aku buka mata ini"
"Jangan sampai lihat yang tidak-tidak"
Sampai akhirnya Rendra terlelap dalam mimpinya.
Esoknya Rendra bercerita kepada Bapaknya.
"Pak semalam ada suara Pak"
"Suara apa Ndra" Ibunya yang ikut penasaran ingin tau suara apa yang didengar anaknya itu.
"Kamu yang buat suara kali"
Sementara adiknya mendengarkan saja tanpa niat ingin tahu.
"Krek gitu bu" ujarnya memberi contoh seperti suara kayu yang patah.
"Tidak Pak, ruangan kosong itu lantainya layu. Sedangkan kamar Aku itu lantainya keramik kan Pak" sanggah Rendra untuk Bapaknya.
"Tidak ada apa-apa tidak menganggu"
Lagi dan lagi Bapaknya menjawab kalau itu tidak menganggu padahal bagi Rendra itu sangat menganggu dirinya.
"Iyalah" karena bagi Bapaknya ketakutan itu berasal dari diri sendiri. Makanya Bapaknya tidak mau menakuti anaknya itu.
Hingga malam tiba Rendra sudah berada di kasurnya, sama seperti malam kemarin Rendra mendapati suara aneh yang membuat tengkuk lehernya merinding.
Rendra menghadap ke kanannya, Rendra mendapati makhluk seperti manusia namun bisa dikatakan juga seperti hewan dengan banyak bulu ditubuhnya. Matanya yang melotot bulat sebulat bola pingpong, dan jari-jari tangannya yang sebesar pisang kapok. Dengan kuku seperti kuku hewan serigala yang tidak pernah dipotong. Giginya tajam runcing, semakin lama Rendra memandanginya mahkluk itu semakin maju mendekati Rendra. Sontak Rendra memegangi mulutnya dan memejamkan matanya.
"Ya Allah Ya Allah" Rendra membatin
Dengan segera Rendra menghadap ke kiri dan menyelimuti dirinya dengan selimut hingga kepala Ia tutupi.
Hari-hari berikutnya Rendra tidak berani lagi menghadap ke kanannya.
Rendra juga tidak peduli lagi dengan suara suara yang Dia dengar.
Satu minggu berlalu.
"Pak Aku kan udah lulus SMKnya, Aku mau cari kerjaan Pak" ucap Rendra dengan Bapaknya.
"Iya terus"
"Mau tidur di rumah aja Pak"
"Oh iya Ndra"
Sudah seminggu Rendra tidur di rumahnya. Keluarga itu sedang bercanda tawa.
"Permisi Kang"
"Oh iya Bu Maryo sini"
"Si Tari barusan mandi terus Dia lihat ada mahkluk besar berbulu semua katanya seram banget"
"Rendra juga lihat Bu" ucap Ibunya
"Terus gimana ya Kang ini"
"Tidak apa-apa Bu tidak menganggu"
Setelah 2 minggu rumah Mas Harso didatangi orang pintar katanya. Orang pintar itu bukan dukun, Dia juga bisa memijat dan pekerjaannya juga bukan itu.
"Bu Maryo permisi"
"Oh iya Pak Sam"
Orang pintar itu bernama Sam lengkapnya yaitu Sambudi. Pak Sam itu tetangga yang tidak jauh rumahnya dari rumah Pak Maryo.
"Coba Pak dilihatin" ucap Mas Harso pada Pak Sam
"Permisi Mas Harso mau minta air sama garam"
"Lha tidak sama bunga mawar Pak Sam? " tanya Pak Maryo kepada Pak Sam
"Saya bawa Pak"
Setelah berkeliling di bawah Pak Sam masih biasa biasa saja.
"Memang ada di sini tapi tepatnya belum pasti" ujarnya dengan menaburkan bunga dan menjampi-jampi dengan bahasa yang sulit ditirukan.
"Di atas di atas sini" Pak Sam menujukkan jarinya ke atas, posisi mereka berada tepat diruang tamu.
"Ini disini" setelah mereka ke atas dan ketemulah titik dimana memang ada mahkluknya.
Tiba-tiba mahkluk itu mengamuk mengalahkan Pak Sam yang sedang lengah.
'Gedebruk' Pak Sam jatuh dengan keringat yang penuh diwajah dan Dia merasakan bahwa dirinya lemes.
"Ini kuat sekali Mbak Tari" Pak Sam berdiri dibantu dengan Mas Harso.
"Ini mahkluk apa Pak Sam sebenarnya? " tanya Mbak Tari pada Pak Sam.
"Ini Gentheruwo Mbak"
Mereka yang ada disitu ternganga lantaran yang melihat hanya Mbak Tari, awalnya mereka tidak percaya kepada Mbak Tari melihat mahkluk yang bernama Gentheruwo itu.
Karena dirasa bukan waktu yang tepat untuk mengusir Gentheruwo itu Pak Sam mengajak mereka berbincang. Mengenai mengapa ada Gentheruwo dirumah Mas Harso.
"Gentheruwo ini ketinggalan Pak" ucap Pak Sam memulai menjelaskan.
"Terus mau digimanakan Pak? " tanya Mbak Tari.
"Kita akan mengembalikan ke yang punya Pak"
"Pak Djarot? " tanya Mas Harso.
"Iya Mas dulunya Dia kan dukun Mas"
"Kenapa bisa ketinggalan Pak? " Tanya Mas Harso.
"Gentheruwo itu tidak mau pindah Mas gentheruwo itu ingin menetap disini dirumah ini. Ibarat kalau manusia gentheruwo itu sudah nyaman disini"
"Lha kalau sudah nyaman disini bisa dikembalikan Pak? " tanya Mas Harso penasaran lantaran Dia tidak mau ada mahkluk halus dirumahnya.
"Kita kirim ke yang punya dan itu tergantung sananya mau di ambil atau tidak"
"Kalau tidak diambil"
"Kalau tidak diambil otomatis akan datang kesini lagi dan menetap disini, tapi kita bisa mengusirnya Mas"
"Gimana Pak Sam? " tanya Mbak Tari.
"Di rumah ini kita buat pengajian Mbak"
"Iya Pak boleh dicoba" ujar Pak Maryo.
Tepat malam jumat kliwon Pak Sam datang ke rumah Mas Harso, untuk mengirim kembali gentheruwo kepada Pak Djarot yang dulunya dukun di rumah Mas Harso sekarang.
Setelah proses kurang lebih 1 jam. Pak Sam menjelaskan apa yang terjadi.
"Pak Djarot tidak menerima gentheruwo ini lagi Mas Harso, ternyata Pak Djarot sudah membuangnya" jelas Pak Sam.
Malam itu gagal untuk membuang gentheruwo itu, pesan Pak Sam sebelum pulang tadi untuk Mas Harso dan Mbak Tari menginap di rumah Pak Maryo saja. Gentheruwo itu mengamuk parah karena di ombang ambingkan kesana kemari.
Setelah pagi Pak Maryo ke rumah orang-orang terdekat agar nanti malam mau datang untuk pengajian.
Setelah malam tiba Pak Sam datang untuk menjinakkan dan mengusir gentheruwo yang ada di rumah Mas Harso.
Suara Bapak-bapak melafalkan ayat-ayat Al-Quran terdengar jelas dan keras.
Pak Sam selesai mengusir gentheruwo itu dan pengajian selesai.
"Terimakasih semuanya sudah hadir dalam pengajian ini, terimakasih juga Pak Sam sudah mengusirnya"
-selesai-
-terimakasih sudah membaca-
💙#CeritaLokal