Sebenarnya aku malas kembali ke sekolah sore ini, jadi aku sengaja membolos ekstrakulikuler yang diadakan sekolah khusus untuk siswa-siswa yang mempunyai nilai di bawah standar alias tidak tuntas. Aku baru tiga bulan pindah sekolah, jadi perlu sedikit beradaptasi dengan kurikulum yang ada di sini. Dari rumah aku memang hadir di sekolah tapi bukan di ruangan kelas, melainkan di kantin. Kebetulan perutku lapar sebab dari siang belum ada masuk apa-apa.
Aku melenggang santai ke kantin, dan kulihat ada seseorang di sana. Ia tampak sibuk merapikan dan menata meja dan kursi. Wangi aroma masakan mengambang di udara membuat cacing di perutku menari kegirangan menabuh dinding perut. Aku duduk di kursi yang sudah terlihat bersih. Ternyata sepi sekali suasana di kantin itu. Kulihat banyak tumpukan mangkok-mangkok bekas makan yang masih berada di atas meja-meja lain.
“Jangan duduk di bangku itu!”, larangnya tegas.
Raut wajah tukang kebun itu sangar, lirikannya benar-benar membuatku tak nyaman. Tapi aku tak peduli, apa istimewanya sih bangku dan meja ini untuknya? Lagipula apa urusannya sama dia? Lantas mau duduk dimana lagi? Dia bukan pemilik kantin ini kok sok ngatur, pasang tampang angker begitu! Lagian dia melarangku duduk di bangku ini tanpa alasan yang jelas. Aku tetap saja ngotot duduk meski ia melirikku untuk yang kesekian kali lalu pergi meninggalkan kantin ke arah tempat parkir. Belum apa-apa sudah bikin nyesek!
Mendung sudah menggelantung, suasana menjadi suram dan gelap. Hawa dingin menambah perih lambungku. Seorang cewek kira-kira seumurku menghampiriku.
“Mau pesan apa mas?”, tanyanya ramah namun wajahnya menunduk hingga sebagian wajahnya tertutupi poni.
Tiba-tiba kilat menyambar dan disusul suara petir yang menggelegar, membuat kami berdua terlonjak kaget. Ia tampak pucat pasi, tangannya yang memegang bahuku terasa sedingin es batu.
“Eh, maaf mas!”, gugupnya.
Aku hanya mengangguk maklum. Tadinya aku berniat mengeluarkan hanphoneku dari saku. Akhirnya kuurungkan saja setelah aku memesan satu mangkok mie instan padanya.
“Jangan mie goreng ya, telornya setengah matang lho!”, pesanku mengingatkan.
Aku sendiri dari dulu jarang ke kantin sekolah, dan semenjak pindah sekolah baru kali ini saja masuk ke sini. Tak lama hujan turun dengan lebat. Sampai jam ekstrakurikuler sekolah bubar, kami masih terkurung di sana, saat kantin telah sepi. Angin berdesir membuat suasana menjadi lain. Ada satu kata bahwa saat ini aku butuh sesuatu yang hangat, ini membuat imajinasi mengembara kemana-mana. Kemudian aku tak banyak berbincang dengan Wiwik, begitu nama pelayan kantin itu.
Gadis itu terlalu pendiam namun menarik, selalu menunduk hanya sekali-sekali ia mengangkat wajah manisnya, hanya menjawab pertanyaanku seperlunya, singkat-singkat saja. Dan yang aku tahu ia diajak budenya ikut bekerja menjaga kantin itu setelah lulus SMP.
Azan maghrib lamat-lamat terdengar setelah hujan mulai reda. Di atas meja sisa kuah mangkok mie instan menjadi saksi bisu, ketika Wiwik yang meringkuk kedinginan mendekap kakinya di atas kursi plastik, tersandar lelap di bahuku. Tak butuh waktu lama untuk menciptakan debar-debar di dadaku, mungkin aku harus berterima kasih sekali pada musim hujan kali ini.
Tiba-tiba ada seorang lelaki berpakaian rapi, tampaknya ia guru baru di sekolahku, sebab aku tak mengenalnya. Kemudian lelaki itu memanggilnya, gadis itu terkejut dan menolak saat lelaki itu mengajaknya pergi. Tapi dengan kasar lelaki itu menyentaknya hingga berdiri. Kemudian ia berbisik mengancam sambil menyeringai licik, terbukti Wiwik berubah tambah pucat pasi ketakutan mengikuti lelaki itu. Mereka masuk ke gudang peralatan sekolah yang letaknya di samping ruang UKS.
Aku memanggil Wiwik tapi seolah ia tak mendengar. Aku mencoba menghalangi langkah Wiwik untuk mencegahnya, firasatku merasa akan terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap gadis itu. Tapi tubuhnya menembus tubuhku. Aku benar-benar kaget, dan aku berbalik mengikuti langkah mereka. Sebab beberapa kali kutangkap tangan Wiwik, tapi hanya mengenai udara kosong, seakan-akan tubuhnya tembus pandang.
Akhirnya aku tertegun, apa yang mereka lakukan? Kenapa tubuhku terasa berat tak bisa bergerak? Batinku panik. Aku hanya bisa mematung, ketika dua puluh menit kemudian lelaki itu keluar dengan tersenyum puas, sementara Wiwik keluar tempat itu tertunduk lesu lalu duduk di bangku yang tadi kududuki sambil menangis.
Aku bisa tak mengerti apa yang telah terjadi dan aku masih tidak dapat bergerak, kalau saja suara petir yang menggelegar dan kilatan cahayanya yang membelah langit tidak menyadarkanku. Tiba-tiba pemandangan kantin itu berubah menjadi sepi dan tak ada bekas-bekas kegiatan terjadi di situ. Aku jadi ketakutan dan buru-buru berlari pulang.
Aku melarikan sepeda motorku meninggalkan tempat itu. Aku pulang dengan setengah melamun, kejadian hari ini benar-benar cukup megejutkan. Aku melihat cuaca mulai tak bersahabat. Mendung benar-benar melayang seperti kabut hitam yang mengejarku seakan ingin menelanku ke dalamnya. Suara guruh gemeretak di langit, kilat mulai bersahutan menyambar-nyambar, tampaknya hujan akan turun lagi. Kupacu sepeda motorku di jalan raya agar segera sampai ke rumah. Tinggal satu tikungan lagi. Teeeeet...!!! Klakson panjang truk yang melintas membuat sepeda motorku sedikit oleng. Aku tak peduli makian keneknya. Aku ingin segera sampai ke rumah tanpa harus kebasahan.
Begitu aku datang, si mbak yang berkerja membantu membersihkan rumah dan mencuci pamit pulang. Mama dan papa masih belum pulang. Aku langsung menuju ke kamarku, merebahkan diri. Dan benar saja, hujan deras sekali, sampai-sampai kaca jendelaku berkabut, tak dapat melihat pemandangan dan keadaan di luar sana. Aku mulai mengantuk, dan tak lama aku pun tertidur pulas.
*****
Mendadak aku merasa ada tangan dingin meraba leherku. Aku menggeliat dan menepis tangan itu. Kemudian ia mulai lagi meraba bagian belakang telingaku. Aku segera menangkapnya dan kucekal erat. Kena kau! Pikirku sambil berbalik ke arahnya. Ternyata aku menangkap udara kosong, tak ada siapa-siapa. Aku pikir itu tadi ulah mama yang kadang juga suka menjahiliku. Tiba-tiba sekelebat bayangan masuk ke dalam lemari. Aku beranjak mengejar dan membuka lemari.
AAAAARGH...!!!
Jerit serak itu keluar dari tubuh pucat dalam lemari dengan wajah nyaris hancur dan berbau busuk. Matanya putih, tubuhnya berkulit pucat dan terkelupas di sana sini. Ada bekas darah kering di bajunya yang robek besar. Tubuhnya seperti habis disayat-sayat orang. Aku terjengkang kaget, seluruh tubuhku lemas gemetar. Ia maju ke arahku semakin mendekat. Mulutku kaku tak mampu berteriak, hanya mendelik ngeri ketika ia mulai menangkap kedua tanganku. Nafasnya mendengus terdengar begitu berat dan ia menganga lebar mengeluarkan bau yang cukup busuk dari mulutnya. Aku melihat banyak belatung-belatung kecil keluar dari rongga tenggorokan dan merayap di lidahnya. TIDAAAAAK...!!! Aku terbangun dengan keadaan basah kuyup berkeringat.
Aku menyalakan lampu kamar dan berlari ke ruang tengah menyalakan home theatre dan menatap layar LED, menyetel konser musik cadas sekeras-kerasnya, biar saja hingar bingar memekak telinga. Sampai akhirnya dari balik jendela kulihat kilat lampu mobil mama masuk garasi. Aku mulai lega dan mulai menonton acara televisi.
Mama mengusap lembut kepalaku dan mengajakku makan. Kulihat ia membawa tas belanjaan besar, pasti beli makanan siap saji lagi. Kali ini aku menurut saja. Kemana saja mama pergi kuikuti. Bahkan aku rela menjadi pendengar setia mama bercerita di kamarnya. Aku mendengarkan sambil tiduran di samping mama. Akhirnya aku benar-benar tertidur di kamarnya.
*****
Besoknya aku berangkat lebih awal. Aku duduk saja di dalam kelas tak ingin kemana-mana, sambil memainkan game di handphoneku. Kulihat lagi ada bayangan berkelebat dan kudengar langkah seperti diseret-seret di belakangku. Aku tak berani menoleh, aku diam saja seolah tak mendengar. Kupasang headsetku mencari musik yang bisa menghiburku sambil melanjutkan permainan.
Aku merasa hawa aneh perlahan mengalir dari belakang telingaku, dan aku merasa bulu kudukku merinding, kepalaku jadi membesar. Kumohon jangan ganggu aku lagi! Pergi! Pergi! Pergi sana jauhi aku! Jeritku dalam hati. Mendadak ada langkah kaki licah berlari menghampiriku dan memeluk pundakku dengan mesra. Femy menggelendot manja. Sungguh aku risih, tapi kubiarkan saja.
Aku menatapnya sejenak tersenyum tipis. Kudengar beberapa siulan nakal dari teman-temanku yang masuk kelas, ini benar-benar membuatku jengah.
“Femy... Please...”, mohonku menatap agar ia menjaga jaraknya jangan memamerkan kemesraan yang tak perlu. Wajah Femy kelihatan dongkol tapi ia menurut saja. Fiuh...
*****
Pada jam istirahat, aku duduk sendiri di kelas. Tiba-tiba ada sebuah kekuatan yang mengontrol tubuhku bergerak di luar sadarku berjalan mendatangi kantin. Aku mencoba berbalik lagi, tapi anggota badanku tak mematuhi perintah otak kecilku. Aku berjejal dengan para siswa yang masuk ke sana dan duduk di tempat yang kemarin.
Karena tersenggol seorang siswa yang berdesakan, headset yang kukantongi jatuh. Bisa gawat jika terinjak kaki orang, pikirku. Kali ini seolah lepas dari kontrol seseorang, tubuhku bergerak bebas kembali. Buru-buru aku menunduk mengambil headsetku agar aku bisa kabur dengan segera. Tapi entah kenapa saat aku berdiri, tiba-tiba kantin itu menjadi sunyi. Tak ada siapa-siapa.
Kulihat sekitarku di meja-meja yang tadinya penuh orang menjadi kosong. Aku melihat ada kepulan dari panci yang tengah dibuka, seorang gadis dengan jepit ungu menuang kuah soto ke dalam mangkok di depannya. Wiwik? Aku berdiri akan berlari tapi seorang lelaki yang kemarin berpakaian olahraga mendekatinya, dan membisiki sesuatu di telinganya. Ia menyeringai buas melihat Wiwik menunduk lesu menahan tangis.
Ketika Wiwik bergeming, ia menyentak kasar tubuh gadis itu. Dengan langkah enggan ia mengikuti guru itu ke gudang peralatan sekolah. Entah kenapa, ada kekuatan yang menyeretku mengikuti mereka, pintu itu terkuak dengan sendirinya. Aku masuk ke dalam, seperti ada suara menangis di balik tumpukan perabot sekolah, banyak sarang laba-laba dan debu yang menempel di sana sini. Tiba-tiba suara tangisan itu terhenti beberapa saat. Aku menemukan Wiwik tengah menunduk memegang sebilah pisau dapur di hadapan tubuh lelaki yang berpakaian olahraga. Lelaki itu bersimbah darah dalam keadaan setengah telanjang.
Wiwik berpaling menatapku dengan mata yang aneh. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi mengerikan. Biji matanya menggelantung keluar dan tubuhnya pucat membusuk, ada beberapa dagingnya rontok saat ia beranjak ke arahku. Aku menjerit, terlonjak sadar dengan nafas tersengal-sengal. Kulihat banyak siswa-siswi merubungku, mataku mengerjap bingung.
“Sudah sadar juga dia akhirnya!”, seru salah seorang guru yang menggosok tubuhku dengan minyak kayu putih.
“Dimana aku? Kenapa aku ada di sini?”, tanyaku kebingungan.
“Kamu tadi berteriak-teriak keras, dan tiba-tiba saja jatuh pingsan, tergeletak di lantai kantin”, jelas pak guru yang mengoleskan minyak kayu putih tadi.
“Ayo anak-anak! Sekarang kembalilah ke kelas masing-masing!”, perintah seorang guru perempuan yang masuk ke ruangan itu. Rupanya aku berada di ruangan UKS.
Aku bergegas menuju ruang kelasku. Di sana Femy sudah menungguku di ambang pintu dengan senyum ramah seperti biasa.
“Kamu sudah siuman Rud? Kamu pingsan lama sekali!”, tanyanya cemas mengekor di belakangku dengan setia.
“Ya, sedikit lemas...”, sahutku lemah.
Kuhempaskan pantatku di bangku kayu. Kulihat Femy sudah merapikan isi ransel sekolahku. Perhatian sekali dia.
“Makasih...”, ucapku pelan. Berarti tadi itu cuma mimpi ya? Syukurlah kalau begitu.
Kelas sudah sepi. Aku tertunduk lesu menatap meja kayu di depanku. Femy menatapku lekat.
“Rud...”, panggilnya lembut seperti biasa.
Memang telah lama aku tahu Femy menyukaiku, tapi aku kurang suka dengan sifatnya yang terlalu gampangan pada setiap lelaki. Tapi aku membisu, pura-pura tak mendengar. Bahkan ketika Femy duduk di sebelahku, tubuhnya semakin merapat lantaran aku tak kunjung menoleh. Dia berdehem sambil berusaha menawarkan perasaannya yang berdebar-debar.
“Rudiii...”, rengeknya lagi dengan manja. “Hujan... Dingin banget...”, desis Femy lirih, sambil menatap jendela dan merangkul lenganku.
Ya, memang hujan turun lebat sekali, seakan rinai-rinai yang jatuh itu menyesap ke dalam dada. Hawa dingin benar-benar menyusupi pori-pori hingga menciptakan geletar getir, gundah seakan menyelubungi akalku.
“Maaf! Aku... Aku agak kurang enak badan!”, kataku beringsut.
Tapi Femy justru mengusap pipiku. Hujan itu dan perasaan ini membawaku terbawa olehnya. Aku suka cara dia memperlakukanku, begitu lembut. Telunjuk mungilnya menari menelusuri lekuk wajahku dari hidung dan mengusap bibirku dengan sentuhan hangat. Dalam sekejap bibir kami saling melumat.
Mendadak, aku melihat sesosok perempuan berdiri di depan kelasku, dengan wajah penuh kebencian melihat ulah kami berdua. Kebetulan posisiku mengarah ke pintu. Aku melihat wajah yang geram itu berbarengan dengan kilatan cahaya petir. Wiwik memergokiku, kemudian menghilang!
Kudorong pelan tubuh Femy. “Ada orang...”, bisikku meredam rasa takutku sekaligus menghentikan aksinya yang mulai berani. “Maaf Fem! Aku tak ada maksud apa-apa! Aku terlalu terbawa suasana...”, sesalku.
Femy segera berdiri menyampirkan tasnya di bahu, kutangkap tangannya. “Kita pulang bareng!”, usulku, dan ia mengedipkan matanya ke arahku, melenggang keluar kelas.
Sialan! Cewek itu membuatku mengikuti permainannya! Tapi tadi itu apa benar-benar Wiwik? Raut wajahnya agak aneh. Aku merasa ada yang mengikutiku. Perlahan aku menoleh ke belakang, kulihat ada beberapa siswa yang berjalan melewati kelasku menuju ke arah pelataran parkir. Sambil menggendong ransel, aku menuju arah yang sama. Femy kembali meraih lenganku, menggandeng mesra. Biarlah, daripada digandeng setan, pikirku.
*****
Siang itu di depan sekolah, aku melihat tukang kebun yang menegurku tempo hari, sengaja menunggu di tempat tersembunyi dekat pagar sekolah, di bawah sebuah pohon akasia besar dan pohon-pohon kembang sepatu yang menyemak tak terawat. Ia melambaikan tangannya padaku, kali ini ia tersenyum dengan wajah ramah. Kuhampiri dia sejenak. Tiba-tiba tangannya menjambak rambut Femy yang ada di belakangku.
Aku terpekik kaget, sama kagetnya dengan Femy. Kulihat ada tubuh yang tersungkur jatuh tergolek di rerumputan, sesaat kemudian lenyap. Itu Wiwik! Bukannya tadi yang dijambak Femy? Kutoleh ke belakang, Femy masih duduk dan sebelah tangannya masih memeluk perutku.
“Jangan kuatir, mereka tak akan mengganggumu lagi! Kini aku bisa leluasa menjaga kalian dari gangguan usil roh gentayangan di sekolah ini!”, kata bapak itu dengan suara berat dan serak.
“Maafkan saya pak! Kemarin saya tidak mematuhi larangan bapak!”, sesalku. Ia mengangguk kemudian raib. Aku keheranan.
“Telponan sama siapa sih? Lama banget!”, rajuk Femy.
“Aku lagi ngobrol sama tukang kebun sekolah kok dibilang nelpon? Aneh!”, kesalku.
Dia turun dari sepeda motor melihat-lihat ke sana ke mari. Femy mengernyitkan alisnya, bergidik lalu naik lagi ke sepeda motor. “Buruan pulang!”, pagutnya erat ketakutan. “Pak Umar kan sudah meninggal tiga bulan yang lalu!”, jelasnya.
Hah! Lantas tadi itu siapa? Hantu? Pikirku. Seketika bulu kudukku meremang. Kupacu motorku meninggalkan tempat itu. Sepertinya aku harus pindah sekolah lagi.